-
-
-
BAHAGIA ITU SIMPEL,
bersyukut atas segala nikmat dan bersabarlah atas cobaan yang di beri, bahagia mu, adalah bagaimana sikap mu ketika melihat mereka orang terdekatmu tersenyum .
-
-
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.
Wujud Syukur dari Ayat yang Tersirat
Diantara Dua Wajah Ada Satu Cahaya Al Qur'an
Akulturasi Budaya dan Keyakinan
Jejak Lereng Muria, antara Meniti Tangga dan Menata Hati
Ghibah: Luka dari Sebuah Ucapan
Berbicara itu sangat mudah karena tidak memerlukan biaya, berbeda dengan membeli sesuatu yang harus ditebus dengan uang. Namun, yang sulit adalah menjaga lisan dan berpikir sebelum berbicara. Terkadang, perkataan yang tidak pada tempatnya dapat meninggalkan luka yang sangat mendalam bagi orang yang mendengarnya.Sering kali kita membicarakan kisah dan keadaan orang lain, bahkan saudara kita sendiri. Walaupun apa yang kita sampaikan itu benar, hal tersebut tetap dapat menjadi dosa ghibah. Ghibah adalah membicarakan seseorang tentang sesuatu yang tidak ia sukai apabila perkataan itu sampai kepadanya, meskipun apa yang dibicarakan tersebut benar adanya. Didialam kitab Durotunnasihain disebutkan bahwa Rasulullah SAW, bersabda :
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ
«أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟» “Tahukah kalian apakah ghibah itu?”
قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. “Para sahabat menjawab, “Allah dan
Rasul-Nya lebih mengetahui.”
قَالَ: «ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ». “Nabi bersabda, “Engkau menyebut
saudaramu dengan sesuatu yang ia tidak sukai.”
قِيلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟ “Ditanyakan, “Bagaimana jika apa yang
saya katakan itu benar ada pada dirinya?”
قَالَ: «إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ». “Nabi menjawab, “Jika memang benar
ada padanya maka engkau telah berghibah kepadanya, dan jika tidak ada maka
engkau telah memfitnahnya.” (HR,Muslim)
Terkadang lisan kita selalu saja ingin
menyebutkan apa yang kita lihat dihadapan, Ketika melihat teman kita tampil
agak sedikit berbeda, kita mulai membicarakanya, terkadang juga terjadi hal-hal
sepele, sekalipun kita hanya menuturkan kelemahan orang lain, melihat saudara
kita yang kurang cerdas, lantas kita menceritkan kepada orang lain , bahkan Ketika
ada diantara teman kita yang mulutnya sering disebut “Latur” (lambe Turah),
kita sering mengatakan untuk nya “ halleh…si anu itu memang dasar latur”. Dilain
waktu juga terjadi Ketika kita melihat kendaraan saudara kita baru, bagus, jelek,
atau apa saja kekurangan yang terkait denganya, shingga penuturan kita tentang “
orang itu baju nya kombor, celana nya komrang, tubuh nya kurus dan lain
sebagainya, sungguh dosa ghibah ini selalu mengintai kita untuk menjerumuskan
kita kedalalm Lembah dosa lisan yang semakin nyata.
Coba kita renungkan diri masing-masing,
apakah dosa ghibah sering terjadi dalam kehidupan kita, atau justru kita
termasuk orang yang terbiasa melakukannya. Misalnya, ketika melihat seseorang
yang bertubuh kurus, kita berkata, “Badannya seperti lidi.” Saat melihat orang
yang bertubuh gemuk, kita spontan mengatakan, “Badannya bulat seperti bola.”
Bahkan ketika keduanya berjalan bersama, kita bercanda dengan mengatakan,
“Lihat, angka 10 sedang berjalan bersama.” Ucapan seperti itu mungkin terdengar
sepele dan lucu, tetapi tanpa disadari dapat menyakiti hati orang lain dan
termasuk dalam perbuatan ghibah yang harus kita hindari.
Sering kali kita menganggap ucapan seperti
itu hanyalah candaan biasa untuk menghidupkan suasana. Padahal, belum tentu
orang yang mendengarnya merasa senang. Bisa jadi ia tersenyum di hadapan kita,
tetapi hatinya terluka dan merasa direndahkan. Dari sinilah dosa ghibah dan
menyakiti sesama dapat muncul tanpa kita sadari. Ghibah tidak selalu berbentuk
membicarakan keburukan yang besar. Mengejek fisik, meniru kekurangan orang
lain, atau memberi julukan yang tidak baik juga termasuk perbuatan yang harus
dijauhi. Islam mengajarkan agar kita menjaga kehormatan sesama muslim sebagaimana
kita ingin kehormatan diri kita dijaga oleh orang lain.
Setiap manusia diciptakan Allah dengan
keadaan yang berbeda-beda. Ada yang tinggi, pendek, kurus, gemuk, berkulit
gelap, atau memiliki kekurangan tertentu. Semua itu bukan untuk dijadikan bahan
ejekan, melainkan untuk saling menghargai dan mengenal satu sama lain. Sebab,
yang paling mulia di sisi Allah bukanlah yang paling sempurna fisiknya, tetapi
yang paling baik akhlak dan ketakwaannya. Oleh karena itu, sebelum berbicara,
hendaknya kita belajar menimbang ucapan dengan hati dan akal. Jika perkataan
itu berpotensi menyakiti orang lain, lebih baik ditahan. Biasakan lisan untuk
berkata baik, memberi semangat, dan menjaga perasaan sesama. Karena satu ucapan
yang baik dapat menguatkan hati seseorang, sedangkan satu ucapan yang buruk
bisa membekas sangat lama dalam ingatannya.
Dikisahkan dari Abu Umamah Al Bahili ia berkata “ bahawasaya seorang
hamba kelak di hari kiamat. Ketika diserahkan buku catatan amal nya, ia melihat
adanya kebaikan yang dia sendiri merasa tidak melakukanya, sahutnya : “ya Allah,
dari manakah kebaikan yang diserahkan kepada ku ini? Kemudaian Allah pun
menjawab :” ini lah amal orang yang dulu menggunjingmu Dimana enkau sendiri
tidak merasa berbuat” itulah sebabanya ada cerita bahwa hasan bahsri Ketika diberitahu
oleh seseorang. Bahwa dirinya digunjing oleh seseorang yang lain, maka hasan
bashri pun segera mengantarkan hadiah berharga kepada orang yang menggunjing
nya itu.
Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa
ghibah bukanlah dosa yang ringan. Saat seseorang membicarakan keburukan orang
lain, ia tidak hanya menyakiti hati saudaranya, tetapi juga bisa kehilangan
pahala amal baik yang telah susah payah ia kumpulkan. Pahala itu justru
berpindah kepada orang yang digunjing. Karena memahami bahaya ghibah, Hasan
al-Bashri pernah memberikan contoh akhlak yang sangat mulia. Ketika Suatu hari beliau diberitahu bahwa ada
seseorang yang menggunjing dirinya. Mendengar hal itu, Hasan al-Bashri justru
mengirimkan hadiah berharga kepada orang tersebut. Ketika ditanya mengapa
beliau melakukan itu, Hasan al-Bashri ingin menunjukkan bahwa orang yang
menggunjing dirinya telah “memberikan” pahala kepadanya. Maka beliau merasa
perlu berterima kasih atas pahala yang diterimanya. Dari kisah ini kita belajar
bahwa menjaga lisan adalah perkara yang sangat penting. Jangan sampai karena
ucapan yang dianggap sepele, pahala amal kita berpindah kepada orang lain.
Sebaliknya, biasakanlah lisan untuk berkata baik, menasihati dengan lembut, dan
mendoakan sesama agar hidup menjadi lebih berkah dan penuh persaudaraan.
Dari Pemimpi Menjadi Pemimpin
Di dunia
ini banyak orang memiliki mimpi, namun tidak semua berani menjadi pemimpin bagi
mimpinya sendiri. Pemimpi adalah mereka yang mampu melihat harapan di masa
depan, membayangkan kehidupan yang lebih baik, dan menyimpan cita-cita besar di
dalam hatinya. Sedangkan pemimpin adalah mereka yang tidak hanya bermimpi,
tetapi juga melangkah, mengajak, dan membawa orang lain menuju tujuan bersama. Antara
pemimpi dan pemimpin terdapat hubungan yang sangat erat. Seorang pemimpin besar
selalu berawal dari seorang pemimpi. Ia pernah berada di titik penuh keraguan,
pernah jatuh, pernah diremehkan, tetapi tetap percaya bahwa mimpi layak
diperjuangkan. Dari keyakinan itulah lahir keberanian untuk mengambil tanggung
jawab dan menjadi cahaya bagi orang lain. Pemimpi hanya melihat kemungkinan,
sedangkan pemimpin menciptakan jalan untuk mewujudkan kemungkinan itu menjadi
kenyataan. Pemimpi berkata, “Suatu hari nanti akan ada perubahan,” sementara
pemimpin berkata, “Mari kita mulai perubahan itu hari ini.”
Namun
seorang pemimpin juga tidak boleh kehilangan mimpi. Sebab tanpa mimpi,
kepemimpinan akan kehilangan arah. Mimpi adalah kompas yang menjaga langkah
tetap hidup, sedangkan kepemimpinan adalah kekuatan yang menggerakkan banyak
hati untuk berjalan Bersama Hadir nya seorang pemimpin bukan hanya tentang perintah
dan memberi arahan, tetapi juga hadir berjalan bersama bawahannya. Tumbuh dan berkembang
secara bersamaan. Di setiap langkah, seorang pemimpin harus ada komunikasi,
perhatian, dan rasa saling menghargai yang menjadi jembatan dalam membangun
kebersamaan. Karena kepemimpinan yang baik lahir bukan dari jarak, melainkan
dari kedekatan dan keteladanan.
Dari
sikap sederhana itulah lahir banyak keberhasilan. Seorang pemimpin yang mau
mendengar keluhan, memahami kesulitan, dan turut merasakan perjuangan
orang-orang yang ada di sekelilingnya akan lebih mudah menumbuhkan kepercayaan.
Kepercayaan itu kemudian akan tumbuh dan berubah menjadi semangat, dan semangat
melahirkan kerja sama yang kuat. Ada masa ketika sebuah tim berada dalam
keadaan sulit. Semangat mulai menurun, pekerjaan terasa berat, dan banyak yang
mulai kehilangan keyakinan. Namun sang pemimpin tidak memilih berdiri di
belakang sambil menunjuk arah. Ia harus langsung turun, menyapa satu per satu,
memberi dukungan, bahkan ikut bekerja bersama mereka. Kata-katanya sederhana,
“Kita selesaikan ini bersama.” Karena salah saatu tanda keberhasilan seorang
pemimpin adalah siap untuk melayani dan tidak menolak Ketika di perintah, Perlahan
suasana berubah. Yang awalnya ragu mulai percaya diri, yang lelah kembali
memiliki harapan. Dengan kebersamaan dan keteladanan itu, pekerjaan yang
dianggap sulit akhirnya dapat diselesaikan dengan baik. Keberhasilan tersebut
bukan hanya tentang tercapainya tujuan, tetapi tentang lahirnya rasa saling
percaya dan kekeluargaan di dalam perjalanan. Sebab pada akhirnya, pemimpin
yang dikenang bukanlah mereka yang paling banyak memerintah, melainkan mereka
yang mampu berjalan bersama, merangkul, dan menguatkan setiap orang menuju
keberhasilan.
Tentu
kita akan lebih banyak mengenal kisah-kisah sahabat nabi yang berhasil dan
memberi contoh keberhasilan dalam memimpin pemerintahanya, Salah satu kisah
sahabat Nabi yang sering menjadi contoh keberhasilan dalam kepemimpinan adalah
kisah Umar bin Khattab.
Beliau
dikenal sebagai pemimpin yang tegas, adil, tetapi sangat dekat dengan
rakyatnya. Ketika menjadi khalifah, Umar tidak hanya duduk di istana memberi
perintah. Ia sering berjalan pada malam hari untuk melihat langsung keadaan
masyarakatnya. Ia ingin memastikan tidak ada rakyat yang kelaparan atau hidup
dalam kesusahan tanpa perhatian pemimpin. Suatu malam, Ketika Umar mendengar
tangisan anak-anak dari sebuah rumah kecil. Setelah didekati, ternyata seorang
ibu sedang memasak batu di dalam panci hanya untuk menenangkan anak-anaknya
yang lapar karena tidak memiliki makanan. Melihat hal itu, Umar segera kembali
ke Baitul Mal dan memikul sendiri karung gandum untuk keluarga tersebut. Ketika
ajudannya ingin menggantikan membawa karung itu, Umar berkata, “Apakah engkau
akan memikul dosaku di akhirat nanti?” Dari kisah itu terlihat bahwa
keberhasilan Umar sebagai pemimpin bukan hanya karena kecerdasannya mengatur
pemerintahan, tetapi karena ia memiliki rasa tanggung jawab, kepedulian, dan
keteladanan yang nyata kepada rakyatnya. Di masa kepemimpinannya, wilayah Islam
berkembang luas, masyarakat hidup lebih tertata, dan keadilan ditegakkan tanpa
membedakan kaya maupun miskin. Kisah Umar bin Khattab ini mengajarkan kepada
kita bahwa pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang mau turun langsung,
mendengar suara bawahannya dan rakyatnya, serta menjadikan amanah sebagai
tanggung jawab besar, bukan sekadar jabatan.
Selain
dari sahabat nabi kita bisa menggali Kembali Sejarah para pemimpin yang telah
berhasil dalam kepemimpinanya Salah satu kisah pemimpin kerajaan di Indonesia tempo
dulu yang terkenal karena kebijaksanaan dan keberhasilannya, misalnya kisah Hayam Wuruk dari Kerajaan
Majapahit. Di masa kepemimpinannya, Majapahit mencapai masa kejayaan.
Hayam Wuruk memimpin kerajaan dengan didampingi oleh Mahapatih terkenal, Gajah Mada. Keduanya bekerja sama membangun kekuatan
kerajaan, memperluas hubungan antarwilayah, dan menjaga persatuan Nusantara. Dari
kisah ini tentu untuk membangun keberhasilan dalam pemerintahan atau sebuah
organisasi kita harus mampu membangun relasi dan Kerjasama lintas struktural.
Hayam
Wuruk dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan memperhatikan kesejahteraan
rakyatnya. Pada masa pemerintahannya, perdagangan berkembang pesat, pertanian
maju, dan hubungan dengan berbagai daerah di Nusantara berjalan baik. Ia juga
menjaga stabilitas kerajaan dengan pendekatan diplomasi dan kerja sama, bukan
hanya kekuatan militer. Sementara itu, Gajah Mada terkenal dengan Sumpah
Palapa-nya, yaitu tekad untuk mempersatukan wilayah Nusantara. Dengan semangat
persatuan dan kepemimpinan yang kuat, Majapahit menjadi salah satu kerajaan
terbesar dalam sejarah Indonesia.
Masih
banyak kisah dan contoh keberhasilan para pemimpin dalam mengendalikan kepemipinanya,
yang bisa kita adopsi dan terjemahkan dalam kepemimpinan yang kita miliki,
karena jika kita menjadi seorang pemimpin yang hanya bisa menyuruh dengan telunjuk
dan tidak memberi contoh kepada bawahanya, maka jangan harap kita akan
memperoleh kebehasilan atas yang kita pimpin, namun jika masih ada rasa ego yang
tidak bisa kita kendalikan beresiaplah kita hanya bisa menjadi pemimpi bukan
pemimpin.
Pelita-Pelita Dunia
untuk membaca buku ini silakan klik link berikut :
https://online.visual-paradigm.com/share/book/buku-ada-couver-merged-2jcsixzsff
atau scan barcode :
Jangan Biarkan Akar Itu Mati
Sudah beberapa minggu ini saya tidak menulis. Barangkali kesibukan di sekolah membuat ruang untuk merangkai kata menjadi semakin sempit dan waktu terasa begitu cepat berlalu. Namun hari ini, saya kembali dipertemukan dengan seorang tamu istimewa yang beberapa waktu lalu pernah bersama-sama membersamai kegiatan literasi penulisan cerita anak dwibahasa. Pertemuan itu bukan sekadar silaturahmi, melainkan menjadi langkah lanjutan dari ilmu dan pengalaman berharga yang saya peroleh beberapa minggu lalu. Dari sanalah tumbuh keinginan dalam diri saya untuk menularkan kecintaan terhadap sastra kepada generasi muda.
Kita menyadari bahwa dewasa ini generasi muda hidup sangat dekat dengan gawai dan dunia digital. Sebagian besar waktu mereka dihabiskan di hadapan layar, larut dalam arus teknologi yang tidak pernah berhenti bergerak. Tanpa disadari, setiap waktu yang mereka habiskan di dunia maya juga menghadirkan pengeluaran yang terus bertambah. Dalam beberapa hari saja, mereka harus mengeluarkan biaya untuk membeli paket data, dan jika dihitung dalam jangka waktu sebulan hingga setahun, jumlahnya bukanlah angka yang sedikit. Akan sangat disayangkan apabila waktu, tenaga, dan biaya yang besar itu tidak dimanfaatkan untuk hal-hal yang memberi nilai dan manfaat bagi kehidupan.
Di tengah kuatnya dominasi budaya
digital saat ini, saya memandang penting untuk mengajak generasi muda kembali
mengenal budaya dan sastra bangsanya sendiri. Sebab budaya bukan sekadar
peninggalan masa lalu, melainkan identitas yang membentuk jati diri sebuah
bangsa. Di dalam budaya tersimpan nilai kehidupan, adat istiadat, bahasa, seni,
serta warisan luhur para pendahulu yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Jika budaya mulai dilupakan, maka perlahan generasi muda akan kehilangan akar
sejarah dan kehilangan ciri khas bangsanya sendiri.
Demikian pula sastra. Sastra
bukan hanya rangkaian kata yang indah untuk didengar, dan budaya bukan sekadar
adat yang diwariskan tanpa makna. Di dalamnya hidup nilai-nilai budi pekerti,
kebijaksanaan, serta cahaya peradaban yang membentuk karakter manusia. Melalui
syarahan ini, saya ingin mengajak generasi muda membuka hati dan pikiran untuk
memahami bahwa menjaga budaya sejatinya adalah menjaga akar kehidupan dan
mempertahankan identitas kita sebagai bangsa yang besar dan bermartabat.
Semoga melalui langkah kecil ini,
lahir generasi yang tidak hanya cerdas dalam teknologi, tetapi juga kaya akan
adab, santun dalam berbahasa, serta bangga terhadap sastra dan budaya negerinya
sendiri.Hari ini saya Kembali berhimpun pepat Bersama para tokoh, ulama, umara,
pemangku adat, Bersatu dalam sebuah ruang bukan hanya setakat bercerita, tapi Bersama
belajar Menyusun kata menjadi sebuah kalimat bermakna, penyampai Bahasa sebagai
media untuk menyampaikan pikiran, perasaan, pengalaman, dan imajinasi. Dan buahnya
tentu Bisa saja berupa puisi, pantun, cerpen, novel, drama, dan cerita rakyat. Kita
sebagai orang yang hidup,tumbuh dan berkembang di bumi melayu tentu tentu
sangat kaya dengan budaya yang harus kita lestarikan.
Budaya Melayu mengajarkan kita
tentang lembutnya budi, santunnya bahasa, dan tingginya adab. Dahulu, orang
Melayu tidak meninggalkan warisan emas bertimbun, tetapi meninggalkan kata-kata
yang penuh hikmah. Sebab mereka percaya, hancurnya rumah masih dapat dibangun
kembali, namun hilangnya adat dan bahasa akan memudarkan jati diri anak cucu di
kemudian hari.
Hari ini, zaman bergerak begitu
cepat. Teknologi berkembang tanpa menunggu langkah kita. Anak-anak lebih
mengenal suara gawai daripada suara pantun. Lebih akrab dengan dunia maya
dibandingkan kisah-kisah bijak yang dahulu hidup di serambi rumah. Sedikit demi
sedikit, nilai budaya mulai tersisih oleh gemerlap kehidupan yang serba instan.
Namun sesungguhnya, budaya tidak pernah meminta untuk diagungkan. Ia hanya
ingin dikenang, dijaga, dan diwariskan. Sebab budaya adalah akar. Dan pohon
setinggi apa pun tidak akan mampu berdiri kokoh jika akarnya dibiarkan mati.
Maka pada kesempatan yang mulia
ini, saya mengajak kepada kita semua untuk menjadi generasi yang tidak malu
memakai adat sendiri, tidak segan berbicara dengan santun, dan tidak lelah
menjaga sastra sebagai cahaya peradaban. Karena bangsa yang besar bukanlah
bangsa yang melupakan masa lalunya, melainkan bangsa yang mampu membawa warisan
leluhurnya berjalan berdampingan dengan kemajuan zaman. Biarlah waktu terus
bergerak membawa perubahan, namun jangan biarkan akar budaya tercerabut dari
kehidupan kita. Sebab ketika adat mulai dilupakan, bahasa mulai ditinggalkan,
dan sastra tak lagi dibacakan, sesungguhnya yang perlahan hilang bukan hanya tradisi,
melainkan juga ruh dan jati diri sebuah bangsa.
Mari kita rawat budaya
sebagaimana kita menjaga rumah tempat kita pulang. Mari kita hidupkan kembali
pantun di tengah percakapan, syair di tengah pembelajaran, serta nilai-nilai
luhur Melayu di dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Karena sesungguhnya kemajuan
bukanlah ketika kita meninggalkan warisan leluhur, melainkan ketika kita mampu
membawa warisan itu tetap hidup di tengah dunia yang terus berubah.
Semoga generasi muda hari ini kelak menjadi generasi yang tidak hanya cerdas oleh ilmu pengetahuan, tetapi juga kaya akan adab, halus dalam bertutur, serta teguh memegang nilai budaya bangsanya. Generasi yang mampu berdiri tinggi menatap masa depan tanpa kehilangan akar tempat ia berasal. Jika kelak anak cucu masih mengenal pantun, masih memahami santun, dan masih bangga menyebut dirinya pewaris budaya Melayu, maka pada saat itulah kita tahu bahwa perjuangan menjaga budaya tidak pernah sia-sia. Karena budaya bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan cahaya yang akan menerangi perjalanan bangsa menuju masa depan.
Refleksi Perjalanan Ilmu dan Kebersamaan
Di setiap awal perjalanan, selalu ada ruang untuk
belajar dan memahami makna kehidupan dengan lebih dalam. Hari ini, saya lumayatn
sat set (anak muda sekarang menyebutnya Gercep), saya sedang menulis artikel petua
ulama yang saya kutip dari kitab Bidayatul Hidayah, ada pesan Whatsaap
masuk, dari buk Ema, selaku ketua panitia pelaksanaan penerimaan murid baru di MAN
2 Kepulauan Meranti, pesan itu mengingatkan bahwa ada jadwal sosialisasi jam
9.00 Wib, dini hari. Sementara sekarang sudah menunjukan pukul 08.23 Menit. Tanpa
pikir Panjang laptop pun langsung saya tutup, dan berangkat pergi, perjalanan
yang lumayan tidak dekat, karena harus menyeberangi selat dengan perahu kayu
yang di beri tenaga diesel.
Sebelum sampai dilokasi sosialisasi, saya
sempatkan waktu untuk menyapa rekan-rekan siswa dari pasukan khusus untuk mengikuti
seleksi pasukan pengibar bendera ditingkat Kabuapten, saya hanya bebrapa menit
saja, setelah memastikan pasukan lengkap saya tinggal pergi dan telah
diserahkan kepada panitia pelaksana. Masih ada waktu 15 menit untuk saya
melanjutkan perjalanan tugas utama, (mendampingi kepala madrasah untuk
melaksanakan sosialisasi PMB). Saya datang lebih awal beberapa menit ketimbang
kepala madrasash, disana sudah ada buk ema selaku ketua pelaksana. Tidak lalma
kemudian kepala madrasah pun tiba, kami pun langsung menuju ketempat sosisasi
dilaksanakan.
Sosialisasi ini bukan hanya sekedar promosi dan
untuk mencari murid baru, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang bisa kita
petik hikmahnya dalam kehidupan, kita tidak sekadar memulai kegiatan
sosialisasi siswa baru, tetapi juga membuka pintu menuju dunia pengetahuan,
pengalaman, dan pembentukan jati diri. Di tempat inilah, pikiran diasah, akhlak
dibina, dan mimpi mulai ditata dengan penuh kesadaran.
Sosialisasi ini bukan hanya tentang mengenal lingkungan
sekolah, melainkan juga tentang memahami peran kita sebagai pelajar yang
berpikir kritis, bertindak bijak, dan mampu mengambil hikmah dari setiap
proses. Sebab dalam setiap langkah kecil yang kita ambil hari ini, tersimpan
pelajaran besar yang akan membentuk masa depan yang lebih bermakna. Kurang lebih
seperti itu yang disampaikan kepala madrasah dalam kegiatan tersebut, namun
bagi saya pribadi tentu tidak sekadar sosialisasi melainkan saya harus bisa
mengambil hikmah dan ilmu pengetahuan dari kegiatan itu.
Dalam perjalanan menuntut ilmu, kita akan
menyadari bahwa pendidikan bukan sekadar tentang nilai atau prestasi semata,
melainkan tentang bagaimana kita belajar memahami diri, menghargai proses, dan
tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter. Setiap pertemuan dengan guru, setiap
diskusi dengan teman, hingga setiap tantangan yang dihadapi, semuanya adalah
bagian dari proses pembelajaran yang tidak ternilai harganya. Terkadang,
langkah kita akan terasa berat. Akan ada rasa lelah, ragu, bahkan kegagalan
yang mungkin datang tanpa diundang. Namun di situlah letak hikmahnya bahwa
setiap kesulitan mengajarkan keteguhan, setiap kegagalan melatih kesabaran, dan
setiap usaha yang sungguh-sungguh akan membentuk kekuatan dalam diri kita.
Pendidikan sejati adalah ketika kita mampu bangkit, memperbaiki diri, dan terus
melangkah dengan harapan yang tidak pernah padam.
Sebagai siswa baru, kalian sedang memulai
lembaran penting dalam kehidupan. Jadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk
belajar, bukan hanya dari buku, tetapi juga dari sikap, pengalaman, dan
nilai-nilai kebaikan yang ada di sekitar. Hormati guru sebagai pembimbing,
hargai teman sebagai sahabat dalam perjalanan, dan jaga semangat untuk terus
berkembang.Akhirnya, semoga langkah awal ini menjadi pijakan yang kokoh untuk
masa depan yang gemilang. Karena pada hakikatnya, ilmu yang disertai dengan
kebijaksanaan dan akhlak mulia akan menjadi cahaya yang menerangi jalan hidup,
tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain.
Lebih dari itu, perjalanan ini tidak akan berarti
tanpa kebersamaan. Kita hadir di sini bukan sebagai individu yang berjalan
sendiri, melainkan sebagai bagian dari satu keluarga besar yang saling
menguatkan. Dalam kebersamaan, kita belajar untuk saling menghargai perbedaan,
saling membantu dalam kesulitan, dan saling menginspirasi untuk menjadi lebih
baik. Kebersamaan mengajarkan kita bahwa keberhasilan bukan hanya milik satu
orang, tetapi hasil dari dukungan, kerja sama, dan rasa peduli antar sesama.
Saat satu di antara kita merasa lemah, yang lain hadir untuk menguatkan. Saat
satu berhasil, yang lain turut merasakan kebahagiaan. Inilah nilai luhur yang
menjadikan perjalanan pendidikan terasa lebih bermakna dan penuh warna.
Maka, jagalah kebersamaan ini dengan sikap saling
menghormati, komunikasi yang baik, dan hati yang tulus. Karena dari sinilah
akan tumbuh persahabatan, kepercayaan, dan rasa memiliki yang akan terus
dikenang sepanjang waktu. Dan kelak, ketika kita menoleh ke belakang, bukan
hanya ilmu yang kita ingat, tetapi juga hangatnya kebersamaan yang pernah kita
rasakan bersama.
Menjajak Tradisi Menyulam Karya
Afrizal
Cik, saya mengenal beliau memang tidak begitu akrab Namun, pada awalnya belakangan
ini saya sering berkomunikasi dengan beliau, terutama terkait khazanah serta
adat istiadat Melayu yang ada di Kepulauan Meranti. Karena saya tertarik unutk
belajar dan mendalmi budaya melayu yang ada dikepulauan meranti, terutama pada
adat istiadat Pernik-pernik pernikahan, mulai dari merisik, melamar, adat malam
berinai sampailah ijab dan Kabul, dan tradisi yang ada didalam nya, Bagi saya,
beliau adalah salah satu tokoh Melayu Meranti yang istiqamah dalam menjaga adat
dan budaya kampung halamannya. Tidak heran jika beliau sangat dikenal di
kalangan tokoh-tokoh Melayu Meranti. Saya pun merasa termotivasi oleh beliau,
karena keteguhannya dalam melestarikan tradisi adat dan budaya Melayu di
Kepulauan Meranti. Salah satu upaya yang beliau lakukan dalam menjaga warisan
tersebut adalah melalui tulisan, seperti cerita-cerita rakyat, hikayat, dan
karya sastra yang berkembang di Kepulauan Meranti. Saya sudah membaca beberpa
karya beliau, seperti “ Tanah Jantan Yang Melawan, Tempias, Termasuk Lagenda
Tasik Putri Puyu, Ada Juga Awang Mahmuda (tapi saya belum selesai
membacanya)”
Hari
ini saya mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan literasi Bimbingan Teknik
Menulis Cerita Anak Dwibahasa yang ditaja oleh Balai Bahasa Provinsi Riau,
bekerja sama dengan Lembaga Adat Melayu Riau Kabupaten Kepulauan Meranti.
Kesempatan ini tentu bagi saya bukan sekadar menghadiri sebuah kegiatan,
melainkan menjadi pintu awal untuk melangkah lebih jauh dalam dunia literasi
dan pelestarian budaya. Di tengah suasana kegiatan yang penuh semangat, saya
mulai menyadari bahwa menulis bukan hanya tentang merangkai kata, tetapi juga
tentang merawat ingatan, menjaga jati diri, dan mewariskan nilai-nilai luhur
kepada generasi berikutnya. Apa yang selama ini dilakukan oleh Afrizal Cik
seakan menjadi cermin dan pengingat bahwa setiap orang memiliki peran dalam
menjaga warisan budaya, sekecil apa pun langkah yang diambil, tentu akan
memiliki manfaat yang besar dikemudian hari.
Saya
pun mulai menumbuhkan keyakinan dalam diri, bahwa belajar menulis adalah bagian
dari ikhtiar untuk ikut serta merawat khazanah Daerah. Dari kisah -kisah anak
Lokal, kehidupan masyarkat tempo dulu dan kekinian, tentu ini perlu untuk
diabadikan agar tidak hilang dimakan zaman, mungkin kita sering mendengar kisah
dan cerita dari orang tua-tua kita, tentang asal usul kampung, kehidupan
Masyarakat masa lalu, dan bahkan cerita tetangga kita yang terjadi kemaren
sore, jika cerita itu tidak kita abadikan dalam bentuk tulisan, maka sepuluh
atau duapuluh tahun kedepan cerita itu akan hilang, sirna, dan lupa dari
ingatan kita, maka kesempatan ini hadir untuk kita mengabadikan kisah-kisah itu
dalam sebuah cerita yang kita tulis.
Melalui
kegiatan ini, saya ingin melangkah lebih berani menuangkan gagasan, merekam
cerita, dan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya dalam karya-karya
sederhana. Sebab saya percaya, sebuah tulisan kecil hari ini bisa menjadi
pelita bagi generasi di masa depan. Dan dari sini, saya belajar satu hal
penting: berkarya tidak harus menunggu sempurna, cukup dimulai dengan niat yang
tulus dan langkah yang konsisten. Karena pada akhirnya, karya bukan hanya
tentang siapa yang membaca, tetapi tentang bagaimana kita menjaga warisan agar
tetap hidup sepanjang zaman.
Di
hadapan bangunan bercorak Melayu yang kokoh dan berwarna cerah itu, tampak
sosok-sosok yang sederhana namun penuh makna. Di antara mereka, berdiri seorang
laki-laki berbaju kuning dengan senyum yang hangat dan sikap yang tenang dialah
sosok yang dalam benak saya mencerminkan keteguhan untuk menjaga warisan budaya
dari leluhur. Namanya Afrizal Cik, dan saya akrab memanggilnya dengan panggilan
“Datuk”. Wajahnya memancarkan ketulusan,
seakan menyimpan banyak cerita tentang perjuangan menjaga nilai dan tradisi
yang kian tergerus zaman, saya sangat berterimakasih karena beliau telah
memberikan kesempatan dan waktu kepada saya untuk menimba ilmu dalam tata
penulisan cerita untuk anak-anak, tentu kesempatan ini tidak akan mudah
terulang untuk kedua kali.
Di
sekelilingnya, ada Wanita-wanita yang juga mengenakan nuansa yang sama dan
busana sopan tampak berdiri dengan raut wajah bersahaja. Mereka bukan sekadar
pelengkap, tetapi bagian dari mata rantai yang sama, penjaga warisan, perawat
budaya, dan pendukung lahirnya generasi yang mencintai adat istiadatnya. Senyum
mereka bukan hanya ekspresi kebahagiaan, melainkan juga cerminan semangat
kebersamaan dalam merawat identitas Melayu. Tangga tempat mereka berdiri seolah
menjadi simbol perjalanan, bahwa menjaga budaya dan berkarya adalah sebuah
proses yang bertahap. Tidak instan, tetapi penuh kesabaran dan konsisten. Dari
langkah kecil seperti berdiskusi, belajar, hingga menulis, semua bermuara pada
satu tujuan: agar khazanah Melayu tetap hidup dan dikenang. Melihat mereka,
saya semakin yakin bahwa semangat berkarya itu tumbuh dari lingkungan yang
saling menguatkan. Bahwa setiap pertemuan, setiap senyum, dan setiap cerita
yang dibagikan adalah bahan bakar untuk terus melangkah. Dan dari kebersamaan
sederhana inilah, lahir tekad yang kuat untuk menulis, berkarya, dan menjaga
warisan budaya agar tetap bersinar di masa depan.
Saya menyadari bahwa perjalanan ini bukan sekadar tentang mengenal seseorang atau memahami sebuah tradisi, melainkan tentang menemukan makna dalam setiap langkah kecil yang kita tempuh. Di antara tawa yang sederhana dan kebersamaan yang hangat, dalm waktu singkat itu, tumbuh sebuah harapan bahwa karya yang lahir dari hati yang tulus akan selalu menemukan jalannya. Seperti cahaya yang tak pernah lelah menerangi, semangat untuk berkarya pun harus terus dijaga, dirawat, dan dihidupkan. Karena dari setiap tulisan yang kita rangkai, terselip cinta-cinta pada budaya, pada tanah kelahiran, dan pada masa depan yang ingin kita wariskan.
Maka
biarlah langkah ini terus berlanjut, meski perlahan, meski sederhana. Sebab
dalam kesederhanaan itulah, keindahan tercipta. Dan dalam setiap karya yang
lahir, ada jejak hati yang akan selalu abadi, mengalir lembut seperti kisah
yang tak pernah ingin usai.
Selamat
berkarya para sahabat-sahabt ku, semoga kita dipertemukan Kembali dalam bingkai
kata, diantara deretan nama yang tertulis dalam Buku Cerita Anak Dwibahasa
disana terabadikan nama kita.
**
Salam Literasi**











%20(1).png)



.jpeg)
