untuk membaca buku ini silakan klik link berikut :
https://online.visual-paradigm.com/share/book/buku-ada-couver-merged-2jcsixzsff
atau scan barcode :
bersyukut atas segala nikmat dan bersabarlah atas cobaan yang di beri, bahagia mu, adalah bagaimana sikap mu ketika melihat mereka orang terdekatmu tersenyum .
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.
untuk membaca buku ini silakan klik link berikut :
https://online.visual-paradigm.com/share/book/buku-ada-couver-merged-2jcsixzsff
atau scan barcode :
Sudah beberapa minggu ini saya tidak menulis. Barangkali kesibukan di sekolah membuat ruang untuk merangkai kata menjadi semakin sempit dan waktu terasa begitu cepat berlalu. Namun hari ini, saya kembali dipertemukan dengan seorang tamu istimewa yang beberapa waktu lalu pernah bersama-sama membersamai kegiatan literasi penulisan cerita anak dwibahasa. Pertemuan itu bukan sekadar silaturahmi, melainkan menjadi langkah lanjutan dari ilmu dan pengalaman berharga yang saya peroleh beberapa minggu lalu. Dari sanalah tumbuh keinginan dalam diri saya untuk menularkan kecintaan terhadap sastra kepada generasi muda.
Kita menyadari bahwa dewasa ini generasi muda hidup sangat dekat dengan gawai dan dunia digital. Sebagian besar waktu mereka dihabiskan di hadapan layar, larut dalam arus teknologi yang tidak pernah berhenti bergerak. Tanpa disadari, setiap waktu yang mereka habiskan di dunia maya juga menghadirkan pengeluaran yang terus bertambah. Dalam beberapa hari saja, mereka harus mengeluarkan biaya untuk membeli paket data, dan jika dihitung dalam jangka waktu sebulan hingga setahun, jumlahnya bukanlah angka yang sedikit. Akan sangat disayangkan apabila waktu, tenaga, dan biaya yang besar itu tidak dimanfaatkan untuk hal-hal yang memberi nilai dan manfaat bagi kehidupan.
Di tengah kuatnya dominasi budaya
digital saat ini, saya memandang penting untuk mengajak generasi muda kembali
mengenal budaya dan sastra bangsanya sendiri. Sebab budaya bukan sekadar
peninggalan masa lalu, melainkan identitas yang membentuk jati diri sebuah
bangsa. Di dalam budaya tersimpan nilai kehidupan, adat istiadat, bahasa, seni,
serta warisan luhur para pendahulu yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Jika budaya mulai dilupakan, maka perlahan generasi muda akan kehilangan akar
sejarah dan kehilangan ciri khas bangsanya sendiri.
Demikian pula sastra. Sastra
bukan hanya rangkaian kata yang indah untuk didengar, dan budaya bukan sekadar
adat yang diwariskan tanpa makna. Di dalamnya hidup nilai-nilai budi pekerti,
kebijaksanaan, serta cahaya peradaban yang membentuk karakter manusia. Melalui
syarahan ini, saya ingin mengajak generasi muda membuka hati dan pikiran untuk
memahami bahwa menjaga budaya sejatinya adalah menjaga akar kehidupan dan
mempertahankan identitas kita sebagai bangsa yang besar dan bermartabat.
Semoga melalui langkah kecil ini,
lahir generasi yang tidak hanya cerdas dalam teknologi, tetapi juga kaya akan
adab, santun dalam berbahasa, serta bangga terhadap sastra dan budaya negerinya
sendiri.Hari ini saya Kembali berhimpun pepat Bersama para tokoh, ulama, umara,
pemangku adat, Bersatu dalam sebuah ruang bukan hanya setakat bercerita, tapi Bersama
belajar Menyusun kata menjadi sebuah kalimat bermakna, penyampai Bahasa sebagai
media untuk menyampaikan pikiran, perasaan, pengalaman, dan imajinasi. Dan buahnya
tentu Bisa saja berupa puisi, pantun, cerpen, novel, drama, dan cerita rakyat. Kita
sebagai orang yang hidup,tumbuh dan berkembang di bumi melayu tentu tentu
sangat kaya dengan budaya yang harus kita lestarikan.
Budaya Melayu mengajarkan kita
tentang lembutnya budi, santunnya bahasa, dan tingginya adab. Dahulu, orang
Melayu tidak meninggalkan warisan emas bertimbun, tetapi meninggalkan kata-kata
yang penuh hikmah. Sebab mereka percaya, hancurnya rumah masih dapat dibangun
kembali, namun hilangnya adat dan bahasa akan memudarkan jati diri anak cucu di
kemudian hari.
Hari ini, zaman bergerak begitu
cepat. Teknologi berkembang tanpa menunggu langkah kita. Anak-anak lebih
mengenal suara gawai daripada suara pantun. Lebih akrab dengan dunia maya
dibandingkan kisah-kisah bijak yang dahulu hidup di serambi rumah. Sedikit demi
sedikit, nilai budaya mulai tersisih oleh gemerlap kehidupan yang serba instan.
Namun sesungguhnya, budaya tidak pernah meminta untuk diagungkan. Ia hanya
ingin dikenang, dijaga, dan diwariskan. Sebab budaya adalah akar. Dan pohon
setinggi apa pun tidak akan mampu berdiri kokoh jika akarnya dibiarkan mati.
Maka pada kesempatan yang mulia
ini, saya mengajak kepada kita semua untuk menjadi generasi yang tidak malu
memakai adat sendiri, tidak segan berbicara dengan santun, dan tidak lelah
menjaga sastra sebagai cahaya peradaban. Karena bangsa yang besar bukanlah
bangsa yang melupakan masa lalunya, melainkan bangsa yang mampu membawa warisan
leluhurnya berjalan berdampingan dengan kemajuan zaman. Biarlah waktu terus
bergerak membawa perubahan, namun jangan biarkan akar budaya tercerabut dari
kehidupan kita. Sebab ketika adat mulai dilupakan, bahasa mulai ditinggalkan,
dan sastra tak lagi dibacakan, sesungguhnya yang perlahan hilang bukan hanya tradisi,
melainkan juga ruh dan jati diri sebuah bangsa.
Mari kita rawat budaya
sebagaimana kita menjaga rumah tempat kita pulang. Mari kita hidupkan kembali
pantun di tengah percakapan, syair di tengah pembelajaran, serta nilai-nilai
luhur Melayu di dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Karena sesungguhnya kemajuan
bukanlah ketika kita meninggalkan warisan leluhur, melainkan ketika kita mampu
membawa warisan itu tetap hidup di tengah dunia yang terus berubah.
Semoga generasi muda hari ini kelak menjadi generasi yang tidak hanya cerdas oleh ilmu pengetahuan, tetapi juga kaya akan adab, halus dalam bertutur, serta teguh memegang nilai budaya bangsanya. Generasi yang mampu berdiri tinggi menatap masa depan tanpa kehilangan akar tempat ia berasal. Jika kelak anak cucu masih mengenal pantun, masih memahami santun, dan masih bangga menyebut dirinya pewaris budaya Melayu, maka pada saat itulah kita tahu bahwa perjuangan menjaga budaya tidak pernah sia-sia. Karena budaya bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan cahaya yang akan menerangi perjalanan bangsa menuju masa depan.
Di setiap awal perjalanan, selalu ada ruang untuk
belajar dan memahami makna kehidupan dengan lebih dalam. Hari ini, saya lumayatn
sat set (anak muda sekarang menyebutnya Gercep), saya sedang menulis artikel petua
ulama yang saya kutip dari kitab Bidayatul Hidayah, ada pesan Whatsaap
masuk, dari buk Ema, selaku ketua panitia pelaksanaan penerimaan murid baru di MAN
2 Kepulauan Meranti, pesan itu mengingatkan bahwa ada jadwal sosialisasi jam
9.00 Wib, dini hari. Sementara sekarang sudah menunjukan pukul 08.23 Menit. Tanpa
pikir Panjang laptop pun langsung saya tutup, dan berangkat pergi, perjalanan
yang lumayan tidak dekat, karena harus menyeberangi selat dengan perahu kayu
yang di beri tenaga diesel.
Sebelum sampai dilokasi sosialisasi, saya
sempatkan waktu untuk menyapa rekan-rekan siswa dari pasukan khusus untuk mengikuti
seleksi pasukan pengibar bendera ditingkat Kabuapten, saya hanya bebrapa menit
saja, setelah memastikan pasukan lengkap saya tinggal pergi dan telah
diserahkan kepada panitia pelaksana. Masih ada waktu 15 menit untuk saya
melanjutkan perjalanan tugas utama, (mendampingi kepala madrasah untuk
melaksanakan sosialisasi PMB). Saya datang lebih awal beberapa menit ketimbang
kepala madrasash, disana sudah ada buk ema selaku ketua pelaksana. Tidak lalma
kemudian kepala madrasah pun tiba, kami pun langsung menuju ketempat sosisasi
dilaksanakan.
Sosialisasi ini bukan hanya sekedar promosi dan
untuk mencari murid baru, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang bisa kita
petik hikmahnya dalam kehidupan, kita tidak sekadar memulai kegiatan
sosialisasi siswa baru, tetapi juga membuka pintu menuju dunia pengetahuan,
pengalaman, dan pembentukan jati diri. Di tempat inilah, pikiran diasah, akhlak
dibina, dan mimpi mulai ditata dengan penuh kesadaran.
Sosialisasi ini bukan hanya tentang mengenal lingkungan
sekolah, melainkan juga tentang memahami peran kita sebagai pelajar yang
berpikir kritis, bertindak bijak, dan mampu mengambil hikmah dari setiap
proses. Sebab dalam setiap langkah kecil yang kita ambil hari ini, tersimpan
pelajaran besar yang akan membentuk masa depan yang lebih bermakna. Kurang lebih
seperti itu yang disampaikan kepala madrasah dalam kegiatan tersebut, namun
bagi saya pribadi tentu tidak sekadar sosialisasi melainkan saya harus bisa
mengambil hikmah dan ilmu pengetahuan dari kegiatan itu.
Dalam perjalanan menuntut ilmu, kita akan
menyadari bahwa pendidikan bukan sekadar tentang nilai atau prestasi semata,
melainkan tentang bagaimana kita belajar memahami diri, menghargai proses, dan
tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter. Setiap pertemuan dengan guru, setiap
diskusi dengan teman, hingga setiap tantangan yang dihadapi, semuanya adalah
bagian dari proses pembelajaran yang tidak ternilai harganya. Terkadang,
langkah kita akan terasa berat. Akan ada rasa lelah, ragu, bahkan kegagalan
yang mungkin datang tanpa diundang. Namun di situlah letak hikmahnya bahwa
setiap kesulitan mengajarkan keteguhan, setiap kegagalan melatih kesabaran, dan
setiap usaha yang sungguh-sungguh akan membentuk kekuatan dalam diri kita.
Pendidikan sejati adalah ketika kita mampu bangkit, memperbaiki diri, dan terus
melangkah dengan harapan yang tidak pernah padam.
Sebagai siswa baru, kalian sedang memulai
lembaran penting dalam kehidupan. Jadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk
belajar, bukan hanya dari buku, tetapi juga dari sikap, pengalaman, dan
nilai-nilai kebaikan yang ada di sekitar. Hormati guru sebagai pembimbing,
hargai teman sebagai sahabat dalam perjalanan, dan jaga semangat untuk terus
berkembang.Akhirnya, semoga langkah awal ini menjadi pijakan yang kokoh untuk
masa depan yang gemilang. Karena pada hakikatnya, ilmu yang disertai dengan
kebijaksanaan dan akhlak mulia akan menjadi cahaya yang menerangi jalan hidup,
tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain.
Lebih dari itu, perjalanan ini tidak akan berarti
tanpa kebersamaan. Kita hadir di sini bukan sebagai individu yang berjalan
sendiri, melainkan sebagai bagian dari satu keluarga besar yang saling
menguatkan. Dalam kebersamaan, kita belajar untuk saling menghargai perbedaan,
saling membantu dalam kesulitan, dan saling menginspirasi untuk menjadi lebih
baik. Kebersamaan mengajarkan kita bahwa keberhasilan bukan hanya milik satu
orang, tetapi hasil dari dukungan, kerja sama, dan rasa peduli antar sesama.
Saat satu di antara kita merasa lemah, yang lain hadir untuk menguatkan. Saat
satu berhasil, yang lain turut merasakan kebahagiaan. Inilah nilai luhur yang
menjadikan perjalanan pendidikan terasa lebih bermakna dan penuh warna.
Maka, jagalah kebersamaan ini dengan sikap saling
menghormati, komunikasi yang baik, dan hati yang tulus. Karena dari sinilah
akan tumbuh persahabatan, kepercayaan, dan rasa memiliki yang akan terus
dikenang sepanjang waktu. Dan kelak, ketika kita menoleh ke belakang, bukan
hanya ilmu yang kita ingat, tetapi juga hangatnya kebersamaan yang pernah kita
rasakan bersama.
Afrizal
Cik, saya mengenal beliau memang tidak begitu akrab Namun, pada awalnya belakangan
ini saya sering berkomunikasi dengan beliau, terutama terkait khazanah serta
adat istiadat Melayu yang ada di Kepulauan Meranti. Karena saya tertarik unutk
belajar dan mendalmi budaya melayu yang ada dikepulauan meranti, terutama pada
adat istiadat Pernik-pernik pernikahan, mulai dari merisik, melamar, adat malam
berinai sampailah ijab dan Kabul, dan tradisi yang ada didalam nya, Bagi saya,
beliau adalah salah satu tokoh Melayu Meranti yang istiqamah dalam menjaga adat
dan budaya kampung halamannya. Tidak heran jika beliau sangat dikenal di
kalangan tokoh-tokoh Melayu Meranti. Saya pun merasa termotivasi oleh beliau,
karena keteguhannya dalam melestarikan tradisi adat dan budaya Melayu di
Kepulauan Meranti. Salah satu upaya yang beliau lakukan dalam menjaga warisan
tersebut adalah melalui tulisan, seperti cerita-cerita rakyat, hikayat, dan
karya sastra yang berkembang di Kepulauan Meranti. Saya sudah membaca beberpa
karya beliau, seperti “ Tanah Jantan Yang Melawan, Tempias, Termasuk Lagenda
Tasik Putri Puyu, Ada Juga Awang Mahmuda (tapi saya belum selesai
membacanya)”
Hari
ini saya mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan literasi Bimbingan Teknik
Menulis Cerita Anak Dwibahasa yang ditaja oleh Balai Bahasa Provinsi Riau,
bekerja sama dengan Lembaga Adat Melayu Riau Kabupaten Kepulauan Meranti.
Kesempatan ini tentu bagi saya bukan sekadar menghadiri sebuah kegiatan,
melainkan menjadi pintu awal untuk melangkah lebih jauh dalam dunia literasi
dan pelestarian budaya. Di tengah suasana kegiatan yang penuh semangat, saya
mulai menyadari bahwa menulis bukan hanya tentang merangkai kata, tetapi juga
tentang merawat ingatan, menjaga jati diri, dan mewariskan nilai-nilai luhur
kepada generasi berikutnya. Apa yang selama ini dilakukan oleh Afrizal Cik
seakan menjadi cermin dan pengingat bahwa setiap orang memiliki peran dalam
menjaga warisan budaya, sekecil apa pun langkah yang diambil, tentu akan
memiliki manfaat yang besar dikemudian hari.
Saya
pun mulai menumbuhkan keyakinan dalam diri, bahwa belajar menulis adalah bagian
dari ikhtiar untuk ikut serta merawat khazanah Daerah. Dari kisah -kisah anak
Lokal, kehidupan masyarkat tempo dulu dan kekinian, tentu ini perlu untuk
diabadikan agar tidak hilang dimakan zaman, mungkin kita sering mendengar kisah
dan cerita dari orang tua-tua kita, tentang asal usul kampung, kehidupan
Masyarakat masa lalu, dan bahkan cerita tetangga kita yang terjadi kemaren
sore, jika cerita itu tidak kita abadikan dalam bentuk tulisan, maka sepuluh
atau duapuluh tahun kedepan cerita itu akan hilang, sirna, dan lupa dari
ingatan kita, maka kesempatan ini hadir untuk kita mengabadikan kisah-kisah itu
dalam sebuah cerita yang kita tulis.
Melalui
kegiatan ini, saya ingin melangkah lebih berani menuangkan gagasan, merekam
cerita, dan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya dalam karya-karya
sederhana. Sebab saya percaya, sebuah tulisan kecil hari ini bisa menjadi
pelita bagi generasi di masa depan. Dan dari sini, saya belajar satu hal
penting: berkarya tidak harus menunggu sempurna, cukup dimulai dengan niat yang
tulus dan langkah yang konsisten. Karena pada akhirnya, karya bukan hanya
tentang siapa yang membaca, tetapi tentang bagaimana kita menjaga warisan agar
tetap hidup sepanjang zaman.
Di
hadapan bangunan bercorak Melayu yang kokoh dan berwarna cerah itu, tampak
sosok-sosok yang sederhana namun penuh makna. Di antara mereka, berdiri seorang
laki-laki berbaju kuning dengan senyum yang hangat dan sikap yang tenang dialah
sosok yang dalam benak saya mencerminkan keteguhan untuk menjaga warisan budaya
dari leluhur. Namanya Afrizal Cik, dan saya akrab memanggilnya dengan panggilan
“Datuk”. Wajahnya memancarkan ketulusan,
seakan menyimpan banyak cerita tentang perjuangan menjaga nilai dan tradisi
yang kian tergerus zaman, saya sangat berterimakasih karena beliau telah
memberikan kesempatan dan waktu kepada saya untuk menimba ilmu dalam tata
penulisan cerita untuk anak-anak, tentu kesempatan ini tidak akan mudah
terulang untuk kedua kali.
Di
sekelilingnya, ada Wanita-wanita yang juga mengenakan nuansa yang sama dan
busana sopan tampak berdiri dengan raut wajah bersahaja. Mereka bukan sekadar
pelengkap, tetapi bagian dari mata rantai yang sama, penjaga warisan, perawat
budaya, dan pendukung lahirnya generasi yang mencintai adat istiadatnya. Senyum
mereka bukan hanya ekspresi kebahagiaan, melainkan juga cerminan semangat
kebersamaan dalam merawat identitas Melayu. Tangga tempat mereka berdiri seolah
menjadi simbol perjalanan, bahwa menjaga budaya dan berkarya adalah sebuah
proses yang bertahap. Tidak instan, tetapi penuh kesabaran dan konsisten. Dari
langkah kecil seperti berdiskusi, belajar, hingga menulis, semua bermuara pada
satu tujuan: agar khazanah Melayu tetap hidup dan dikenang. Melihat mereka,
saya semakin yakin bahwa semangat berkarya itu tumbuh dari lingkungan yang
saling menguatkan. Bahwa setiap pertemuan, setiap senyum, dan setiap cerita
yang dibagikan adalah bahan bakar untuk terus melangkah. Dan dari kebersamaan
sederhana inilah, lahir tekad yang kuat untuk menulis, berkarya, dan menjaga
warisan budaya agar tetap bersinar di masa depan.
Saya menyadari bahwa perjalanan ini bukan sekadar tentang mengenal seseorang atau memahami sebuah tradisi, melainkan tentang menemukan makna dalam setiap langkah kecil yang kita tempuh. Di antara tawa yang sederhana dan kebersamaan yang hangat, dalm waktu singkat itu, tumbuh sebuah harapan bahwa karya yang lahir dari hati yang tulus akan selalu menemukan jalannya. Seperti cahaya yang tak pernah lelah menerangi, semangat untuk berkarya pun harus terus dijaga, dirawat, dan dihidupkan. Karena dari setiap tulisan yang kita rangkai, terselip cinta-cinta pada budaya, pada tanah kelahiran, dan pada masa depan yang ingin kita wariskan.
Maka
biarlah langkah ini terus berlanjut, meski perlahan, meski sederhana. Sebab
dalam kesederhanaan itulah, keindahan tercipta. Dan dalam setiap karya yang
lahir, ada jejak hati yang akan selalu abadi, mengalir lembut seperti kisah
yang tak pernah ingin usai.
Selamat
berkarya para sahabat-sahabt ku, semoga kita dipertemukan Kembali dalam bingkai
kata, diantara deretan nama yang tertulis dalam Buku Cerita Anak Dwibahasa
disana terabadikan nama kita.
**
Salam Literasi**
hari itu pembelajaran berlangsung sebagaiman biasanya, materi demi materi telah kami ikuti dari pagi sampai siang, pembelajaran PPKN sedang berlangsung di ruang kelas XII, cuaca disiang itu terasa sangat panas, debu-debu dihalaman sekolah beterbangan sambil menari nari memenuhi halaman sekolah, pembelajaran dari pak husnan akan segera dimulai, satu hal yang selalu saya nantikan dari beliau Ketika masuk dikelas, pembelajaran PPKN selalu dilaksanakan dengan metode diskusi, pak husnan memberikan kebebasan kepada kami untuk berpendapat dan debat namun tidak terlepas dari pantauan beliau, agar tujuan pembelajaran tetap terakomidir dan perdebatan tidak liar kemana-kamana.
Saya
termasuk murid yang aktif mengikuti diskusi dan perang argument Ketika
penyajian materi disampaikan oleh rekan kelompok yang lain, suasa kelas terasa
riuh oleh peroses pembelajaran metode ini apalagi saat debat saya dan Ayu
Amira, seorang siswi pidahan dari Malaysia sejak kami duduk dibangku Mts dulu,
kalu soal kemampuan dan kecerdasan memang saya masih kalah dengan Ayu Amira,
selain dari cerdas dan pinta ia juga mahir berbahasa inggris, sehingga menjadi
murid kesayangan dari guru Bahasa inggris Ibuk Sarinah, tapi kalau soal debat
dan berlaga argument saya biasanya tidak mau mengalah, kami masih ada waktu
sisa pembelajaran 1 jam terakhir, pak Khusnan membawa kami untuk belajra diluar
ruangan, selain dari untuk merefleksi diri juga karena cuaca sangat panas kami
berpindah tempat proses pembelajaran diarahkan keluar kelas, tepatnya disamping
kelas yang masih rimbun ditumbuhi pepohonan.
Saya masih ingat betul sampai sekarang Ketika Pak Husnan
membawa kami di bawah pohon akasia yang rindang, kami berkumpul disana sambil
ditemani angin sepoi-sepoi, kami diperlihatkan dengan jejeran semut yang sedang
berjalan hilir mudik untuk berjuang mencapai tujuan, cuaca masih terasa panas,
dan cahaya matahari mulai menyentuh tanah perlahan, untuk menyibak celah
dedaunan akasia yang rindang itu, Ketika saya menundukkan pandangan, saya
melihat seekor semut kecil yang terpisah dari barisanya, memang ia tampak
berbeda dari semut yang lain, mungkin dari ras yang berbeda, ia sedang berjalan
membawa sebutir serpihan roti, roti itu tampak sangat besar dibandingkan
tubuhnya.
Semut itu berjalan perlahan. Kadang terjatuh Kadang
butiran, roti itu terlepas dari genggamannya, Namun setiap kali jatuh, semut
itu kembali mengambilnya, saya terus memperhatikan. Ketika semut itu sampai di
sebuah celah tanah yang sedikit tinggi, ia mencoba naik. Tetapi ia tergelincir
dan jatuh, dan mencoba lagi, Jatuh lagi hingga Berkali-kali, Namun semut itu
tidak pernah meninggalkan beban yang ia bawa. Ia terus berusaha hingga akhirnya
berhasil melewati rintangan itu dan masuk ke sarangnya.
Saya hanya bisa terdiam Dalam hati berkata,“Subhanallah…
seekor semut kecil saja tidak pernah menyerah.”
Jika mengingat kisah itu saya jadi teringat firman Allah dalam Al-Qur’an tentang
semut yang memberi peringatan kepada kaumnya agar berhati-hati terhadap pasukan
Nabi Sulaiman, Kisah itu menunjukkan bahwa makhluk sekecil semut pun memiliki
ketertiban, kerja keras, dan kebijaksanaan Saat itu sayapun merasa seolah Allah
sedang menasihatinya melalui makhluk kecil itu, saya yang Ketika itu sering
mengeluh ketika hidup terasa sulit, terkadang berangkat sekolah harus berjalan
kaki, puluhan kilo, karena seda yang saya miliki rusak, terkadang putus rantai,
ditengah jalan, Kadang rasa ingin putus asa ketika doa terasa lama dikabulkan, Kadang
berhenti berusaha ketika gagal sekali dua kali, membuat saya malas belajar dalam
mata Pelajaran tertentu, apalagi saat hampir akhir sekolah, Ketika teman-teman
pada melanjutkan kuliah sementara saya harus melanjutkan perjuangan orang tua,
berkebun, mengambil upah memetic kelapa, nebang pohon, nggali parit sampai
nenam sawit, itu semua dilakukan karena faktor ekonomi orang tua belum setabil
waktu itu.
Padahal seekor semut saja tidak berhenti mencoba,
berusaha tanpa seakan tidak mengenal putus asa, Ketika itu saya tersenyum dan
berkata dalam hati:
“Ya Allah, jika Engkau mengajarkan kesabaran
melalui seekor semut, maka jangan biarkan aku menjadi manusia yang mudah
menyerah.”
Sejak hari itu, setiap kali saya merasa lelah dalam
menjalani hidup, rintangan menghadang saya selalu mengingat semut kecil yang
tidak pernah meninggalkan Lelah selama usaha masih bisa ia lakukan dan membawa
beban amanah yang dibawanya, Ketika saya mengingat kisah semut itu, maka seya
terbayang sosok seorang guru yang sederhana, sering mengenakan celana polo dan
baju kaos olah raga Panjang, dan mengendarai supra x, dia Adalah pak husnan,
tokoh isnpiratif yang sampai sekarang tetap abadi dalam jiwa saya.
Namun kisah itu ternyata tidak berhenti pada siang hari
di bawah pohon akasia itu, Pak Husnan yang sejak tadi memperhatikan kami yang
sibuk melihat barisan semut, tiba-tiba tersenyum. Ia lalu berkata dengan suara
yang tenang,
“Anak-anak… kalian tahu kenapa saya membawa
kalian keluar kelas hari ini?”
Kami saling berpandangan. Tidak ada yang menjawab.
Ayu Amira yang biasanya cepat berbicara pun hanya diam sambil memperhatikan
semut yang berjalan, Pak Husnan kemudian menunjuk ke arah semut yang masih
hilir mudik membawa makanan.
“Coba kalian lihat semut itu. Tubuhnya kecil,
tetapi semangatnya besar. Ia tidak pernah mengeluh. Tidak pernah berkata
hidupnya susah. Tidak pernah berhenti walau berkali-kali jatuh.”
Beliau berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada
yang lebih dalam.
“Kalau semut saja tidak menyerah membawa
sebutir remah untuk keluarganya… mengapa manusia yang diberi akal dan hati
sering menyerah hanya karena satu kegagalan?”
Kata-kata itu seperti menampar hati saya.
Angin siang berhembus pelan. Daun-daun akasia bergerak
perlahan seakan ikut menyaksikan pelajaran hidup yang sederhana itu, Pak Husnan
kemudian duduk di atas akar pohon sambil berkata lagi,
“Dalam hidup kalian nanti, mungkin ada yang
menjadi guru, ada yang menjadi petani, ada yang menjadi pedagang, bahkan
mungkin ada yang harus membantu orang tua lebih dulu sebelum kuliah. Tapi ingat
satu hal…”
Beliau menatap kami satu per satu.
“Jangan pernah malu dengan perjuangan kalian.
Allah tidak menilai siapa yang paling cepat sampai, tetapi siapa yang paling
sabar berjalan.”
Kalimat itu begitu dalam tertanam di hati saya, sampai
sekarang Hari demi hari berlalu Kami lulus dari sekolah itu, Sebagian teman melanjutkan kuliah ke kota.
Ayu Amira pun melanjutkan studinya sebuah perguruan tinggi dengan mengambil
juruan perkapalan, Sedangkan saya kembali ke kampung, membantu orang tua di
kebun, Pagi hari memungut kelapa, Siang hari membersihkan kebun, Kadang malam
hari badan terasa sangat Lelah, Namun setiap kali rasa putus asa datang,
bayangan semut kecil di bawah pohon akasia itu selalu muncul di ingatan saya.
Semut kecil yang jatuh berkali-kali…Tetapi tidak pernah
meninggalkan remah yang ia bawa, Dan setiap kali saya hampir menyerah, saya
selalu mengingat suara Pak Husnan:
“Jangan berhenti berjalan hanya karena
jalannya berat.”
Tahun demi tahun berlalu, Sedikit demi sedikit kehidupan
berubah. Perjuangan yang dulu terasa berat perlahan membuahkan hasil, saya pun
memberanikan diri untuk mendaftar kuliah setelah setahun bekerja sebagai petani
dan pekebun, Saya mulai memahami satu hal yang dulu diajarkan oleh Pak Husnan
di bawah pohon itu:
Bahwa keberhasilan bukan milik orang yang paling pintar,
tetapi milik orang yang paling sabar
dan paling gigih berusaha, Kini ketika saya melihat seekor
semut berjalan membawa makanan, saya selalu ingat sosok sederhana yang banyak
memberikan inspiratif dalam kehidupan saya Ketika hampir kehilangan sinar masa
depan, dan Pak Husnan menyalakan sinar pelita nya yang mungkin tidak secerah
Matahari, tapi pelita itu cukup berarti untuk menjadi penujuk jalan untuk saya
meraih cita.
Waktu terus berjalan. Musim berganti, tahun demi tahun
pun berlalu. Banyak peristiwa datang dan pergi dalam perjalanan hidup saya.
Namun anehnya, dari sekian banyak pelajaran yang pernah saya terima di bangku
sekolah, ada satu kenangan yang tidak pernah pudar—siang hari di bawah pohon
akasia bersama Pak Husnan dan seekor semut kecil yang membawa remah roti.
Hari itu tampak sederhana. Tidak ada papan tulis, tidak
ada buku pelajaran yang dibuka, bahkan tidak ada catatan yang harus ditulis.
Tetapi justru di situlah pelajaran hidup yang paling dalam saya temukan, Pak
Husnan tidak hanya mengajarkan kami tentang pasal-pasal dalam pelajaran PPKN,
tetapi beliau mengajarkan kami cara memandang kehidupan. Bahwa perjuangan tidak
selalu harus besar untuk menjadi berarti. Bahwa langkah kecil yang terus
berjalan jauh lebih kuat daripada mimpi besar yang berhenti di tengah jalan.
Kini, ketika kehidupan kembali menghadirkan
rintangan—ketika lelah datang, ketika usaha terasa berat, ketika doa terasa
lama menunggu jawaban—saya sering mengingat kembali semut kecil itu, Semut yang
jatuh berkali-kali, tetapi tidak pernah meninggalkan remah yang dibawanya, dari
makhluk kecil itu saya belajar satu hal yang sangat sederhana, namun begitu
dalam maknanya : “bahwa hidup bukan tentang
seberapa sering kita jatuh, tetapi tentang seberapa kuat kita terus berjalan”, Dan
setiap kali kenangan itu muncul, saya selalu teringat sosok seorang guru
sederhana dengan motor Supra X-nya, yang mungkin tidak pernah menyangka bahwa
satu pelajaran kecil di bawah pohon akasia akan menjadi bekal hidup bagi
muridnya hingga bertahun-tahun kemudian.
=Refleksi Diri=
Aku belajar bahwa hidup bukan
tentang menghindari jatuh, tetapi tentang keberanian untuk bangkit dan terus
berjalan. Dari semut kecil, aku diingatkan bahwa kesabaran dan ketekunan lebih
berharga daripada sekadar kecerdasan. Kini aku ingin menjadi pribadi yang tidak
mudah menyerah, setia pada proses, dan percaya bahwa setiap usaha pasti
menemukan jalannya.
=========*****=========
Malam
itu agus duduk sendirian di Mushola kecil dibelakang rumah sakit, lampu temaram
menyorot wajahnya yang khusuk, angin malam membawa aroma bunga kenanga dari
taman, dengan suara nyaris tak terdengar ia berdoa…” ya Tuhanku ..bukan untuk
membuktikan diriku aku berdoa pada malam ini tapi untuk menyentuh hari yang
sombong, agar ia Kembali mengenal mu, sementara itu dikamar VIP, salsa duduk
disisi ranjang ibunya, menatap wajah Wanita yang kini mulai bisa tertawa
ringan, tapi dibalik senyum itu, hatinya justru dihantui rasa takut, bukan
karena penyakit tapi karena janji yang ia ucapkan siang tadi, apakah aku
terlalu gegabah …”gumamnya namun hatinya menjawab lembut”…atau mungkin inilah
cara tuhan menegurmu.
Ke
esokan harinya, sesuatu yang lebih besar terjadi, ibu salsa bisa berdiri degan
bantuan tongkat dua hari kemudian ia mulai berjalan pelan tanpa alat bantu,
dokter rehabilitas yang menanganinya
sampai meneteskan air mata, saya belum pernah melihat pemulihan secepat ini dok
salsa, ini seperti mukjizar…”tanya nya lirih”… salsa berdiri terpaku di depan
ruang Latihan, matanya menatap ibunya yang kini bisa tertawa sambil melangkah
dan diujung ruangan Agus berdiri diam…hanya tersenyum tanpa kata ..salsa
berjalan mendekat perlahan “..agus dia bisa jalan lagi”.. agus tersenyum. Aku
tahu karena dianya sudah didengar, doa siapa…tanya salsa lirih..” doa seoran
ganak yang akhirnya belajar rendah hati, “ jawab agus “…air mata salsa jatuh
tanpa bisa ditahan, semua gengsi, semua keraguan runtuh seketika.
Salsa
menatap agus bukan lagi sebgai orang Asing, tapi sebagai seoseorang yang
mengajarinya arti percaya, agus menatap salsa dengan lembut, janji tetaplah
janji, ucapnya pelan tapi tegas..dokter salsa pun terdiam wajahnya memerah,
bibirnya gemetar menyahan haru, jadi engkau masih ingat,,tanya nya lirih. Agus
tersenyum tipis, bagaimana mungkin saya lupa sesuatu yang diucapkan dari hati
…salsa pun menunduk air matanya jatuh membasahi pioinya yang pucat….aku….aku
tidak tahu harus berkata apa, agus menatapnya degan damai…kau tak perlu berkata
apa-apa, tuhan sudah menjawab semua nya lewat ibumu.
Malam
itu dibalkon rumah sakit salsa memandang lagit berbintang, angin lembut menyapu
rambutnya, membwa kenangan yang tak mungkin ia lupakan, senyum kecil muncul
diwajahnya ia teringat pada pada peria sederhana yang datang tanpa pamrih, tapi
meninggalkan jejak mendalam dihatinya, untuk pertama kalinya salsa benar-benar
mengerti, bahwa cinta sejati tak lahir dari harta, jabatan ataupun rupa, kadang
cinta datang dari hati yang paling sederhana, dari seseorang yang hanya tahun
cara berdoa dengan tulus.
Ke
esokan harinya suasana rumah sakit berbeda, penuh senyum dan air mata Bahagia,
ibu salsa resmi dinyatakan sembuh total, semua hasil laboratium menunjukan
keajaiban, organ berfungsi normal, tekanan darah setabil dan tak ada lagi jejak
penyakit langka yang dulu hampir merenggut nyawanya, kabar itu menyebar cepat,
para dokter, perawat bahkan pasien lain ikut bersyukur, tapi tak ada yang lebih
terharu dari salsa sendiri ia berdiri ditepi ranjang ibunya menatap dengan mata
berkaca-kaca sang ibu kini bisa berdiri tegak berjalan tanpa tonkat dan menatap
putrinya dengan tatapan lembut penuh kasih.. nak…jangan menagis, katanya sambil
mengusap pipi salsa, air mata mu sekarang bukan untuk sedih tapi untuk
bersyukur salsa tersenyum diantara isa…ibuk aku masih tak percaya ini semua
seperti mimpi, bukan mimpi salsa..”jawab ibunya lembut’..ini jawaban doa yang
kau dan aku, serta orang itu panjatkan.
Nama
orang itu membuat dada salsa hangat ia menoleh keluar jendela mencari sosok
yang kini begitu berarti dalam hidupnya, tapi agus sudah pergi sejak pagi tanpa
pesan, tanpa pamit, ia datang tanpa pamrih dan pergi tanpa jejak, seperti angin
yang singgah sebentar untuk menenangkan hati yang gelisah. Hari- hari berlalu
salsa Kembali bekerja seperti biasa tapi hatinya tak sama lagi ia bukan lagi
dokter yang hanya percaya pada data dan diagnose, ia mulai melihat manusia
bukan sekedar pasien, ia mendengarkan cerita mereka, menenangkan yang putus asa
bahkan membantu pasien miskin tanpa meminta bayaran.
Rekan-rakanya
heran, salsa…kau berubah sekali ujar salah satu dokter senior, salsa tersenyum
lembut mungkin karena aku baru sadar menyembuhkan tak cukup dengn obat tapi
juga dengan hati, namun dibalik senyum itu ada satu hal yang masih tertinggal,
Rindu….setiap kali turun hujan, atau saat setiap kali ia melewati taman rumah
sakit, kenangan tentang agus Kembali hadir, ia ingin sekali bertemu meski hanya
untuk mengucap terimakasih dan takdir seperti ingin menjawab doanya
mempertemukan mereka Kembali.
Sore
itu hujan turun perlahan, salsa baru keluar dari mobil dinasnya dipinggir jalan
dekat pasar lama, tempat pertemuan pertama mereka ia hanya ingin sekedar
mengenang tapi langkahnya terhenti,
dibawah pohon rindang berdirilah seseorang, ia memayungi seseorang akan kecil
yang kehujanan baju peri aitu sederhana tapi wajah dan senyum nya itu salsa tak
mungkin salah mengenalinya ..Agus..Bisinya.. perlahan. Peria itu itu menoleh
untuk sesaat waktu seperti berhenti, dua pasang pata saling bertemu mata
seorang Wanita yagn dulu penuh gengsi dan mata peria yang selalu teduh dalam
kesederhanaan, salsa melangakah pelan…kau pergi begitu saja tanpa kabar, tanpa pamit…”
tanya salsa”..saya tak ingin jadi beban //”jawab agus”, saya sudah melakukan
bagian saya, salsa menatapnya ….hujan pun membahasi wajahnya, lalu bagaiman
dengan janjiku..” suara salsa bergetar”..agus terdiam.
Janji…”tanya
agus”..ya janji ..aku pernah berjanji kalau kau bisa menyembuhkan ibuku aku
akan jadi istrimu..”sambung salsa”…hujan seperti berhenti sejenak, agus
menunduk menatap tanah yang becek dibawah kakinya, itu hanya ucapan disaat
emosi dokter..aku tak ingin janji itu menjadi beban bagi mu salsa. Salsa pun
menatapnya tajam namun penuh haru, agus…dulu aku mengucapkanya karena
kesombongan, tapi sekarang aku mengulanginya kerena keikhlasan, kali ini agus
menatapnya lama ada Cahaya lembut di matanya kau yakin..dunia kita berbeda..!
salsa menggeleng pelan “ cinta tak peduli dunia siapa kau datang membawa
mukjizat..bukan Cuma untuk ibuku tapi juga untuk hatiku, dan aku tak ingin
kehilangan orang yang membuatku belajar arti rendah hati, Agus menatap langit, hujan
reda…sinar senja muncul disela awan ..kalu begitu…katanya perlahan biarlah
janji itu jadi nyata, bukan karena kajaiban tapi karena cinta yang lahir dari
keajaiban itu sendiri.
Bebrapa
bulan kemudian dihalaman kecil rumah sakit tempat semua kisah ini bermula
sebuah pernikahan sederhan digelar tak ada kemewahan tak ada pesta besar, hanya
tawa, doa dan kebahagiaan yang tulus, salsa tampil Anggun dalam kebaya putih
sederhana agus berdiri disampingnya dengan kemeja bersih dan senyum yang
hangat, ibu salsa duduk diantara mara tamu matanya berkaca-kaca….naaak…bisiknya
pelan kau akhirnya menemukan seseorang yang bukan hanya menyembuhkan tubuhmu
tapi juga hatimu, salsa mengenggam tangan ibunya tersenyum haru dihadapan para
saksi dengan suara yang tenang namun penuh keyakinan agus menguacapkan ijab dan
Kabul, saat itu suasana seolah berhenti tak ada satu pun mata yang kering semua
orang menagis bukan karena kesedihan tapi karena mereka tahu meraka sedang
menyaksikan keajaiban cinta yang benar-benar lahir dari ketulusan.
TAMAT***
Bebrapa hari ini saya melihat banyak sekali
Pelajaran penting yang bisa diambil hikmah dari setiap kejadian yang ada
disekililing kita. Diselatpanjang yang lebih dikenal kota sagu ada tradisi yang
mengusik perhatian diberbagai wilayah di Indonesia bahkan sampai ke
mancanegara, sekala nya tidak tanggung-tanggung, pengunjung nya ada dari
berbagai negara, seperti Singapura, Vietnam, Australiya, jepang, korea bahkan
dari negeri Cina juga hadir disini, dan masih banyak negara-negara lain yang
berkunjung ke selatpanjang untuk menyaksikan dan menikmati Festival perang air (Cian Cui).
Saya secara pribadi tidak mempermasalahkan Festival Perang Air yang ada diselatpanjang, justru itu Adalah icon untuk mengenalkan Daerah ke penjuru dunia, dengan adanya Festival Perang Air, perputaran Ekonomi Masyarakat dan daerah meningkat secara drastis, tentu ini akan membawa dampak positif dalam tatanan sosial, tidak terlepas dari itu juga pasti ada pendapat lain yang berargumen akan timbul sisi negative, tapi itu wajar penapat natizen ini bisa diilustrasikan seperti sebilah palu, satu sisi bisa berfungsi untuk Mengetuk, namun disisi lain bisa jadi Mengutuk, di sisi yang berbeda juga bisa menjadi Solusi dari bebapa permaslahan, bisa digunakan untuk mencabut paku sehingga memisahkan diantara jajaran papan, juga bisa mengetuk paku untuk mengeratkan jajaran papan yang terpisah, ada beberapa persoalan di Masyarakat yang timbul akibat Festival Perang Air di Selatpanjang, tapi saya fikir hanya minoritas saja.
Saya hanya melihat dari sisi positif nya saja, tidak
berani menilai dari sisi negative, karena masing-masing persepektif pasti
menimbulkan perbedaan dan itu wajar selaku manusia, bagi saya selama itu
menimbulkan kemaslahatan untuk ummat beragama dalam keberagaman berbangsa dan
bernegara tidak lah menjadi probelmatika urgen, selama kita masih menyimpan
rasa saling pengertian dan memahami. Hari ini saya membuka album yang sudah
tersimpan bebrapa bulan lalu dalam memori Ponsel, saya melihat beberapa anak
sedang duduk bermain Bersama, bergembira, tanpa ada dinding pembatas perbedaan
latar belakang, karena dalam dunia mereka isinya hanya keasyikan bermain dan
bisa tertawa lepas tanpa beban.
Wajah-wajah kecil itu memancarkan senyum yang
tulus, tanpa sekat, tanpa prasangka. Mereka berbeda dalam penampilan, berbeda
dalam gaya, tetapi duduk berdampingan dalam kebersamaan yang indah. Pemandangan
sederhana itu seakan menjadi gambaran nyata dari firman Allah:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ
ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ
أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami
menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal…”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Dalam keyakinan umat muslim mengajarkan bahwa
perbedaan bukanlah alasan untuk menjauh, melainkan jembatan untuk saling
memahami. Toleransi bukan berarti mencampuradukkan keyakinan, tetapi
menghormati dan hidup berdampingan dengan damai. Seperti ketiga anak itu,
mereka duduk bersama tanpa mempertanyakan latar belakang satu sama lain. Yang
ada hanyalah tawa, persahabatan, dan rasa aman, Rasulullah ﷺ telah memberi
teladan tentang indahnya toleransi. Di Madinah, beliau hidup berdampingan
dengan berbagai suku dan agama. Beliau menjaga hak-hak mereka, melindungi
mereka, dan mencontohkan akhlak yang lembut. Karena toleransi dalam Islam lahir
dari iman dan akhlak mulia.
Di kehidupan sehari-hari, toleransi bisa dimulai
dari hal kecil: menghargai teman yang berbeda, tidak mengejek kebiasaan orang
lain, serta menjaga lisan agar tidak melukai. Toleransi adalah wujud kasih
sayang, dan kasih sayang adalah inti ajaran Islam, bahakan dalam setiap agama
mengajarkan tentang kebaikan, dan kasih sayang, Anak-anak itu mungkin belum
memahami makna besar dari kebersamaan mereka. Namun senyum mereka telah
mengajarkan satu pelajaran penting, bahwa dunia akan terasa lebih damai ketika
hati dipenuhi sikap saling menghormati. Indahnya toleransi adalah ketika kita
tetap teguh pada keyakinan, namun tetap lapang dalam pergaulan. Karena
sejatinya, Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, menghadirkan kedamaian, bukan
permusuhan; menumbuhkan persaudaraan, bukan perpecahan.
Ini
mustahil gumam dokter jaga, semalam saja ginjal nya nyaris tak berfungsi sekarang
malah normal Kembali, salsa terpaku tanganya gemetar saat memegang tangan
ibunya, ini salsa…ibu sadar ya ..aku disini bu…sang ibu tersenyum lemah jangan
menangis nak ibu hanya tertidur lama tangis salsa pun pecah, ia memeluk ibunya
erat, tak peduli dengan dokter dan perawat disekitarnya, suasana sontak menjadi
hening, semua yang menyaksikan hanya bisa terdiam antara kagum dan bingung,
beberapa jam kemudian kabar kesembuhan itu menyebar keseluruh ruang rumah
sakit, para perawat yang kemaren mentertawakan Agus mulai berbisik takjub
katanya ibu dokter itu Cuma punya waktu dua hari lagi, tapi sekarang bisa
senyum, jangan-jangan beneran karena doa orang lusuh itu.
Agus…..panggil
salsa dari kejauhan, peria itu menoleh sedikit terkejut lalu berjalan mendekat,
“ Dokter sasla..?” saya tak menyangka
anda datang ketempat seperti ini, salsa
menatap nya tajam, “ aku harus tahu, apa yang sebenarnya kau lakukan pada
ibuku, agus hanya tersenyum samar …’saya tak melakukan apa-apa dokter, hanya berdoa, selebihnya tuhan yang
berkerja, jangan berbicara semua ini kebetulan, aku dokter, aku tahu penyakit
ibu ku tidak bisa sembuh secepat itu..”sambut salsa”. Agus menatap dalam suaranya
tenang tapi menusuk hati, mungkin karena kau seorang dokter, kau jadi sulit
peraya bahwa mukjizat itu nyata, salsa terdiam…”
Kata-kata
itu mengguncang sesuatu dalam dirinya, aku tidak ingin percaya buta pada hal yang tak bisa dijelaskan..ya tapi
kau juga takbisa menolak kebenaran yang terjadi didepan matamu, “ balas agus
lembut.”…hening angin sore berhembus membawa aroma tanah basah, diantara
kesunyian itu salsa memandangi pria dengan pakaian lusuh itu, namun dibalik
kesederhanaanya itu ada wibawa kedamaian yang sulit di jelaskan, kau
benar-benar tidak ingin apapun dari ku…”tanya salsa pelan”, Agus menggeleng,
tidak saya bahkan sudah mendapatkan lebih dari cukup.. lebih dari cukup “sambut
salsa” Agus pun tersenyum, sambil menatap seorang anak kecil yang memeluk
ibunya dipinggir jalan , melihat seorang anak bisa memeluk ibunya lagi itu
sudah lebih dari cukup “jawab agus dengan tegas”
Kata-kata
itu membuat mata salsa berair, ia berusaha tersenyum tapi dadanya sesak, kau
peria aneh agus…” sambut salsa Kembali” dan kau dokter keras kepal, “ balasan
agus sambil tertawa kecil”, mereka
sama-sama terdiam habnya suara kendaraan dan Langkah orang yang berlalu Lalang
disekitar, namun diantara diam itu ada sesuatu yang berubah, dinding
kesombongan di hati salsa mulai retak, malam nya salsa Kembali kerumah sakit,
ia menatap ibunya yang kini sudah bisa duduk di ranjang, wajahnya cerah matanya
bersinar, bu,,, aku ingin minta maaf..aku terlalu sombong, terlalu percaya pada
ilmu dan lupa bahwa ada kekuatan lain diatas segalanya…”ucap salsa didepan
ibunya”, sang ibu pun tersenyum lembut, itu artinya kamu sudah belajar nak,
tuhan selalu punya cara lembut untuk menegur anak yang dicintainya.
Salsa
menggengam tangan ibunya erat-erat, aku ingin berterimakasih pada orang itu,
pada agus,, pergilah nak “tegas sang ibu” dan jangan berterimakasih, lihatlah
dia dengan hati, kata-kata it uterus terngiang di telinganya, diluar jendela
hujan Kembali turun perlahan dan diantara gemericik nya salsa memejamkan mata,
bukan lagi dalam kesedihan tapi dalam perasaan yang baru tumbuh dihatinya,
sebuah rasa kagum yang perlahan berubah menjadi cinta, beberapa hari telah pun
berlalu sejak keajaiban itu mengguncang hati semua orang, kondisi ibu salsa
kini semakin membaik, luka-luka ditubuhnya perlahan mengering, nafasnya mulai
teratur bahkan sesekali ia tertawa kecil, sambil membaca buku ditaman rumah
sakit, pemandangan yang dulu dianggap mustahil kini nyata didepan mata, para
dokter takjub, kepala rumah sakitpun turun tangan memeriksa ulang semua hasil
laboratorium, mencoba mencari logika yang bisa menjelaskan kecepatan pemulihan
sang pasien namun salsa meski bersyukur tidak bisa tenang, dibalik rasa Bahagia
nya ada satu tanya besar yang terus menggantung di hatinya, bagaiman semua ini
bisa terjadi.
Agus
sosok peria sederhana datang dengan tanpa pamrih, tanpa niat ingin dikenal,
sore itu salsa akhirnya memanggil agus kerumah sakit, ia ingin mendengar
semuanya langsung dari mulut peria itu, agus pun datang mengenakan pakaian
bersih meski sederhana, rambutnya sedikit lebih rapi tapi aura tenang nya tetap
sama, para perawat yang dulu menertawakanya kini menunduk malu, beberapa bakan
menyapa dengan sopan, Ketika ia masuk keruang dokter salsa, suasana langsung
hening hanya terdengar detakan jam dan hembusan pendingin udara, silakan duduk
“ucap salsa” agus menunduk sopan lalu duduk tanpa banyak bicara, “ kau tau
kenapa aku memanggilmu”…tanya salsa dengan nada dingin. Mungkin karena hatimu
belum percaya “jawab agus pelan”..salsa menghela nafas Panjang, aku tidak bisa
menerima ini begitu saja, ibu ku sakit bertahun-tahun, semua dokter terbaik
menyerah, tapi tiba-tiba dia sembuh dan yang melakukanya hanyalah doa seorang
peria lusuh seperti kamu, agus tersenyum
kecil….
Saya
tidak punya kuasa apapun dokter, kalau tuhan ingin sesuatu terjadi dia hanya
berkata jadilah.., salsa menatapnya tajam.. lalu bagaiman kau tahu, mengapa
tepat disaat kau datang ibuku sadar, agus terdiam sejenak sebelum menjawab,
karena saya hanya mendengar panggilan hati, kadang hati tau yang tak bisa
dijelaskan oleh kepala, kata-kata itu membuat salsa terdiam, tanganya
mengenggam erat ujung jaz putihnya sendiri, lalu entah karena ego yang masih
membara atau rasa penasaran yang menekan dada, salsa berkata dengan nada
menantang….” Kalu kau memang sehebat itu sembuhkan ibuku sepenuhnya”..buat dia
berjalan lagi, buat dia tertawa seperti dulu, kalau kau bisa aku akan membalas
budi dengan sesuatu yang besar, agus menatapnya dengan tatapan teduh, balasan
bukan hal yang ku cari, ..aku serius …”salsa menegaskan..” aku akan beri
apapun, uang, rumah jabatan, semuanya, tapi kalau kau gagal kau harus pergi
dari hidupku dan jangan pernah muncul lagi.
Suasanapun
menjadi beku, waktu seakan berhenti, agus memandangi salsa lama, matanya tak
menunjukan kemarahan sedikitpun, janji Adalah hal yang berat dokter….jangan
ucapkan kalau hanya untuk menantang, “ balas agus dengan tenang”.. aku tidak
takut janji ..jawab salsa dingin, aku hanya ingin membuktikan, bahwa semua ini
kebetulan belaka, aguspun Kembali tersenyum tenang, kalau begitu baiklah aku
terima, tapi ingat bukan aku yang menyembuhkan, aku hanya perantara..
Bersambung...***
Peria
itu Bernama Agus hanya mengangguk ia berdiri sambil menutup mata dan mulai
berdoa pelan taka da jampi atau pun matra hanya bisikan lembut yang nyaris tak
terdengar, tapi entah mengapa udara sekitar seolah berubah, hangat, tenang,
salsa menatapnya dengan perasaan campur aduk, kesal tapi juga penasaran,
didalam hatinya mucul bisikan halus sesuatu yang tak bisa dijrlaskan oleh
logika atau ilmu, untuk pertama kalinya sejak ibunya jatuh sakit salsa tidak
marah, tidak menolak dan tidak menangis, ia hanya diam menatap pria asing itu
berdoa untuk ibunya dan tanpa sadar sebuah harapan kecil mulai tumbuh di
hatinya, hari itu langit Jakarta mendung,
dengan tiba-tiba aroma hujan menggantung diudara, dihalaman rumah sakit
peria berpakaian lumuh itu Kembali datang, baju nya masih sederhana, rambutnya
berantakan tapi matanya memancarkan ketenangan yang sulirt dijelaskan ia
membawa sebuah botol berisi Air dan ramuan herbal tradisional, para perawat
langsung berbsisik, itu orang kemaren masih berani datang lagi, ujar yang lain
dengan nada mengejek, salsa yang duduk dikursi dekat ruang ICU, menghela nafas
Panjang Ketika melihat sosok itu muncul lagi, “ kau lagi, katanya pelan tapi
tajam, aku sudah bilang taka da yang bisa kau lakukan disini”, agus pun
menunduk sopan, “ saya tau dokter, tapi izinkan saya berdoa untuk ibumu sekali
lagi, hanya sebentar, saya tidak akan menyentuh apapun,” nada suaranya lembut
tapi mengandung keyakinan yang sulit abaikan, salsa menatapnya lama, antara
kesal dan heran, entah mengapa hatinya tak sanggup lagi mengusir peri aitu
mungkin karena wajah agus terlihat tulus, atau mungkin karena rasa putus asa
yang perlahan melahap hatinya dari dalam.
Beberapa
menit kemudian agus membuka mata “ sudah katanya singkat” ia mengambil air dari
botol dan menyerahkanya pada salsa, “ air ini hanya air biasa, tapi kalau
dokter mau gunakanlah untuk membasuh wajah ibumu, jangan percaya padauk tapi
percayalah pada tuhan”, salsa menatap botol itu dengan raut ragu, “ kau pikir
ini sulap ini rumah sakit, bukan tempat percobaan spiritual, “ucapnya sinis.
Namun
agus hanya tersenyum, “ saya tidak bermain sulap dokter, saya hanya melakukan
apa yang diperintahkan hati saya” dan tepat setelah kata-kata itu, sesuatu yang
tak terduga terjadi, seorang dokter muda berlari dari ruang observasi sambil
membawa hasil pemeriksaan baru ..” Dok..lihat ini..! aktifitas saraf ibu anda
tiba-tiba meningkat drastis beberapa menit lalu”, salsa memandang layar
,monitor grafik kecil disana menajak tajam lalu stabil Kembali, itu mungkin
Cuma efek alat gumamnya. Salsa mencoba menolak kenyataan yang tak bisa ia
jelaskan, agus tak berkata apa-apa ia hanya menatap salsa denga tatapan lembut
lalu menunduk izinkan saya pamit dan terimakasih sudah mengizinkan saya berdoa,
namun sebelum ia pergi salsa memanggil, tunggu…pria itupun berhenti seketika
dan menoleh, “ apa sebenarnya tujuan mu datang kesini, uang, pujian,
popularitas, tanya salsa…. Agus pun menggeleng pelan , “ saya hanya datang
karena diperintah hati tidak semua hal perlu alasan duniawi dokter, kadang
tuhan memanggil seseorang untuk membantu tanpa pamrih, jawab agus penuh dengan
keyakinan”. Salsa tersenyum sinis, Kau terlalu untuk dipercaya, dunia tidak
berjalan dengan Doa, dunia berjalan dengan ilmu dan kerja keras, agus
menatapnya dengan tatapan damai, kalau bgiru katanya pelan biarkan ilmu dan doa
Bersama, karena kedua nya datang dari sumber yang sama yaitu Tuhan.
Kata-kata
itu membuat dada salsa terasa sesak, ada sesuatu dalam dirinya yang goyah, ia
ingin membantah tapi tak sanggup, untuk pertama kalinya peria sederhana itu
membuatnya terdiam, malamnya salsa duduk di kursi ruang ICU, ia menatap ibunya
yang tertidur tenang sementara ditanganya masih tergenggam botol air pemberian
agus, ia membuka tutupnya, mencium
aromanya ternyata hanya air biasa tidak ada yang aneh, tapi entah mengapa air
itu terasa menenangkan, dengan hati yang ragu salsa meneteskan sedikiti air ke
ujung jarinya, lalu mengusap lembut dahi
ibunya, kalau memang ini Cuma air biasa biarlah tak ada yang terjadi, tapi
kalau memang tuhan mau menolong, aku akan berhenti meremehkan siapapun, air
matanya jatuh perlahan ia teringat kata-kata ibunya sebelum koma, naak…jangan
sombong pada hidup, kadang yang menyembuhkan bukan tangan manusia, malam itu
terasa sunyi hanya suara mesin infus dan detak jantung yang berdetak pelan,
lalu lampu monitor disisi ranjang berkedip lembut, gerafik jantung prlahan
stabil, salsa menatapnya dengan mata terbelalak.
Ia
tak ingin percaya tapi hatinya bergetar, ia menatap wajah ibunya, yang kini
tampak sedikit tenang lalu mendongak kelangit ruangan seolah berbicara pada
susuatu yang selama ini ia abaikan, jika ini jalanmu, tunjukan aku kebenaran
diluar jendela hujan turun perlahan membasahi kaca dengan irama lembut yang
seolah membawa pesan rahasia dari
langit, dikajauhan berdiri seorang agus pria sederhana, tubuhnya basah kuyup
dibawah guyuran hujan, tapi senyum diwajahnya tenang penuh keyakinan, seolah ia
tahu, malam itu bukan malam biasa, malam itu Adalah awal dari sebuah keajaiban
besar yang akan mengubah dua hati selamanya, pagi harinya sinar matahari
menembus jendela ruang ICU, menyoroti wajah lembut soerang Wanita tua yang
telah berhari-hari terbaring tanpa kesadaran, disampingnya salsa sang putri
masih duduk dikursinya, matanya sembab, tubuhnya letih karena semalaman tak
tidur, ditanganya botol air mineral yang diberi agus sudah hampir kosong,
Ketika seorang suster masuk memeriksa alat monitor, tiba-tiba..suara lirih
terdengar dari ranjang, salsa terlonjak kaget, ia menatap ibunya yang perlahan
membuka mata, suara itu pelan tapi penuh kesadaran, ibu…suaranya bergetar, ibu
sadar, astaga…ibu sadar, suster buru-buru
memanggil dokter jaga, dalam hitungan detik ruangan itu ramai oleh tim
medis, mereka memeriksa tekanan darah, denyut jantung hingga reaksi pupil, dan
hasilnya sungguh diluar logika.
Bersambung...***
Seorang
dokter cantik, yang kaya raya dan angkuh yang selama ini tidak percaya pada
sebuah keajaiban, namun hidup nya berubah total setelah datang seorang pria
yang lusuh dan miskin, dengan keyakinan sederhana yang mengguncang logika,
“izinkan aku menyembuhkan ibumu” jika tuhan berkehendak ibumu akan sembuh,
awalnya sang dokter mentertawakan dan menghina pria itu bahkan menantangnya
dengan sombong, “ kalau kau benar-benar bisa menyembuhkan ibuku, aku rela
menjadi istrimu”, tapi siapa sangka keajaiban benar-benar terjadi, dan bagaiman
kisah selanjutnya akankah sang dokter memenuhi janjinya….
Dibalik
kekaguman banyak orang perawat sering berbisik pelan “dokter salsa hebat, tapi
galak nya minta ampun”.pasien miskin kadang ditatap saja tidak, tapi semua
omongan itu tak pernah ia perdulikan, salsa hanya hidup untuk karir, prestasi
dan pengakuan bukan untuk perasaan,
namun
tiba-tiba hidup sempurna itu mulai retak, pukul 11 malam suara benda jatuh dari lantai atas rumahnya yang membuat dokter
salsa panik, ia berlari menaiki anak tangga dan mendapati ibunya tergeletak
dilantai, tubuh Wanita tua itu gemetar hebat, wajahnya pucat matanya nyaris tak
fokus,..Bu….ibu kenapa …dokter salsa pun memeluk tubuh ibunya yang dingin, lalu
segera menelphon ambulan, ia membawanya kerumah sakit tempat ia sendiri berkerja
serangkaian pemeriksaan dilakukan seperti City Scan MRi dan laboratorium pun
lengkap, namun hasilnya membuat nafas dokter salsa tercekat dokter seniornya,
dokter Bagus menatap layar monitor dengan wajah berat, Salsa ….ini bukan
penyakit biasa, ada kerusakan langka di sistem saraf Otaknya, kami belum tahu
apa penyebab nya mungkin sangat kecil untuk tertolong ucap dokter bagus, dokter
salsa pun terpaku.
Tidak
mungkin,,! Pasti ada cara, aku dokter, aku akan menemukan jalan untuk
menyembuhkan ibuku berontak salsa, dalam keputus asaan, salsa menghubungi
berbagai konsultan medis dari Singapura, jepang hingga amerika. Ia mengirim
hasi scan ibunya, membayar ratusan juta demi telekonferensi dengan professor
terkenal tapi jawabanya selalu sama “maaf kasus ini diluar jangkauan medis saat
ini, hari-hari berikutnya telah berubah menjadi neraka bagi salasa, ia tetap
bekerja tapi matanya sayu dan wajahnya Lelah, setiap malam ia duduk di ruang
ICU, mengenggam tangan ibunya yang makin melemah tubuh sang ibupun semakin
kurus, kulitnya pucat seperti kertas, suatu malam ibunya membuka mata dan
berbisik lemah, naak..jangan sombong, kadang yang menyembuhkan bukan tangan
manusia, air mata salsa jatuh seketika, jangan bicara begitu bu..”aku dokter”
aku pasti bisa menyembuhkan ibu, tapi jauh didalam hati, ia tahu kalimat itu
hanyalah pelarian dari kenyataan, harapanya hampir padam seminggu pun telah
berlalu, salsa nyaris tak tidur,ia terus menatap hasil pemeriksaan berkali-kali
berharap ada perubahan meski ia sendiri tak percaya lagi pada keajaiban.
Lalu
pagi itu datanglah seorang peria berpakaian lusuh muncul didepan ruang ICu,
bajunya kumal rambutnya berantakan, wajahnya penuh debu dan kakinya hanya
beralaskan sandal jepit, para perawat langsung menatap sinis, “ permisi..ini
bukan tempat umum, anda mau kemana”. Tanya salah satu perawat, peria itupun
tersenyum tenang, saya mencari dokter salsa, salsa yang duduk menatap layar
monitor nya menoleh sekilas, saya salsa, ada urusan apa sambutnya dari balik
layer monintor itu, peria itupun menatapnya dengan lembut, saya dengar ibu anda
sedang sakit, saya datang untuk membantu, ruangan seketika hening para
perawatpun saling pandang Sebagian lagi menahan tawa, membantu…..anda siapa,
dukun, tabib, ucap salsa dengan sinis, tapi peria itu tak tersinggung, saya
bukan siapa-siapa saya hanya percaya tak ada yang lebih besar dari kekuasaanya,
taka da penyakit yang tak bisa disembuhkan jika tuhan berkehendak, salsa
menghela nafas Panjang dan tersenyum tipis, kau bicara omong kosong dihadapan
dokter spesialis saraf, ibuku tak bisa disembuhkan bahkan oleh professor luar
negeri sekalipun dan kau datang dengan baju
kotor menawarkan pertolongan lucu.
Beberapa
perawat tertawa kecil tapi peria itu hanya menunduk lalu berkata lembut kalau
saya salah biarlah saya ditertawakan tapi kalau tuhan benar ibu mu akan sembuh,
nada suara peria itu begitu yakin, hingga dada salsa terasa bergetar aneh namun
egonya lebih kuat. Ia tersenyum miring dan berkata “baik,,! Kalau kau bisa
menyembuhkan ibuku aku rela menikah dengan mu tapi kalau tidak jangan pernah
muncul dihadapanku lagi, jawab salsa. Ruangan sunyi hanya terdengar suara mesin
infus dan detak jantung dari monitor peria itu menatap salsa dalam-dalam, lalu menjawab degan suara tenang..” saya tidak datang mencari isteri,
tapi saya datang, karena hati Nurani saya membawa saya kesini salsa mengibaskan
tangan, wajahnya dingin dan datar, sudah cukup.! Terserah kau mau apa tapi
jangan ganggu staf ku, ucap salsa dengan tajam. Kalau kau ingin mencoba silakan
tapi jangan harap aku akan percaya.
Bersambung...***
Berbicara itu sangat mudah karena tidak memerlukan biaya, berbeda dengan membeli sesuatu yang harus ditebus dengan uang. Namun, yang sulit a...