NUansa.UMT

Belajar dari seekor semut (inspiratif dari Pak Husnan)

motivasi dan informasi

hari itu pembelajaran berlangsung sebagaiman biasanya, materi demi materi telah kami ikuti dari pagi sampai siang, pembelajaran PPKN sedang berlangsung di ruang kelas XII, cuaca disiang itu terasa sangat panas, debu-debu dihalaman sekolah beterbangan sambil menari nari memenuhi halaman sekolah, pembelajaran dari pak husnan akan segera dimulai, satu hal yang selalu saya nantikan dari beliau Ketika masuk dikelas, pembelajaran PPKN selalu dilaksanakan dengan metode diskusi, pak husnan memberikan kebebasan kepada kami untuk berpendapat dan debat namun tidak terlepas dari pantauan beliau, agar tujuan pembelajaran tetap terakomidir dan perdebatan tidak liar kemana-kamana.

Saya termasuk murid yang aktif mengikuti diskusi dan perang argument Ketika penyajian materi disampaikan oleh rekan kelompok yang lain, suasa kelas terasa riuh oleh peroses pembelajaran metode ini apalagi saat debat saya dan Ayu Amira, seorang siswi pidahan dari Malaysia sejak kami duduk dibangku Mts dulu, kalu soal kemampuan dan kecerdasan memang saya masih kalah dengan Ayu Amira, selain dari cerdas dan pinta ia juga mahir berbahasa inggris, sehingga menjadi murid kesayangan dari guru Bahasa inggris Ibuk Sarinah, tapi kalau soal debat dan berlaga argument saya biasanya tidak mau mengalah, kami masih ada waktu sisa pembelajaran 1 jam terakhir, pak Khusnan membawa kami untuk belajra diluar ruangan, selain dari untuk merefleksi diri juga karena cuaca sangat panas kami berpindah tempat proses pembelajaran diarahkan keluar kelas, tepatnya disamping kelas yang masih rimbun ditumbuhi pepohonan.

Saya masih ingat betul sampai sekarang Ketika Pak Husnan membawa kami di bawah pohon akasia yang rindang, kami berkumpul disana sambil ditemani angin sepoi-sepoi, kami diperlihatkan dengan jejeran semut yang sedang berjalan hilir mudik untuk berjuang mencapai tujuan, cuaca masih terasa panas, dan cahaya matahari mulai menyentuh tanah perlahan, untuk menyibak celah dedaunan akasia yang rindang itu, Ketika saya menundukkan pandangan, saya melihat seekor semut kecil yang terpisah dari barisanya, memang ia tampak berbeda dari semut yang lain, mungkin dari ras yang berbeda, ia sedang berjalan membawa sebutir serpihan roti, roti itu tampak sangat besar dibandingkan tubuhnya.

Semut itu berjalan perlahan. Kadang terjatuh Kadang butiran, roti itu terlepas dari genggamannya, Namun setiap kali jatuh, semut itu kembali mengambilnya, saya terus memperhatikan. Ketika semut itu sampai di sebuah celah tanah yang sedikit tinggi, ia mencoba naik. Tetapi ia tergelincir dan jatuh, dan mencoba lagi, Jatuh lagi hingga Berkali-kali, Namun semut itu tidak pernah meninggalkan beban yang ia bawa. Ia terus berusaha hingga akhirnya berhasil melewati rintangan itu dan masuk ke sarangnya.

Saya hanya bisa terdiam Dalam hati berkata,“Subhanallah… seekor semut kecil saja tidak pernah menyerah.”

Jika mengingat kisah itu saya jadi  teringat firman Allah dalam Al-Qur’an tentang semut yang memberi peringatan kepada kaumnya agar berhati-hati terhadap pasukan Nabi Sulaiman, Kisah itu menunjukkan bahwa makhluk sekecil semut pun memiliki ketertiban, kerja keras, dan kebijaksanaan Saat itu sayapun merasa seolah Allah sedang menasihatinya melalui makhluk kecil itu, saya yang Ketika itu sering mengeluh ketika hidup terasa sulit, terkadang berangkat sekolah harus berjalan kaki, puluhan kilo, karena seda yang saya miliki rusak, terkadang putus rantai, ditengah jalan, Kadang rasa ingin putus asa ketika doa terasa lama dikabulkan, Kadang berhenti berusaha ketika gagal sekali dua kali, membuat saya malas belajar dalam mata Pelajaran tertentu, apalagi saat hampir akhir sekolah, Ketika teman-teman pada melanjutkan kuliah sementara saya harus melanjutkan perjuangan orang tua, berkebun, mengambil upah memetic kelapa, nebang pohon, nggali parit sampai nenam sawit, itu semua dilakukan karena faktor ekonomi orang tua belum setabil waktu itu.

Padahal seekor semut saja tidak berhenti mencoba, berusaha tanpa seakan tidak mengenal putus asa, Ketika itu saya tersenyum dan berkata dalam hati:

“Ya Allah, jika Engkau mengajarkan kesabaran melalui seekor semut, maka jangan biarkan aku menjadi manusia yang mudah menyerah.”

Sejak hari itu, setiap kali saya merasa lelah dalam menjalani hidup, rintangan menghadang saya selalu mengingat semut kecil yang tidak pernah meninggalkan Lelah selama usaha masih bisa ia lakukan dan membawa beban amanah yang dibawanya, Ketika saya mengingat kisah semut itu, maka seya terbayang sosok seorang guru yang sederhana, sering mengenakan celana polo dan baju kaos olah raga Panjang, dan mengendarai supra x, dia Adalah pak husnan, tokoh isnpiratif yang sampai sekarang tetap abadi dalam jiwa saya.

Namun kisah itu ternyata tidak berhenti pada siang hari di bawah pohon akasia itu, Pak Husnan yang sejak tadi memperhatikan kami yang sibuk melihat barisan semut, tiba-tiba tersenyum. Ia lalu berkata dengan suara yang tenang,

“Anak-anak… kalian tahu kenapa saya membawa kalian keluar kelas hari ini?”

Kami saling berpandangan. Tidak ada yang menjawab.
Ayu Amira yang biasanya cepat berbicara pun hanya diam sambil memperhatikan semut yang berjalan, Pak Husnan kemudian menunjuk ke arah semut yang masih hilir mudik membawa makanan.

“Coba kalian lihat semut itu. Tubuhnya kecil, tetapi semangatnya besar. Ia tidak pernah mengeluh. Tidak pernah berkata hidupnya susah. Tidak pernah berhenti walau berkali-kali jatuh.”

Beliau berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dalam.

“Kalau semut saja tidak menyerah membawa sebutir remah untuk keluarganya… mengapa manusia yang diberi akal dan hati sering menyerah hanya karena satu kegagalan?”

Kata-kata itu seperti menampar hati saya.

Angin siang berhembus pelan. Daun-daun akasia bergerak perlahan seakan ikut menyaksikan pelajaran hidup yang sederhana itu, Pak Husnan kemudian duduk di atas akar pohon sambil berkata lagi,

“Dalam hidup kalian nanti, mungkin ada yang menjadi guru, ada yang menjadi petani, ada yang menjadi pedagang, bahkan mungkin ada yang harus membantu orang tua lebih dulu sebelum kuliah. Tapi ingat satu hal…”

Beliau menatap kami satu per satu.

“Jangan pernah malu dengan perjuangan kalian. Allah tidak menilai siapa yang paling cepat sampai, tetapi siapa yang paling sabar berjalan.”

Kalimat itu begitu dalam tertanam di hati saya, sampai sekarang Hari demi hari berlalu Kami lulus dari sekolah itu,  Sebagian teman melanjutkan kuliah ke kota. Ayu Amira pun melanjutkan studinya sebuah perguruan tinggi dengan mengambil juruan perkapalan, Sedangkan saya kembali ke kampung, membantu orang tua di kebun, Pagi hari memungut kelapa, Siang hari membersihkan kebun, Kadang malam hari badan terasa sangat Lelah, Namun setiap kali rasa putus asa datang, bayangan semut kecil di bawah pohon akasia itu selalu muncul di ingatan saya.

Semut kecil yang jatuh berkali-kali…Tetapi tidak pernah meninggalkan remah yang ia bawa, Dan setiap kali saya hampir menyerah, saya selalu mengingat suara Pak Husnan:

“Jangan berhenti berjalan hanya karena jalannya berat.”

Tahun demi tahun berlalu, Sedikit demi sedikit kehidupan berubah. Perjuangan yang dulu terasa berat perlahan membuahkan hasil, saya pun memberanikan diri untuk mendaftar kuliah setelah setahun bekerja sebagai petani dan pekebun, Saya mulai memahami satu hal yang dulu diajarkan oleh Pak Husnan di bawah pohon itu:

Bahwa keberhasilan bukan milik orang yang paling pintar,
tetapi milik orang yang paling sabar dan paling gigih berusaha, Kini ketika saya melihat seekor semut berjalan membawa makanan, saya selalu ingat sosok sederhana yang banyak memberikan inspiratif dalam kehidupan saya Ketika hampir kehilangan sinar masa depan, dan Pak Husnan menyalakan sinar pelita nya yang mungkin tidak secerah Matahari, tapi pelita itu cukup berarti untuk menjadi penujuk jalan untuk saya meraih cita.

Waktu terus berjalan. Musim berganti, tahun demi tahun pun berlalu. Banyak peristiwa datang dan pergi dalam perjalanan hidup saya. Namun anehnya, dari sekian banyak pelajaran yang pernah saya terima di bangku sekolah, ada satu kenangan yang tidak pernah pudar—siang hari di bawah pohon akasia bersama Pak Husnan dan seekor semut kecil yang membawa remah roti.

Hari itu tampak sederhana. Tidak ada papan tulis, tidak ada buku pelajaran yang dibuka, bahkan tidak ada catatan yang harus ditulis. Tetapi justru di situlah pelajaran hidup yang paling dalam saya temukan, Pak Husnan tidak hanya mengajarkan kami tentang pasal-pasal dalam pelajaran PPKN, tetapi beliau mengajarkan kami cara memandang kehidupan. Bahwa perjuangan tidak selalu harus besar untuk menjadi berarti. Bahwa langkah kecil yang terus berjalan jauh lebih kuat daripada mimpi besar yang berhenti di tengah jalan.

Kini, ketika kehidupan kembali menghadirkan rintangan—ketika lelah datang, ketika usaha terasa berat, ketika doa terasa lama menunggu jawaban—saya sering mengingat kembali semut kecil itu, Semut yang jatuh berkali-kali, tetapi tidak pernah meninggalkan remah yang dibawanya, dari makhluk kecil itu saya belajar satu hal yang sangat sederhana, namun begitu dalam maknanya : “bahwa hidup bukan tentang seberapa sering kita jatuh, tetapi tentang seberapa kuat kita terus berjalan”, Dan setiap kali kenangan itu muncul, saya selalu teringat sosok seorang guru sederhana dengan motor Supra X-nya, yang mungkin tidak pernah menyangka bahwa satu pelajaran kecil di bawah pohon akasia akan menjadi bekal hidup bagi muridnya hingga bertahun-tahun kemudian.

=Refleksi Diri=

Aku belajar bahwa hidup bukan tentang menghindari jatuh, tetapi tentang keberanian untuk bangkit dan terus berjalan. Dari semut kecil, aku diingatkan bahwa kesabaran dan ketekunan lebih berharga daripada sekadar kecerdasan. Kini aku ingin menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah, setia pada proses, dan percaya bahwa setiap usaha pasti menemukan jalannya.

=========*****=========


Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

PUISI

CERITA

UMT.CSH

Belajar dari seekor semut (inspiratif dari Pak Husnan)

motivasi dan informasi hari itu pembelajaran berlangsung sebagaiman biasanya, materi demi materi telah kami ikuti dari pagi sampai siang, pe...

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Sample Text

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.