Sore itu, aku duduk
sendirian di tepi pantai, ditemani suara ombak yang datang dan pergi. Mataku
menatap langit senja yang begitu indah. Tak jauh dari tempat dudukku, ada
seorang laki-laki yang tampak asing bagiku. Ia berdiri tegak, seolah sedang
menatap ke arahku.
Angin sore berembus
pelan, membuat beberapa helai rambutku bergerak menutupi wajah. Aku segera
merapikannya, lalu kembali memandang laut. Suasana pantai sore itu cukup sepi.
Hanya ada beberapa orang yang sedang menikmati senja dari kejauhan.
Aku memang sering
datang ke pantai sendirian ketika ingin menenangkan pikiran.
Namun, sore itu terasa
sedikit berbeda.
Entah kenapa,
keberadaan laki-laki asing itu membuat perhatianku terus tertuju kepadanya.
“Apa? Apa dia
menatapku? Tidak, tidak. Tidak mungkin dia melihat ke arahku,” batinku.
Aku mengalihkan
pandangan ke arah lain, berharap semua itu hanya perasaanku. Aku mencoba
kembali menikmati pemandangan di hadapanku. Warna jingga perlahan memenuhi
langit, sementara cahaya matahari mulai tenggelam di balik laut.
Aku menarik napas
panjang, berusaha tidak memikirkan laki-laki tadi.
Namun, beberapa kali
aku tetap mencuri pandang ke arahnya.
Dia masih berdiri di
sana.
Aku mulai merasa
sedikit malu sendiri.
Bagaimana jika benar
dia melihatku? Atau mungkin aku saja yang terlalu percaya diri?
Tanpa kusadari, senja
silih berganti menjadi malam. Aku pun bergegas pulang ke rumah.
Sepanjang perjalanan
pulang, pikiranku masih saja kembali kepada kejadian tadi. Aku bahkan tidak
tahu mengapa aku begitu memikirkannya. Padahal, aku tidak mengenalnya sama
sekali. Bahkan, kami tidak berbicara sepatah kata pun.
Malam itu suasana
begitu sunyi dan tenang. Aku berbaring di atas kasur sambil memandangi
langit-langit kamar.
“Perasaan apa tadi
itu? Kenapa rasanya seperti... Tidak, tidak mungkin. Apa mungkin? Hah? Apa aku
jatuh cinta? Tidak mungkin, kan? Iya, tidak. Itu hanya perasaanku saja,” ujarku
sambil tersipu malu.
Aku tersenyum kecil
sendirian.Rasanya aneh sekali. Hanya karena sebuah tatapan, aku sudah
memikirkan seseorang sampai malam. Aku mencoba memejamkan mata, tetapi wajah
laki-laki asing itu kembali muncul di pikiranku.
Aku bahkan mulai
membayangkan bagaimana jika suatu hari nanti kami bertemu lagi.
Keesokan harinya, di
siang yang cerah dan disinari terik matahari, aku duduk santai di depan rumah.
Kembali teringat olehku kejadian semalam.
Aku tidak percaya
dengan perasaanku sendiri. Rasanya sulit untuk dijelaskan. Sepertinya aku sudah
jatuh cinta, tetapi aku sendiri tidak yakin akan hal itu.
“Kenapa aku bisa jatuh
cinta hanya karena pertemuan kami yang sesingkat itu? Aku bahkan tidak
mengenali siapa dia,” gumamku.
Aku terdiam sejenak,
memikirkannya. Aku mencoba mengalihkan pikiran dengan berbagai kegiatan.
Membantu pekerjaan rumah, membaca buku, bahkan sesekali mengobrol dengan
orang-orang di sekitar rumah.
Namun, setiap kali
pikiranku sedang kosong, laki-laki itu kembali terlintas di kepala.
Mungkin karena aku
penasaran.
Mungkin juga karena
aku berharap bisa melihatnya lagi.
Hari-hari berganti.
Tiap kali senja tiba, aku terus mendatangi pantai itu, berharap bisa bertemu
dengan laki-laki tersebut. Namun, harapanku hanya menjadi harapan.
Aku tak juga bertemu
dengannya sampai akhirnya aku merasa semuanya telah berakhir.
Hari pertama aku
menunggunya, aku masih yakin dia akan datang.
Hari kedua, aku masih
berharap.
Hari ketiga, aku mulai
bertanya-tanya, apakah sebenarnya aku hanya menunggu sesuatu yang tidak pernah
dijanjikan?
Aku tetap duduk di
tempat yang sama, memandangi laut yang sama, tetapi sosok yang kucari tidak
pernah muncul.
Kadang aku datang
lebih awal. Kadang aku menunggu sampai langit benar-benar gelap. Namun, tetap
saja tidak ada siapa-siapa.
“Sepertinya aku sudah
harus melupakannya. Lagipula, kenapa juga aku berharap bisa bertemu dengannya
lagi? Kenapa juga aku bisa jatuh cinta hanya dengan sekilas tatapan? Lagipula,
bisa saja waktu itu dia tidak melihat ke arahku, kan? Aku hanya terlalu percaya
diri,” ucapku pasrah.
Aku tersenyum kecil
kepada diriku sendiri.
Rasanya sedikit
memalukan mengingat bagaimana aku bisa berharap begitu banyak kepada seseorang
yang bahkan tidak kukenal.
Langit senja pun mulai
menghilang, berganti dengan indahnya langit malam.
Malam itu aku pulang
dengan perasaan campur aduk. Aku berjalan kaki melewati perkebunan teh,
menikmati keindahannya di bawah sinar rembulan, ditemani kerlap-kerlip bintang
di langit.
Tiba-tiba...
“Aduh!” seruku saat
tersandung.
“Aish, siapa sih ini?
Kalau jalan lihat-lihat dong!” ucapku sembari bangkit setelah tersandung.
“Heh! Aku sudah teriak
awas. Kamu saja yang termenung,” ujar seseorang yang suaranya terasa tidak
asing bagiku.
Setelah kutatap
wajahnya, ternyata itu Bibik yang sedang mencariku.
“Ke mana saja kamu?
Sudah larut begini. Bukannya pulang, malah termenung di kebun teh ini,” omel
Bibik dengan nada khawatir.
“Aku hanya ingin
menikmati keindahan ciptaan Tuhan ini, Bibik. Kenapa Bibik begitu
mengkhawatirkanku? Bukankah aku sudah bilang bahwa aku akan pulang lebih larut
malam ini?”
Bibik menghela napas
pelan. Walaupun wajahnya terlihat kesal, aku tahu sebenarnya dia hanya khawatir
melihatku pulang sendirian selarut itu.
“Kamu itu kalau sudah
melamun suka lupa waktu. Sudah, jangan banyak alasan. Ayo pulang,” katanya.
Aku hanya tersenyum
kecil.
Lalu, aku duduk di
tepian kebun teh itu, termenung memandangi langit.
“Bik, apakah cinta itu
benar adanya? Lalu, bagaimana bisa seseorang langsung jatuh cinta hanya karena
pertemuan yang singkat?”
Bibik terdiam.
Kemudian, ia duduk di sampingku dan ikut memandangi langit yang dipenuhi
bintang.
“Kamu yakin itu
cinta?”
Aku menoleh kepadanya.
“Entahlah, Bik. Tapi
sejak melihat dia, aku merasa ada sesuatu yang berbeda.”
Bibik menatapku, lalu
tersenyum kecil.
“Kadang kita bukan
jatuh cinta pada seseorang. Kita hanya jatuh cinta pada harapan yang kita
ciptakan sendiri terhadap seseorang itu.”
Aku terdiam
kebingungan.
“Apa maksud Bibik?”
“Hei! Kamu bahkan
tidak mengenalnya. Kamu tidak tahu namanya, tidak tahu bagaimana sifatnya,
tidak tahu apa yang dia suka dan tidak dia suka. Jadi, bagaimana bisa kamu
yakin jika yang kamu cintai itu adalah dirinya?”
Aku tak mampu menjawab
lagi.
Aku menunduk sambil
memainkan ujung bajuku. Perkataan Bibik terus terngiang di kepalaku.
Ada benarnya juga.
Selama ini aku hanya
mengetahui bagaimana wajahnya dan bagaimana caranya berdiri. Selebihnya, aku
tidak tahu apa-apa.
Bahkan aku tidak tahu
apakah dia orang yang baik atau justru sebaliknya. Aku juga tidak tahu apakah
dia sudah memiliki seseorang yang dia sayangi.
Lalu, bagaimana
mungkin aku menyebut perasaan itu sebagai cinta?
Bibik berdiri dan
menepuk pelan bahuku.
“Sudahlah. Ayo pulang.
Sudah sangat larut ini.”
Aku mengikuti Bibik
pulang ke rumah sambil terus memikirkan perkataannya.
Malam itu, untuk
pertama kalinya, aku bertanya kepada diriku sendiri.
Jangan-jangan selama
ini aku bukan sedang mencintainya. Aku hanya sedang menunggu sesuatu yang
bahkan tidak pernah benar-benar ada.
Hari-hari berikutnya
berlalu seperti biasa.
Aku masih sesekali
datang ke pantai, tetapi tidak lagi dengan perasaan seperti kemarin. Aku tidak
lagi mencari laki-laki asing itu.
Aku mulai menikmati
pantai hanya karena memang menyukai suasananya. Duduk di sana, mendengarkan
suara ombak, melihat langit berubah warna, dan membiarkan angin sore menemani
pikiranku.
Sampai suatu sore, aku
bertemu dengan seorang ibu yang sedang duduk tidak jauh dari tempat dudukku
biasanya.
Kami berbincang
tentang pantai dan orang-orang yang sering datang ke sana. Entah mengapa,
tiba-tiba aku teringat laki-laki asing itu.
“Bu, apakah Ibu sering
melihat laki-laki yang berdiri di dekat sini beberapa minggu lalu?”
“Laki-laki yang
berdiri menghadap laut?” tanyanya.
Aku mengangguk cepat.
“Iya.”
“Oh, yang waktu itu?”
Jantungku tiba-tiba
berdegup lebih cepat.
“Iya. Apa Ibu kenal?”
“Tidak. Waktu itu dia
sedang melihat perahu yang ada di belakangmu. Di atas perahu itu ada seseorang
yang sudah lama ditunggunya.”
Aku tidak tahu harus
berkata apa.
Selama beberapa detik,
aku hanya memandangi laut.
Jadi selama ini...
tatapan itu bukan untukku.
Aku tertawa kecil.
Bukan karena lucu, tetapi karena aku merasa bodoh.
Selama
berminggu-minggu aku berharap, aku menunggu seseorang yang bahkan tidak
mengenaliku.
Ternyata semua yang
selama ini kupikirkan hanyalah kesalahpahaman kecil yang kubuat sendiri. Aku
mengira tatapan itu adalah sesuatu yang istimewa, padahal mungkin bagi
laki-laki itu, aku bahkan tidak lebih dari seseorang yang kebetulan berada di
hadapannya.
Aneh rasanya
mengetahui hal itu.
Namun, anehnya lagi,
aku tidak merasa sedih.
Sore itu aku pulang
tanpa rasa kecewa. Aku akhirnya merasa lega.
Ternyata, tidak semua
pertemuan harus memiliki kelanjutan. Ada yang hanya datang sebentar dalam hidup
kita, bahkan tanpa benar-benar menjadi bagian dari hidup kita.
Namun, kehadirannya
meninggalkan sesuatu.
Bukan cinta.Bukan juga
kenangan tentang sebuah hubungan.
Melainkan sebuah
pelajaran tentang bagaimana perasaan bisa membuat kita melihat sesuatu sesuai
dengan apa yang ingin kita lihat.
Sejak saat itu, aku
mulai memahami bahwa terkadang kita terlalu cepat memberi arti pada sesuatu
yang sebenarnya sederhana.
Sebuah tatapan bisa
saja hanya sebuah tatapan.
Sebuah pertemuan bisa
saja hanya sebuah pertemuan.
Dan tidak semua hal
harus berubah menjadi sebuah kisah cinta.
Setelah hari itu, aku
mulai menjalani hidup seperti biasanya.
Aku masih menyukai
senja, tetapi sekarang aku tidak lagi datang ke pantai untuk menunggu
seseorang. Bahkan, aku mulai jarang pergi ke sana.
Hingga suatu sore, aku
kembali melewati jalan menuju pantai.
Aku berhenti sebentar.
Aku melihat laut yang
masih sama. Langit senja yang masih indah. Ombak yang masih datang dan pergi
seperti dulu.
Tanpa sadar, aku
tersenyum kecil.
Ternyata aku pernah
mengira satu tatapan adalah awal dari sebuah kisah.
Kemudian, aku
melanjutkan langkahku.
Tidak ada laki-laki
asing.
Tidak ada pertemuan
kedua.
Tidak ada kisah cinta
seperti yang pernah kubayangkan.
Hanya ada aku yang
akhirnya belajar bahwa tidak semua rasa harus memiliki seseorang sebagai
tujuan.
Dan mungkin, beberapa
pertemuan memang hanya ditakdirkan untuk terjadi sekali—cukup untuk membuat
kita berubah, lalu pergi tanpa kembali.
















%20(1).png)
