Malam
itu agus duduk sendirian di Mushola kecil dibelakang rumah sakit, lampu temaram
menyorot wajahnya yang khusuk, angin malam membawa aroma bunga kenanga dari
taman, dengan suara nyaris tak terdengar ia berdoa…” ya Tuhanku ..bukan untuk
membuktikan diriku aku berdoa pada malam ini tapi untuk menyentuh hari yang
sombong, agar ia Kembali mengenal mu, sementara itu dikamar VIP, salsa duduk
disisi ranjang ibunya, menatap wajah Wanita yang kini mulai bisa tertawa
ringan, tapi dibalik senyum itu, hatinya justru dihantui rasa takut, bukan
karena penyakit tapi karena janji yang ia ucapkan siang tadi, apakah aku
terlalu gegabah …”gumamnya namun hatinya menjawab lembut”…atau mungkin inilah
cara tuhan menegurmu.
Ke
esokan harinya, sesuatu yang lebih besar terjadi, ibu salsa bisa berdiri degan
bantuan tongkat dua hari kemudian ia mulai berjalan pelan tanpa alat bantu,
dokter rehabilitas yang menanganinya
sampai meneteskan air mata, saya belum pernah melihat pemulihan secepat ini dok
salsa, ini seperti mukjizar…”tanya nya lirih”… salsa berdiri terpaku di depan
ruang Latihan, matanya menatap ibunya yang kini bisa tertawa sambil melangkah
dan diujung ruangan Agus berdiri diam…hanya tersenyum tanpa kata ..salsa
berjalan mendekat perlahan “..agus dia bisa jalan lagi”.. agus tersenyum. Aku
tahu karena dianya sudah didengar, doa siapa…tanya salsa lirih..” doa seoran
ganak yang akhirnya belajar rendah hati, “ jawab agus “…air mata salsa jatuh
tanpa bisa ditahan, semua gengsi, semua keraguan runtuh seketika.
Salsa
menatap agus bukan lagi sebgai orang Asing, tapi sebagai seoseorang yang
mengajarinya arti percaya, agus menatap salsa dengan lembut, janji tetaplah
janji, ucapnya pelan tapi tegas..dokter salsa pun terdiam wajahnya memerah,
bibirnya gemetar menyahan haru, jadi engkau masih ingat,,tanya nya lirih. Agus
tersenyum tipis, bagaimana mungkin saya lupa sesuatu yang diucapkan dari hati
…salsa pun menunduk air matanya jatuh membasahi pioinya yang pucat….aku….aku
tidak tahu harus berkata apa, agus menatapnya degan damai…kau tak perlu berkata
apa-apa, tuhan sudah menjawab semua nya lewat ibumu.
Malam
itu dibalkon rumah sakit salsa memandang lagit berbintang, angin lembut menyapu
rambutnya, membwa kenangan yang tak mungkin ia lupakan, senyum kecil muncul
diwajahnya ia teringat pada pada peria sederhana yang datang tanpa pamrih, tapi
meninggalkan jejak mendalam dihatinya, untuk pertama kalinya salsa benar-benar
mengerti, bahwa cinta sejati tak lahir dari harta, jabatan ataupun rupa, kadang
cinta datang dari hati yang paling sederhana, dari seseorang yang hanya tahun
cara berdoa dengan tulus.
Ke
esokan harinya suasana rumah sakit berbeda, penuh senyum dan air mata Bahagia,
ibu salsa resmi dinyatakan sembuh total, semua hasil laboratium menunjukan
keajaiban, organ berfungsi normal, tekanan darah setabil dan tak ada lagi jejak
penyakit langka yang dulu hampir merenggut nyawanya, kabar itu menyebar cepat,
para dokter, perawat bahkan pasien lain ikut bersyukur, tapi tak ada yang lebih
terharu dari salsa sendiri ia berdiri ditepi ranjang ibunya menatap dengan mata
berkaca-kaca sang ibu kini bisa berdiri tegak berjalan tanpa tonkat dan menatap
putrinya dengan tatapan lembut penuh kasih.. nak…jangan menagis, katanya sambil
mengusap pipi salsa, air mata mu sekarang bukan untuk sedih tapi untuk
bersyukur salsa tersenyum diantara isa…ibuk aku masih tak percaya ini semua
seperti mimpi, bukan mimpi salsa..”jawab ibunya lembut’..ini jawaban doa yang
kau dan aku, serta orang itu panjatkan.
Nama
orang itu membuat dada salsa hangat ia menoleh keluar jendela mencari sosok
yang kini begitu berarti dalam hidupnya, tapi agus sudah pergi sejak pagi tanpa
pesan, tanpa pamit, ia datang tanpa pamrih dan pergi tanpa jejak, seperti angin
yang singgah sebentar untuk menenangkan hati yang gelisah. Hari- hari berlalu
salsa Kembali bekerja seperti biasa tapi hatinya tak sama lagi ia bukan lagi
dokter yang hanya percaya pada data dan diagnose, ia mulai melihat manusia
bukan sekedar pasien, ia mendengarkan cerita mereka, menenangkan yang putus asa
bahkan membantu pasien miskin tanpa meminta bayaran.
Rekan-rakanya
heran, salsa…kau berubah sekali ujar salah satu dokter senior, salsa tersenyum
lembut mungkin karena aku baru sadar menyembuhkan tak cukup dengn obat tapi
juga dengan hati, namun dibalik senyum itu ada satu hal yang masih tertinggal,
Rindu….setiap kali turun hujan, atau saat setiap kali ia melewati taman rumah
sakit, kenangan tentang agus Kembali hadir, ia ingin sekali bertemu meski hanya
untuk mengucap terimakasih dan takdir seperti ingin menjawab doanya
mempertemukan mereka Kembali.
Sore
itu hujan turun perlahan, salsa baru keluar dari mobil dinasnya dipinggir jalan
dekat pasar lama, tempat pertemuan pertama mereka ia hanya ingin sekedar
mengenang tapi langkahnya terhenti,
dibawah pohon rindang berdirilah seseorang, ia memayungi seseorang akan kecil
yang kehujanan baju peri aitu sederhana tapi wajah dan senyum nya itu salsa tak
mungkin salah mengenalinya ..Agus..Bisinya.. perlahan. Peria itu itu menoleh
untuk sesaat waktu seperti berhenti, dua pasang pata saling bertemu mata
seorang Wanita yagn dulu penuh gengsi dan mata peria yang selalu teduh dalam
kesederhanaan, salsa melangakah pelan…kau pergi begitu saja tanpa kabar, tanpa pamit…”
tanya salsa”..saya tak ingin jadi beban //”jawab agus”, saya sudah melakukan
bagian saya, salsa menatapnya ….hujan pun membahasi wajahnya, lalu bagaiman
dengan janjiku..” suara salsa bergetar”..agus terdiam.
Janji…”tanya
agus”..ya janji ..aku pernah berjanji kalau kau bisa menyembuhkan ibuku aku
akan jadi istrimu..”sambung salsa”…hujan seperti berhenti sejenak, agus
menunduk menatap tanah yang becek dibawah kakinya, itu hanya ucapan disaat
emosi dokter..aku tak ingin janji itu menjadi beban bagi mu salsa. Salsa pun
menatapnya tajam namun penuh haru, agus…dulu aku mengucapkanya karena
kesombongan, tapi sekarang aku mengulanginya kerena keikhlasan, kali ini agus
menatapnya lama ada Cahaya lembut di matanya kau yakin..dunia kita berbeda..!
salsa menggeleng pelan “ cinta tak peduli dunia siapa kau datang membawa
mukjizat..bukan Cuma untuk ibuku tapi juga untuk hatiku, dan aku tak ingin
kehilangan orang yang membuatku belajar arti rendah hati, Agus menatap langit, hujan
reda…sinar senja muncul disela awan ..kalu begitu…katanya perlahan biarlah
janji itu jadi nyata, bukan karena kajaiban tapi karena cinta yang lahir dari
keajaiban itu sendiri.
Bebrapa
bulan kemudian dihalaman kecil rumah sakit tempat semua kisah ini bermula
sebuah pernikahan sederhan digelar tak ada kemewahan tak ada pesta besar, hanya
tawa, doa dan kebahagiaan yang tulus, salsa tampil Anggun dalam kebaya putih
sederhana agus berdiri disampingnya dengan kemeja bersih dan senyum yang
hangat, ibu salsa duduk diantara mara tamu matanya berkaca-kaca….naaak…bisiknya
pelan kau akhirnya menemukan seseorang yang bukan hanya menyembuhkan tubuhmu
tapi juga hatimu, salsa mengenggam tangan ibunya tersenyum haru dihadapan para
saksi dengan suara yang tenang namun penuh keyakinan agus menguacapkan ijab dan
Kabul, saat itu suasana seolah berhenti tak ada satu pun mata yang kering semua
orang menagis bukan karena kesedihan tapi karena mereka tahu meraka sedang
menyaksikan keajaiban cinta yang benar-benar lahir dari ketulusan.
TAMAT***








Tidak ada komentar:
Posting Komentar