Afrizal
Cik, saya mengenal beliau memang tidak begitu akrab Namun, pada awalnya belakangan
ini saya sering berkomunikasi dengan beliau, terutama terkait khazanah serta
adat istiadat Melayu yang ada di Kepulauan Meranti. Karena saya tertarik unutk
belajar dan mendalmi budaya melayu yang ada dikepulauan meranti, terutama pada
adat istiadat Pernik-pernik pernikahan, mulai dari merisik, melamar, adat malam
berinai sampailah ijab dan Kabul, dan tradisi yang ada didalam nya, Bagi saya,
beliau adalah salah satu tokoh Melayu Meranti yang istiqamah dalam menjaga adat
dan budaya kampung halamannya. Tidak heran jika beliau sangat dikenal di
kalangan tokoh-tokoh Melayu Meranti. Saya pun merasa termotivasi oleh beliau,
karena keteguhannya dalam melestarikan tradisi adat dan budaya Melayu di
Kepulauan Meranti. Salah satu upaya yang beliau lakukan dalam menjaga warisan
tersebut adalah melalui tulisan, seperti cerita-cerita rakyat, hikayat, dan
karya sastra yang berkembang di Kepulauan Meranti. Saya sudah membaca beberpa
karya beliau, seperti “ Tanah Jantan Yang Melawan, Tempias, Termasuk Lagenda
Tasik Putri Puyu, Ada Juga Awang Mahmuda (tapi saya belum selesai
membacanya)”
Hari
ini saya mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan literasi Bimbingan Teknik
Menulis Cerita Anak Dwibahasa yang ditaja oleh Balai Bahasa Provinsi Riau,
bekerja sama dengan Lembaga Adat Melayu Riau Kabupaten Kepulauan Meranti.
Kesempatan ini tentu bagi saya bukan sekadar menghadiri sebuah kegiatan,
melainkan menjadi pintu awal untuk melangkah lebih jauh dalam dunia literasi
dan pelestarian budaya. Di tengah suasana kegiatan yang penuh semangat, saya
mulai menyadari bahwa menulis bukan hanya tentang merangkai kata, tetapi juga
tentang merawat ingatan, menjaga jati diri, dan mewariskan nilai-nilai luhur
kepada generasi berikutnya. Apa yang selama ini dilakukan oleh Afrizal Cik
seakan menjadi cermin dan pengingat bahwa setiap orang memiliki peran dalam
menjaga warisan budaya, sekecil apa pun langkah yang diambil, tentu akan
memiliki manfaat yang besar dikemudian hari.
Saya
pun mulai menumbuhkan keyakinan dalam diri, bahwa belajar menulis adalah bagian
dari ikhtiar untuk ikut serta merawat khazanah Daerah. Dari kisah -kisah anak
Lokal, kehidupan masyarkat tempo dulu dan kekinian, tentu ini perlu untuk
diabadikan agar tidak hilang dimakan zaman, mungkin kita sering mendengar kisah
dan cerita dari orang tua-tua kita, tentang asal usul kampung, kehidupan
Masyarakat masa lalu, dan bahkan cerita tetangga kita yang terjadi kemaren
sore, jika cerita itu tidak kita abadikan dalam bentuk tulisan, maka sepuluh
atau duapuluh tahun kedepan cerita itu akan hilang, sirna, dan lupa dari
ingatan kita, maka kesempatan ini hadir untuk kita mengabadikan kisah-kisah itu
dalam sebuah cerita yang kita tulis.
Melalui
kegiatan ini, saya ingin melangkah lebih berani menuangkan gagasan, merekam
cerita, dan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya dalam karya-karya
sederhana. Sebab saya percaya, sebuah tulisan kecil hari ini bisa menjadi
pelita bagi generasi di masa depan. Dan dari sini, saya belajar satu hal
penting: berkarya tidak harus menunggu sempurna, cukup dimulai dengan niat yang
tulus dan langkah yang konsisten. Karena pada akhirnya, karya bukan hanya
tentang siapa yang membaca, tetapi tentang bagaimana kita menjaga warisan agar
tetap hidup sepanjang zaman.
Di
hadapan bangunan bercorak Melayu yang kokoh dan berwarna cerah itu, tampak
sosok-sosok yang sederhana namun penuh makna. Di antara mereka, berdiri seorang
laki-laki berbaju kuning dengan senyum yang hangat dan sikap yang tenang dialah
sosok yang dalam benak saya mencerminkan keteguhan untuk menjaga warisan budaya
dari leluhur. Namanya Afrizal Cik, dan saya akrab memanggilnya dengan panggilan
“Datuk”. Wajahnya memancarkan ketulusan,
seakan menyimpan banyak cerita tentang perjuangan menjaga nilai dan tradisi
yang kian tergerus zaman, saya sangat berterimakasih karena beliau telah
memberikan kesempatan dan waktu kepada saya untuk menimba ilmu dalam tata
penulisan cerita untuk anak-anak, tentu kesempatan ini tidak akan mudah
terulang untuk kedua kali.
Di
sekelilingnya, ada Wanita-wanita yang juga mengenakan nuansa yang sama dan
busana sopan tampak berdiri dengan raut wajah bersahaja. Mereka bukan sekadar
pelengkap, tetapi bagian dari mata rantai yang sama, penjaga warisan, perawat
budaya, dan pendukung lahirnya generasi yang mencintai adat istiadatnya. Senyum
mereka bukan hanya ekspresi kebahagiaan, melainkan juga cerminan semangat
kebersamaan dalam merawat identitas Melayu. Tangga tempat mereka berdiri seolah
menjadi simbol perjalanan, bahwa menjaga budaya dan berkarya adalah sebuah
proses yang bertahap. Tidak instan, tetapi penuh kesabaran dan konsisten. Dari
langkah kecil seperti berdiskusi, belajar, hingga menulis, semua bermuara pada
satu tujuan: agar khazanah Melayu tetap hidup dan dikenang. Melihat mereka,
saya semakin yakin bahwa semangat berkarya itu tumbuh dari lingkungan yang
saling menguatkan. Bahwa setiap pertemuan, setiap senyum, dan setiap cerita
yang dibagikan adalah bahan bakar untuk terus melangkah. Dan dari kebersamaan
sederhana inilah, lahir tekad yang kuat untuk menulis, berkarya, dan menjaga
warisan budaya agar tetap bersinar di masa depan.
Saya menyadari bahwa perjalanan ini bukan sekadar tentang mengenal seseorang atau memahami sebuah tradisi, melainkan tentang menemukan makna dalam setiap langkah kecil yang kita tempuh. Di antara tawa yang sederhana dan kebersamaan yang hangat, dalm waktu singkat itu, tumbuh sebuah harapan bahwa karya yang lahir dari hati yang tulus akan selalu menemukan jalannya. Seperti cahaya yang tak pernah lelah menerangi, semangat untuk berkarya pun harus terus dijaga, dirawat, dan dihidupkan. Karena dari setiap tulisan yang kita rangkai, terselip cinta-cinta pada budaya, pada tanah kelahiran, dan pada masa depan yang ingin kita wariskan.
Maka
biarlah langkah ini terus berlanjut, meski perlahan, meski sederhana. Sebab
dalam kesederhanaan itulah, keindahan tercipta. Dan dalam setiap karya yang
lahir, ada jejak hati yang akan selalu abadi, mengalir lembut seperti kisah
yang tak pernah ingin usai.
Selamat
berkarya para sahabat-sahabt ku, semoga kita dipertemukan Kembali dalam bingkai
kata, diantara deretan nama yang tertulis dalam Buku Cerita Anak Dwibahasa
disana terabadikan nama kita.
**
Salam Literasi**







.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar