hari itu pembelajaran berlangsung sebagaiman biasanya, materi demi materi telah kami ikuti dari pagi sampai siang, pembelajaran PPKN sedang berlangsung di ruang kelas XII, cuaca disiang itu terasa sangat panas, debu-debu dihalaman sekolah beterbangan sambil menari nari memenuhi halaman sekolah, pembelajaran dari pak husnan akan segera dimulai, satu hal yang selalu saya nantikan dari beliau Ketika masuk dikelas, pembelajaran PPKN selalu dilaksanakan dengan metode diskusi, pak husnan memberikan kebebasan kepada kami untuk berpendapat dan debat namun tidak terlepas dari pantauan beliau, agar tujuan pembelajaran tetap terakomidir dan perdebatan tidak liar kemana-kamana.
Saya
termasuk murid yang aktif mengikuti diskusi dan perang argument Ketika
penyajian materi disampaikan oleh rekan kelompok yang lain, suasa kelas terasa
riuh oleh peroses pembelajaran metode ini apalagi saat debat saya dan Ayu
Amira, seorang siswi pidahan dari Malaysia sejak kami duduk dibangku Mts dulu,
kalu soal kemampuan dan kecerdasan memang saya masih kalah dengan Ayu Amira,
selain dari cerdas dan pinta ia juga mahir berbahasa inggris, sehingga menjadi
murid kesayangan dari guru Bahasa inggris Ibuk Sarinah, tapi kalau soal debat
dan berlaga argument saya biasanya tidak mau mengalah, kami masih ada waktu
sisa pembelajaran 1 jam terakhir, pak Khusnan membawa kami untuk belajra diluar
ruangan, selain dari untuk merefleksi diri juga karena cuaca sangat panas kami
berpindah tempat proses pembelajaran diarahkan keluar kelas, tepatnya disamping
kelas yang masih rimbun ditumbuhi pepohonan.
Saya masih ingat betul sampai sekarang Ketika Pak Husnan
membawa kami di bawah pohon akasia yang rindang, kami berkumpul disana sambil
ditemani angin sepoi-sepoi, kami diperlihatkan dengan jejeran semut yang sedang
berjalan hilir mudik untuk berjuang mencapai tujuan, cuaca masih terasa panas,
dan cahaya matahari mulai menyentuh tanah perlahan, untuk menyibak celah
dedaunan akasia yang rindang itu, Ketika saya menundukkan pandangan, saya
melihat seekor semut kecil yang terpisah dari barisanya, memang ia tampak
berbeda dari semut yang lain, mungkin dari ras yang berbeda, ia sedang berjalan
membawa sebutir serpihan roti, roti itu tampak sangat besar dibandingkan
tubuhnya.
Semut itu berjalan perlahan. Kadang terjatuh Kadang
butiran, roti itu terlepas dari genggamannya, Namun setiap kali jatuh, semut
itu kembali mengambilnya, saya terus memperhatikan. Ketika semut itu sampai di
sebuah celah tanah yang sedikit tinggi, ia mencoba naik. Tetapi ia tergelincir
dan jatuh, dan mencoba lagi, Jatuh lagi hingga Berkali-kali, Namun semut itu
tidak pernah meninggalkan beban yang ia bawa. Ia terus berusaha hingga akhirnya
berhasil melewati rintangan itu dan masuk ke sarangnya.
Saya hanya bisa terdiam Dalam hati berkata,“Subhanallah…
seekor semut kecil saja tidak pernah menyerah.”
Jika mengingat kisah itu saya jadi teringat firman Allah dalam Al-Qur’an tentang
semut yang memberi peringatan kepada kaumnya agar berhati-hati terhadap pasukan
Nabi Sulaiman, Kisah itu menunjukkan bahwa makhluk sekecil semut pun memiliki
ketertiban, kerja keras, dan kebijaksanaan Saat itu sayapun merasa seolah Allah
sedang menasihatinya melalui makhluk kecil itu, saya yang Ketika itu sering
mengeluh ketika hidup terasa sulit, terkadang berangkat sekolah harus berjalan
kaki, puluhan kilo, karena seda yang saya miliki rusak, terkadang putus rantai,
ditengah jalan, Kadang rasa ingin putus asa ketika doa terasa lama dikabulkan, Kadang
berhenti berusaha ketika gagal sekali dua kali, membuat saya malas belajar dalam
mata Pelajaran tertentu, apalagi saat hampir akhir sekolah, Ketika teman-teman
pada melanjutkan kuliah sementara saya harus melanjutkan perjuangan orang tua,
berkebun, mengambil upah memetic kelapa, nebang pohon, nggali parit sampai
nenam sawit, itu semua dilakukan karena faktor ekonomi orang tua belum setabil
waktu itu.
Padahal seekor semut saja tidak berhenti mencoba,
berusaha tanpa seakan tidak mengenal putus asa, Ketika itu saya tersenyum dan
berkata dalam hati:
“Ya Allah, jika Engkau mengajarkan kesabaran
melalui seekor semut, maka jangan biarkan aku menjadi manusia yang mudah
menyerah.”
Sejak hari itu, setiap kali saya merasa lelah dalam
menjalani hidup, rintangan menghadang saya selalu mengingat semut kecil yang
tidak pernah meninggalkan Lelah selama usaha masih bisa ia lakukan dan membawa
beban amanah yang dibawanya, Ketika saya mengingat kisah semut itu, maka seya
terbayang sosok seorang guru yang sederhana, sering mengenakan celana polo dan
baju kaos olah raga Panjang, dan mengendarai supra x, dia Adalah pak husnan,
tokoh isnpiratif yang sampai sekarang tetap abadi dalam jiwa saya.
Namun kisah itu ternyata tidak berhenti pada siang hari
di bawah pohon akasia itu, Pak Husnan yang sejak tadi memperhatikan kami yang
sibuk melihat barisan semut, tiba-tiba tersenyum. Ia lalu berkata dengan suara
yang tenang,
“Anak-anak… kalian tahu kenapa saya membawa
kalian keluar kelas hari ini?”
Kami saling berpandangan. Tidak ada yang menjawab.
Ayu Amira yang biasanya cepat berbicara pun hanya diam sambil memperhatikan
semut yang berjalan, Pak Husnan kemudian menunjuk ke arah semut yang masih
hilir mudik membawa makanan.
“Coba kalian lihat semut itu. Tubuhnya kecil,
tetapi semangatnya besar. Ia tidak pernah mengeluh. Tidak pernah berkata
hidupnya susah. Tidak pernah berhenti walau berkali-kali jatuh.”
Beliau berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada
yang lebih dalam.
“Kalau semut saja tidak menyerah membawa
sebutir remah untuk keluarganya… mengapa manusia yang diberi akal dan hati
sering menyerah hanya karena satu kegagalan?”
Kata-kata itu seperti menampar hati saya.
Angin siang berhembus pelan. Daun-daun akasia bergerak
perlahan seakan ikut menyaksikan pelajaran hidup yang sederhana itu, Pak Husnan
kemudian duduk di atas akar pohon sambil berkata lagi,
“Dalam hidup kalian nanti, mungkin ada yang
menjadi guru, ada yang menjadi petani, ada yang menjadi pedagang, bahkan
mungkin ada yang harus membantu orang tua lebih dulu sebelum kuliah. Tapi ingat
satu hal…”
Beliau menatap kami satu per satu.
“Jangan pernah malu dengan perjuangan kalian.
Allah tidak menilai siapa yang paling cepat sampai, tetapi siapa yang paling
sabar berjalan.”
Kalimat itu begitu dalam tertanam di hati saya, sampai
sekarang Hari demi hari berlalu Kami lulus dari sekolah itu, Sebagian teman melanjutkan kuliah ke kota.
Ayu Amira pun melanjutkan studinya sebuah perguruan tinggi dengan mengambil
juruan perkapalan, Sedangkan saya kembali ke kampung, membantu orang tua di
kebun, Pagi hari memungut kelapa, Siang hari membersihkan kebun, Kadang malam
hari badan terasa sangat Lelah, Namun setiap kali rasa putus asa datang,
bayangan semut kecil di bawah pohon akasia itu selalu muncul di ingatan saya.
Semut kecil yang jatuh berkali-kali…Tetapi tidak pernah
meninggalkan remah yang ia bawa, Dan setiap kali saya hampir menyerah, saya
selalu mengingat suara Pak Husnan:
“Jangan berhenti berjalan hanya karena
jalannya berat.”
Tahun demi tahun berlalu, Sedikit demi sedikit kehidupan
berubah. Perjuangan yang dulu terasa berat perlahan membuahkan hasil, saya pun
memberanikan diri untuk mendaftar kuliah setelah setahun bekerja sebagai petani
dan pekebun, Saya mulai memahami satu hal yang dulu diajarkan oleh Pak Husnan
di bawah pohon itu:
Bahwa keberhasilan bukan milik orang yang paling pintar,
tetapi milik orang yang paling sabar
dan paling gigih berusaha, Kini ketika saya melihat seekor
semut berjalan membawa makanan, saya selalu ingat sosok sederhana yang banyak
memberikan inspiratif dalam kehidupan saya Ketika hampir kehilangan sinar masa
depan, dan Pak Husnan menyalakan sinar pelita nya yang mungkin tidak secerah
Matahari, tapi pelita itu cukup berarti untuk menjadi penujuk jalan untuk saya
meraih cita.
Waktu terus berjalan. Musim berganti, tahun demi tahun
pun berlalu. Banyak peristiwa datang dan pergi dalam perjalanan hidup saya.
Namun anehnya, dari sekian banyak pelajaran yang pernah saya terima di bangku
sekolah, ada satu kenangan yang tidak pernah pudar—siang hari di bawah pohon
akasia bersama Pak Husnan dan seekor semut kecil yang membawa remah roti.
Hari itu tampak sederhana. Tidak ada papan tulis, tidak
ada buku pelajaran yang dibuka, bahkan tidak ada catatan yang harus ditulis.
Tetapi justru di situlah pelajaran hidup yang paling dalam saya temukan, Pak
Husnan tidak hanya mengajarkan kami tentang pasal-pasal dalam pelajaran PPKN,
tetapi beliau mengajarkan kami cara memandang kehidupan. Bahwa perjuangan tidak
selalu harus besar untuk menjadi berarti. Bahwa langkah kecil yang terus
berjalan jauh lebih kuat daripada mimpi besar yang berhenti di tengah jalan.
Kini, ketika kehidupan kembali menghadirkan
rintangan—ketika lelah datang, ketika usaha terasa berat, ketika doa terasa
lama menunggu jawaban—saya sering mengingat kembali semut kecil itu, Semut yang
jatuh berkali-kali, tetapi tidak pernah meninggalkan remah yang dibawanya, dari
makhluk kecil itu saya belajar satu hal yang sangat sederhana, namun begitu
dalam maknanya : “bahwa hidup bukan tentang
seberapa sering kita jatuh, tetapi tentang seberapa kuat kita terus berjalan”, Dan
setiap kali kenangan itu muncul, saya selalu teringat sosok seorang guru
sederhana dengan motor Supra X-nya, yang mungkin tidak pernah menyangka bahwa
satu pelajaran kecil di bawah pohon akasia akan menjadi bekal hidup bagi
muridnya hingga bertahun-tahun kemudian.
=Refleksi Diri=
Aku belajar bahwa hidup bukan
tentang menghindari jatuh, tetapi tentang keberanian untuk bangkit dan terus
berjalan. Dari semut kecil, aku diingatkan bahwa kesabaran dan ketekunan lebih
berharga daripada sekadar kecerdasan. Kini aku ingin menjadi pribadi yang tidak
mudah menyerah, setia pada proses, dan percaya bahwa setiap usaha pasti
menemukan jalannya.
=========*****=========








Tidak ada komentar:
Posting Komentar