NUansa.UMT

Di balik kacamata Rose-Tint

Di sebuah warung kecil, seorang perempuan duduk dengan tenang. Sore itu tidak membawa keistimewaan apa pun, hanya angin yang lewat perlahan, suara seng yang bergetar oleh sentuhan waktu, dan aroma jajanan dari etalase kecil di sampingnya. Namun, ada sesuatu yang berbeda darinya, ketenangan yang terasa seperti bisikan, bukan pameran, Ia menunduk sedikit, menyusun bentuk hati dengan jemari mungilnya. Sederhana. Tetapi dalam kesederhanaan itu, hidupnya akhirnya bisa kembali bernapas.

Perempuan itu mengenakan kacamata berwarna rose-tint, dengan lensa lembut yang memantulkan cahaya sore yang hangat. Banyak yang mengira ia memakainya sekadar untuk mempermanis wajah mungilnya. Padahal, di balik benda kecil itu tersimpan cerita yang jauh lebih dalam. Rose-tint itu memantulkan warna lembut di tengah dunia yang sering terasa sempit dan menghimpit. Bagi banyak orang, itu hanya aksesori. Tapi bagi dirinya, itu adalah cara baru untuk melihat hidup bukan dari sisi yang melukainya.

Dulu, sebelum kacamata itu menghiasi wajahnya, dunianya penuh retakan; pecahannya berlarian seperti halilintar. Ia memaksa dirinya menjadi kuat hingga lupa bahwa bahkan besi pun bisa lelah. Ia menutup luka-luka kecil dengan tawa palsu, menambal kecewa dengan kata “tak apa” yang tak pernah benar-benar ia yakini.

Namun perlahan, ia belajar satu hal yang tak pernah diajarkan di sekolah mana pun:
“hidup tidak meminta kita kuat setiap hari, hidup hanya meminta kita jujur pada diri sendiri”.

Dan kejujuran itu bagi banyak orang adalah kesakitan yang paling pahit, Sebab jujur berarti mengakui bahwa ia pernah rapuh, Bahwa ia pernah iri pada kehidupan orang lain, Bahwa ia pernah merasa tidak cukup, tidak sesempurna seperti yang ia lihat disetiap hari. Bahwa ia bahagia, tetapi tidak sebahagia yang ia pamerkan di hadapan dunia, Ia adalah perempuan yang dulu melihat dunia dalam warna kelabu. Kekurangan, kegagalan, kehilangan semua menempel pada langkahnya seperti bayangan panjang. Ia pernah meyakini bahwa hidup tak akan memberinya warna lagi, dan bahkan ia tak punya alasan untuk tersenyum.

Hingga suatu hari, seorang teman lama menatapnya dan berkata pelan,
“Kamu hanya perlu melihat dunia dengan warna yang kamu pilih sendiri.” Ia tidak mengerti saat itu. Tapi kalimat itu benar-benar menempel di hatinya dan tak pernah pergi.

Hari-hari berikutnya, ia mulai belajar melihat hidup dari sudut yang lebih lembut. Tidak terburu-buru. Tidak memaksa diri untuk bahagia. Ia hanya ingin menerima, menerima bahwa hidup bisa kejam, tetapi ia pun bisa kuat, menerima bahwa luka itu nyata, namun ia berhak sembuh, menerima bahwa ia layak mendapatkan hari yang lebih cerah.

Ketika menggenakan kacamata Rose-Tin itu, dunia tetap sama, rumah-rumah sederhana, langit yang kadang cerah, kadang mendung, awan yang kadang mengepul, kadang hilang sama sekali. Kacamata itu tidak mengubah dunia. Namun ia mengubah caranya memandang dunia, Lensa itu menjadi pengingat bahwa hidup bisa lebih lembut bila ia memberi ruang untuk harapan, Kini, di meja warung kecil itu, ia duduk dengan pose imut yang jenaka, kedua tangan menyusun bentuk hati di samping pipinya. Senyumnya bukan lagi senyum yang dipaksakan kemaren. Itu adalah senyum seseorang yang telah berdamai dengan masa lalu, yang perlahan memanggil kembali dirinya yang dulu hilang.

Di balik rose-tint itu juga, ia belajar melihat dunia dengan warna yang lebih hangat dan dengan cara yang sama, ia belajar melihat dirinya sendiri, sehingga Pada sore itu, ketika angin mengibaskan ujung hijabnya, ia mengerti satu hal yang sederhana tetapi besar memberikan makna “. Bukan untuk orang lain, Bukan untuk memikat dunia, Melainkan untuk dirinya sendiri.

Sebab hanya diri kita yang benar-benar mengerti apa yang kita butuhkan, apa yang menyakitkan, dan apa yang membuat kita bertahan. Orang lain mungkin melihat kekurangan kita, mungkin menilai penampilannya terlalu berani, terlalu berlebihan dalam penampilan, terlalu narsis dalam bergaya. Tapi apa pun kata mereka, setiap sisi memiliki makna yang berbeda, meski terlihat sama, karena ada kalanya Tidak semua orang melihat dari sisi yang sama. Apa yang dianggap buruk oleh seseorang, bisa menjadi kebaikan bagi orang lain, Karena sungguh, tidak ada yang sempurna di dunia ini, semuanya fana dan sementara.

Kacamata rose-tint itu bukan jimat atau pelarian. Bukan pula pemanis untuk menarik pandangan orang. Itu hanyalah pengingat bahwa perspektif dapat mengubah segalanya. Bahwa mata yang sama bisa melihat dua dunia berbeda, tergantung bagaimana hati memilih untuk memahami, atau Mungkin orang lain hanya melihat seorang perempuan yang berpose lucu, Tapi sesungguhnya, di balik pose dan ketenangannya, ia sedang membangun kembali dirinya yang dulu pernah runtuh. Ia sedang mengobati luka yang dulu digoreskan hidup. Ia sedang menyulam kembali waktu yang sempat ia abaikan.

Dan ketika senja akhirnya merayap turun, meninggalkan garis cahaya terakhir di pinggir langit, ia merasakan sesuatu yang selama ini tak pernah ia temukan, keberanian untuk melanjutkan hidup meski hatinya masih menyimpan bekas luka, Ia menutup matanya sejenak, membiarkan angin menyentuh pipinya, seakan menghapus setiap jejak pedih yang pernah ia sembunyikan. Ia tahu, dunia tak tiba-tiba berubah menjadi lebih baik hanya karena sepasang kacamata. Tetapi dirinya yang dulu terjatuh, dulu terkubur dalam kelabu telah mulai bangkit dengan cara yang pelan namun pasti.

Kacamata rose-tint itu hanyalah benda kecil, namun di baliknya tersembunyi keputusan terbesar yang pernah ia buat, keputusan untuk hidup meski ia pernah ingin berhenti, keputusan untuk tersenyum meski hatinya pernah remuk, keputusan untuk percaya bahwa ada hari esok, meski malam-malamnya dulu terasa tak berujung, Ia membuka matanya kembali, menatap dunia yang sama, tetapi dengan jiwa yang berbeda.
Kini ia tahu… luka tidak selalu hilang. Tapi setiap luka yang bertahan, kelak akan menjadi saksi bahwa ia pernah melawan, pernah bertahan, dan pernah memilih hidup, Dan saat ia berdiri dari kursi warung itu, ia tidak hanya bangkit dari duduknya tapi ia bangkit dari masa lalunya, Langkah kecilnya menggemakan satu kebenaran yang tidak dapat dibantah siapa pun, Akhir ia tahu di balik rose-tint itu, ia akhirnya melihat bahwa dirinya, layak untuk bahagia.

 

 


Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

PUISI

CERITA

UMT.CSH

Rajab dan Jalan Pulang Menuju Hati

Rajab datang seperti angin yang lembut tidak selalu terdengar, namun dapat dirasakan oleh hati yang peka. Di antara dua belas bulan yang ber...

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Sample Text

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.