NUansa.UMT

Refleksi Perjalanan Ilmu dan Kebersamaan

motivasi dan informasi

Di setiap awal perjalanan, selalu ada ruang untuk belajar dan memahami makna kehidupan dengan lebih dalam. Hari ini, saya lumayatn sat set (anak muda sekarang menyebutnya Gercep), saya sedang menulis artikel petua ulama yang saya kutip dari kitab Bidayatul Hidayah, ada pesan Whatsaap masuk, dari buk Ema, selaku ketua panitia pelaksanaan penerimaan murid baru di MAN 2 Kepulauan Meranti, pesan itu mengingatkan bahwa ada jadwal sosialisasi jam 9.00 Wib, dini hari. Sementara sekarang sudah menunjukan pukul 08.23 Menit. Tanpa pikir Panjang laptop pun langsung saya tutup, dan berangkat pergi, perjalanan yang lumayan tidak dekat, karena harus menyeberangi selat dengan perahu kayu yang di beri tenaga diesel.

Sebelum sampai dilokasi sosialisasi, saya sempatkan waktu untuk menyapa rekan-rekan siswa dari pasukan khusus untuk mengikuti seleksi pasukan pengibar bendera ditingkat Kabuapten, saya hanya bebrapa menit saja, setelah memastikan pasukan lengkap saya tinggal pergi dan telah diserahkan kepada panitia pelaksana. Masih ada waktu 15 menit untuk saya melanjutkan perjalanan tugas utama, (mendampingi kepala madrasah untuk melaksanakan sosialisasi PMB). Saya datang lebih awal beberapa menit ketimbang kepala madrasash, disana sudah ada buk ema selaku ketua pelaksana. Tidak lalma kemudian kepala madrasah pun tiba, kami pun langsung menuju ketempat sosisasi dilaksanakan.

Sosialisasi ini bukan hanya sekedar promosi dan untuk mencari murid baru, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang bisa kita petik hikmahnya dalam kehidupan, kita tidak sekadar memulai kegiatan sosialisasi siswa baru, tetapi juga membuka pintu menuju dunia pengetahuan, pengalaman, dan pembentukan jati diri. Di tempat inilah, pikiran diasah, akhlak dibina, dan mimpi mulai ditata dengan penuh kesadaran.

Sosialisasi ini bukan hanya tentang mengenal lingkungan sekolah, melainkan juga tentang memahami peran kita sebagai pelajar yang berpikir kritis, bertindak bijak, dan mampu mengambil hikmah dari setiap proses. Sebab dalam setiap langkah kecil yang kita ambil hari ini, tersimpan pelajaran besar yang akan membentuk masa depan yang lebih bermakna. Kurang lebih seperti itu yang disampaikan kepala madrasah dalam kegiatan tersebut, namun bagi saya pribadi tentu tidak sekadar sosialisasi melainkan saya harus bisa mengambil hikmah dan ilmu pengetahuan dari kegiatan itu.

Dalam perjalanan menuntut ilmu, kita akan menyadari bahwa pendidikan bukan sekadar tentang nilai atau prestasi semata, melainkan tentang bagaimana kita belajar memahami diri, menghargai proses, dan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter. Setiap pertemuan dengan guru, setiap diskusi dengan teman, hingga setiap tantangan yang dihadapi, semuanya adalah bagian dari proses pembelajaran yang tidak ternilai harganya. Terkadang, langkah kita akan terasa berat. Akan ada rasa lelah, ragu, bahkan kegagalan yang mungkin datang tanpa diundang. Namun di situlah letak hikmahnya bahwa setiap kesulitan mengajarkan keteguhan, setiap kegagalan melatih kesabaran, dan setiap usaha yang sungguh-sungguh akan membentuk kekuatan dalam diri kita. Pendidikan sejati adalah ketika kita mampu bangkit, memperbaiki diri, dan terus melangkah dengan harapan yang tidak pernah padam.

Sebagai siswa baru, kalian sedang memulai lembaran penting dalam kehidupan. Jadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk belajar, bukan hanya dari buku, tetapi juga dari sikap, pengalaman, dan nilai-nilai kebaikan yang ada di sekitar. Hormati guru sebagai pembimbing, hargai teman sebagai sahabat dalam perjalanan, dan jaga semangat untuk terus berkembang.Akhirnya, semoga langkah awal ini menjadi pijakan yang kokoh untuk masa depan yang gemilang. Karena pada hakikatnya, ilmu yang disertai dengan kebijaksanaan dan akhlak mulia akan menjadi cahaya yang menerangi jalan hidup, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain.

Lebih dari itu, perjalanan ini tidak akan berarti tanpa kebersamaan. Kita hadir di sini bukan sebagai individu yang berjalan sendiri, melainkan sebagai bagian dari satu keluarga besar yang saling menguatkan. Dalam kebersamaan, kita belajar untuk saling menghargai perbedaan, saling membantu dalam kesulitan, dan saling menginspirasi untuk menjadi lebih baik. Kebersamaan mengajarkan kita bahwa keberhasilan bukan hanya milik satu orang, tetapi hasil dari dukungan, kerja sama, dan rasa peduli antar sesama. Saat satu di antara kita merasa lemah, yang lain hadir untuk menguatkan. Saat satu berhasil, yang lain turut merasakan kebahagiaan. Inilah nilai luhur yang menjadikan perjalanan pendidikan terasa lebih bermakna dan penuh warna.

Maka, jagalah kebersamaan ini dengan sikap saling menghormati, komunikasi yang baik, dan hati yang tulus. Karena dari sinilah akan tumbuh persahabatan, kepercayaan, dan rasa memiliki yang akan terus dikenang sepanjang waktu. Dan kelak, ketika kita menoleh ke belakang, bukan hanya ilmu yang kita ingat, tetapi juga hangatnya kebersamaan yang pernah kita rasakan bersama.


Share:

Menjajak Tradisi Menyulam Karya

motivasi dan informasi

Afrizal Cik, saya mengenal beliau memang tidak begitu akrab Namun, pada awalnya belakangan ini saya sering berkomunikasi dengan beliau, terutama terkait khazanah serta adat istiadat Melayu yang ada di Kepulauan Meranti. Karena saya tertarik unutk belajar dan mendalmi budaya melayu yang ada dikepulauan meranti, terutama pada adat istiadat Pernik-pernik pernikahan, mulai dari merisik, melamar, adat malam berinai sampailah ijab dan Kabul, dan tradisi yang ada didalam nya, Bagi saya, beliau adalah salah satu tokoh Melayu Meranti yang istiqamah dalam menjaga adat dan budaya kampung halamannya. Tidak heran jika beliau sangat dikenal di kalangan tokoh-tokoh Melayu Meranti. Saya pun merasa termotivasi oleh beliau, karena keteguhannya dalam melestarikan tradisi adat dan budaya Melayu di Kepulauan Meranti. Salah satu upaya yang beliau lakukan dalam menjaga warisan tersebut adalah melalui tulisan, seperti cerita-cerita rakyat, hikayat, dan karya sastra yang berkembang di Kepulauan Meranti. Saya sudah membaca beberpa karya beliau, seperti “ Tanah Jantan Yang Melawan, Tempias, Termasuk Lagenda Tasik Putri Puyu, Ada Juga Awang Mahmuda (tapi saya belum selesai membacanya)”

Hari ini saya mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan literasi Bimbingan Teknik Menulis Cerita Anak Dwibahasa yang ditaja oleh Balai Bahasa Provinsi Riau, bekerja sama dengan Lembaga Adat Melayu Riau Kabupaten Kepulauan Meranti. Kesempatan ini tentu bagi saya bukan sekadar menghadiri sebuah kegiatan, melainkan menjadi pintu awal untuk melangkah lebih jauh dalam dunia literasi dan pelestarian budaya. Di tengah suasana kegiatan yang penuh semangat, saya mulai menyadari bahwa menulis bukan hanya tentang merangkai kata, tetapi juga tentang merawat ingatan, menjaga jati diri, dan mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi berikutnya. Apa yang selama ini dilakukan oleh Afrizal Cik seakan menjadi cermin dan pengingat bahwa setiap orang memiliki peran dalam menjaga warisan budaya, sekecil apa pun langkah yang diambil, tentu akan memiliki manfaat yang besar dikemudian hari.

Saya pun mulai menumbuhkan keyakinan dalam diri, bahwa belajar menulis adalah bagian dari ikhtiar untuk ikut serta merawat khazanah Daerah. Dari kisah -kisah anak Lokal, kehidupan masyarkat tempo dulu dan kekinian, tentu ini perlu untuk diabadikan agar tidak hilang dimakan zaman, mungkin kita sering mendengar kisah dan cerita dari orang tua-tua kita, tentang asal usul kampung, kehidupan Masyarakat masa lalu, dan bahkan cerita tetangga kita yang terjadi kemaren sore, jika cerita itu tidak kita abadikan dalam bentuk tulisan, maka sepuluh atau duapuluh tahun kedepan cerita itu akan hilang, sirna, dan lupa dari ingatan kita, maka kesempatan ini hadir untuk kita mengabadikan kisah-kisah itu dalam sebuah cerita yang kita tulis.

Melalui kegiatan ini, saya ingin melangkah lebih berani menuangkan gagasan, merekam cerita, dan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya dalam karya-karya sederhana. Sebab saya percaya, sebuah tulisan kecil hari ini bisa menjadi pelita bagi generasi di masa depan. Dan dari sini, saya belajar satu hal penting: berkarya tidak harus menunggu sempurna, cukup dimulai dengan niat yang tulus dan langkah yang konsisten. Karena pada akhirnya, karya bukan hanya tentang siapa yang membaca, tetapi tentang bagaimana kita menjaga warisan agar tetap hidup sepanjang zaman.

Di hadapan bangunan bercorak Melayu yang kokoh dan berwarna cerah itu, tampak sosok-sosok yang sederhana namun penuh makna. Di antara mereka, berdiri seorang laki-laki berbaju kuning dengan senyum yang hangat dan sikap yang tenang dialah sosok yang dalam benak saya mencerminkan keteguhan untuk menjaga warisan budaya dari leluhur. Namanya Afrizal Cik, dan saya akrab memanggilnya dengan panggilan “Datuk”.  Wajahnya memancarkan ketulusan, seakan menyimpan banyak cerita tentang perjuangan menjaga nilai dan tradisi yang kian tergerus zaman, saya sangat berterimakasih karena beliau telah memberikan kesempatan dan waktu kepada saya untuk menimba ilmu dalam tata penulisan cerita untuk anak-anak, tentu kesempatan ini tidak akan mudah terulang untuk kedua kali.

Di sekelilingnya, ada Wanita-wanita yang juga mengenakan nuansa yang sama dan busana sopan tampak berdiri dengan raut wajah bersahaja. Mereka bukan sekadar pelengkap, tetapi bagian dari mata rantai yang sama, penjaga warisan, perawat budaya, dan pendukung lahirnya generasi yang mencintai adat istiadatnya. Senyum mereka bukan hanya ekspresi kebahagiaan, melainkan juga cerminan semangat kebersamaan dalam merawat identitas Melayu. Tangga tempat mereka berdiri seolah menjadi simbol perjalanan, bahwa menjaga budaya dan berkarya adalah sebuah proses yang bertahap. Tidak instan, tetapi penuh kesabaran dan konsisten. Dari langkah kecil seperti berdiskusi, belajar, hingga menulis, semua bermuara pada satu tujuan: agar khazanah Melayu tetap hidup dan dikenang. Melihat mereka, saya semakin yakin bahwa semangat berkarya itu tumbuh dari lingkungan yang saling menguatkan. Bahwa setiap pertemuan, setiap senyum, dan setiap cerita yang dibagikan adalah bahan bakar untuk terus melangkah. Dan dari kebersamaan sederhana inilah, lahir tekad yang kuat untuk menulis, berkarya, dan menjaga warisan budaya agar tetap bersinar di masa depan.

Saya menyadari bahwa perjalanan ini bukan sekadar tentang mengenal seseorang atau memahami sebuah tradisi, melainkan tentang menemukan makna dalam setiap langkah kecil yang kita tempuh. Di antara tawa yang sederhana dan kebersamaan yang hangat, dalm waktu singkat itu, tumbuh sebuah harapan bahwa karya yang lahir dari hati yang tulus akan selalu menemukan jalannya. Seperti cahaya yang tak pernah lelah menerangi, semangat untuk berkarya pun harus terus dijaga, dirawat, dan dihidupkan. Karena dari setiap tulisan yang kita rangkai, terselip cinta-cinta pada budaya, pada tanah kelahiran, dan pada masa depan yang ingin kita wariskan.

Maka biarlah langkah ini terus berlanjut, meski perlahan, meski sederhana. Sebab dalam kesederhanaan itulah, keindahan tercipta. Dan dalam setiap karya yang lahir, ada jejak hati yang akan selalu abadi, mengalir lembut seperti kisah yang tak pernah ingin usai.

Selamat berkarya para sahabat-sahabt ku, semoga kita dipertemukan Kembali dalam bingkai kata, diantara deretan nama yang tertulis dalam Buku Cerita Anak Dwibahasa disana terabadikan nama kita.

** Salam Literasi**


Share:

Belajar dari seekor semut (inspiratif dari Pak Husnan)

motivasi dan informasi

hari itu pembelajaran berlangsung sebagaiman biasanya, materi demi materi telah kami ikuti dari pagi sampai siang, pembelajaran PPKN sedang berlangsung di ruang kelas XII, cuaca disiang itu terasa sangat panas, debu-debu dihalaman sekolah beterbangan sambil menari nari memenuhi halaman sekolah, pembelajaran dari pak husnan akan segera dimulai, satu hal yang selalu saya nantikan dari beliau Ketika masuk dikelas, pembelajaran PPKN selalu dilaksanakan dengan metode diskusi, pak husnan memberikan kebebasan kepada kami untuk berpendapat dan debat namun tidak terlepas dari pantauan beliau, agar tujuan pembelajaran tetap terakomidir dan perdebatan tidak liar kemana-kamana.

Saya termasuk murid yang aktif mengikuti diskusi dan perang argument Ketika penyajian materi disampaikan oleh rekan kelompok yang lain, suasa kelas terasa riuh oleh peroses pembelajaran metode ini apalagi saat debat saya dan Ayu Amira, seorang siswi pidahan dari Malaysia sejak kami duduk dibangku Mts dulu, kalu soal kemampuan dan kecerdasan memang saya masih kalah dengan Ayu Amira, selain dari cerdas dan pinta ia juga mahir berbahasa inggris, sehingga menjadi murid kesayangan dari guru Bahasa inggris Ibuk Sarinah, tapi kalau soal debat dan berlaga argument saya biasanya tidak mau mengalah, kami masih ada waktu sisa pembelajaran 1 jam terakhir, pak Khusnan membawa kami untuk belajra diluar ruangan, selain dari untuk merefleksi diri juga karena cuaca sangat panas kami berpindah tempat proses pembelajaran diarahkan keluar kelas, tepatnya disamping kelas yang masih rimbun ditumbuhi pepohonan.

Saya masih ingat betul sampai sekarang Ketika Pak Husnan membawa kami di bawah pohon akasia yang rindang, kami berkumpul disana sambil ditemani angin sepoi-sepoi, kami diperlihatkan dengan jejeran semut yang sedang berjalan hilir mudik untuk berjuang mencapai tujuan, cuaca masih terasa panas, dan cahaya matahari mulai menyentuh tanah perlahan, untuk menyibak celah dedaunan akasia yang rindang itu, Ketika saya menundukkan pandangan, saya melihat seekor semut kecil yang terpisah dari barisanya, memang ia tampak berbeda dari semut yang lain, mungkin dari ras yang berbeda, ia sedang berjalan membawa sebutir serpihan roti, roti itu tampak sangat besar dibandingkan tubuhnya.

Semut itu berjalan perlahan. Kadang terjatuh Kadang butiran, roti itu terlepas dari genggamannya, Namun setiap kali jatuh, semut itu kembali mengambilnya, saya terus memperhatikan. Ketika semut itu sampai di sebuah celah tanah yang sedikit tinggi, ia mencoba naik. Tetapi ia tergelincir dan jatuh, dan mencoba lagi, Jatuh lagi hingga Berkali-kali, Namun semut itu tidak pernah meninggalkan beban yang ia bawa. Ia terus berusaha hingga akhirnya berhasil melewati rintangan itu dan masuk ke sarangnya.

Saya hanya bisa terdiam Dalam hati berkata,“Subhanallah… seekor semut kecil saja tidak pernah menyerah.”

Jika mengingat kisah itu saya jadi  teringat firman Allah dalam Al-Qur’an tentang semut yang memberi peringatan kepada kaumnya agar berhati-hati terhadap pasukan Nabi Sulaiman, Kisah itu menunjukkan bahwa makhluk sekecil semut pun memiliki ketertiban, kerja keras, dan kebijaksanaan Saat itu sayapun merasa seolah Allah sedang menasihatinya melalui makhluk kecil itu, saya yang Ketika itu sering mengeluh ketika hidup terasa sulit, terkadang berangkat sekolah harus berjalan kaki, puluhan kilo, karena seda yang saya miliki rusak, terkadang putus rantai, ditengah jalan, Kadang rasa ingin putus asa ketika doa terasa lama dikabulkan, Kadang berhenti berusaha ketika gagal sekali dua kali, membuat saya malas belajar dalam mata Pelajaran tertentu, apalagi saat hampir akhir sekolah, Ketika teman-teman pada melanjutkan kuliah sementara saya harus melanjutkan perjuangan orang tua, berkebun, mengambil upah memetic kelapa, nebang pohon, nggali parit sampai nenam sawit, itu semua dilakukan karena faktor ekonomi orang tua belum setabil waktu itu.

Padahal seekor semut saja tidak berhenti mencoba, berusaha tanpa seakan tidak mengenal putus asa, Ketika itu saya tersenyum dan berkata dalam hati:

“Ya Allah, jika Engkau mengajarkan kesabaran melalui seekor semut, maka jangan biarkan aku menjadi manusia yang mudah menyerah.”

Sejak hari itu, setiap kali saya merasa lelah dalam menjalani hidup, rintangan menghadang saya selalu mengingat semut kecil yang tidak pernah meninggalkan Lelah selama usaha masih bisa ia lakukan dan membawa beban amanah yang dibawanya, Ketika saya mengingat kisah semut itu, maka seya terbayang sosok seorang guru yang sederhana, sering mengenakan celana polo dan baju kaos olah raga Panjang, dan mengendarai supra x, dia Adalah pak husnan, tokoh isnpiratif yang sampai sekarang tetap abadi dalam jiwa saya.

Namun kisah itu ternyata tidak berhenti pada siang hari di bawah pohon akasia itu, Pak Husnan yang sejak tadi memperhatikan kami yang sibuk melihat barisan semut, tiba-tiba tersenyum. Ia lalu berkata dengan suara yang tenang,

“Anak-anak… kalian tahu kenapa saya membawa kalian keluar kelas hari ini?”

Kami saling berpandangan. Tidak ada yang menjawab.
Ayu Amira yang biasanya cepat berbicara pun hanya diam sambil memperhatikan semut yang berjalan, Pak Husnan kemudian menunjuk ke arah semut yang masih hilir mudik membawa makanan.

“Coba kalian lihat semut itu. Tubuhnya kecil, tetapi semangatnya besar. Ia tidak pernah mengeluh. Tidak pernah berkata hidupnya susah. Tidak pernah berhenti walau berkali-kali jatuh.”

Beliau berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dalam.

“Kalau semut saja tidak menyerah membawa sebutir remah untuk keluarganya… mengapa manusia yang diberi akal dan hati sering menyerah hanya karena satu kegagalan?”

Kata-kata itu seperti menampar hati saya.

Angin siang berhembus pelan. Daun-daun akasia bergerak perlahan seakan ikut menyaksikan pelajaran hidup yang sederhana itu, Pak Husnan kemudian duduk di atas akar pohon sambil berkata lagi,

“Dalam hidup kalian nanti, mungkin ada yang menjadi guru, ada yang menjadi petani, ada yang menjadi pedagang, bahkan mungkin ada yang harus membantu orang tua lebih dulu sebelum kuliah. Tapi ingat satu hal…”

Beliau menatap kami satu per satu.

“Jangan pernah malu dengan perjuangan kalian. Allah tidak menilai siapa yang paling cepat sampai, tetapi siapa yang paling sabar berjalan.”

Kalimat itu begitu dalam tertanam di hati saya, sampai sekarang Hari demi hari berlalu Kami lulus dari sekolah itu,  Sebagian teman melanjutkan kuliah ke kota. Ayu Amira pun melanjutkan studinya sebuah perguruan tinggi dengan mengambil juruan perkapalan, Sedangkan saya kembali ke kampung, membantu orang tua di kebun, Pagi hari memungut kelapa, Siang hari membersihkan kebun, Kadang malam hari badan terasa sangat Lelah, Namun setiap kali rasa putus asa datang, bayangan semut kecil di bawah pohon akasia itu selalu muncul di ingatan saya.

Semut kecil yang jatuh berkali-kali…Tetapi tidak pernah meninggalkan remah yang ia bawa, Dan setiap kali saya hampir menyerah, saya selalu mengingat suara Pak Husnan:

“Jangan berhenti berjalan hanya karena jalannya berat.”

Tahun demi tahun berlalu, Sedikit demi sedikit kehidupan berubah. Perjuangan yang dulu terasa berat perlahan membuahkan hasil, saya pun memberanikan diri untuk mendaftar kuliah setelah setahun bekerja sebagai petani dan pekebun, Saya mulai memahami satu hal yang dulu diajarkan oleh Pak Husnan di bawah pohon itu:

Bahwa keberhasilan bukan milik orang yang paling pintar,
tetapi milik orang yang paling sabar dan paling gigih berusaha, Kini ketika saya melihat seekor semut berjalan membawa makanan, saya selalu ingat sosok sederhana yang banyak memberikan inspiratif dalam kehidupan saya Ketika hampir kehilangan sinar masa depan, dan Pak Husnan menyalakan sinar pelita nya yang mungkin tidak secerah Matahari, tapi pelita itu cukup berarti untuk menjadi penujuk jalan untuk saya meraih cita.

Waktu terus berjalan. Musim berganti, tahun demi tahun pun berlalu. Banyak peristiwa datang dan pergi dalam perjalanan hidup saya. Namun anehnya, dari sekian banyak pelajaran yang pernah saya terima di bangku sekolah, ada satu kenangan yang tidak pernah pudar—siang hari di bawah pohon akasia bersama Pak Husnan dan seekor semut kecil yang membawa remah roti.

Hari itu tampak sederhana. Tidak ada papan tulis, tidak ada buku pelajaran yang dibuka, bahkan tidak ada catatan yang harus ditulis. Tetapi justru di situlah pelajaran hidup yang paling dalam saya temukan, Pak Husnan tidak hanya mengajarkan kami tentang pasal-pasal dalam pelajaran PPKN, tetapi beliau mengajarkan kami cara memandang kehidupan. Bahwa perjuangan tidak selalu harus besar untuk menjadi berarti. Bahwa langkah kecil yang terus berjalan jauh lebih kuat daripada mimpi besar yang berhenti di tengah jalan.

Kini, ketika kehidupan kembali menghadirkan rintangan—ketika lelah datang, ketika usaha terasa berat, ketika doa terasa lama menunggu jawaban—saya sering mengingat kembali semut kecil itu, Semut yang jatuh berkali-kali, tetapi tidak pernah meninggalkan remah yang dibawanya, dari makhluk kecil itu saya belajar satu hal yang sangat sederhana, namun begitu dalam maknanya : “bahwa hidup bukan tentang seberapa sering kita jatuh, tetapi tentang seberapa kuat kita terus berjalan”, Dan setiap kali kenangan itu muncul, saya selalu teringat sosok seorang guru sederhana dengan motor Supra X-nya, yang mungkin tidak pernah menyangka bahwa satu pelajaran kecil di bawah pohon akasia akan menjadi bekal hidup bagi muridnya hingga bertahun-tahun kemudian.

=Refleksi Diri=

Aku belajar bahwa hidup bukan tentang menghindari jatuh, tetapi tentang keberanian untuk bangkit dan terus berjalan. Dari semut kecil, aku diingatkan bahwa kesabaran dan ketekunan lebih berharga daripada sekadar kecerdasan. Kini aku ingin menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah, setia pada proses, dan percaya bahwa setiap usaha pasti menemukan jalannya.

=========*****=========


Share:

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

PUISI

CERITA

UMT.CSH

Ghibah: Luka dari Sebuah Ucapan

Berbicara itu sangat mudah karena tidak memerlukan biaya, berbeda dengan membeli sesuatu yang harus ditebus dengan uang. Namun, yang sulit a...

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Sample Text

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.