NUansa.UMT

Rajab dan Jalan Pulang Menuju Hati

Rajab datang seperti angin yang lembut tidak selalu terdengar, namun dapat dirasakan oleh hati yang peka. Di antara dua belas bulan yang berputar bagai roda nasib manusia, Rajab berdiri sebagai bulan sunyi, bulan di mana langit seolah lebih dekat, dan bumi lebih teduh dalam naungan rahmat-Nya. Ia bukan hanya tanggal dalam kalender hijriah; Rajab adalah ruang kontemplasi, sebuah lorong waktu yang mengundang manusia berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia, lalu memandang ke dalam diri, rajab sebbagai bulan dimana allah turunkan rahmad dengan tidak terhingga kepada para hamba-hambanya yang mau Kembali kepada diri dan hati, segalal dosa diampuni oleh allah Ketika para hamba mau mengakui segala dosa dan khilaf, dan kebaikan allah selalu diberikan kepada para hamba yang saling berbuat kebaikan dengan sesama.

Dalam keheningan Rajab, ruh menemukan kesempatan untuk kembali berbicara. Selama ini kita sering sibuk mendengar dunia, suara pasar, rapat, ambisi, notifikasi yang datang tanpa jeda. Jarang sekali kita menundukkan kepala untuk mendengar suara yang lebih halus, suara fitrah yang sejak mula berbisik, “Pulanglah.” Rajab mengingatkan manusia bahwa perjalanan terbesar bukan sekadar menaklukkan gunung atau meraih gelar, melainkan perjalanan kembali menuju hati yang bersih, dan akhirnya menuju Allah, sumber segala makna.

Ibadah di bulan ini bukan sekadar ritual, melainkan laku ruhani. Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi menahan ego agar tidak terus berteriak meminta dunia. Dzikir bukan sekadar lafaz yang berputar di bibir, melainkan upaya menghadirkan Allah di ruang yang paling sunyi dalam batin. Sedekah bukan hanya memberi harta kepada yang membutuhkan, tetapi memberi kesempatan bagi jiwa untuk tumbuh menjadi lebih tenang, lebih lapang, dan saling mengasihi, Setiap amalan menjadi cermin untuk melihat siapa diri kita sesungguhnya. Ketika tangan memberi, hati bertanya, apakah aku memberi karena cinta, atau karena ingin dipandang? Ketika lidah berzikir, batin berbisik, apakah Allah hadir dalam kesadaranku, atau aku hanya meniru gerakan orang shalih tanpa makna? Rajab mengundang manusia berdialog dengan dirinya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini tidak sempat ditanyakan karena sibuk mengejar dunia, muncul kembali dengan lembut namun dalam: Siapa aku? Untuk apa aku hidup? Ke mana aku akan kembali?

Isra Mikraj, peristiwa besar yang terjadi di bulan ini, menghadirkan simbol perjalanan paling agung, dari bumi menuju langit, dari gelap menuju cahaya, dari keraguan menuju keyakinan. Namun perjalanan Nabi bukan sekadar sejarah, melainkan alegori tentang perjalanan batin setiap insan. Setiap manusia memiliki mi’rajnya sendiri, loncatan rohani dari dunia luar menuju ruang kesadaran terdalam. Perjalanan itu tidak selalu spektakuler. Terkadang ia dimulai dari sujud yang khusyuk, air mata yang jatuh diam-diam, atau bisikan istighfar di tengah malam.

Jika nabi telah mikraj menemui allah sang maha pencipta, maka setiap jiwa juga seharusnya mikraj Ketika sujud di setiap waktu nya, untuk menemui sang maha pencipta dengan kedamaian hati yang lembut, dan merasakan bahwa kita memang dekat dengan pencipta, maka tak usah heran Ketika seorang berdiri untuk sholat dan ia betah berlama-lama dan membawakan ayat yang Panjang, karena sesungguhnya ia sedang memadu kasih dan melepas rindu kepada sang pencipta, tak sedikit juga diantara jiwa itu ada yang tak betah berdiri lama dan gelisah Ketika mendengar ayat-ayat yang Panjang, barngkali ia tak menemukan cinta dalam ibadahnya.

Rajab adalah pintu awal menuju perubahan. Ia adalah jeda, kesempatan untuk menata diri sebelum Sya’ban memperhalus jiwa, dan Ramadan menyempurnakan penyucian. Jalan pulang menuju diri bukan jalan yang bisa ditempuh tergesa. Ia membutuhkan kejujuran, kesabaran, dan keberanian untuk melihat luka-luka batin yang selama ini tertutup. Namun ketika seseorang memilih untuk berjalan, ia akan mendapati bahwa Allah telah menunggu di ujung perjalanan dengan kasih yang tidak pernah lelah.

Dan mungkin, pada suatu malam Rajab ketika seluruh dunia tertidur, seorang hamba duduk memegang hatinya yang letih. Ia berdoa dengan suara yang hampir tak terdengar, “Ya Allah, tunjukkan aku jalan pulang.” Pada saat itulah ia menyadari, pulang bukan berarti kembali ke tempat asalnya secara fisik, tetapi kembali pada kejernihan batin, kembali pada fitrah yang tenang, kembali pada Tuhan yang selalu dekat, Rajab adalah undangan. Undangan untuk pulang, Bukan pulang ke rumah atau kampung halaman, tetapi pulang kepada diri yang pernah jernih dan kepada Allah yang selalu menanti.

Sahabat para pembaca yang Budiman, mari kita Kembali pada diri kita pada bulan rajab yang mulia ini kita kembalikan diri untuk mempersiapkan nya menuju syak’ban sebabai bulan untuk membersihkan diri dan hati dari noda-noda dosa, dan Ramadhan nanti kita jadikan sebagai bulan untuk menyinari hati dan diri kita sehingga nanti benar-benar kita menjadi pribadi yang takwa disisi Allah, SWt.

 


Share:

Jejak Sunyi Dari Seorang Guru

Pagi itu langit belum sepenuhnya ramah. Awan menggantung seperti pikiran-pikiran yang belum selesai, sementara udara masih menyimpan sisa dingin malam. Di halaman sebuah Madrasah sederhana yang berdiri di antara deretan pepohonan dan bangunan kayu bercat hijau, seorang Wanita tangguh berhenti dengan motornya. Ia mengenakan jilbab merah marun yang terikat rapi, wajahnya tenang, matanya menyimpan kesiapan. Motor itu bukan sekadar alat transportasi tapi ia adalah saksi perjalanan panjang dalam sebuah pengabdian, setiap hari tanpa terlihat Lelah, ia selalu mamncarkan semangat yang membara ia suguhkan untuk para pejuang masa depan, Lelah nya telah ia tutup rapat dan rapi dengan senyuman sehingga setiap murid-murid nya tak ada satu pun yang tau bahwa ia sedang Lelah.

Namanya Bu Darti, nama yang tak tertulis di plang besar atau buku sejarah. Ia hanya seorang guru biasa, tidak terkenal. Namun justru dari kesederhanaan itulah lahir pengaruh yang menjalar pelan tapi pasti, seperti akar yang menguatkan tanah, Setiap pagi, Bu Darti datang lebih awal. Bukan karena aturan, bukan karena absensi pada aplikasi yang harus tepat waktu, melainkan karena ia percaya bahwa guru harus tiba sebelum harapan murid-muridnya. Di atas motor itulah ia membawa lebih dari sekadar tas berisi buku dan spidol. Ia membawa niat, kesabaran, dan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan sunyi yang mesti ditempuh dengan setia, karean pengukir Sejarah akan lahir dari niat mulia ini.

Madrasah tempatnya mengabdi bukan Madrasah megah. Bangunannya sederhana, ruang kelasnya tidak ber AC, tapi itu lebih dari cukup untuk ia mengabdi pada negeri dan tugas mulianya mencerdaskan generasi bangsa,  halaman Madrasah menjadi saksi, ada tawa sekaligus air mata para siswa. Banyak dari mereka datang dengan seragam yang kadang tak selalu rapi, sepatu yang sudah lusuh, terkadang juga ada yang tapak nya sudah robek karena kasar nya aspal, dan cerita rumah yang tak selalu mudah. Namun di mata sang Guru, tak ada murid yang kecil, dan kerdil, Setiap peserta didik adalah semesta yang menunggu untuk diterangi, Ia mengajar bukan hanya tentang mata pelajaran, tetapi juga tentang sebuah makna,  Ketika menjelaskan rumus, ia sisipkan nilai kejujuran. Saat membahas sejarah, ia ajarkan keberanian, dalam pelajaran bahasa, ia tekankan adab berbicara. Baginya, ilmu tanpa akhlak adalah bangunan tanpa pondasi, biarpun tinggi, tetapi rapuh.

Suatu hari, seorang murid bertanya kepada Bu Darti dengan polos,“Bu, kenapa Ibu selalu datang lebih cepat dari teman-teman guru yang lain, dan naik motor sendiri..?

Ia tersenyum. Senyum yang tak dibuat-buat.“Karena perjalanan ke Madrasah adalah bagian dari pelajaran,” jawabnya dengan nada datar seakan tanpa beban dan sedikit dikeningnya mengerut.

Anak itu mengernyit. “Pelajaran apa?”

“Pelajaran tentang tanggung jawab,” katanya lembut. “Kalau Ibu ingin kalian sampai pada cita-cita, Ibu harus memberi contoh bagaimana tetap berjalan meski lelah.”, kamu liat naaak…Motor itu sering mogok, Kadang bannya bocor, kehabisan minyak, bahkan  Pernah pula hujan turun deras, membuat kita terhamabat datang ke madrasah, baju dan jilbab kita basah dan Sepatu juga berlumpur. Namun tak sekalipun kita memilih untuk kembali pulang,  kita selalu sampai. Yaa…Mungkin terlambat beberapa menit, tetapi tak pernah absen dari makna, jawab nya sambil memandangi sang anak, Siwi itu pun terdiam dan mengangguk,

Di ruang guru, Bu Darti selalu menjadi inspiratif, inovasi nya benar-benar bisa ditiru oleh rekan-rekan sejawat nya, ia dikenal sebagai sosok guru yang ramah, renyah dalam berbicara, tak gemar mengeluh. Ketika rekan-rekannya membahas fasilitas yang kurang, ia hanya berkata, “Kita mungkin kekurangan alat untuk peraktek, tapi jangan kekurangan hati, dan cara untuk menemukan sesuatu yang baru.” Karena ia tahu betul tidak harus menunggu punya untuk selalu bebuat”, Ia percaya bahwa guru bukanlah semata-mata sebagai pusat perhatian, melainkan penunjuk arah. Ia tak ingin murid-muridnya mengingat namanya, tetapi mengingat nilai-nilai yang ia tanamkan. Ia ingin dikenang bukan sebagai guru yang galak atau baik, melainkan guru yang hadir, dalam setiap harapan dari murid-muridnya.

Ada seorang murid laki-laki yang sering bolos. Tubuhnya kurus, matanya selalu menunduk. Banyak guru telah menyerah. Namun tidak dengannya. Ia mendatangi rumah murid itu, menempuh jalan sempit dengan motornya. Rumahnya kecil, dindingnya dari papan, susunan daun rumbia, ibunya bekerja sepanjang hari, Ia duduk di lantai rumah itu, berbicara bukan sebagai guru, melainkan sebagai manusia. Ia tidak menghakimi, tidak menasihati dengan nada tinggi. Ia hanya berkata, “Ibu percaya kamu bisa lebih dari ini.” Kalimat itu sederhana, tapi bagi murid itu, ia seperti pintu yang terbuka setelah lama terkunci. Sejak hari itu, ia mulai rajin datang ke Madrasah. Nilainya tak langsung naik, tapi semangatnya tumbuh. Bertahun-tahun kemudian, murid itu lulus dan menjadi orang pertama di keluarganya yang melanjutkan pendidikan.

Ia pernah ditanya, apa rahasia menjadi guru yang inspiratif. Ia menjawab, “Jangan mengajar untuk dilihat, mengajarlah untuk menghidupkan.”.Di halaman Madrasah, motor putih itu sering terparkir di bawah atap seng yang berlumut dan lusuh. Murid-murid lalu-lalang, sebagian menyapanya, sebagian hanya tersenyum. Namun semua tahu: jika pagi itu motor itu sudah ada, berarti Madrasah telah siap menerima hari, Baginya, menjadi guru bukanlah profesi sementara. Ia adalah panggilan panjang. Ada hari-hari ketika gaji terasa tak sebanding, ketika lelah mengalahkan semangat, ketika hasil tak segera tampak. Namun setiap kali ia melihat muridnya memahami satu hal baru, atau berani bermimpi sedikit lebih tinggi, semua lelah itu menjadi ringan, segala keraguan sirna seketika.

Ia mengerti bahwa pendidikan bukan tentang mencetak juara, melainkan membentuk manusia. Ia tahu, mungkin ia tak akan melihat hasil kerja kerasnya sekarang. Tapi ia percaya, suatu hari nanti, di tempat yang jauh, nilai-nilai yang ia tanam akan tumbuh dalam kehidupan murid-muridnya, yang tak tau entah kemana dan Dimana, bisa saja diantara deretan murid-muridnya itu ada yang menjadi anggota Dewan, Bupati, pengusaha, peternak, petani, tukang parkir, atau bahkan buruh sekalipun, hasil yang kita tanam tidak dipetik hari ini, mungkin hari esok, bulan depat atau bahkan tahun berikutnya.

Pagi itu, setelah memarkir motornya, ia melangkah menuju kelas. Langkahnya biasa saja. Tak ada sorak-sorai, tak ada tepuk tangan. Namun justru di situlah letak keistimewaannya. Ia hadir tanpa menuntut pujian, mengajar tanpa berharap dikenang, hari itu Adalah hari Dimana seluruh murid-muridnya menuntaskan semua capaian pembelajaran, tentu harapan untuk lebih baik sedang dinantikan oleh para muridnya-muridnya untuk melihat angka nilai yang terlukis di buku raport, pengumuman juara pun hampir dimulai, murid nya telah beransur memenuhi lapangan madrasah itu.

Mereka berdiri dengan tenang sambil mendengarkan sambutan dari kepala madrasah yang diwakili oleh bidang Kurikulum, pembacan surat Keputusan juara kelas telah pun diumumkan, suara terikan dan tepuk tangan yang gemuruh memenuhi lapangan hijau itu, ada yang tertawa Bahagia, menangis karena haru, ada pula yang telalu Bahagia bukan karena nilai yang tinggi dan gemilang, tapi karena kebersamaan dan kedamaian yang di tularkan oleh sang Guru inspirasi meraka yaitu “buk Darti.”

Namun di antara sorak sorai itu, ada satu nama yang membuat lapangan Hijau itu mendadak hening sejenak, Nama seorang murid yang tidak asing ditelinga, Namanya selalu muncul disetiap momen, olimpiade, kompetisi apapun nama itu selalu muncul, Ketika nama itu disebutkan, Ia melangkah ke depan dengan ragu. Tangannya gemetar, langkahnya pelan. Murid-murid lain menatapnya dengan penuh keyakinan, lalu tepuk tangan kembali pecah lebih keras, lebih lama. Tepuk tangan yang bukan hanya untuk angka di rapor, tetapi untuk sebuah perjalanan, dan prestasi yang dipertahankan.

Bu Darti berdiri di antara barisan guru. Ia tidak maju. Ia tidak menangis. Ia hanya tersenyum kecil, senyum yang sama seperti yang selalu ia suguhkan setiap pagi, seolah kejadian itu bukan kejutan baginya. Karena sesungguhnya, ia sudah melihat kemenangan itu jauh sebelum hari ini, Baginya, juara sejati telah lahir jauh sebelum piala diangkat.

Ketika murid itu menerima piagam dan piala sederhana, pandangannya berkeliling. Matanya berhenti pada satu titik y aitu pada Bu Darti. Ia tersenyum, lalu menunduk hormat. Tak ada kata, tapi semuanya tersampaikan, Bu Darti membalasnya dengan anggukan pelan.

Di situlah mereka saling mengerti, bahwa kemenangan ini bukan milik satu orang, melainkan milik kepercayaan yang tak pernah ditarik Kembali, Upacara pun usai. Murid-murid kembali ke kelas dengan cerita masing-masing. Lapangan kembali lengang. Bu Darti melangkah menuju motor putihnya. Ia mengankat helm, menatap langit yang kini cerah sepenuhnya, Hari itu, ia pulang dengan cara yang sama seperti ia datang, sederhana, tenang, tanpa sorotan, ia tahu perjuangan belum selesai masih banyak tugas harus ia selesaikan dan melahirkan para juara-juara untuk mencatak generasi emas dimaasa yang akan datang…….

Motor itu pun melaju perlahan meninggalkan halaman madrasah, Dan di atas motor sore itu, Bu Darti membawa pulang satu kepastian yang selama ini ia Yakini. bahwa setiap kelelahan yang disembunyikan dengan senyum, setiap pengabdian yang dilakukan dalam diam, akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk berbuah, Karena guru sejati tidak pernah gagal, Ia hanya sedang menunggu waktu murid-muridnya tumbuh dan bersinar.

Bersambung…..pada “Episode Sang Juara”

 


Share:

Kurikulum Kehidupan Dari Kang Mizi

Dalam sebuah perjalan yang tidak pendek, sebuah Impian satu persatu telah nyata dalam hidup, dari ruang kosong kemaren kini perlahan tumbuh lumut yang bersemi dan sekarang telah membentuk sebuah taman indah yang membuat nyaman siapa saja duduk sana, dalam gurun waktu kesekian kalinya saya mengarungi derasnya arus Sungai siak, untuk menuju negeri junjungan sebagai pusat ibu kota dimaana saya tinggal, hari itu akan resmi kami dikukuhan sebagai seorang Guru professional, tentu tidak sekadar itu, kesuksesan sampai dipuncak bagi setiap pendaki tentu ini merupakan Langkah awal untuk menggali potensi dan berkarya, inovasi lebih untuk menuju kecerdasan masa depan yang diperankan oleh jutaan peserta didik di Nusantara ini.

Setelah semalaman istirahat di sebuah penginapan kecil dan sederhana, tapi cukup tenang untu menghilangkan segala keletihan,  pagi itu saya sudah Bersiap-siap untuk melangkah menuruni anak tangga Di sebuah ruang yang tenang, diapit sofa berwarna senja dan meja kaca yang memantulkan cahaya, saya sedang duduk tenang sambil menunggu mas Ojek Online, tiba-tiba tanpa disengaja ada tokoh yang tak banyak bicara, namun pikirannya bekerja lebih riuh dari pasar ilmu. Ia bukan raja, bukan pula bangsawan. Ia adalah Ilmuwan penjaga akal sehat di tengah zaman yang sering tergesa, sebut saja Namanya Tarmizi, tidak cukup hanya sebuah nama sebagai panggilan, dulu orang tua saya dikampung sering menyebutkan bahwa “Asmo Kinaryo Dungo” Nama Adalah Doa. Karena nama Dalam falsafah Jawa, asmo bukan sekadar panggilan, tetapi mengandung harapan, doa, dan cita-cita dari orang tua atau pemberi nama. Karena itu, orang Jawa percaya bahwa nama yang baik  Adalah doa yang baik nama juga mencerminkan karakter dan masa depan nama juga bisa menjadi pengingat nilai hidup bagi pemiliknya,Sebagaimana orang yang saya temui hari ini tidak hanya sekedar nama, tapi benar-benar menjadi karakter dalam dirinya, Mas Tarmizi orang nya berlimu yang tinggi namun rendah diri, tak banyak bicara namun setiap Gerakan menjadi inspirasi dan kata-katanya Adalah doa, itulah yang membuat siapa saja nyaman Ketika bersamanya dan dikenang Ketika tidak lagi Bersama.

Mas tarmizi sebenarnya dulu pernah satu kampung dengan saya, pernah tinggal di satu kecamatan namun beda desa, untuk usia saya jauh lebih muda ketimbang mas tarmizi, apalagi tentang sanat keilmuan tentu beliau lebih ahli, meski beliau usianya jauh lebih tua dari saya tapi jika dilihat dari raut wajah masih borosan saya, munkgin karena saya kebanyakan mikiri ruet nya kehidupan dan jarang menghirup angin segar maklum saya masih tinggal dipulau yang jauh dari daratan, sambil menunggu ojekan kami sempatkan waktu untuk duduk sejenak di kursi berwarna senja itu saling menanyakan kabar masing-masing keluarga, yang kebetulan juga istri dari mas Tarmizi pernah satu kelas dulu waktu di SMA/MA, senyumnya tipis namun hangat. Dari dulu sampai sekarang senyumanya tidak berubah, Ia dikenal sebagai pencatat zaman, seorang yang meyakini bahwa ilmu harus lahir dari kerendahan hati. Baginya, pengetahuan bukan alat untuk meninggi, melainkan jembatan untuk mendekat antara manusia dengan kebenaran, antara logika dan nurani, saya ingat betul pesan beliau “Ilmu yang tidak membuat kita lebih lembut, telah gagal mendidik kita.”

Tidak sampai lima belas menit saya mendengar petuah dan nasihat beliau, waktu yang singkat itu telah membawa saya ke Samudra pengetahan. Setiap pembicaraan syarat dengan ilmu, tersusun rapi dan penuh wibawa, disisi lain saya hanya bisa mendengar petuah nya, dengan sedikit Tangan menggenggam catatan kecil yang saya petik dari setiap kata-katanya, seolah setiap detik adalah kesempatan belajar yang tak akan saya lewatkan, betemu dengan mas Tarmizi sudah seperti bertemu dengan kakak kandung, mungkin zaman akan berubah. Teori bisa saja runtuh, buku bisa juga usang, gelar bisa dilupakan. Namun nilai pertemuan yang kami tanamkan hari ini merupakan kejujuran dalam berpikir, bahwa kesempatan ini tidak sering saya dapatkan. Dan kami pun melanjutkan waktu dengan menuju ke gedung hotel Grand Suka untuk melaksanakan prosesi pengukuhan sebgai Guru Profesional.

Pertemuan singkat itu kemudian menjelma menjadi ruang refleksi yang panjang. saya mulai menyadari bahwa perjalanan menjadi guru profesional bukanlah sekadar proses administratif atau seremoni pengukuhan, melainkan sebuah tanggung jawab epistemic tanggung jawab atas cara berpikir, cara bersikap, dan cara memaknai pengetahuan itu sendiri.

Dari tadi saya perhatikan Mas Tarmizi duduk dengan sikap yang sama tenangnya. Ia tidak sedang mengajar, namun kehadirannya telah menjadi pelajaran. Dari cara ia berbicara hingga cara ia merespons tanggapan dari rekan-rekan sebelah nya, saya menangkap satu pesan penting, bahwa intelektualitas sejati tidak selalu hadir dalam bentuk argumentasi keras, melainkan dalam kemampuan merawat makna dan menjaga kejernihan akal. Ia sempat berkata pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri, namun cukup jelas untuk saya tangkap, “Menjadi orang berilmu itu bukan tentang seberapa banyak yang kita ketahui, tetapi sejauh mana ilmu itu mengubah cara kita memandang manusia dan kehidupan.”

Kalimat itu membuat saya terdiam,  saya teringat perjalanan melintasi Sungai Siak, arusnya deras namun tetap setia mengalir ke muara. Barangkali begitulah ilmu seharusnya, kuat dalam prinsip, namun lentur dalam sikap, dalam dengan isi, tetapi menenangkan di permukaan. Sebagai guru yang baru dikukuhkan, saya mulai memahami bahwa tugas utama pendidik bukan sekadar mentransfer pengetahuan, melainkan membentuk cara berpikir kritis, etis, dan beradab. Inovasi dan kecerdasan masa depan yang sering kita gaungkan tidak akan bermakna tanpa fondasi nilai. Di titik inilah saya melihat relevansi nasihat mas Tarmizi, bahwa ilmu harus menjadi jembatan antara logika dan nurani, bukan tembok yang menjauhkan manusia dari kemanusiaannya.

Waktu terus berjalan. Setiap rangkaian telah kami lewati, kegiatan ditutup dengan Doa yang di munajatkan oleh mas Tarmizi, Kami berdiri, saling berjabat tangan, tanpa janji akan bertemu kembali. Namun saya tahu, pertemuan itu tidak selesai di ruang tersebut. Ia akan berlanjut dalam cara saya mengajar, cara saya belajar, dan cara saya memaknai profesi ini. Saya pun  melangkah pergi dengan satu kesadaran baru bahwa puncak perjalanan intelektual bukanlah gelar atau pengakuan, melainkan kemampuan menjaga kejujuran berpikir dan kerendahan hati dalam berkarya. Dan hari itu, saya belajar bahwa satu pertemuan yang tulus bisa menjadi kurikulum kehidupan yang tak tertulis, namun abadi dalam ingatan, Maka di ruang itu, sejarah kecil sedang ditulis. Bukan dengan tinta emas, melainkan dengan kesungguhan hati. Sebab ilmuwan sejati bukanlah ia yang paling banyak diketahui orang, melainkan ia yang paling jujur pada ilmunya, dan paling bertanggung jawab pada dampaknya bagi manusia.


Share:

Di balik kacamata Rose-Tint

Di sebuah warung kecil, seorang perempuan duduk dengan tenang. Sore itu tidak membawa keistimewaan apa pun, hanya angin yang lewat perlahan, suara seng yang bergetar oleh sentuhan waktu, dan aroma jajanan dari etalase kecil di sampingnya. Namun, ada sesuatu yang berbeda darinya, ketenangan yang terasa seperti bisikan, bukan pameran, Ia menunduk sedikit, menyusun bentuk hati dengan jemari mungilnya. Sederhana. Tetapi dalam kesederhanaan itu, hidupnya akhirnya bisa kembali bernapas.

Perempuan itu mengenakan kacamata berwarna rose-tint, dengan lensa lembut yang memantulkan cahaya sore yang hangat. Banyak yang mengira ia memakainya sekadar untuk mempermanis wajah mungilnya. Padahal, di balik benda kecil itu tersimpan cerita yang jauh lebih dalam. Rose-tint itu memantulkan warna lembut di tengah dunia yang sering terasa sempit dan menghimpit. Bagi banyak orang, itu hanya aksesori. Tapi bagi dirinya, itu adalah cara baru untuk melihat hidup bukan dari sisi yang melukainya.

Dulu, sebelum kacamata itu menghiasi wajahnya, dunianya penuh retakan; pecahannya berlarian seperti halilintar. Ia memaksa dirinya menjadi kuat hingga lupa bahwa bahkan besi pun bisa lelah. Ia menutup luka-luka kecil dengan tawa palsu, menambal kecewa dengan kata “tak apa” yang tak pernah benar-benar ia yakini.

Namun perlahan, ia belajar satu hal yang tak pernah diajarkan di sekolah mana pun:
“hidup tidak meminta kita kuat setiap hari, hidup hanya meminta kita jujur pada diri sendiri”.

Dan kejujuran itu bagi banyak orang adalah kesakitan yang paling pahit, Sebab jujur berarti mengakui bahwa ia pernah rapuh, Bahwa ia pernah iri pada kehidupan orang lain, Bahwa ia pernah merasa tidak cukup, tidak sesempurna seperti yang ia lihat disetiap hari. Bahwa ia bahagia, tetapi tidak sebahagia yang ia pamerkan di hadapan dunia, Ia adalah perempuan yang dulu melihat dunia dalam warna kelabu. Kekurangan, kegagalan, kehilangan semua menempel pada langkahnya seperti bayangan panjang. Ia pernah meyakini bahwa hidup tak akan memberinya warna lagi, dan bahkan ia tak punya alasan untuk tersenyum.

Hingga suatu hari, seorang teman lama menatapnya dan berkata pelan,
“Kamu hanya perlu melihat dunia dengan warna yang kamu pilih sendiri.” Ia tidak mengerti saat itu. Tapi kalimat itu benar-benar menempel di hatinya dan tak pernah pergi.

Hari-hari berikutnya, ia mulai belajar melihat hidup dari sudut yang lebih lembut. Tidak terburu-buru. Tidak memaksa diri untuk bahagia. Ia hanya ingin menerima, menerima bahwa hidup bisa kejam, tetapi ia pun bisa kuat, menerima bahwa luka itu nyata, namun ia berhak sembuh, menerima bahwa ia layak mendapatkan hari yang lebih cerah.

Ketika menggenakan kacamata Rose-Tin itu, dunia tetap sama, rumah-rumah sederhana, langit yang kadang cerah, kadang mendung, awan yang kadang mengepul, kadang hilang sama sekali. Kacamata itu tidak mengubah dunia. Namun ia mengubah caranya memandang dunia, Lensa itu menjadi pengingat bahwa hidup bisa lebih lembut bila ia memberi ruang untuk harapan, Kini, di meja warung kecil itu, ia duduk dengan pose imut yang jenaka, kedua tangan menyusun bentuk hati di samping pipinya. Senyumnya bukan lagi senyum yang dipaksakan kemaren. Itu adalah senyum seseorang yang telah berdamai dengan masa lalu, yang perlahan memanggil kembali dirinya yang dulu hilang.

Di balik rose-tint itu juga, ia belajar melihat dunia dengan warna yang lebih hangat dan dengan cara yang sama, ia belajar melihat dirinya sendiri, sehingga Pada sore itu, ketika angin mengibaskan ujung hijabnya, ia mengerti satu hal yang sederhana tetapi besar memberikan makna “. Bukan untuk orang lain, Bukan untuk memikat dunia, Melainkan untuk dirinya sendiri.

Sebab hanya diri kita yang benar-benar mengerti apa yang kita butuhkan, apa yang menyakitkan, dan apa yang membuat kita bertahan. Orang lain mungkin melihat kekurangan kita, mungkin menilai penampilannya terlalu berani, terlalu berlebihan dalam penampilan, terlalu narsis dalam bergaya. Tapi apa pun kata mereka, setiap sisi memiliki makna yang berbeda, meski terlihat sama, karena ada kalanya Tidak semua orang melihat dari sisi yang sama. Apa yang dianggap buruk oleh seseorang, bisa menjadi kebaikan bagi orang lain, Karena sungguh, tidak ada yang sempurna di dunia ini, semuanya fana dan sementara.

Kacamata rose-tint itu bukan jimat atau pelarian. Bukan pula pemanis untuk menarik pandangan orang. Itu hanyalah pengingat bahwa perspektif dapat mengubah segalanya. Bahwa mata yang sama bisa melihat dua dunia berbeda, tergantung bagaimana hati memilih untuk memahami, atau Mungkin orang lain hanya melihat seorang perempuan yang berpose lucu, Tapi sesungguhnya, di balik pose dan ketenangannya, ia sedang membangun kembali dirinya yang dulu pernah runtuh. Ia sedang mengobati luka yang dulu digoreskan hidup. Ia sedang menyulam kembali waktu yang sempat ia abaikan.

Dan ketika senja akhirnya merayap turun, meninggalkan garis cahaya terakhir di pinggir langit, ia merasakan sesuatu yang selama ini tak pernah ia temukan, keberanian untuk melanjutkan hidup meski hatinya masih menyimpan bekas luka, Ia menutup matanya sejenak, membiarkan angin menyentuh pipinya, seakan menghapus setiap jejak pedih yang pernah ia sembunyikan. Ia tahu, dunia tak tiba-tiba berubah menjadi lebih baik hanya karena sepasang kacamata. Tetapi dirinya yang dulu terjatuh, dulu terkubur dalam kelabu telah mulai bangkit dengan cara yang pelan namun pasti.

Kacamata rose-tint itu hanyalah benda kecil, namun di baliknya tersembunyi keputusan terbesar yang pernah ia buat, keputusan untuk hidup meski ia pernah ingin berhenti, keputusan untuk tersenyum meski hatinya pernah remuk, keputusan untuk percaya bahwa ada hari esok, meski malam-malamnya dulu terasa tak berujung, Ia membuka matanya kembali, menatap dunia yang sama, tetapi dengan jiwa yang berbeda.
Kini ia tahu… luka tidak selalu hilang. Tapi setiap luka yang bertahan, kelak akan menjadi saksi bahwa ia pernah melawan, pernah bertahan, dan pernah memilih hidup, Dan saat ia berdiri dari kursi warung itu, ia tidak hanya bangkit dari duduknya tapi ia bangkit dari masa lalunya, Langkah kecilnya menggemakan satu kebenaran yang tidak dapat dibantah siapa pun, Akhir ia tahu di balik rose-tint itu, ia akhirnya melihat bahwa dirinya, layak untuk bahagia.

 

 


Share:

Melangkah Lebih Dahulu

Senja itu turun dengan lebih muram dari biasanya. Di beranda rumah kecil yang pernah menjadi saksi tawa dan cerita antara Hani dan Hasan, Hani yang  duduk sambil memeluk kedua lututnya. Diteras rumah yang telah disewa nya sejak 3 tahun yang lalu, Angin membawa aroma kerinduan, seakan Hasan sedang memanggil nama Hani. 

Perlahan tapi pasti suara itu seperti dekat sekali, malam pun telah tiba dan menghadirkan hembusan angin disertai suara deringan ponsel, memanggil Hani untuk segera menghampirinya, kabar itu semakin membuat Hani tak tahan menahan bendungan air mata,  kedua kakinya tak lagi kuat untuk menyangga tubuh nya yang sejak tadi sore telah gemetar, malam terasa semakin lama, fajar pun tak kunjung tiba, rasa ngantuk telah sirna yang ada hanya harap kepada yang maha kuasa semoga Kau Baik-baik saja disana (Hasan) rintitihan jiwa Hani terus meronta, untuk Hasan yang jauh di kampung halaman.

Pagi itu hati Hani mulai tenang, setelah hamparan sajadah dibentangkan, untaian doa terus bersambung tanpa putus, angin pun Kembali berhembus, dan awan pun mulai menghitam dan mengepul menjadi satu, membuat ketenangan tadi sirna seketika, rintikan hujan mulai ramai diatas atap genteng rumah Hani, membuat Hani tak tentu arah, tiba-tiba suara ponsel itu pun Kembali berbunyi dan langsung Hani menyambutnya, tiba-tiba kabar dari kampung halamanya telah dipenuhi suara isak tangis, membuat Hani semakin tidak karuan, rasa yang bercampur tidak bisa di ungkapkan lagi, hanya airmata dan sesak yang bisa Hani nyatakan, nafas nya seakan berhenti menghembus jantung nya tak kuat lagi untuk berdetak, suara halilintarpun seakan menyambar dirinya, tubuh yang tadinya mulai kuat kini lunglai tak berdaya dan seakan tak bertulang, hujan pun semakin deras mengguyur kota ini.

Sejak detik itu fikiranya telah berjalan menembus ruang dan waktu, waktu terasa berjalan lebih cepat. Gelas kopi yang biasanya ia siapkan setiap pagi kini tak lagi bisa ia lakukan dan hanya tatapan kosong belaka. Tidak ada lagi suara langkah kaki yang menghampiri, tidak ada lagi percakapan sederhana yang dulu menghangatkan hari-harinya kala Hani Lelah setelah seharian mencerdaskan anak bangsa di pulau seberang. Setiap sudut rumah memantulkan kenangan, tawa yang masih menggantung di dinding, doa-doa yang pernah mereka panjatkan bersama, dan janji untuk saling menjaga hingga rambut memutih, dan ahir hanyat telah menjadi bisu tanpa suara, takdir telah berkata lebih cepat. Hasan meninggalkan Hani untuk selama-lamanya.

ia menatap langit yang dipenuhi air hujan yang jatuh membuat Hani membayangkan Bahwa Hasan sedang tersenyum, seolah berkata bahwa ia baik-baik saja di sana. Meski hatinya remuk, ia mencoba percaya bahwa cinta tidak pernah benar-benar mati,  ia hanya berubah tempat dan bentuk, Air matanya sudah tak terhitung lagi jumlahnya, tetapi setiap yang jatuh membawa sedikit kelegaan. Ia sadar bahwa merindukan seseorang yang telah tiada adalah cara hati mengingat bahwa ia pernah memiliki sesuatu yang sangat berharga, Kehilangan begitu menyakitkan, namun Hani tahu bahwa cinta yang ditinggalkan Hasan akan menjadi kekuatan untuk tetap melangkah.

Pada akhirnya, ia bangkit perlahan. Menghirup napas panjang. Mengumpulkan serpihan dirinya yang tercerai-berai. Hidup harus terus berjalan bukan karena ia tak lagi sedih, tetapi karena ia ingin menjaga warisan cinta itu tetap hidup dalam dirinya dan ada jarak yang harus ia tempuh untuk menjemput sang buah hati dan melihat wajah Hasan untuk terakhir kalinya, Di antara rasa kehilangan yang tak kunjung hilang, ia belajar satu hal: bahwa mencintai seseorang hingga kehilangan terasa menyiksa adalah anugerah pertanda bahwa kisah mereka begitu dalam, begitu bermakna, dan tak akan pernah benar-benar hilang dari hatinya, Hujan pun pelan-pelan talah menarik dirinya, seperti menangis bersama hati Hani yang sedang patah. Doa terus dipanjatkan, dan Hanipun berkemas untuk meninggalkan kota itu tanpa berpamitan,

Hanya harpan semoga dirinya kuat untuk terus melangkah dan melanjutkan janji untuk masa depan buah hatinya yang kini masih membutuhkan dirinya, ia tepis kembali rasa sedih dan perih itu, demi sibuah hati yang telah menantinya, Hani belajara untuk terus kuat, dan melangkahkan kakinya menuju dermaga untuk Kembali kepada sebuah nama yang aka nada dalam setiap doa.  

Sahabtku…..yang pergi biarlah berlalu, sudah menjadi janji yang harus ditepati, Kematian bukanlah perpisahan, tapi jalan pulang menuju keabadian. Yang pergi telah tenang, yang tertinggal belajar untuk selalu merelakan, Ada yang pergi tanpa sempat berpamitan, namun meninggalkan kenangan yang tak akan pernah terlupakan tidak ada orang yang pernah benar-benar siap untuk kehilangan. Tapi rasa kehilangan itu akan mengajarkan kita untuk menerima, bahwa yang pergi kini sedang beristirahat di tempat terbaik, yang pergi tidak benar-benar pergi. Ia hanya berjalan lebih dulu, menunggu di ujung Cahaya…..

 




Share:

Sepucuk Kata Maaf Yang Tak Terucap

Langit sore itu tampak murung, seperti ikut menyesali sesuatu yang telah lama terjadi. Awan bergelayut rendah, mengaburkan sinar matahari yang biasanya menghangatkan taman kota. Di antara bangku-bangku kayu yang mulai lapuk, duduklah seorang perempuan paruh baya bernama Rina. Tangannya gemetar saat membuka sebuah amplop yang warnanya sudah memudar, seolah surat itu menunggu lama untuk dibaca.

Surat itu datang pagi tadi—tanpa nama pengirim, hanya tertulis alamat rumah lamanya yang sudah ditinggalkannya dua dekade lalu. Ia hampir saja membuangnya, mengira itu sekadar kenangan yang tersesat. Tapi begitu melihat tulisan tangan di amplop itu, jantungnya berdegup lebih cepat. Tulisan itu begitu familiar. Ya …Terlalu familiar. Milik Lina, sahabat masa kecil yang dulu... hilang begitu saja, Seketika, kenangan menyerbu seperti hujan yang tak bisa ditahan.

Dulu, Rina dan Lina adalah sahabat tak terpisahkan. Mereka tumbuh bersama di gang kecil yang penuh anak-anak bermain petak umpet dan layang-layang. Mereka tertawa bersama, menangis bersama, berbagi mimpi, dan saling menjaga. Tak ada yang menyangka bahwa persahabatan itu akan hancur oleh satu hal sederhana: cinta pertama.

Semuanya berubah ketika seorang anak baru, Bayu, pindah ke sekolah mereka. Bayu cerdas, ramah, dan menyukai seni persis seperti Rina dan Lina. Tanpa disadari, mereka berdua jatuh hati pada orang yang sama. Tapi tak seperti Rina yang menyimpannya dalam diam, Lina memberanikan diri mendekat. Dan Bayu membalas.

Rina patah hati, tapi bukan itu yang membuatnya tenggelam dalam kesalahan,  Yang menghancurkannya adalah rasa cemburu yang perlahan berubah jadi racun. Dalam amarah yang tak terkontrol, Rina menyebar gosip ke teman-teman sekolah bahwa Lina berbuat tak senonoh dengan Bayu. Sekolah heboh. Lina dipanggil Guru BK, dihina teman-teman, dan bahkan diusir dari kegiatan ekstrakurikuler.

Seminggu kemudian, Lina menghilang. Keluarganya pindah tanpa jejak. Rina hanya bisa menatap kamar kosong dari luar pagar rumah yang kini dikunci rapat,  Sejak saat itu, ia tak pernah lagi mendengar kabar Lina, Dan penyesalan menjadi tamu yang tak pernah pergi dari hidupnya.

Kini, dua puluh lima tahun kemudian, surat dari masa lalu tiba begitu saja, Di dalamnya, tertulis dengan tinta biru yang mulai pudar:

Rina,….Aku tahu, mungkin kamu tak pernah mengira akan mendapat surat dariku,  Aku juga tidak tahu kenapa butuh waktu selama ini untuk menulis ini. Tapi hari ini, saat melihat seorang gadis kecil menangis karena sahabatnya memarahinya, aku teringat kamu.

Dulu aku marah, Sakit hati, Tapi seiring waktu berjalan, aku sadar bahwa kita semua pernah melakukan kesalahan, terutama saat usia kita masih mencari-cari arah, Dan sekarang, aku ingin kau tahu satu hal penting: aku memaafkanmu.

Bukan karena aku lupa, tapi karena aku ingin kita sama-sama bebas dari masa lalu,  Hidup terlalu singkat untuk membawa dendam, Maaf karena aku juga pergi tanpa pamit, Aku terlalu takut untuk menghadapi semuanya saat itu. Tapi aku tak pernah melupakanmu, sahabatku.

= Lina=

Rina terisak, dan nyesak seakan berat untuk bernafas,  Air mata jatuh membasahi surat yang telah menua bersama waktu, Ia membaca ulang baris demi baris, seolah ingin memastikan bahwa pengampunan itu benar-benar nyata, Selama bertahun-tahun, ia membawa beban rasa bersalah yang membatu di dada,  Ia tak pernah punya keberanian untuk mencari Lina, bahkan ketika ia sudah dewasa,  Tapi sekarang, lewat sepucuk surat sederhana, sebuah pintu terbuka.

Dari tasnya, Rina mengeluarkan selembar kertas kosong dan mulai menulis,  Tangannya masih gemetar, seakan tidak ada tempat untuk menggoreskan tinta, tapi ada kelegaan dalam setiap kata yang ia tulais, diiringi dengan airmata terus menderas dan helaan nafas sesekali menyebut nama sahabatnya itu dalam lirih. :

Lina,……Terima kasih. Untuk maafmu, Untuk keberanianmu, Dan untuk mengingat aku.

Aku tidak pantas mendapatkannya, tapi aku akan menyimpannya dalam hatiku,  Kalau suatu hari kita bisa bertemu, aku ingin memelukmu dan bilang langsung: Aku menyesal,  Aku minta maaf,  Dan aku rindu, Sahabatmu yang penuh penyesalan’

=Rina=

Ia melipat kertas itu pelan-pelan, menatap langit yang kini mulai cerah,  Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Rina merasa ringan, Ia tak tahu apakah surat balasannya akan pernah sampai. Tapi ia tahu satu hal: hari ini, luka lama mulai sembuh, karena satu kata sederhana, maaf.

Surat itu masih tergenggam erat di tangan Rina, walau ujung-ujungnya mulai lembap oleh embun sore yang menetes dari dedaunan di atasnya. Matanya tak beralih dari baris terakhir yang tertulis oleh sahabat nya itu (lina), Ia membacanya berkali-kali, seolah ingin memastikan bahwa itu nyata, Bahwa Lina benar-benar mengirim surat itu, Bahwa pengampunan itu bukan hanya ilusi yang dibuat oleh ilusi dan anganya yang sudah lelah menanggung sesal.

Perlahan, air mata yang selama ini tertahan jatuh juga, mengalir di pipi, Tapi ini bukan tangisan getir, Ada kelegaan yang menyelinap di balik isak pelan dan lirih itu, beban bertahun-tahun itu akhirnya mendapat tempat untuk diletakkan, Dua puluh lima tahun... bukan waktu yang lama untuk menyimpan sebuah luka, tapi ternyata masih mungkin untuk menyembuhkannya.

Rina mengangkat wajahnya, menatap langit yang tadinya murung, Sekilas.., seberkas cahaya matahari berhasil menembus celah awan, menyinari pucuk pepohonan dan menghiasi wajahnya dengan hangat Ia tersenyum kecil, getir namun tulus.

Di balik surat itu, ada secarik kertas lain, lebih kecil, Ia nyaris melewatkannya, Dengan tangan gemetar, ia membukanya. Kali ini tulisannya lebih baru, tinta hitam, tegas namun lembut.

"Aku akan ada di taman kota ini, minggu depan,  Tepat di tempat biasa kita duduk dulu, di bawah pohon besar dekat kolam. Jika kamu ingin datang, aku akan senang melihatmu Kembali,  Tapi jika tidak, aku akan mengerti, Dengan cinta,

=Lina=."

Rina menatap bangku yang ia duduki sekarang, Ia menoleh ke arah kolam kecil yang tak jauh dari sana. Pohon besar itu masih ada, kokoh dab setia tepat pada posisinya, meski daunnya kini tidak selebat dulu. Masih ada bekas ukiran di batangnya, coretan nama yang pernah mereka buat saat masih berseragam putih abu-abu, Ia menutup surat itu dengan hati-hati, lalu memeluknya ke dada. Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya sore itu, bukan sekadar kelegaan, tapi semacam harapan yang baru tumbuh, pelan-pelan, seperti tunas pertama setelah musim kemarau Panjang.

Minggu depan. Tempat yang sama, waktu yang dinantikan telah pun tiba,  Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Rina ingin memperbaiki benang kusut yang pernah ada,

…….Bersambung………


Share:

Potret nya Kang Rofif Menjadi Waktu Berhenti Untuk Sebuah Kenangan

motivasi dan informasi
SAAT WAKTU BERHENTI UNTUK SEBUAH KENANGAN. 
Sebenarnya Hari itu tak ada yang istimewa, kecuali tawa yang tak henti mengalir dari bibir kami. Di antara hiruk pikuk perjalanan dan rutinitas yang melelahkan, bisa dibayangkan perjalanan menempuh waktu kurang lebih 6 jam kami lalui, mulai dari penyebrangan jam 4 subuh hingga jam 1 siang, dan belum tau kapan perjuangan ini akan berahir dan kami Kembali kepangkuan ibu tercinta, sejenak kami memilih berhenti, membiarkan waktu diam dan merangkai sebuah kenangan.
Sebuah ruangan dengan dinding kayu hangat menjadi saksi setelah seharian kami berjuang berlaga dimedan perang tanpa senjata. Kami berdiri dan duduk berdekatan, menyatukan diri dalam satu kenangan sederhana. Tak ada kostum mewah, tak ada latar megah, hanya hati yang sama-sama penuh kebersamaan. Dalam keheningan kilat kamera yang dijeprekan oleh kang Subhan, seolah waktu berhenti dan merekam bukan hanya wajah kami, tapi juga cerita yang tak kasat mata, canda yang pernah dibagi, perjuangan yang pernah dilewati, dan doa yang diam-diam kami titipkan untuk masa depan.
Saya  tahu, suatu hari nanti, momen ini mungkin akan terhapus dari galeri Vivo milik Kang Rofif. Tetapi foto ini akan tetap berbicara, meski suara kami telah hilang oleh jarak dan waktu. Ia akan berkata bahwa pernah ada masa di mana kami saling menguatkan, saling melengkapi, dan saling menjadi rumah bagi satu sama lain, mbak izah, saya cukup mengenal nya meski tak lama, saya cukup hafal kebaikan dan keikhlasan dalam setiap Tindakan nya selalu ada dalam setiapa waktu dan sempat, yang tak mengenal ruang, sengaja mbak izah datang untuk menemui kakak nya (uswatun hasanah) yang membimbing pejuang kecil untuk meraih masa depan melalui Olimpiade Madrasah Indonesia di ibu kota bumi bertuah, mbak bella sudah dua kali mengikuti ajang seperti ini, walau ditahun lalu belum berhasil untuk melaju ketingkat Nasional, tak menyurutkan semangatnya untuk terus berjuang walau harus bersaing dengan adik-adik tinkat nya mulai dari Madrasah, kabupaten dan kini sampai ke Tingkat Provinsi, bukan perjalanan yang mudah untuk sampai ketitik ini.
Mbak Amel walau sedari awal telah mengalami penurunan Kesehatan, demam melanda, asam lambung kambuh berulang-ulang, hampir saja berputus asa, tapi semangat juang nya melebihi dari rasa sakit dan hambatan yang menghadang, disaat teman-teman nya menikmati Ice Cream di Mixiu, mbak Amel hanya bisa bertahan dan duduk diluar ruang, ditemani oleh istri saya (Karmila) dan beberpa potong donat dari toko yang dibelikan oleh kaka nya, setelah waktu terus berjalan tiba lah waktu kompetisi pada Tingkat provinsi, mbak Amel tetap semangat dan kuat, perjuangan ini tak kalah dari mbak Azki, yang juga mengalami sakit satu hari sebelum keberangkat, demam panas, sakit perut, dan deare, tidak bisa diajak berdiskusi, terus saja menguras tenaga mbak Azki, dan akhirnya memutuskan untuk tidak ikut rombongan dalam kebereangkatan menuju kompetisi di Tingkat Provinsi, tapi waktu sangat sangat memahami keadaan mabak Azki, Ketika kami sampai dipertengahan perjalanan, mbak Azki pun menyusul didampingi oleh Ibuk Uswatun Hasnah, Dan saat waktupun terus berjalan tanpa kompromi, biarlah kenangan ini menjadi jangkar, yang membuat kami percaya bahwa perjuangan tidak akan ada yang sia-sia. 
persahabatan tak pernah benar-benar hilang, ia hanya berdiam di hati, menunggu dipanggil kembali oleh rindu, tidak ada rencana untuk kami bertemu tapi waktu yang telah menentukan, tiada janji juga yang terucap tapi kenyataan telah menetapkan untuk kami saling menyapa, walau saya dan mereka berbeda jau usianya, tapi saya bangga pernah menajadi dan diakui sebagai Guru nya Ketika di kursi sekolah dan dimasa putih abu-abu, dari mulai Ibuk hasanah, yang sekarang menjadi Guru di madrasah ku, mbak Izah, yang sekarang menjadi team akademisi di salah satu Universitas di bumi bertuah ini, mbak sholeha yang baru saja menginjak di semester 3, juga sudah aktif diberbagai kegiatan mahasiswa ditemani oleh mabk Syafika, juga ditahun yang lalu telah merahi prestasi unggul di bindang Sain Madrasah, kini jejak nya di lanjutkan oleh Mbak Azki,  yang merupakan adik kandungnya, cerita dan kenangan itu benar-benar memberikan cerita tersendiri dalam perjalanan kompetisi ini.
Saya merasa senang bisa menjadi Guru sekaligus sahabat bagi mereka, yang kelak saya yakin para pemudi-pemudi sholehah ini akan mengisi kemerdekaan bangsa dengan inovasi-inovasi baru, dan mereka bisa membuktikan bahwa Wanita tak selamai nya didapur. Hmm, mereka bisa berkumpul tanpa ada rencana, begitulah terkadang konsep kehidupan Sesutu yang tidak direncakaan tapi sang maha pencipta telah menentukan dan tidak ada yang bisa menentangnya, saya juga yakin itu tidak terlepas dari rasa yang mengikat diantara mereka sama-sama lahir dari pulau terluar jauh diperbatasan negeri tetangga, dan rasa rindu antara kakak adik, sahabat dalam satu almamater, juga antara murid dengan guru.
Pada akhirnya, setiap kebersamaan yang terjalin selalu meninggalkan jejak yang tidak ternilai. Waktu memang tidak akan terulang dan pertemuan tidak selalu dapat ditentukan, namun kenangan yang diukir bersama akan senantiasa menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup. Dari sebuah bingkai sederhana, dari anak-anak desa, disini kita bisa belajar bahwa arti persahabatan bukan hanya sekadar hadir di satu momen, melainkan bagaimana kehadiran itu memberi makna dan menguatkan satu sama lain. Semoga kisah dan cerita ini menjadi pengingat, bahwa di balik setiap potret yang terabadikan, tersimpan nilai kebersamaan yang patut dijaga dan dihargai selamanya.
Belajarlah wahai anak-anak ku, tetap berprestasi sesuai bidang mu masing-masing, jangan gengsi dan tetaplah rendah hati, saling menjaga dalam perantauan, dan pulanglah membawa keberhasilan yang membanggakan kedua orang tua.
Share:

Hidup Adalah Proses Bukan Hanya Sekedar Hasil.

motivasi dan informasi
Hujan turun cukup deras di sore itu, menyapu bersih debu debu dihalaman madrasah yang hampir sepi, Dira memeluk Erat buku buku catatan dari sang pembimbing. Ia baru saja selesai mengikuti seleksi olimpiade matematika di tingkat kabupaten, otaknya masih penuh dengan angka dan rumus yang cukup untuk menghela hembusan nafas..hhhhhh...belum lagi besok pagi-pagi sebelum subuh harus bergegas untuk melanjutkan ditingkat provinsi, tapi saya yakin Dera tipe orang tidak mudah menyerah.
Benar saja sebelum Subuh Dera sudah bersiap-siap untuk melanjutkan perjuangan di laga kompetisi Olimpiade dijenjang yang lebih tinggi, perjalanan kami menaiki kempang (Perahu) dari pelabuhan Gogok Darussalam menuju sungai rawa, derasnya arus tak lagi kami hiraukan untuk sampai ke Negeri bertuah, perjalanan yang lumayan melelahkan, Tiga jam perjalan menyusuri sungai dan selat, tak menyurutkan semangat nya untuk terus melangkah, kami pun tiba di dermaga sungai rawa tepat pada pukul 09,15 Wib, terlihat dua bus sudah menunggu dan siap untuk mengantaka kami melanjutkan perjalanan yang ditempuh selama Tiga jam lagi.
Tak hanya semangat seorang Dera yang menyala dalam Bus itu, tapi saya melihat 30 lebih peserta kontingen lainnya sudah siaga untuk menyabet prestasi di Medan laga, Tak memperdulikan apapun hasilnya nanti, karena kami memang ditempa untuk tidak melihat hasil tapi proses yang harus diperjuangkan, perjalanan 3 jam itu telah mengantarkan kami sampai pada lokasi yang di nantikan, lelah dan lesu wajar saja terlihat di wajah mereka, tapi tekat tetap bulat untuk tampil yang terbaik. Kami memang dari latar belakang yang berbeda, namun memiliki harapan dan tujuan yang sama, ibarat sepasang kaki memang tak pernah melangkah bersama, tapi tujuan tetap sama.
Kompetisi dimulai setelah sehari kami tiba, hari pertama Dera terlihat begitu semangat untuk mengikuti perlombaan, tak perduli pengalaman pertama sering membuat ragu dan gelisah, tapi Dera lebih percaya dengan kemampuan dan keyakinan sebuah proses pasti akan menuai hasil, apaun itu kenyataanya, ia buang jauh-jauh rasa ragu itu agar diberikan kemudahan dalam melangkah,  satu demi satu setiap soal  misteri di balik layar kaca diatas meja itu ia selesaikan dengan  yakin, bukan perkara benar dan salah dalam memilih jawaban dari setiap soal tapi keyakinan dan kepercayaan yang membuat Dera lebih tenang.
Dua jam telah ia lalui tak sedikitpun kerutan di jidanya terlihat, saya semakin yakin bahwa Dera memiliki kemampuan diatas rata - rata, keluar dari ruang ber AC ( Air Condition) itu,  ia pun mensugukan senyuman ceria dan bahagia didepan pembimbing nya, yang sedari awal sudah terlihat cemas melebihi Dera, saya pun menghapiri nya dan memberikan sapaan singkat kepada nya, Deraaa….?, ia pun menjawab hanya dengan kode ”Oke…! dengan ibu jarinya menyentuh ujung jari telunjuk dan membuat likaran, kode itu sudah cukup meyakinkan saya bahwa Dera baik-baik saja. 
Pembimbingnya pun lega  saat melihat Dera keluar dangan tenang dari ruangan itu, tak lama kemudian saya melihat ada peserta dari kontingen lain, keluar secara bergantian dari ruangan. Aneka ragam ekpresi yang dipragakan, ada yang menggaruk kepala, berkipas menggukan potongan kertas padahal beru saja keluar dari ruangan berAc, ada juga yang tertawa bergembira seakan sedang mendapatkan hadiah, tak sedikit juga yang keluar dengan wajah polos dan penuh penyesalan, seakan dunia telah berakhir, padahal hasil belum menentukan siapa pemenangnya, saya melihat banyak sekali Pelajaran yang bisa saya ambil dari paragaan mereka, ternyata hidup ini singkat dan hanya sebatas kemungkinan, tidak ada kepastian di dunia ini. 
Ada Dera yang terlihat tenang dalam menghadapi probelmatika kehidupan yang tidak sedikit, tapi meski demikan ia bisa memposisikan diri sebagai seorang hamba yang sungguhnya, bukan hasil yang menjadi tujuan (hakikat) tapi melainkan proses yang menjadi pertimbangan dalam sebuah penentu keberhasilan, (syariat), ada mereka yang menampilkan wajah gembira riang seakan hidup ini tiada beban, ada juga seseorang yang menjalani kehidupan ini penuh dengan penderitaan dan bingung setiap kali bertemu dengan sahabat atau rekan kerja, isi nya hanya mengeluh dan kesah, tak jarang juga kita melihat seseorang yang hanya pusing dan bingun dalam menjalani kehidupan, tapi tidak mau mencari Solusi, ada juga yang terlihat smart dan energik dalam menyikapi setiap persoalan, tapi pada hakikatnya juga dia tidak mengeri tentang apa yang ia lakukan, jangan-jangan saya juga termasuk dalam golongan diantara mereka.
Perjalanan Dera di ajang olimpiade ini bukan hanya tentang angka, rumus, dan soal-soal yang harus diselesaikan. Tapi Lebih dari itu, ia adalah cermin tentang bagaimana manusia seharusnya menjalani kehidupan: berani melangkah meski penuh aral, tetap tenang meski penuh tekanan, dan selalu yakin bahwa proses jauh lebih berharga daripada sekadar hasil. Dari setiap ekspresi yang keluar dari ruangan itu, kita belajar bahwa hidup memang hanya sebatas kemungkinan, tak ada yang pasti selain usaha dan doa. Dera telah mengajarkan kepada saya dan kita, bahwa kemenangan sejati bukanlah teletak pada piala atau medali, melainkan keteguhan hati untuk terus berjalan tanpa menyerah. Dan di sanalah, nilai sebuah perjalanan akan selalu abadi.
Sehingga ada akhirnya, kita menyadari bahwa hidup ini bukanlah tentang seberapa banyak kemenangan yang kita raih, tetapi seberapa tulus kita menjalani setiap prosesnya. Dera telah menunjukkan, bahwa ketenangan lahir dari keyakinan, dan keyakinan tumbuh dari kesungguhan hati dalam berusaha. Hasil bisa datang dan pergi, piala bisa usang dimakan waktu, tetapi nilai perjuangan akan selalu hidup dalam jiwa. Dari Dera kita belajar, bahwa manusia sejati bukan ia yang selalu menang, melainkan ia yang mampu berdiri teguh dan Tangguh dalam setiap perjalanan, dan menjadikan setiap langkahnya sebagai jalan menuju kedewasaan. =NewOMI=
Share:

Budaya Disiplin Adalah Esensi Kehidupan

Suatu hari ada segerombolan pemuda sedang melakukan kegiatan pendisiplinan diri, mulai dari cara duduk, berdiri dan duduk kembali, termasuk ketika akan menyentuh makanan ringan yang telah disiapakan oleh panitia pelaksana, Mbak Lasiem terlihat sedari awal mondar mandir menyusun dan merapikan barisan  pasukan untuk duduk secara teratur, mereka tidak berani menyentuh makanan sebelum mendapat perintah dari pimpinan pasukan, dari peristiwa itu saya banyak mengambil pelajaran, bahwa hidup ini harus taat pada aturan yang telah ditentukan.

Disiplin, kata ini seringkali kita dengar kalimat yang terasa sederhana, tetapi justru di situlah letak kesulitannya. Banyak orang tahu pentingnya bangun pagi, menepati janji, atau mengatur waktu dengan baik. Namun hanya sedikit orang yang benar-benar konsisten melakukannya, Seorang pekerja yang terbiasa datang tepat waktu, bekerja dengan fokus, dan menyelesaikan tugas sesuai target, perlahan akan mendapatkan kepercayaan lebih dari atasannya. Seorang pedagang yang disiplin menjaga kualitas barang dan melayani pelanggan dengan tepat, akan melihat usahanya tumbuh dan dipercaya. Bahkan seorang ayah atau ibu yang disiplin dalam mendidik anak-anaknya, kelak akan menuai hasil berupa pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab, begitu juga hal nya dengan seorang pelajar yang disiplin dalam menajemen waktu ta’at pada aturan  sekolah dan guru, akan mendapatkan nilai yang lebih tinggi dari rekan-rekanya.

Disiplin bukanlah beban, melainkan investasi jangka panjang. Ia mengajarkan kita untuk menghargai waktu, menghormati janji, dan melatih diri menghadapi kesulitan. Orang yang sukses bukanlah mereka yang sekali dalam berusaha lalu berhasil dalam tujuan, melalainkan mereka yang berulang kali menjaga kebiasaan baik meski terasa berat, Ingatlah, keberhasilan besar bukan dibangun dalam sehari. Ia lahir dari disiplin kecil yang kita ulang setiap hari. Bangun lebih pagi, bekerja lebih teratur, menjaga lisan, menepati janji, hingga melawan rasa malas, semua itulah yang menjadi tangga menuju puncak.

Banyak orang yang merasa dirinya tidak sempat dan waktu tidak cukup, padahal ia belum mencoba sama sekali, bahkan sering menjadi budak atas kemalasan yang ia bangun sendiri, Maka jangan menunggu besok untuk memulai disiplin. Mulailah dari hari ini, dari hal-hal kecil. Karena keberhasilan sejati hanya bisa diraih oleh mereka yang sabar, tekun, dan setia menjaga disiplin diri,

Kita sering melihat di SPBU aktifitas pengisian bahan bakar minyak pada kendaraan juga tidak bisa dilakukan secara bersamaan dalam satu waktu, mau tidak mau mereka harus bergantian, budaya antri wajib diterapkan, pembagian sembako, air bersih sampai pada uang kesejahteraan rakyat juga dibagikan oleh petugas secara bergantian, tidak ada dilakukan scara bersamaan dalam satu waktu, itu mengingat begitu penting nya budaya antrian dalam setiap sektor kehidupan untuk mengatur sirklus kehidupan bisa berjalan dengan seimbang, coba perhatikan bagi seseorang yang pecandu rokok beratpun, ketika berpuasa seharian penuh dan waktu detik-detik berbuka perasaan riang bahagia menyelimuti segenap jiwa, iapun harus memilih antara merokok didahulukan atau makan terlebih dahulu, tentu seorang perokok pun tidak akan merasakan nikmatnya kenikmatan keduanya saat ketika dilakukan secara bersamaan dalam satu waktu.

Hidup ini adalah sisi yang bergantian, kita yang sekarang ini menduduki posisi sebagai seorang pemimipin juga menggantikan posisi orang sebelum kita, Begitulah roda kehidupan berputar. Tidak ada jabatan yang abadi, tidak ada kedudukan yang selamanya kita genggam. Hari ini kita memimpin, esok mungkin kita dipimpin, maka dari itu  yang terpenting bukanlah berapa lama kita berada di posisi itu, melainkan seberapa besar amanah yang kita tunaikan dengan baik. Pemimpin yang disiplin, adil, dan bijaksana akan dikenang bukan karena jabatannya, tetapi karena jejak kebaikan yang ia tinggalkan.

Seorang pemimpin sejati tidak mencari kehormatan untuk dirinya, tetapi memberikan manfaat bagi orang lain. Ia mengerti bahwa kepemimpinan bukan tentang kedudukan melainkan tentang pengabdian. Dan pada akhirnya, setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah, saya berterimakasih sekali kepada rekan-rakan yang seharian ini mewujudkan rasa kepeduliana dan kedisiplinan untuk menata hidup lebih matang dan memanfaat kesempatan umur, serta waktu yang diberikan Allah untuk melakukan perkara yang bermanfaat.

Maka, selama kesempatan itu masih ada, pimpinlah dengan hati, dengan disiplin, dengan keadilan, dan dengan ketulusan. Tumbuhkan rasa kasih diantara sesama untuk menjadi pribadi yang rahmatan lil alamin.


Share:

Sentrum Iman Dari Sang Mentri.

Hari ini saya mengikuti pembukaan Pendidikan Profesi Guru dalam jabatan, dibuka secara serentak seluruh indonesia, pelaksanaan ini tidak main-main gebrakan luar biasa dilakukan oleh kementrian agama Republik Indonesia, dalam gurun waktu tahun 2025 ini per bulan Agustus telah mencapai target sebesar 206,411 yang telah disetifikasikan, tentu ini bukan angka yang standar tapi melebihi daripada target dari tahun-tahun sebelumnya, pembukaan ini dibuka langsung oleh Mentri Agama Republik Indonesia KH. Nazarudin Umar, bagi saya beliau adalah sosok figur yang sederhana tapi berkualitas, mungkin saya salah satu dari jutaan rakyat Indonesia yang mengagumi beliau, saya selalu mencermati setiap perkataan beliau, setiap rangkaian kalimat dan susunan kata-kata yang keluar dari lisanya selalu memberikan semangat baru dan penuh makna.

Saya mengutip dari perkataan beliau bahawa Pendidikan Profesi Guru (PPG) jangan dilihat hanya sebatas formalitas untuk menuju sertifikasi, melainkan transformasi menuju profesionalisme, karena Guru adalah ujung tombak pendidikan, dengan adanya pelaksanaan PPG ini tentu harapan nya adalah bagi seluruh Guru Indonesia mampu semakin berintegritas, profesional, dan jadi tauladan bagi generasi bangsa, itu artinya peran guru sangat menentukan nasip baik buruk nya peradaban sebuah bangsa, bagi seorang guru yang profesional harus mampu mengukur empat kriteria yang pertama adalah Learning How To Lear,  yaitu Belajar Bagaimana Belajar.  Ternyata kita sebagai seorang guru harus belajar, balajar banyak hal dari lingkungan sekitar, termasuk belajar kepada murid kita sendiri, karena memang pada hakikatnya kita mengajar itu adalah belajar, belajar untuk bisa mentranfer ilmu pengetahuan sehingga bisa dirasakan manfaatnya kepada peserta didik kita, setelah kita belajar bagaiman belajar,  maka otomatis akan membawa kita terus belajar, yaitu belajar bagaiman mengajar, Learning To How Teach, sebagai tolak ukur yang ke dua, pada posisi ke dua ini lah porsi Guru mampu menginternasikan kepada murid-murid untuk belajar bagaimana belajar, setiap anak-anak murid itu diajarkan bagaimana belajar, maka hal ini orientasinya ada pada istilah Taklimul Muta’allim dalam pendidikan, kemuadian yang ke Tiga,  Taech How To Learn, Belajar Bagaimana Belajar, jadi seorang Guru harus bisa mengajarkan bagaiman seorang murid itu belajar dan juga disinilah terletaknya istilah Teaaching How To Teach,  Mengajar Bagaimana Mengajar,

dari ke empat komponen inilah harus bisa kita pisahkan untuk menjadi seorang guru profesional, kita sebagai seorang guru tidak boleh menyatukan antara digit-digit diatas agar supaya lebih bisa tampil secara profesional dan tidak mencampur adukan antara satu kriteria denga kriteria laianya, seorang guru profesional harus bisa tampil menajdi Tiga figur dalam waktu bersamaan, pertama ia harus mampu menjadi sebagai seorang Pengajar, maka ia akan melahirkan murid yang ilmuan, seseorang yang ilmuan itu ia pintar tapi tidak harus mengamalkan ilmu yang ia dapatkan , yang Kedua seorang guru harus menjadai seorang Pendidik, maka ia akan melahirkan murid-murid yang intelegtual, seseorang yang intelegtual maka ia berilmu dan akan mengamalkan ilmunya, ke Tiga seorang Guru harus benar-benar menjadi Guru, maka ia akan melahirkan murid-muridnya menjadi cedekiawan, maka seorang cendekiawan tidak hanya berilmu, mengamalkan ilmunya, tetapi ia juga bisa bermanfaat dan dirasakan oleh orang lain, itu artinya seorang Guru Profesional tidak hanya mengajar dengan Rasio, tapi juga dengan Rasa, kerana mengajar dengan Rasio maka ia akan  menjadi seorang Pengajar, dan jika ia mengajar dengan Rasa maka ia akan menjadi seorang Pendidik.

Jangan heran ketika kita meneumui dilapangan seorang guru yang ketika dikelas ia berpakaian rapi, berjilbab atau berpeci, menutup aurat dan bepenampilan smart, akan tetapi ketika diluar kelas atau diluar sekolah, ia berubah penampilan, menjadi lebih arogan, berpakaian ketat, pergaulan bebas bicaranya tidak lagi berwibawa, maka seorang Guru yang seperti ini hanya menepati posisi sebagai seorang Pengajar, dan ia tidak akan mampu menularkan dan menelurkan nilai-nilai kebaikan kepada muridnya-muridnya, sehingga ilmu yang disampaikan sangat minim dari pengamalan dan kebrhasilan dalam mencapai tujuan bagi murid-muridnya, Guru profesional ibarat obor yang menerangi kegelapan , menerangi jalan-jalan dan menjadi lentera hari bagi murid-muridnya sehingga selalu menuntun untuk menemui cahaya kehidupan, Minazzulumati ilannur.

Kalimat demi kalimat dari beliau ini saya cermati dan benar-benar memberikan sentruman Iman yang luar biasa bagi pribadi diri saya, menggungah jiwa yang selama ini tidur dengan  kelalaian hakikat sebagai seorang Guru, tidak boleh hanya sebatas menjadi pekerja dan mendapatkan Gaji lalu dinikmati bersama keluarga, tapi kita harus bisa bagaimana menjadi Guru yang hadir dengan panggilan jiwa, sehingga inovasi-inovasi akan lahir disetiap kelas, membawa murid-muridnya kearah peradaban masa depan yang cemerlang bukan malah sebaliknya menjadi murid-murid pecundang, mengarahkan murid-murid nya menajadi generasi masa depan perintis bukan setakat pewaris, mencetak generasi yang ulul albab (ilmuan, intelegtua dan cendekiawan).

Sahabat-sahabat Guru di penjuru tanah air, semoga kita semua mendapatkan kesejateraan jiwa bukan hanya dengan fasilitas materi rupiah saja, tapi sejahtera dengan rasa dan rasio, amal jariah yang tidak pernah putus dan hilang karena ruang dan waktu, jika selama ini kita mengajar hanya sebatas datang ke sekolah/madrasah, masuk kantor, menuju kelas dan kembali duduk di kantor, pulang kerumah dan begitu seterusnya, maka yakin lah kita tidak akan menemukan keprofesionalan yang hari ini dan 45 hari kedepan kita ikuti, ayo kita menjadi figur sosok seorang Guru yang fenomenal dan millienial, tegas tidak keras, lentur tapi tidak lemah, selamat mengikturi PPG dalam Jabatan bagi Sahabat-sahabat Guru diseluruh penjuru Negeri.
Share:

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

PUISI

CERITA

UMT.CSH

Rajab dan Jalan Pulang Menuju Hati

Rajab datang seperti angin yang lembut tidak selalu terdengar, namun dapat dirasakan oleh hati yang peka. Di antara dua belas bulan yang ber...

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Sample Text

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.