Pernah suatu Ketika saya bertanya
kepada seseorang Perempuan, saya tidak terlalu mengenalinya, bisa dikatakan
beberapa kali saja bertemu dan berkomunikasi, sehingga suatu hari itu setelah
kegiatan pelatihan menulis bagi penulis pemula disebuah sanggar yang
diselenggarakan oleh rekan-rekan komunitas literasi, saya menghampirinya dan
menyapa dengan lembut, ia pun menyambut dengan senang hati, memang kami beda pemikiran,
tapi saya yakin walau beda pemikiran dalam satu keyakinan, saya maklumi, tapi saya yakin kami memiliki tujuan hidup
yang sama yaitu “untuk menemukan hidup bahagia”. Apapun itu latar belakang pemikiranya.
Waktu itu saya hanya bertanya singkat “ kenapa
tidak pakai jilbab saja, padahal kamu terlihat pantas dan cantik Ketika memakainya”.
Ia hanya menjawab dengan singkat penuh keyakinan. “
Nggak Ah, belum dapat hidayah”.
Jawaban singkat itu, membuat saya berfikir Panjang, dan merenung lebih jauh, dan sayapun memberanikan diri untuk bertanya kembali, “memang nya apa si makna hidayah..?” perempuan itu Cuma senyum dan meninggalkan saya begitu saja, seoalah malas untuk berdebat lebih jauh.
secara tekstual hidayah itu
berasal dari kata “Huda” yang artinya petunjuk, makna yang lebih luas bisa juga
dimaknai Petunjuk, bimbingan, dan taufik yang diberikan oleh Allah Swt. kepada
hamba-Nya sehingga ia mampu mengenal kebenaran, menerima kebenaran, serta
mengamalkan kebenaran tersebut dalam kehidupan. Dan Para ulama menjelaskan
bahwa hidayah bukan sekadar mengetahui mana yang benar dan salah, tetapi juga
kemampuan yang Allah anugerahkan untuk mengikuti jalan yang benar hingga
memperoleh keridaan-Nya. Dalam makna Ibnu Katsir menjelaskan bahwa hidayah
adalah petunjuk menuju jalan yang lurus yang diberikan Allah kepada orang-orang
yang dikehendaki-Nya. Sementara menurut Ibnu Qoyyim, bahwa hidayah mencakup
penjelasan tentang kebenaran sekaligus taufik untuk mengamalkannya.
Dalam konteks seperti itu saya
sempat berpikir, apakah mungkin ia sedang menunggu hidayah. Atau jangan-jangan,
selama ini saya sendiri yang belum benar-benar memahami makna hidayah
sebagaimana diajarkan oleh agama. Sepanjang perjalanan pulang, pertanyaan itu
terus berputar di kepala. Bukankah setiap hari kita membaca doa, "Ihdinash
Shirathal Mustaqim". "Tunjukilah kami jalan yang lurus"? Doa
itu tidak hanya dibaca oleh mereka yang merasa jauh dari Allah, tetapi juga
oleh orang-orang yang setiap hari berdiri dalam salat. Artinya, hidayah
bukanlah sesuatu yang sekali datang lalu selesai. Hidayah adalah anugerah yang
terus-menerus dimohonkan, dijaga, dan dipelihara.
Saya kemudian menyadari bahwa
setiap orang sedang menempuh perjalanan spiritualnya masing-masing. Ada yang
Allah bukakan pintu kebaikan melalui ilmu, ada yang melalui ujian hidup, ada
yang melalui kehilangan, dan ada pula yang melalui nasihat sederhana yang
datang pada waktu yang tepat. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan Allah
membukakan pintu hidayah bagi seorang hamba. Mungkin perempuan itu memang belum
siap mengenakan jilbab menurut keyakinannya. Mungkin pula ia sedang bergulat
dengan berbagai persoalan yang tidak saya ketahui. Sebab manusia hanya melihat
apa yang tampak, sedangkan Allah mengetahui seluruh isi hati dan perjuangan
setiap hamba-Nya.
Sejak saat itu saya belajar untuk
lebih berhati-hati dalam menilai orang lain. Mengajak kepada kebaikan adalah
kewajiban setiap muslim, tetapi cara mengajak juga merupakan bagian dari ajaran
Islam. Allah Swt. berfirman: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu
dengan hikmah dan pelajaran yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan
cara yang paling baik." (QS. An-Nahl: 125).
Ayat ini mengajarkan bahwa dakwah
bukan sekadar menyampaikan kebenaran, melainkan juga menghadirkan
kebijaksanaan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Kita
boleh berbeda cara pandang dalam memahami suatu persoalan yang bersifat ijtihadi,
namun perbedaan itu tidak seharusnya menghilangkan rasa hormat, persaudaraan,
dan kasih sayang sesama muslim. Saya pun mulai mengubah cara berpikir.
Barangkali tugas saya bukan memastikan seseorang telah mendapat hidayah atau
belum. Itu adalah urusan Allah semata. Tugas saya hanyalah menyampaikan
kebaikan dengan santun, menjadi teladan sebisa mungkin, lalu mendoakan
saudara-saudara saya agar Allah membimbing kami semua ke jalan yang
diridai-Nya.
Boleh jadi, orang yang hari ini
belum melakukan satu amal yang menurut kita baik, ternyata memiliki hati yang
jauh lebih bersih daripada kita. Dan boleh jadi, orang yang hari ini masih
berjuang memperbaiki diri, kelak menjadi pribadi yang lebih saleh dan sholehah daripada
mereka yang merasa dirinya sudah benar. Karena itu, tidak ada alasan bagi
seorang mukmin untuk merendahkan orang lain. Yang lebih pantas dilakukan adalah
saling menguatkan dalam kebaikan dan saling mendoakan.
Perjumpaan singkat dengan
perempuan itu akhirnya mengajarkan satu hal yang sangat berharga kepada say, hidayah bukan alasan untuk menunda kebaikan,
tetapi juga bukan hak kita untuk menghakimi perjalanan iman seseorang. Hidayah
adalah rahasia Allah, sedangkan adab adalah tanggung jawab kita. Maka ketika
bertemu dengan orang yang berbeda pemikiran atau belum sampai pada tahap yang
kita harapkan, semoga yang pertama lahir dari lisan kita bukanlah vonis,
melainkan doa: "Ya Allah, berilah kami semua hidayah, tetapkan hati kami
di atas agama-Mu, dan jadikan kami hamba yang mampu menghargai sesama tanpa
kehilangan keberanian untuk mengajak kepada kebaikan.
Beberapa Minggu kemudian, takdir kembali mempertemukan kami.
Bukan di ruang pelatihan, bukan
pula di tengah keramaian diskusi sastra. Kami bertemu di teras ruko sederhana,
tempat hujan sedang menyelesaikan rintiknya di atas dedaunan yang tumbuh rimbun
dipinggiran ruko. Senja turun perlahan, membawa aroma tanah yang baru saja
disapa langit. perempuan tersenyum lebih dahulu.
"Masih
suka bertanya tentang hidayah?" katanya sambil tertawa kecil.
Saya ikut tersenyum. Dan menjawab
singkat "Nggak..saya sedang belajar untuk
bertanya kepada diri sendiri."
Ia menatap saya beberapa saat.
Matanya teduh, seperti seseorang yang sedang menyimpan banyak cerita. "Lalu... apa jawaban yang Mas temukan?"
Saya menghela napas.
"
ternyata saya terlalu sibuk menunggu orang lain berubah, sementara saya lupa
bertanya apakah hati saya sendiri masih sedang menuju Allah." Iapun
terdiam terdiam sejenak lalu, "Mas tahu, ?"
katanya pelan, "waktu Mas bertanya
tentang jilbab hari itu, saya sempat tersinggung." Saya pun sedikit
mengerutkan kening dan memandang kearah Perempuan itu. "mm.. Saya minta maaf."
"Tapi..."
ia melanjutkan, "...bukan karena
pertanyaannya. Saya tersinggung karena saya merasa belum mampu menjawab
pertanyaan itu kepada diri saya sendiri. Setiap malam," katanya
lirih, "saya berdoa agar Allah menguatkan
hati saya. Saya tahu menutup aurat adalah perintah. Saya tidak membantahnya.
Hanya saja, saya takut menjadi orang yang berubah karena tekanan manusia, bukan
karena cinta kepada Allah." Kalimat itu benar-benar membuat
saya diam, tapi agar supaya tidak terlihat canggung didepan nya, saya pun
menjawab
"Barangkali
itu juga sebuah perjuangan." Ia mengangguk.
"Kita
sering melihat seseorang dari pakaian yang ia kenakan. Padahal mungkin ada
orang yang pakaiannya sederhana, tetapi hatinya setiap malam menangis memohon
ampun. Dan mungkin ada pula yang tampak saleh di mata manusia, tetapi diam-diam
sedang berperang melawan riya." Sambung
saya sambil mengeringkan tempat duduk motor saya yang basah karena hujan
Saya tersenyum tipis. "Berarti kita sama mbak."
"Maksudnya?" jawabnya penuh penasaran. "Sama-sama sedang belajar." Ia
tertawa kecil. “kan memang dari kemaren kita
sama-sama belajar menjadi penulis pemula”, jawabnya Kembali. kami
pun tertawa lirih.
“mas…apakah
juga sedang mencari hidyah.?”. “Tidak,!, ” jawab
ku tegas, sambil memandang jemari sendiri, dan seakan sedang membaca
garis-garis takdir yang tak pernah benar-benar bisa dipahami manusia.
"Saya
ingin diberi hidayah agar tidak mudah merasa lebih baik daripada orang
lain."
Ia terdiam cukup lama.!, Kemudian
berkata dengan suara yang hampir berbisik, "Itu
hidayah yang berat."
"Kenapa?"
"Karena
kesombongan sering datang dengan pakaian yang sangat saleh."
Kalimat itu jatuh pelan, tetapi
mengguncang batin saya. Saya jadi teringat sebuah nasihat ulama, bahwa iblis
tidak jatuh karena tidak mengenal Allah. Ia jatuh karena kesombongan yang
membuatnya merasa lebih mulia daripada Adam. Betapa tipis batas antara merasa
taat dan merasa paling taat. Perempuan itu kembali berbicara.
"Mas..."
"Iya?"
"Kalau
suatu hari nanti Allah memberi saya kekuatan memakai jilbab, jangan puji
saya." Saya tersenyum heran. "Lalu apa yang harus saya lakukan?".
"Doakan agar saya istiqamah."
"Lalu
kalau hari itu belum juga datang?" Ia
tersenyum, kali ini matanya sedikit berkaca. "Jangan
berhenti mendoakan saya.". Saya mengangguk.
"Dan
kalau suatu hari saya melihat Mas mulai sibuk menilai orang lain?"
“kenapa.” Jawab ku singkat sambil Kembali mengerutkan kening.
Ia hanya tersenyum.
"'Mas...
jangan-jangan kita sama-sama sedang kehilangan hidayah.'" Kami berdua pun tertawa.
Bukan tawa yang lahir karena
merasa paling benar, dan saling mengalahkan, melainkan tawa dua orang musafir
yang sama-sama sadar bahwa jalan menuju Allah terlalu panjang untuk ditempuh
dengan saling menghakimi.
Akhirnya Saya menyadari bahwa
pertemuan itu bukan tentang jilbab, bukan tentang siapa yang lebih dahulu
berubah, dan bukan pula tentang memenangkan sebuah pandangan. Ternyata Allah
sedang mengajarkan kami satu pelajaran yang sederhana, tetapi sering dilupakan.
bahwa hidayah tidak tumbuh di tanah yang dipenuhi prasangka. Ia lebih senang
bersemi di hati yang rendah, yang mau mendengar sebelum berbicara, yang mau
memahami sebelum menyimpulkan, dan yang lebih gemar mendoakan daripada
menghakimi.
Muhammad Taufik. [Penulis Kolom].














%20(1).png)


