Rajab datang seperti angin yang
lembut tidak selalu terdengar, namun dapat dirasakan oleh hati yang peka. Di
antara dua belas bulan yang berputar bagai roda nasib manusia, Rajab berdiri
sebagai bulan sunyi, bulan di mana langit seolah lebih dekat, dan bumi
lebih teduh dalam naungan rahmat-Nya. Ia bukan hanya tanggal dalam kalender
hijriah; Rajab adalah ruang kontemplasi, sebuah lorong waktu yang mengundang
manusia berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia, lalu memandang ke dalam diri,
rajab sebbagai bulan dimana allah turunkan rahmad dengan tidak terhingga kepada
para hamba-hambanya yang mau Kembali kepada diri dan hati, segalal dosa diampuni
oleh allah Ketika para hamba mau mengakui segala dosa dan khilaf, dan kebaikan
allah selalu diberikan kepada para hamba yang saling berbuat kebaikan dengan sesama.
Dalam keheningan Rajab, ruh menemukan kesempatan untuk kembali berbicara. Selama ini kita sering sibuk mendengar dunia, suara pasar, rapat, ambisi, notifikasi yang datang tanpa jeda. Jarang sekali kita menundukkan kepala untuk mendengar suara yang lebih halus, suara fitrah yang sejak mula berbisik, “Pulanglah.” Rajab mengingatkan manusia bahwa perjalanan terbesar bukan sekadar menaklukkan gunung atau meraih gelar, melainkan perjalanan kembali menuju hati yang bersih, dan akhirnya menuju Allah, sumber segala makna.
Ibadah di bulan ini bukan
sekadar ritual, melainkan laku ruhani. Puasa bukan hanya menahan
lapar, tetapi menahan ego agar tidak terus berteriak meminta dunia. Dzikir
bukan sekadar lafaz yang berputar di bibir, melainkan upaya menghadirkan Allah
di ruang yang paling sunyi dalam batin. Sedekah bukan hanya memberi harta
kepada yang membutuhkan, tetapi memberi kesempatan bagi jiwa untuk tumbuh
menjadi lebih tenang, lebih lapang, dan saling mengasihi, Setiap amalan menjadi
cermin untuk melihat siapa diri kita sesungguhnya. Ketika tangan memberi, hati
bertanya, apakah aku memberi karena cinta, atau karena ingin dipandang? Ketika
lidah berzikir, batin berbisik, apakah Allah hadir dalam kesadaranku, atau aku
hanya meniru gerakan orang shalih tanpa makna? Rajab mengundang manusia
berdialog dengan dirinya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini tidak
sempat ditanyakan karena sibuk mengejar dunia, muncul kembali dengan lembut
namun dalam: Siapa aku? Untuk apa aku hidup? Ke mana aku akan kembali?
Isra Mikraj, peristiwa besar yang
terjadi di bulan ini, menghadirkan simbol perjalanan paling agung, dari bumi
menuju langit, dari gelap menuju cahaya, dari keraguan menuju keyakinan. Namun
perjalanan Nabi bukan sekadar sejarah, melainkan alegori tentang perjalanan
batin setiap insan. Setiap manusia memiliki mi’rajnya sendiri, loncatan rohani
dari dunia luar menuju ruang kesadaran terdalam. Perjalanan itu tidak selalu
spektakuler. Terkadang ia dimulai dari sujud yang khusyuk, air mata yang jatuh
diam-diam, atau bisikan istighfar di tengah malam.
Jika nabi telah mikraj menemui
allah sang maha pencipta, maka setiap jiwa juga seharusnya mikraj Ketika sujud
di setiap waktu nya, untuk menemui sang maha pencipta dengan kedamaian hati
yang lembut, dan merasakan bahwa kita memang dekat dengan pencipta, maka tak
usah heran Ketika seorang berdiri untuk sholat dan ia betah berlama-lama dan
membawakan ayat yang Panjang, karena sesungguhnya ia sedang memadu kasih dan
melepas rindu kepada sang pencipta, tak sedikit juga diantara jiwa itu ada yang
tak betah berdiri lama dan gelisah Ketika mendengar ayat-ayat yang Panjang, barngkali
ia tak menemukan cinta dalam ibadahnya.
Rajab adalah pintu awal menuju
perubahan. Ia adalah jeda, kesempatan untuk menata diri sebelum Sya’ban
memperhalus jiwa, dan Ramadan menyempurnakan penyucian. Jalan pulang menuju
diri bukan jalan yang bisa ditempuh tergesa. Ia membutuhkan kejujuran,
kesabaran, dan keberanian untuk melihat luka-luka batin yang selama ini
tertutup. Namun ketika seseorang memilih untuk berjalan, ia akan mendapati
bahwa Allah telah menunggu di ujung perjalanan dengan kasih yang tidak pernah
lelah.
Dan mungkin, pada suatu malam
Rajab ketika seluruh dunia tertidur, seorang hamba duduk memegang hatinya yang
letih. Ia berdoa dengan suara yang hampir tak terdengar, “Ya Allah, tunjukkan
aku jalan pulang.” Pada saat itulah ia menyadari, pulang bukan berarti kembali
ke tempat asalnya secara fisik, tetapi kembali pada kejernihan batin, kembali
pada fitrah yang tenang, kembali pada Tuhan yang selalu dekat, Rajab adalah
undangan. Undangan untuk pulang, Bukan pulang ke rumah atau kampung halaman,
tetapi pulang kepada diri yang pernah jernih dan kepada Allah yang selalu
menanti.
Sahabat para pembaca yang Budiman,
mari kita Kembali pada diri kita pada bulan rajab yang mulia ini kita
kembalikan diri untuk mempersiapkan nya menuju syak’ban sebabai bulan untuk
membersihkan diri dan hati dari noda-noda dosa, dan Ramadhan nanti kita jadikan
sebagai bulan untuk menyinari hati dan diri kita sehingga nanti benar-benar
kita menjadi pribadi yang takwa disisi Allah, SWt.








%20(1).png)








