-
-
-
BAHAGIA ITU SIMPEL,
bersyukut atas segala nikmat dan bersabarlah atas cobaan yang di beri, bahagia mu, adalah bagaimana sikap mu ketika melihat mereka orang terdekatmu tersenyum .
-
-
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.
Jejak Lereng Muria, antara Meniti Tangga dan Menata Hati
Ghibah: Luka dari Sebuah Ucapan
Berbicara itu sangat mudah karena tidak memerlukan biaya, berbeda dengan membeli sesuatu yang harus ditebus dengan uang. Namun, yang sulit adalah menjaga lisan dan berpikir sebelum berbicara. Terkadang, perkataan yang tidak pada tempatnya dapat meninggalkan luka yang sangat mendalam bagi orang yang mendengarnya.Sering kali kita membicarakan kisah dan keadaan orang lain, bahkan saudara kita sendiri. Walaupun apa yang kita sampaikan itu benar, hal tersebut tetap dapat menjadi dosa ghibah. Ghibah adalah membicarakan seseorang tentang sesuatu yang tidak ia sukai apabila perkataan itu sampai kepadanya, meskipun apa yang dibicarakan tersebut benar adanya. Didialam kitab Durotunnasihain disebutkan bahwa Rasulullah SAW, bersabda :
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ
«أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ؟» “Tahukah kalian apakah ghibah itu?”
قَالُوا: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. “Para sahabat menjawab, “Allah dan
Rasul-Nya lebih mengetahui.”
قَالَ: «ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ». “Nabi bersabda, “Engkau menyebut
saudaramu dengan sesuatu yang ia tidak sukai.”
قِيلَ: أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ؟ “Ditanyakan, “Bagaimana jika apa yang
saya katakan itu benar ada pada dirinya?”
قَالَ: «إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ». “Nabi menjawab, “Jika memang benar
ada padanya maka engkau telah berghibah kepadanya, dan jika tidak ada maka
engkau telah memfitnahnya.” (HR,Muslim)
Terkadang lisan kita selalu saja ingin
menyebutkan apa yang kita lihat dihadapan, Ketika melihat teman kita tampil
agak sedikit berbeda, kita mulai membicarakanya, terkadang juga terjadi hal-hal
sepele, sekalipun kita hanya menuturkan kelemahan orang lain, melihat saudara
kita yang kurang cerdas, lantas kita menceritkan kepada orang lain , bahkan Ketika
ada diantara teman kita yang mulutnya sering disebut “Latur” (lambe Turah),
kita sering mengatakan untuk nya “ halleh…si anu itu memang dasar latur”. Dilain
waktu juga terjadi Ketika kita melihat kendaraan saudara kita baru, bagus, jelek,
atau apa saja kekurangan yang terkait denganya, shingga penuturan kita tentang “
orang itu baju nya kombor, celana nya komrang, tubuh nya kurus dan lain
sebagainya, sungguh dosa ghibah ini selalu mengintai kita untuk menjerumuskan
kita kedalalm Lembah dosa lisan yang semakin nyata.
Coba kita renungkan diri masing-masing,
apakah dosa ghibah sering terjadi dalam kehidupan kita, atau justru kita
termasuk orang yang terbiasa melakukannya. Misalnya, ketika melihat seseorang
yang bertubuh kurus, kita berkata, “Badannya seperti lidi.” Saat melihat orang
yang bertubuh gemuk, kita spontan mengatakan, “Badannya bulat seperti bola.”
Bahkan ketika keduanya berjalan bersama, kita bercanda dengan mengatakan,
“Lihat, angka 10 sedang berjalan bersama.” Ucapan seperti itu mungkin terdengar
sepele dan lucu, tetapi tanpa disadari dapat menyakiti hati orang lain dan
termasuk dalam perbuatan ghibah yang harus kita hindari.
Sering kali kita menganggap ucapan seperti
itu hanyalah candaan biasa untuk menghidupkan suasana. Padahal, belum tentu
orang yang mendengarnya merasa senang. Bisa jadi ia tersenyum di hadapan kita,
tetapi hatinya terluka dan merasa direndahkan. Dari sinilah dosa ghibah dan
menyakiti sesama dapat muncul tanpa kita sadari. Ghibah tidak selalu berbentuk
membicarakan keburukan yang besar. Mengejek fisik, meniru kekurangan orang
lain, atau memberi julukan yang tidak baik juga termasuk perbuatan yang harus
dijauhi. Islam mengajarkan agar kita menjaga kehormatan sesama muslim sebagaimana
kita ingin kehormatan diri kita dijaga oleh orang lain.
Setiap manusia diciptakan Allah dengan
keadaan yang berbeda-beda. Ada yang tinggi, pendek, kurus, gemuk, berkulit
gelap, atau memiliki kekurangan tertentu. Semua itu bukan untuk dijadikan bahan
ejekan, melainkan untuk saling menghargai dan mengenal satu sama lain. Sebab,
yang paling mulia di sisi Allah bukanlah yang paling sempurna fisiknya, tetapi
yang paling baik akhlak dan ketakwaannya. Oleh karena itu, sebelum berbicara,
hendaknya kita belajar menimbang ucapan dengan hati dan akal. Jika perkataan
itu berpotensi menyakiti orang lain, lebih baik ditahan. Biasakan lisan untuk
berkata baik, memberi semangat, dan menjaga perasaan sesama. Karena satu ucapan
yang baik dapat menguatkan hati seseorang, sedangkan satu ucapan yang buruk
bisa membekas sangat lama dalam ingatannya.
Dikisahkan dari Abu Umamah Al Bahili ia berkata “ bahawasaya seorang
hamba kelak di hari kiamat. Ketika diserahkan buku catatan amal nya, ia melihat
adanya kebaikan yang dia sendiri merasa tidak melakukanya, sahutnya : “ya Allah,
dari manakah kebaikan yang diserahkan kepada ku ini? Kemudaian Allah pun
menjawab :” ini lah amal orang yang dulu menggunjingmu Dimana enkau sendiri
tidak merasa berbuat” itulah sebabanya ada cerita bahwa hasan bahsri Ketika diberitahu
oleh seseorang. Bahwa dirinya digunjing oleh seseorang yang lain, maka hasan
bashri pun segera mengantarkan hadiah berharga kepada orang yang menggunjing
nya itu.
Kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa
ghibah bukanlah dosa yang ringan. Saat seseorang membicarakan keburukan orang
lain, ia tidak hanya menyakiti hati saudaranya, tetapi juga bisa kehilangan
pahala amal baik yang telah susah payah ia kumpulkan. Pahala itu justru
berpindah kepada orang yang digunjing. Karena memahami bahaya ghibah, Hasan
al-Bashri pernah memberikan contoh akhlak yang sangat mulia. Ketika Suatu hari beliau diberitahu bahwa ada
seseorang yang menggunjing dirinya. Mendengar hal itu, Hasan al-Bashri justru
mengirimkan hadiah berharga kepada orang tersebut. Ketika ditanya mengapa
beliau melakukan itu, Hasan al-Bashri ingin menunjukkan bahwa orang yang
menggunjing dirinya telah “memberikan” pahala kepadanya. Maka beliau merasa
perlu berterima kasih atas pahala yang diterimanya. Dari kisah ini kita belajar
bahwa menjaga lisan adalah perkara yang sangat penting. Jangan sampai karena
ucapan yang dianggap sepele, pahala amal kita berpindah kepada orang lain.
Sebaliknya, biasakanlah lisan untuk berkata baik, menasihati dengan lembut, dan
mendoakan sesama agar hidup menjadi lebih berkah dan penuh persaudaraan.
Dari Pemimpi Menjadi Pemimpin
Di dunia
ini banyak orang memiliki mimpi, namun tidak semua berani menjadi pemimpin bagi
mimpinya sendiri. Pemimpi adalah mereka yang mampu melihat harapan di masa
depan, membayangkan kehidupan yang lebih baik, dan menyimpan cita-cita besar di
dalam hatinya. Sedangkan pemimpin adalah mereka yang tidak hanya bermimpi,
tetapi juga melangkah, mengajak, dan membawa orang lain menuju tujuan bersama. Antara
pemimpi dan pemimpin terdapat hubungan yang sangat erat. Seorang pemimpin besar
selalu berawal dari seorang pemimpi. Ia pernah berada di titik penuh keraguan,
pernah jatuh, pernah diremehkan, tetapi tetap percaya bahwa mimpi layak
diperjuangkan. Dari keyakinan itulah lahir keberanian untuk mengambil tanggung
jawab dan menjadi cahaya bagi orang lain. Pemimpi hanya melihat kemungkinan,
sedangkan pemimpin menciptakan jalan untuk mewujudkan kemungkinan itu menjadi
kenyataan. Pemimpi berkata, “Suatu hari nanti akan ada perubahan,” sementara
pemimpin berkata, “Mari kita mulai perubahan itu hari ini.”
Namun
seorang pemimpin juga tidak boleh kehilangan mimpi. Sebab tanpa mimpi,
kepemimpinan akan kehilangan arah. Mimpi adalah kompas yang menjaga langkah
tetap hidup, sedangkan kepemimpinan adalah kekuatan yang menggerakkan banyak
hati untuk berjalan Bersama Hadir nya seorang pemimpin bukan hanya tentang perintah
dan memberi arahan, tetapi juga hadir berjalan bersama bawahannya. Tumbuh dan berkembang
secara bersamaan. Di setiap langkah, seorang pemimpin harus ada komunikasi,
perhatian, dan rasa saling menghargai yang menjadi jembatan dalam membangun
kebersamaan. Karena kepemimpinan yang baik lahir bukan dari jarak, melainkan
dari kedekatan dan keteladanan.
Dari
sikap sederhana itulah lahir banyak keberhasilan. Seorang pemimpin yang mau
mendengar keluhan, memahami kesulitan, dan turut merasakan perjuangan
orang-orang yang ada di sekelilingnya akan lebih mudah menumbuhkan kepercayaan.
Kepercayaan itu kemudian akan tumbuh dan berubah menjadi semangat, dan semangat
melahirkan kerja sama yang kuat. Ada masa ketika sebuah tim berada dalam
keadaan sulit. Semangat mulai menurun, pekerjaan terasa berat, dan banyak yang
mulai kehilangan keyakinan. Namun sang pemimpin tidak memilih berdiri di
belakang sambil menunjuk arah. Ia harus langsung turun, menyapa satu per satu,
memberi dukungan, bahkan ikut bekerja bersama mereka. Kata-katanya sederhana,
“Kita selesaikan ini bersama.” Karena salah saatu tanda keberhasilan seorang
pemimpin adalah siap untuk melayani dan tidak menolak Ketika di perintah, Perlahan
suasana berubah. Yang awalnya ragu mulai percaya diri, yang lelah kembali
memiliki harapan. Dengan kebersamaan dan keteladanan itu, pekerjaan yang
dianggap sulit akhirnya dapat diselesaikan dengan baik. Keberhasilan tersebut
bukan hanya tentang tercapainya tujuan, tetapi tentang lahirnya rasa saling
percaya dan kekeluargaan di dalam perjalanan. Sebab pada akhirnya, pemimpin
yang dikenang bukanlah mereka yang paling banyak memerintah, melainkan mereka
yang mampu berjalan bersama, merangkul, dan menguatkan setiap orang menuju
keberhasilan.
Tentu
kita akan lebih banyak mengenal kisah-kisah sahabat nabi yang berhasil dan
memberi contoh keberhasilan dalam memimpin pemerintahanya, Salah satu kisah
sahabat Nabi yang sering menjadi contoh keberhasilan dalam kepemimpinan adalah
kisah Umar bin Khattab.
Beliau
dikenal sebagai pemimpin yang tegas, adil, tetapi sangat dekat dengan
rakyatnya. Ketika menjadi khalifah, Umar tidak hanya duduk di istana memberi
perintah. Ia sering berjalan pada malam hari untuk melihat langsung keadaan
masyarakatnya. Ia ingin memastikan tidak ada rakyat yang kelaparan atau hidup
dalam kesusahan tanpa perhatian pemimpin. Suatu malam, Ketika Umar mendengar
tangisan anak-anak dari sebuah rumah kecil. Setelah didekati, ternyata seorang
ibu sedang memasak batu di dalam panci hanya untuk menenangkan anak-anaknya
yang lapar karena tidak memiliki makanan. Melihat hal itu, Umar segera kembali
ke Baitul Mal dan memikul sendiri karung gandum untuk keluarga tersebut. Ketika
ajudannya ingin menggantikan membawa karung itu, Umar berkata, “Apakah engkau
akan memikul dosaku di akhirat nanti?” Dari kisah itu terlihat bahwa
keberhasilan Umar sebagai pemimpin bukan hanya karena kecerdasannya mengatur
pemerintahan, tetapi karena ia memiliki rasa tanggung jawab, kepedulian, dan
keteladanan yang nyata kepada rakyatnya. Di masa kepemimpinannya, wilayah Islam
berkembang luas, masyarakat hidup lebih tertata, dan keadilan ditegakkan tanpa
membedakan kaya maupun miskin. Kisah Umar bin Khattab ini mengajarkan kepada
kita bahwa pemimpin yang berhasil adalah pemimpin yang mau turun langsung,
mendengar suara bawahannya dan rakyatnya, serta menjadikan amanah sebagai
tanggung jawab besar, bukan sekadar jabatan.
Selain
dari sahabat nabi kita bisa menggali Kembali Sejarah para pemimpin yang telah
berhasil dalam kepemimpinanya Salah satu kisah pemimpin kerajaan di Indonesia tempo
dulu yang terkenal karena kebijaksanaan dan keberhasilannya, misalnya kisah Hayam Wuruk dari Kerajaan
Majapahit. Di masa kepemimpinannya, Majapahit mencapai masa kejayaan.
Hayam Wuruk memimpin kerajaan dengan didampingi oleh Mahapatih terkenal, Gajah Mada. Keduanya bekerja sama membangun kekuatan
kerajaan, memperluas hubungan antarwilayah, dan menjaga persatuan Nusantara. Dari
kisah ini tentu untuk membangun keberhasilan dalam pemerintahan atau sebuah
organisasi kita harus mampu membangun relasi dan Kerjasama lintas struktural.
Hayam
Wuruk dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana dan memperhatikan kesejahteraan
rakyatnya. Pada masa pemerintahannya, perdagangan berkembang pesat, pertanian
maju, dan hubungan dengan berbagai daerah di Nusantara berjalan baik. Ia juga
menjaga stabilitas kerajaan dengan pendekatan diplomasi dan kerja sama, bukan
hanya kekuatan militer. Sementara itu, Gajah Mada terkenal dengan Sumpah
Palapa-nya, yaitu tekad untuk mempersatukan wilayah Nusantara. Dengan semangat
persatuan dan kepemimpinan yang kuat, Majapahit menjadi salah satu kerajaan
terbesar dalam sejarah Indonesia.
Masih
banyak kisah dan contoh keberhasilan para pemimpin dalam mengendalikan kepemipinanya,
yang bisa kita adopsi dan terjemahkan dalam kepemimpinan yang kita miliki,
karena jika kita menjadi seorang pemimpin yang hanya bisa menyuruh dengan telunjuk
dan tidak memberi contoh kepada bawahanya, maka jangan harap kita akan
memperoleh kebehasilan atas yang kita pimpin, namun jika masih ada rasa ego yang
tidak bisa kita kendalikan beresiaplah kita hanya bisa menjadi pemimpi bukan
pemimpin.
Pelita-Pelita Dunia
untuk membaca buku ini silakan klik link berikut :
https://online.visual-paradigm.com/share/book/buku-ada-couver-merged-2jcsixzsff
atau scan barcode :
Jangan Biarkan Akar Itu Mati
Sudah beberapa minggu ini saya tidak menulis. Barangkali kesibukan di sekolah membuat ruang untuk merangkai kata menjadi semakin sempit dan waktu terasa begitu cepat berlalu. Namun hari ini, saya kembali dipertemukan dengan seorang tamu istimewa yang beberapa waktu lalu pernah bersama-sama membersamai kegiatan literasi penulisan cerita anak dwibahasa. Pertemuan itu bukan sekadar silaturahmi, melainkan menjadi langkah lanjutan dari ilmu dan pengalaman berharga yang saya peroleh beberapa minggu lalu. Dari sanalah tumbuh keinginan dalam diri saya untuk menularkan kecintaan terhadap sastra kepada generasi muda.
Kita menyadari bahwa dewasa ini generasi muda hidup sangat dekat dengan gawai dan dunia digital. Sebagian besar waktu mereka dihabiskan di hadapan layar, larut dalam arus teknologi yang tidak pernah berhenti bergerak. Tanpa disadari, setiap waktu yang mereka habiskan di dunia maya juga menghadirkan pengeluaran yang terus bertambah. Dalam beberapa hari saja, mereka harus mengeluarkan biaya untuk membeli paket data, dan jika dihitung dalam jangka waktu sebulan hingga setahun, jumlahnya bukanlah angka yang sedikit. Akan sangat disayangkan apabila waktu, tenaga, dan biaya yang besar itu tidak dimanfaatkan untuk hal-hal yang memberi nilai dan manfaat bagi kehidupan.
Di tengah kuatnya dominasi budaya
digital saat ini, saya memandang penting untuk mengajak generasi muda kembali
mengenal budaya dan sastra bangsanya sendiri. Sebab budaya bukan sekadar
peninggalan masa lalu, melainkan identitas yang membentuk jati diri sebuah
bangsa. Di dalam budaya tersimpan nilai kehidupan, adat istiadat, bahasa, seni,
serta warisan luhur para pendahulu yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Jika budaya mulai dilupakan, maka perlahan generasi muda akan kehilangan akar
sejarah dan kehilangan ciri khas bangsanya sendiri.
Demikian pula sastra. Sastra
bukan hanya rangkaian kata yang indah untuk didengar, dan budaya bukan sekadar
adat yang diwariskan tanpa makna. Di dalamnya hidup nilai-nilai budi pekerti,
kebijaksanaan, serta cahaya peradaban yang membentuk karakter manusia. Melalui
syarahan ini, saya ingin mengajak generasi muda membuka hati dan pikiran untuk
memahami bahwa menjaga budaya sejatinya adalah menjaga akar kehidupan dan
mempertahankan identitas kita sebagai bangsa yang besar dan bermartabat.
Semoga melalui langkah kecil ini,
lahir generasi yang tidak hanya cerdas dalam teknologi, tetapi juga kaya akan
adab, santun dalam berbahasa, serta bangga terhadap sastra dan budaya negerinya
sendiri.Hari ini saya Kembali berhimpun pepat Bersama para tokoh, ulama, umara,
pemangku adat, Bersatu dalam sebuah ruang bukan hanya setakat bercerita, tapi Bersama
belajar Menyusun kata menjadi sebuah kalimat bermakna, penyampai Bahasa sebagai
media untuk menyampaikan pikiran, perasaan, pengalaman, dan imajinasi. Dan buahnya
tentu Bisa saja berupa puisi, pantun, cerpen, novel, drama, dan cerita rakyat. Kita
sebagai orang yang hidup,tumbuh dan berkembang di bumi melayu tentu tentu
sangat kaya dengan budaya yang harus kita lestarikan.
Budaya Melayu mengajarkan kita
tentang lembutnya budi, santunnya bahasa, dan tingginya adab. Dahulu, orang
Melayu tidak meninggalkan warisan emas bertimbun, tetapi meninggalkan kata-kata
yang penuh hikmah. Sebab mereka percaya, hancurnya rumah masih dapat dibangun
kembali, namun hilangnya adat dan bahasa akan memudarkan jati diri anak cucu di
kemudian hari.
Hari ini, zaman bergerak begitu
cepat. Teknologi berkembang tanpa menunggu langkah kita. Anak-anak lebih
mengenal suara gawai daripada suara pantun. Lebih akrab dengan dunia maya
dibandingkan kisah-kisah bijak yang dahulu hidup di serambi rumah. Sedikit demi
sedikit, nilai budaya mulai tersisih oleh gemerlap kehidupan yang serba instan.
Namun sesungguhnya, budaya tidak pernah meminta untuk diagungkan. Ia hanya
ingin dikenang, dijaga, dan diwariskan. Sebab budaya adalah akar. Dan pohon
setinggi apa pun tidak akan mampu berdiri kokoh jika akarnya dibiarkan mati.
Maka pada kesempatan yang mulia
ini, saya mengajak kepada kita semua untuk menjadi generasi yang tidak malu
memakai adat sendiri, tidak segan berbicara dengan santun, dan tidak lelah
menjaga sastra sebagai cahaya peradaban. Karena bangsa yang besar bukanlah
bangsa yang melupakan masa lalunya, melainkan bangsa yang mampu membawa warisan
leluhurnya berjalan berdampingan dengan kemajuan zaman. Biarlah waktu terus
bergerak membawa perubahan, namun jangan biarkan akar budaya tercerabut dari
kehidupan kita. Sebab ketika adat mulai dilupakan, bahasa mulai ditinggalkan,
dan sastra tak lagi dibacakan, sesungguhnya yang perlahan hilang bukan hanya tradisi,
melainkan juga ruh dan jati diri sebuah bangsa.
Mari kita rawat budaya
sebagaimana kita menjaga rumah tempat kita pulang. Mari kita hidupkan kembali
pantun di tengah percakapan, syair di tengah pembelajaran, serta nilai-nilai
luhur Melayu di dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Karena sesungguhnya kemajuan
bukanlah ketika kita meninggalkan warisan leluhur, melainkan ketika kita mampu
membawa warisan itu tetap hidup di tengah dunia yang terus berubah.
Semoga generasi muda hari ini kelak menjadi generasi yang tidak hanya cerdas oleh ilmu pengetahuan, tetapi juga kaya akan adab, halus dalam bertutur, serta teguh memegang nilai budaya bangsanya. Generasi yang mampu berdiri tinggi menatap masa depan tanpa kehilangan akar tempat ia berasal. Jika kelak anak cucu masih mengenal pantun, masih memahami santun, dan masih bangga menyebut dirinya pewaris budaya Melayu, maka pada saat itulah kita tahu bahwa perjuangan menjaga budaya tidak pernah sia-sia. Karena budaya bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan cahaya yang akan menerangi perjalanan bangsa menuju masa depan.
Refleksi Perjalanan Ilmu dan Kebersamaan
Di setiap awal perjalanan, selalu ada ruang untuk
belajar dan memahami makna kehidupan dengan lebih dalam. Hari ini, saya lumayatn
sat set (anak muda sekarang menyebutnya Gercep), saya sedang menulis artikel petua
ulama yang saya kutip dari kitab Bidayatul Hidayah, ada pesan Whatsaap
masuk, dari buk Ema, selaku ketua panitia pelaksanaan penerimaan murid baru di MAN
2 Kepulauan Meranti, pesan itu mengingatkan bahwa ada jadwal sosialisasi jam
9.00 Wib, dini hari. Sementara sekarang sudah menunjukan pukul 08.23 Menit. Tanpa
pikir Panjang laptop pun langsung saya tutup, dan berangkat pergi, perjalanan
yang lumayan tidak dekat, karena harus menyeberangi selat dengan perahu kayu
yang di beri tenaga diesel.
Sebelum sampai dilokasi sosialisasi, saya
sempatkan waktu untuk menyapa rekan-rekan siswa dari pasukan khusus untuk mengikuti
seleksi pasukan pengibar bendera ditingkat Kabuapten, saya hanya bebrapa menit
saja, setelah memastikan pasukan lengkap saya tinggal pergi dan telah
diserahkan kepada panitia pelaksana. Masih ada waktu 15 menit untuk saya
melanjutkan perjalanan tugas utama, (mendampingi kepala madrasah untuk
melaksanakan sosialisasi PMB). Saya datang lebih awal beberapa menit ketimbang
kepala madrasash, disana sudah ada buk ema selaku ketua pelaksana. Tidak lalma
kemudian kepala madrasah pun tiba, kami pun langsung menuju ketempat sosisasi
dilaksanakan.
Sosialisasi ini bukan hanya sekedar promosi dan
untuk mencari murid baru, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang bisa kita
petik hikmahnya dalam kehidupan, kita tidak sekadar memulai kegiatan
sosialisasi siswa baru, tetapi juga membuka pintu menuju dunia pengetahuan,
pengalaman, dan pembentukan jati diri. Di tempat inilah, pikiran diasah, akhlak
dibina, dan mimpi mulai ditata dengan penuh kesadaran.
Sosialisasi ini bukan hanya tentang mengenal lingkungan
sekolah, melainkan juga tentang memahami peran kita sebagai pelajar yang
berpikir kritis, bertindak bijak, dan mampu mengambil hikmah dari setiap
proses. Sebab dalam setiap langkah kecil yang kita ambil hari ini, tersimpan
pelajaran besar yang akan membentuk masa depan yang lebih bermakna. Kurang lebih
seperti itu yang disampaikan kepala madrasah dalam kegiatan tersebut, namun
bagi saya pribadi tentu tidak sekadar sosialisasi melainkan saya harus bisa
mengambil hikmah dan ilmu pengetahuan dari kegiatan itu.
Dalam perjalanan menuntut ilmu, kita akan
menyadari bahwa pendidikan bukan sekadar tentang nilai atau prestasi semata,
melainkan tentang bagaimana kita belajar memahami diri, menghargai proses, dan
tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter. Setiap pertemuan dengan guru, setiap
diskusi dengan teman, hingga setiap tantangan yang dihadapi, semuanya adalah
bagian dari proses pembelajaran yang tidak ternilai harganya. Terkadang,
langkah kita akan terasa berat. Akan ada rasa lelah, ragu, bahkan kegagalan
yang mungkin datang tanpa diundang. Namun di situlah letak hikmahnya bahwa
setiap kesulitan mengajarkan keteguhan, setiap kegagalan melatih kesabaran, dan
setiap usaha yang sungguh-sungguh akan membentuk kekuatan dalam diri kita.
Pendidikan sejati adalah ketika kita mampu bangkit, memperbaiki diri, dan terus
melangkah dengan harapan yang tidak pernah padam.
Sebagai siswa baru, kalian sedang memulai
lembaran penting dalam kehidupan. Jadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk
belajar, bukan hanya dari buku, tetapi juga dari sikap, pengalaman, dan
nilai-nilai kebaikan yang ada di sekitar. Hormati guru sebagai pembimbing,
hargai teman sebagai sahabat dalam perjalanan, dan jaga semangat untuk terus
berkembang.Akhirnya, semoga langkah awal ini menjadi pijakan yang kokoh untuk
masa depan yang gemilang. Karena pada hakikatnya, ilmu yang disertai dengan
kebijaksanaan dan akhlak mulia akan menjadi cahaya yang menerangi jalan hidup,
tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain.
Lebih dari itu, perjalanan ini tidak akan berarti
tanpa kebersamaan. Kita hadir di sini bukan sebagai individu yang berjalan
sendiri, melainkan sebagai bagian dari satu keluarga besar yang saling
menguatkan. Dalam kebersamaan, kita belajar untuk saling menghargai perbedaan,
saling membantu dalam kesulitan, dan saling menginspirasi untuk menjadi lebih
baik. Kebersamaan mengajarkan kita bahwa keberhasilan bukan hanya milik satu
orang, tetapi hasil dari dukungan, kerja sama, dan rasa peduli antar sesama.
Saat satu di antara kita merasa lemah, yang lain hadir untuk menguatkan. Saat
satu berhasil, yang lain turut merasakan kebahagiaan. Inilah nilai luhur yang
menjadikan perjalanan pendidikan terasa lebih bermakna dan penuh warna.
Maka, jagalah kebersamaan ini dengan sikap saling
menghormati, komunikasi yang baik, dan hati yang tulus. Karena dari sinilah
akan tumbuh persahabatan, kepercayaan, dan rasa memiliki yang akan terus
dikenang sepanjang waktu. Dan kelak, ketika kita menoleh ke belakang, bukan
hanya ilmu yang kita ingat, tetapi juga hangatnya kebersamaan yang pernah kita
rasakan bersama.
Menjajak Tradisi Menyulam Karya
Afrizal
Cik, saya mengenal beliau memang tidak begitu akrab Namun, pada awalnya belakangan
ini saya sering berkomunikasi dengan beliau, terutama terkait khazanah serta
adat istiadat Melayu yang ada di Kepulauan Meranti. Karena saya tertarik unutk
belajar dan mendalmi budaya melayu yang ada dikepulauan meranti, terutama pada
adat istiadat Pernik-pernik pernikahan, mulai dari merisik, melamar, adat malam
berinai sampailah ijab dan Kabul, dan tradisi yang ada didalam nya, Bagi saya,
beliau adalah salah satu tokoh Melayu Meranti yang istiqamah dalam menjaga adat
dan budaya kampung halamannya. Tidak heran jika beliau sangat dikenal di
kalangan tokoh-tokoh Melayu Meranti. Saya pun merasa termotivasi oleh beliau,
karena keteguhannya dalam melestarikan tradisi adat dan budaya Melayu di
Kepulauan Meranti. Salah satu upaya yang beliau lakukan dalam menjaga warisan
tersebut adalah melalui tulisan, seperti cerita-cerita rakyat, hikayat, dan
karya sastra yang berkembang di Kepulauan Meranti. Saya sudah membaca beberpa
karya beliau, seperti “ Tanah Jantan Yang Melawan, Tempias, Termasuk Lagenda
Tasik Putri Puyu, Ada Juga Awang Mahmuda (tapi saya belum selesai
membacanya)”
Hari
ini saya mendapat kesempatan untuk mengikuti kegiatan literasi Bimbingan Teknik
Menulis Cerita Anak Dwibahasa yang ditaja oleh Balai Bahasa Provinsi Riau,
bekerja sama dengan Lembaga Adat Melayu Riau Kabupaten Kepulauan Meranti.
Kesempatan ini tentu bagi saya bukan sekadar menghadiri sebuah kegiatan,
melainkan menjadi pintu awal untuk melangkah lebih jauh dalam dunia literasi
dan pelestarian budaya. Di tengah suasana kegiatan yang penuh semangat, saya
mulai menyadari bahwa menulis bukan hanya tentang merangkai kata, tetapi juga
tentang merawat ingatan, menjaga jati diri, dan mewariskan nilai-nilai luhur
kepada generasi berikutnya. Apa yang selama ini dilakukan oleh Afrizal Cik
seakan menjadi cermin dan pengingat bahwa setiap orang memiliki peran dalam
menjaga warisan budaya, sekecil apa pun langkah yang diambil, tentu akan
memiliki manfaat yang besar dikemudian hari.
Saya
pun mulai menumbuhkan keyakinan dalam diri, bahwa belajar menulis adalah bagian
dari ikhtiar untuk ikut serta merawat khazanah Daerah. Dari kisah -kisah anak
Lokal, kehidupan masyarkat tempo dulu dan kekinian, tentu ini perlu untuk
diabadikan agar tidak hilang dimakan zaman, mungkin kita sering mendengar kisah
dan cerita dari orang tua-tua kita, tentang asal usul kampung, kehidupan
Masyarakat masa lalu, dan bahkan cerita tetangga kita yang terjadi kemaren
sore, jika cerita itu tidak kita abadikan dalam bentuk tulisan, maka sepuluh
atau duapuluh tahun kedepan cerita itu akan hilang, sirna, dan lupa dari
ingatan kita, maka kesempatan ini hadir untuk kita mengabadikan kisah-kisah itu
dalam sebuah cerita yang kita tulis.
Melalui
kegiatan ini, saya ingin melangkah lebih berani menuangkan gagasan, merekam
cerita, dan menghidupkan kembali nilai-nilai budaya dalam karya-karya
sederhana. Sebab saya percaya, sebuah tulisan kecil hari ini bisa menjadi
pelita bagi generasi di masa depan. Dan dari sini, saya belajar satu hal
penting: berkarya tidak harus menunggu sempurna, cukup dimulai dengan niat yang
tulus dan langkah yang konsisten. Karena pada akhirnya, karya bukan hanya
tentang siapa yang membaca, tetapi tentang bagaimana kita menjaga warisan agar
tetap hidup sepanjang zaman.
Di
hadapan bangunan bercorak Melayu yang kokoh dan berwarna cerah itu, tampak
sosok-sosok yang sederhana namun penuh makna. Di antara mereka, berdiri seorang
laki-laki berbaju kuning dengan senyum yang hangat dan sikap yang tenang dialah
sosok yang dalam benak saya mencerminkan keteguhan untuk menjaga warisan budaya
dari leluhur. Namanya Afrizal Cik, dan saya akrab memanggilnya dengan panggilan
“Datuk”. Wajahnya memancarkan ketulusan,
seakan menyimpan banyak cerita tentang perjuangan menjaga nilai dan tradisi
yang kian tergerus zaman, saya sangat berterimakasih karena beliau telah
memberikan kesempatan dan waktu kepada saya untuk menimba ilmu dalam tata
penulisan cerita untuk anak-anak, tentu kesempatan ini tidak akan mudah
terulang untuk kedua kali.
Di
sekelilingnya, ada Wanita-wanita yang juga mengenakan nuansa yang sama dan
busana sopan tampak berdiri dengan raut wajah bersahaja. Mereka bukan sekadar
pelengkap, tetapi bagian dari mata rantai yang sama, penjaga warisan, perawat
budaya, dan pendukung lahirnya generasi yang mencintai adat istiadatnya. Senyum
mereka bukan hanya ekspresi kebahagiaan, melainkan juga cerminan semangat
kebersamaan dalam merawat identitas Melayu. Tangga tempat mereka berdiri seolah
menjadi simbol perjalanan, bahwa menjaga budaya dan berkarya adalah sebuah
proses yang bertahap. Tidak instan, tetapi penuh kesabaran dan konsisten. Dari
langkah kecil seperti berdiskusi, belajar, hingga menulis, semua bermuara pada
satu tujuan: agar khazanah Melayu tetap hidup dan dikenang. Melihat mereka,
saya semakin yakin bahwa semangat berkarya itu tumbuh dari lingkungan yang
saling menguatkan. Bahwa setiap pertemuan, setiap senyum, dan setiap cerita
yang dibagikan adalah bahan bakar untuk terus melangkah. Dan dari kebersamaan
sederhana inilah, lahir tekad yang kuat untuk menulis, berkarya, dan menjaga
warisan budaya agar tetap bersinar di masa depan.
Saya menyadari bahwa perjalanan ini bukan sekadar tentang mengenal seseorang atau memahami sebuah tradisi, melainkan tentang menemukan makna dalam setiap langkah kecil yang kita tempuh. Di antara tawa yang sederhana dan kebersamaan yang hangat, dalm waktu singkat itu, tumbuh sebuah harapan bahwa karya yang lahir dari hati yang tulus akan selalu menemukan jalannya. Seperti cahaya yang tak pernah lelah menerangi, semangat untuk berkarya pun harus terus dijaga, dirawat, dan dihidupkan. Karena dari setiap tulisan yang kita rangkai, terselip cinta-cinta pada budaya, pada tanah kelahiran, dan pada masa depan yang ingin kita wariskan.
Maka
biarlah langkah ini terus berlanjut, meski perlahan, meski sederhana. Sebab
dalam kesederhanaan itulah, keindahan tercipta. Dan dalam setiap karya yang
lahir, ada jejak hati yang akan selalu abadi, mengalir lembut seperti kisah
yang tak pernah ingin usai.
Selamat
berkarya para sahabat-sahabt ku, semoga kita dipertemukan Kembali dalam bingkai
kata, diantara deretan nama yang tertulis dalam Buku Cerita Anak Dwibahasa
disana terabadikan nama kita.
**
Salam Literasi**
Belajar dari seekor semut (inspiratif dari Pak Husnan)
hari itu pembelajaran berlangsung sebagaiman biasanya, materi demi materi telah kami ikuti dari pagi sampai siang, pembelajaran PPKN sedang berlangsung di ruang kelas XII, cuaca disiang itu terasa sangat panas, debu-debu dihalaman sekolah beterbangan sambil menari nari memenuhi halaman sekolah, pembelajaran dari pak husnan akan segera dimulai, satu hal yang selalu saya nantikan dari beliau Ketika masuk dikelas, pembelajaran PPKN selalu dilaksanakan dengan metode diskusi, pak husnan memberikan kebebasan kepada kami untuk berpendapat dan debat namun tidak terlepas dari pantauan beliau, agar tujuan pembelajaran tetap terakomidir dan perdebatan tidak liar kemana-kamana.
Saya
termasuk murid yang aktif mengikuti diskusi dan perang argument Ketika
penyajian materi disampaikan oleh rekan kelompok yang lain, suasa kelas terasa
riuh oleh peroses pembelajaran metode ini apalagi saat debat saya dan Ayu
Amira, seorang siswi pidahan dari Malaysia sejak kami duduk dibangku Mts dulu,
kalu soal kemampuan dan kecerdasan memang saya masih kalah dengan Ayu Amira,
selain dari cerdas dan pinta ia juga mahir berbahasa inggris, sehingga menjadi
murid kesayangan dari guru Bahasa inggris Ibuk Sarinah, tapi kalau soal debat
dan berlaga argument saya biasanya tidak mau mengalah, kami masih ada waktu
sisa pembelajaran 1 jam terakhir, pak Khusnan membawa kami untuk belajra diluar
ruangan, selain dari untuk merefleksi diri juga karena cuaca sangat panas kami
berpindah tempat proses pembelajaran diarahkan keluar kelas, tepatnya disamping
kelas yang masih rimbun ditumbuhi pepohonan.
Saya masih ingat betul sampai sekarang Ketika Pak Husnan
membawa kami di bawah pohon akasia yang rindang, kami berkumpul disana sambil
ditemani angin sepoi-sepoi, kami diperlihatkan dengan jejeran semut yang sedang
berjalan hilir mudik untuk berjuang mencapai tujuan, cuaca masih terasa panas,
dan cahaya matahari mulai menyentuh tanah perlahan, untuk menyibak celah
dedaunan akasia yang rindang itu, Ketika saya menundukkan pandangan, saya
melihat seekor semut kecil yang terpisah dari barisanya, memang ia tampak
berbeda dari semut yang lain, mungkin dari ras yang berbeda, ia sedang berjalan
membawa sebutir serpihan roti, roti itu tampak sangat besar dibandingkan
tubuhnya.
Semut itu berjalan perlahan. Kadang terjatuh Kadang
butiran, roti itu terlepas dari genggamannya, Namun setiap kali jatuh, semut
itu kembali mengambilnya, saya terus memperhatikan. Ketika semut itu sampai di
sebuah celah tanah yang sedikit tinggi, ia mencoba naik. Tetapi ia tergelincir
dan jatuh, dan mencoba lagi, Jatuh lagi hingga Berkali-kali, Namun semut itu
tidak pernah meninggalkan beban yang ia bawa. Ia terus berusaha hingga akhirnya
berhasil melewati rintangan itu dan masuk ke sarangnya.
Saya hanya bisa terdiam Dalam hati berkata,“Subhanallah…
seekor semut kecil saja tidak pernah menyerah.”
Jika mengingat kisah itu saya jadi teringat firman Allah dalam Al-Qur’an tentang
semut yang memberi peringatan kepada kaumnya agar berhati-hati terhadap pasukan
Nabi Sulaiman, Kisah itu menunjukkan bahwa makhluk sekecil semut pun memiliki
ketertiban, kerja keras, dan kebijaksanaan Saat itu sayapun merasa seolah Allah
sedang menasihatinya melalui makhluk kecil itu, saya yang Ketika itu sering
mengeluh ketika hidup terasa sulit, terkadang berangkat sekolah harus berjalan
kaki, puluhan kilo, karena seda yang saya miliki rusak, terkadang putus rantai,
ditengah jalan, Kadang rasa ingin putus asa ketika doa terasa lama dikabulkan, Kadang
berhenti berusaha ketika gagal sekali dua kali, membuat saya malas belajar dalam
mata Pelajaran tertentu, apalagi saat hampir akhir sekolah, Ketika teman-teman
pada melanjutkan kuliah sementara saya harus melanjutkan perjuangan orang tua,
berkebun, mengambil upah memetic kelapa, nebang pohon, nggali parit sampai
nenam sawit, itu semua dilakukan karena faktor ekonomi orang tua belum setabil
waktu itu.
Padahal seekor semut saja tidak berhenti mencoba,
berusaha tanpa seakan tidak mengenal putus asa, Ketika itu saya tersenyum dan
berkata dalam hati:
“Ya Allah, jika Engkau mengajarkan kesabaran
melalui seekor semut, maka jangan biarkan aku menjadi manusia yang mudah
menyerah.”
Sejak hari itu, setiap kali saya merasa lelah dalam
menjalani hidup, rintangan menghadang saya selalu mengingat semut kecil yang
tidak pernah meninggalkan Lelah selama usaha masih bisa ia lakukan dan membawa
beban amanah yang dibawanya, Ketika saya mengingat kisah semut itu, maka seya
terbayang sosok seorang guru yang sederhana, sering mengenakan celana polo dan
baju kaos olah raga Panjang, dan mengendarai supra x, dia Adalah pak husnan,
tokoh isnpiratif yang sampai sekarang tetap abadi dalam jiwa saya.
Namun kisah itu ternyata tidak berhenti pada siang hari
di bawah pohon akasia itu, Pak Husnan yang sejak tadi memperhatikan kami yang
sibuk melihat barisan semut, tiba-tiba tersenyum. Ia lalu berkata dengan suara
yang tenang,
“Anak-anak… kalian tahu kenapa saya membawa
kalian keluar kelas hari ini?”
Kami saling berpandangan. Tidak ada yang menjawab.
Ayu Amira yang biasanya cepat berbicara pun hanya diam sambil memperhatikan
semut yang berjalan, Pak Husnan kemudian menunjuk ke arah semut yang masih
hilir mudik membawa makanan.
“Coba kalian lihat semut itu. Tubuhnya kecil,
tetapi semangatnya besar. Ia tidak pernah mengeluh. Tidak pernah berkata
hidupnya susah. Tidak pernah berhenti walau berkali-kali jatuh.”
Beliau berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada
yang lebih dalam.
“Kalau semut saja tidak menyerah membawa
sebutir remah untuk keluarganya… mengapa manusia yang diberi akal dan hati
sering menyerah hanya karena satu kegagalan?”
Kata-kata itu seperti menampar hati saya.
Angin siang berhembus pelan. Daun-daun akasia bergerak
perlahan seakan ikut menyaksikan pelajaran hidup yang sederhana itu, Pak Husnan
kemudian duduk di atas akar pohon sambil berkata lagi,
“Dalam hidup kalian nanti, mungkin ada yang
menjadi guru, ada yang menjadi petani, ada yang menjadi pedagang, bahkan
mungkin ada yang harus membantu orang tua lebih dulu sebelum kuliah. Tapi ingat
satu hal…”
Beliau menatap kami satu per satu.
“Jangan pernah malu dengan perjuangan kalian.
Allah tidak menilai siapa yang paling cepat sampai, tetapi siapa yang paling
sabar berjalan.”
Kalimat itu begitu dalam tertanam di hati saya, sampai
sekarang Hari demi hari berlalu Kami lulus dari sekolah itu, Sebagian teman melanjutkan kuliah ke kota.
Ayu Amira pun melanjutkan studinya sebuah perguruan tinggi dengan mengambil
juruan perkapalan, Sedangkan saya kembali ke kampung, membantu orang tua di
kebun, Pagi hari memungut kelapa, Siang hari membersihkan kebun, Kadang malam
hari badan terasa sangat Lelah, Namun setiap kali rasa putus asa datang,
bayangan semut kecil di bawah pohon akasia itu selalu muncul di ingatan saya.
Semut kecil yang jatuh berkali-kali…Tetapi tidak pernah
meninggalkan remah yang ia bawa, Dan setiap kali saya hampir menyerah, saya
selalu mengingat suara Pak Husnan:
“Jangan berhenti berjalan hanya karena
jalannya berat.”
Tahun demi tahun berlalu, Sedikit demi sedikit kehidupan
berubah. Perjuangan yang dulu terasa berat perlahan membuahkan hasil, saya pun
memberanikan diri untuk mendaftar kuliah setelah setahun bekerja sebagai petani
dan pekebun, Saya mulai memahami satu hal yang dulu diajarkan oleh Pak Husnan
di bawah pohon itu:
Bahwa keberhasilan bukan milik orang yang paling pintar,
tetapi milik orang yang paling sabar
dan paling gigih berusaha, Kini ketika saya melihat seekor
semut berjalan membawa makanan, saya selalu ingat sosok sederhana yang banyak
memberikan inspiratif dalam kehidupan saya Ketika hampir kehilangan sinar masa
depan, dan Pak Husnan menyalakan sinar pelita nya yang mungkin tidak secerah
Matahari, tapi pelita itu cukup berarti untuk menjadi penujuk jalan untuk saya
meraih cita.
Waktu terus berjalan. Musim berganti, tahun demi tahun
pun berlalu. Banyak peristiwa datang dan pergi dalam perjalanan hidup saya.
Namun anehnya, dari sekian banyak pelajaran yang pernah saya terima di bangku
sekolah, ada satu kenangan yang tidak pernah pudar—siang hari di bawah pohon
akasia bersama Pak Husnan dan seekor semut kecil yang membawa remah roti.
Hari itu tampak sederhana. Tidak ada papan tulis, tidak
ada buku pelajaran yang dibuka, bahkan tidak ada catatan yang harus ditulis.
Tetapi justru di situlah pelajaran hidup yang paling dalam saya temukan, Pak
Husnan tidak hanya mengajarkan kami tentang pasal-pasal dalam pelajaran PPKN,
tetapi beliau mengajarkan kami cara memandang kehidupan. Bahwa perjuangan tidak
selalu harus besar untuk menjadi berarti. Bahwa langkah kecil yang terus
berjalan jauh lebih kuat daripada mimpi besar yang berhenti di tengah jalan.
Kini, ketika kehidupan kembali menghadirkan
rintangan—ketika lelah datang, ketika usaha terasa berat, ketika doa terasa
lama menunggu jawaban—saya sering mengingat kembali semut kecil itu, Semut yang
jatuh berkali-kali, tetapi tidak pernah meninggalkan remah yang dibawanya, dari
makhluk kecil itu saya belajar satu hal yang sangat sederhana, namun begitu
dalam maknanya : “bahwa hidup bukan tentang
seberapa sering kita jatuh, tetapi tentang seberapa kuat kita terus berjalan”, Dan
setiap kali kenangan itu muncul, saya selalu teringat sosok seorang guru
sederhana dengan motor Supra X-nya, yang mungkin tidak pernah menyangka bahwa
satu pelajaran kecil di bawah pohon akasia akan menjadi bekal hidup bagi
muridnya hingga bertahun-tahun kemudian.
=Refleksi Diri=
Aku belajar bahwa hidup bukan
tentang menghindari jatuh, tetapi tentang keberanian untuk bangkit dan terus
berjalan. Dari semut kecil, aku diingatkan bahwa kesabaran dan ketekunan lebih
berharga daripada sekadar kecerdasan. Kini aku ingin menjadi pribadi yang tidak
mudah menyerah, setia pada proses, dan percaya bahwa setiap usaha pasti
menemukan jalannya.
=========*****=========
Saya Ikhlas Jadi Istrimu ( Ketika Doa Mengalahkan Logika ) ** Tamat**
Malam
itu agus duduk sendirian di Mushola kecil dibelakang rumah sakit, lampu temaram
menyorot wajahnya yang khusuk, angin malam membawa aroma bunga kenanga dari
taman, dengan suara nyaris tak terdengar ia berdoa…” ya Tuhanku ..bukan untuk
membuktikan diriku aku berdoa pada malam ini tapi untuk menyentuh hari yang
sombong, agar ia Kembali mengenal mu, sementara itu dikamar VIP, salsa duduk
disisi ranjang ibunya, menatap wajah Wanita yang kini mulai bisa tertawa
ringan, tapi dibalik senyum itu, hatinya justru dihantui rasa takut, bukan
karena penyakit tapi karena janji yang ia ucapkan siang tadi, apakah aku
terlalu gegabah …”gumamnya namun hatinya menjawab lembut”…atau mungkin inilah
cara tuhan menegurmu.
Ke
esokan harinya, sesuatu yang lebih besar terjadi, ibu salsa bisa berdiri degan
bantuan tongkat dua hari kemudian ia mulai berjalan pelan tanpa alat bantu,
dokter rehabilitas yang menanganinya
sampai meneteskan air mata, saya belum pernah melihat pemulihan secepat ini dok
salsa, ini seperti mukjizar…”tanya nya lirih”… salsa berdiri terpaku di depan
ruang Latihan, matanya menatap ibunya yang kini bisa tertawa sambil melangkah
dan diujung ruangan Agus berdiri diam…hanya tersenyum tanpa kata ..salsa
berjalan mendekat perlahan “..agus dia bisa jalan lagi”.. agus tersenyum. Aku
tahu karena dianya sudah didengar, doa siapa…tanya salsa lirih..” doa seoran
ganak yang akhirnya belajar rendah hati, “ jawab agus “…air mata salsa jatuh
tanpa bisa ditahan, semua gengsi, semua keraguan runtuh seketika.
Salsa
menatap agus bukan lagi sebgai orang Asing, tapi sebagai seoseorang yang
mengajarinya arti percaya, agus menatap salsa dengan lembut, janji tetaplah
janji, ucapnya pelan tapi tegas..dokter salsa pun terdiam wajahnya memerah,
bibirnya gemetar menyahan haru, jadi engkau masih ingat,,tanya nya lirih. Agus
tersenyum tipis, bagaimana mungkin saya lupa sesuatu yang diucapkan dari hati
…salsa pun menunduk air matanya jatuh membasahi pioinya yang pucat….aku….aku
tidak tahu harus berkata apa, agus menatapnya degan damai…kau tak perlu berkata
apa-apa, tuhan sudah menjawab semua nya lewat ibumu.
Malam
itu dibalkon rumah sakit salsa memandang lagit berbintang, angin lembut menyapu
rambutnya, membwa kenangan yang tak mungkin ia lupakan, senyum kecil muncul
diwajahnya ia teringat pada pada peria sederhana yang datang tanpa pamrih, tapi
meninggalkan jejak mendalam dihatinya, untuk pertama kalinya salsa benar-benar
mengerti, bahwa cinta sejati tak lahir dari harta, jabatan ataupun rupa, kadang
cinta datang dari hati yang paling sederhana, dari seseorang yang hanya tahun
cara berdoa dengan tulus.
Ke
esokan harinya suasana rumah sakit berbeda, penuh senyum dan air mata Bahagia,
ibu salsa resmi dinyatakan sembuh total, semua hasil laboratium menunjukan
keajaiban, organ berfungsi normal, tekanan darah setabil dan tak ada lagi jejak
penyakit langka yang dulu hampir merenggut nyawanya, kabar itu menyebar cepat,
para dokter, perawat bahkan pasien lain ikut bersyukur, tapi tak ada yang lebih
terharu dari salsa sendiri ia berdiri ditepi ranjang ibunya menatap dengan mata
berkaca-kaca sang ibu kini bisa berdiri tegak berjalan tanpa tonkat dan menatap
putrinya dengan tatapan lembut penuh kasih.. nak…jangan menagis, katanya sambil
mengusap pipi salsa, air mata mu sekarang bukan untuk sedih tapi untuk
bersyukur salsa tersenyum diantara isa…ibuk aku masih tak percaya ini semua
seperti mimpi, bukan mimpi salsa..”jawab ibunya lembut’..ini jawaban doa yang
kau dan aku, serta orang itu panjatkan.
Nama
orang itu membuat dada salsa hangat ia menoleh keluar jendela mencari sosok
yang kini begitu berarti dalam hidupnya, tapi agus sudah pergi sejak pagi tanpa
pesan, tanpa pamit, ia datang tanpa pamrih dan pergi tanpa jejak, seperti angin
yang singgah sebentar untuk menenangkan hati yang gelisah. Hari- hari berlalu
salsa Kembali bekerja seperti biasa tapi hatinya tak sama lagi ia bukan lagi
dokter yang hanya percaya pada data dan diagnose, ia mulai melihat manusia
bukan sekedar pasien, ia mendengarkan cerita mereka, menenangkan yang putus asa
bahkan membantu pasien miskin tanpa meminta bayaran.
Rekan-rakanya
heran, salsa…kau berubah sekali ujar salah satu dokter senior, salsa tersenyum
lembut mungkin karena aku baru sadar menyembuhkan tak cukup dengn obat tapi
juga dengan hati, namun dibalik senyum itu ada satu hal yang masih tertinggal,
Rindu….setiap kali turun hujan, atau saat setiap kali ia melewati taman rumah
sakit, kenangan tentang agus Kembali hadir, ia ingin sekali bertemu meski hanya
untuk mengucap terimakasih dan takdir seperti ingin menjawab doanya
mempertemukan mereka Kembali.
Sore
itu hujan turun perlahan, salsa baru keluar dari mobil dinasnya dipinggir jalan
dekat pasar lama, tempat pertemuan pertama mereka ia hanya ingin sekedar
mengenang tapi langkahnya terhenti,
dibawah pohon rindang berdirilah seseorang, ia memayungi seseorang akan kecil
yang kehujanan baju peri aitu sederhana tapi wajah dan senyum nya itu salsa tak
mungkin salah mengenalinya ..Agus..Bisinya.. perlahan. Peria itu itu menoleh
untuk sesaat waktu seperti berhenti, dua pasang pata saling bertemu mata
seorang Wanita yagn dulu penuh gengsi dan mata peria yang selalu teduh dalam
kesederhanaan, salsa melangakah pelan…kau pergi begitu saja tanpa kabar, tanpa pamit…”
tanya salsa”..saya tak ingin jadi beban //”jawab agus”, saya sudah melakukan
bagian saya, salsa menatapnya ….hujan pun membahasi wajahnya, lalu bagaiman
dengan janjiku..” suara salsa bergetar”..agus terdiam.
Janji…”tanya
agus”..ya janji ..aku pernah berjanji kalau kau bisa menyembuhkan ibuku aku
akan jadi istrimu..”sambung salsa”…hujan seperti berhenti sejenak, agus
menunduk menatap tanah yang becek dibawah kakinya, itu hanya ucapan disaat
emosi dokter..aku tak ingin janji itu menjadi beban bagi mu salsa. Salsa pun
menatapnya tajam namun penuh haru, agus…dulu aku mengucapkanya karena
kesombongan, tapi sekarang aku mengulanginya kerena keikhlasan, kali ini agus
menatapnya lama ada Cahaya lembut di matanya kau yakin..dunia kita berbeda..!
salsa menggeleng pelan “ cinta tak peduli dunia siapa kau datang membawa
mukjizat..bukan Cuma untuk ibuku tapi juga untuk hatiku, dan aku tak ingin
kehilangan orang yang membuatku belajar arti rendah hati, Agus menatap langit, hujan
reda…sinar senja muncul disela awan ..kalu begitu…katanya perlahan biarlah
janji itu jadi nyata, bukan karena kajaiban tapi karena cinta yang lahir dari
keajaiban itu sendiri.
Bebrapa
bulan kemudian dihalaman kecil rumah sakit tempat semua kisah ini bermula
sebuah pernikahan sederhan digelar tak ada kemewahan tak ada pesta besar, hanya
tawa, doa dan kebahagiaan yang tulus, salsa tampil Anggun dalam kebaya putih
sederhana agus berdiri disampingnya dengan kemeja bersih dan senyum yang
hangat, ibu salsa duduk diantara mara tamu matanya berkaca-kaca….naaak…bisiknya
pelan kau akhirnya menemukan seseorang yang bukan hanya menyembuhkan tubuhmu
tapi juga hatimu, salsa mengenggam tangan ibunya tersenyum haru dihadapan para
saksi dengan suara yang tenang namun penuh keyakinan agus menguacapkan ijab dan
Kabul, saat itu suasana seolah berhenti tak ada satu pun mata yang kering semua
orang menagis bukan karena kesedihan tapi karena mereka tahu meraka sedang
menyaksikan keajaiban cinta yang benar-benar lahir dari ketulusan.
TAMAT***
Mengetuk Damai Bukan Mengutuk Perbedaan
Bebrapa hari ini saya melihat banyak sekali
Pelajaran penting yang bisa diambil hikmah dari setiap kejadian yang ada
disekililing kita. Diselatpanjang yang lebih dikenal kota sagu ada tradisi yang
mengusik perhatian diberbagai wilayah di Indonesia bahkan sampai ke
mancanegara, sekala nya tidak tanggung-tanggung, pengunjung nya ada dari
berbagai negara, seperti Singapura, Vietnam, Australiya, jepang, korea bahkan
dari negeri Cina juga hadir disini, dan masih banyak negara-negara lain yang
berkunjung ke selatpanjang untuk menyaksikan dan menikmati Festival perang air (Cian Cui).
Saya secara pribadi tidak mempermasalahkan Festival Perang Air yang ada diselatpanjang, justru itu Adalah icon untuk mengenalkan Daerah ke penjuru dunia, dengan adanya Festival Perang Air, perputaran Ekonomi Masyarakat dan daerah meningkat secara drastis, tentu ini akan membawa dampak positif dalam tatanan sosial, tidak terlepas dari itu juga pasti ada pendapat lain yang berargumen akan timbul sisi negative, tapi itu wajar penapat natizen ini bisa diilustrasikan seperti sebilah palu, satu sisi bisa berfungsi untuk Mengetuk, namun disisi lain bisa jadi Mengutuk, di sisi yang berbeda juga bisa menjadi Solusi dari bebapa permaslahan, bisa digunakan untuk mencabut paku sehingga memisahkan diantara jajaran papan, juga bisa mengetuk paku untuk mengeratkan jajaran papan yang terpisah, ada beberapa persoalan di Masyarakat yang timbul akibat Festival Perang Air di Selatpanjang, tapi saya fikir hanya minoritas saja.
Saya hanya melihat dari sisi positif nya saja, tidak
berani menilai dari sisi negative, karena masing-masing persepektif pasti
menimbulkan perbedaan dan itu wajar selaku manusia, bagi saya selama itu
menimbulkan kemaslahatan untuk ummat beragama dalam keberagaman berbangsa dan
bernegara tidak lah menjadi probelmatika urgen, selama kita masih menyimpan
rasa saling pengertian dan memahami. Hari ini saya membuka album yang sudah
tersimpan bebrapa bulan lalu dalam memori Ponsel, saya melihat beberapa anak
sedang duduk bermain Bersama, bergembira, tanpa ada dinding pembatas perbedaan
latar belakang, karena dalam dunia mereka isinya hanya keasyikan bermain dan
bisa tertawa lepas tanpa beban.
Wajah-wajah kecil itu memancarkan senyum yang
tulus, tanpa sekat, tanpa prasangka. Mereka berbeda dalam penampilan, berbeda
dalam gaya, tetapi duduk berdampingan dalam kebersamaan yang indah. Pemandangan
sederhana itu seakan menjadi gambaran nyata dari firman Allah:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ
ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ
أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami
menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami
menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal…”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Dalam keyakinan umat muslim mengajarkan bahwa
perbedaan bukanlah alasan untuk menjauh, melainkan jembatan untuk saling
memahami. Toleransi bukan berarti mencampuradukkan keyakinan, tetapi
menghormati dan hidup berdampingan dengan damai. Seperti ketiga anak itu,
mereka duduk bersama tanpa mempertanyakan latar belakang satu sama lain. Yang
ada hanyalah tawa, persahabatan, dan rasa aman, Rasulullah ﷺ telah memberi
teladan tentang indahnya toleransi. Di Madinah, beliau hidup berdampingan
dengan berbagai suku dan agama. Beliau menjaga hak-hak mereka, melindungi
mereka, dan mencontohkan akhlak yang lembut. Karena toleransi dalam Islam lahir
dari iman dan akhlak mulia.
Di kehidupan sehari-hari, toleransi bisa dimulai
dari hal kecil: menghargai teman yang berbeda, tidak mengejek kebiasaan orang
lain, serta menjaga lisan agar tidak melukai. Toleransi adalah wujud kasih
sayang, dan kasih sayang adalah inti ajaran Islam, bahakan dalam setiap agama
mengajarkan tentang kebaikan, dan kasih sayang, Anak-anak itu mungkin belum
memahami makna besar dari kebersamaan mereka. Namun senyum mereka telah
mengajarkan satu pelajaran penting, bahwa dunia akan terasa lebih damai ketika
hati dipenuhi sikap saling menghormati. Indahnya toleransi adalah ketika kita
tetap teguh pada keyakinan, namun tetap lapang dalam pergaulan. Karena
sejatinya, Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, menghadirkan kedamaian, bukan
permusuhan; menumbuhkan persaudaraan, bukan perpecahan.








%20(1).png)



.jpeg)


.png)
