Peria
itu Bernama Agus hanya mengangguk ia berdiri sambil menutup mata dan mulai
berdoa pelan taka da jampi atau pun matra hanya bisikan lembut yang nyaris tak
terdengar, tapi entah mengapa udara sekitar seolah berubah, hangat, tenang,
salsa menatapnya dengan perasaan campur aduk, kesal tapi juga penasaran,
didalam hatinya mucul bisikan halus sesuatu yang tak bisa dijrlaskan oleh
logika atau ilmu, untuk pertama kalinya sejak ibunya jatuh sakit salsa tidak
marah, tidak menolak dan tidak menangis, ia hanya diam menatap pria asing itu
berdoa untuk ibunya dan tanpa sadar sebuah harapan kecil mulai tumbuh di
hatinya, hari itu langit Jakarta mendung,
dengan tiba-tiba aroma hujan menggantung diudara, dihalaman rumah sakit
peria berpakaian lumuh itu Kembali datang, baju nya masih sederhana, rambutnya
berantakan tapi matanya memancarkan ketenangan yang sulirt dijelaskan ia
membawa sebuah botol berisi Air dan ramuan herbal tradisional, para perawat
langsung berbsisik, itu orang kemaren masih berani datang lagi, ujar yang lain
dengan nada mengejek, salsa yang duduk dikursi dekat ruang ICU, menghela nafas
Panjang Ketika melihat sosok itu muncul lagi, “ kau lagi, katanya pelan tapi
tajam, aku sudah bilang taka da yang bisa kau lakukan disini”, agus pun
menunduk sopan, “ saya tau dokter, tapi izinkan saya berdoa untuk ibumu sekali
lagi, hanya sebentar, saya tidak akan menyentuh apapun,” nada suaranya lembut
tapi mengandung keyakinan yang sulit abaikan, salsa menatapnya lama, antara
kesal dan heran, entah mengapa hatinya tak sanggup lagi mengusir peri aitu
mungkin karena wajah agus terlihat tulus, atau mungkin karena rasa putus asa
yang perlahan melahap hatinya dari dalam.
Beberapa
menit kemudian agus membuka mata “ sudah katanya singkat” ia mengambil air dari
botol dan menyerahkanya pada salsa, “ air ini hanya air biasa, tapi kalau
dokter mau gunakanlah untuk membasuh wajah ibumu, jangan percaya padauk tapi
percayalah pada tuhan”, salsa menatap botol itu dengan raut ragu, “ kau pikir
ini sulap ini rumah sakit, bukan tempat percobaan spiritual, “ucapnya sinis.
Namun
agus hanya tersenyum, “ saya tidak bermain sulap dokter, saya hanya melakukan
apa yang diperintahkan hati saya” dan tepat setelah kata-kata itu, sesuatu yang
tak terduga terjadi, seorang dokter muda berlari dari ruang observasi sambil
membawa hasil pemeriksaan baru ..” Dok..lihat ini..! aktifitas saraf ibu anda
tiba-tiba meningkat drastis beberapa menit lalu”, salsa memandang layar
,monitor grafik kecil disana menajak tajam lalu stabil Kembali, itu mungkin
Cuma efek alat gumamnya. Salsa mencoba menolak kenyataan yang tak bisa ia
jelaskan, agus tak berkata apa-apa ia hanya menatap salsa denga tatapan lembut
lalu menunduk izinkan saya pamit dan terimakasih sudah mengizinkan saya berdoa,
namun sebelum ia pergi salsa memanggil, tunggu…pria itupun berhenti seketika
dan menoleh, “ apa sebenarnya tujuan mu datang kesini, uang, pujian,
popularitas, tanya salsa…. Agus pun menggeleng pelan , “ saya hanya datang
karena diperintah hati tidak semua hal perlu alasan duniawi dokter, kadang
tuhan memanggil seseorang untuk membantu tanpa pamrih, jawab agus penuh dengan
keyakinan”. Salsa tersenyum sinis, Kau terlalu untuk dipercaya, dunia tidak
berjalan dengan Doa, dunia berjalan dengan ilmu dan kerja keras, agus
menatapnya dengan tatapan damai, kalau bgiru katanya pelan biarkan ilmu dan doa
Bersama, karena kedua nya datang dari sumber yang sama yaitu Tuhan.
Kata-kata
itu membuat dada salsa terasa sesak, ada sesuatu dalam dirinya yang goyah, ia
ingin membantah tapi tak sanggup, untuk pertama kalinya peria sederhana itu
membuatnya terdiam, malamnya salsa duduk di kursi ruang ICU, ia menatap ibunya
yang tertidur tenang sementara ditanganya masih tergenggam botol air pemberian
agus, ia membuka tutupnya, mencium
aromanya ternyata hanya air biasa tidak ada yang aneh, tapi entah mengapa air
itu terasa menenangkan, dengan hati yang ragu salsa meneteskan sedikiti air ke
ujung jarinya, lalu mengusap lembut dahi
ibunya, kalau memang ini Cuma air biasa biarlah tak ada yang terjadi, tapi
kalau memang tuhan mau menolong, aku akan berhenti meremehkan siapapun, air
matanya jatuh perlahan ia teringat kata-kata ibunya sebelum koma, naak…jangan
sombong pada hidup, kadang yang menyembuhkan bukan tangan manusia, malam itu
terasa sunyi hanya suara mesin infus dan detak jantung yang berdetak pelan,
lalu lampu monitor disisi ranjang berkedip lembut, gerafik jantung prlahan
stabil, salsa menatapnya dengan mata terbelalak.
Ia
tak ingin percaya tapi hatinya bergetar, ia menatap wajah ibunya, yang kini
tampak sedikit tenang lalu mendongak kelangit ruangan seolah berbicara pada
susuatu yang selama ini ia abaikan, jika ini jalanmu, tunjukan aku kebenaran
diluar jendela hujan turun perlahan membasahi kaca dengan irama lembut yang
seolah membawa pesan rahasia dari
langit, dikajauhan berdiri seorang agus pria sederhana, tubuhnya basah kuyup
dibawah guyuran hujan, tapi senyum diwajahnya tenang penuh keyakinan, seolah ia
tahu, malam itu bukan malam biasa, malam itu Adalah awal dari sebuah keajaiban
besar yang akan mengubah dua hati selamanya, pagi harinya sinar matahari
menembus jendela ruang ICU, menyoroti wajah lembut soerang Wanita tua yang
telah berhari-hari terbaring tanpa kesadaran, disampingnya salsa sang putri
masih duduk dikursinya, matanya sembab, tubuhnya letih karena semalaman tak
tidur, ditanganya botol air mineral yang diberi agus sudah hampir kosong,
Ketika seorang suster masuk memeriksa alat monitor, tiba-tiba..suara lirih
terdengar dari ranjang, salsa terlonjak kaget, ia menatap ibunya yang perlahan
membuka mata, suara itu pelan tapi penuh kesadaran, ibu…suaranya bergetar, ibu
sadar, astaga…ibu sadar, suster buru-buru
memanggil dokter jaga, dalam hitungan detik ruangan itu ramai oleh tim
medis, mereka memeriksa tekanan darah, denyut jantung hingga reaksi pupil, dan
hasilnya sungguh diluar logika.
Bersambung...***











%20(1).png)





