NUansa.UMT

Jejak Sunyi Dari Seorang Guru

Pagi itu langit belum sepenuhnya ramah. Awan menggantung seperti pikiran-pikiran yang belum selesai, sementara udara masih menyimpan sisa dingin malam. Di halaman sebuah Madrasah sederhana yang berdiri di antara deretan pepohonan dan bangunan kayu bercat hijau, seorang Wanita tangguh berhenti dengan motornya. Ia mengenakan jilbab merah marun yang terikat rapi, wajahnya tenang, matanya menyimpan kesiapan. Motor itu bukan sekadar alat transportasi tapi ia adalah saksi perjalanan panjang dalam sebuah pengabdian, setiap hari tanpa terlihat Lelah, ia selalu mamncarkan semangat yang membara ia suguhkan untuk para pejuang masa depan, Lelah nya telah ia tutup rapat dan rapi dengan senyuman sehingga setiap murid-murid nya tak ada satu pun yang tau bahwa ia sedang Lelah.

Namanya Bu Darti, nama yang tak tertulis di plang besar atau buku sejarah. Ia hanya seorang guru biasa, tidak terkenal. Namun justru dari kesederhanaan itulah lahir pengaruh yang menjalar pelan tapi pasti, seperti akar yang menguatkan tanah, Setiap pagi, Bu Darti datang lebih awal. Bukan karena aturan, bukan karena absensi pada aplikasi yang harus tepat waktu, melainkan karena ia percaya bahwa guru harus tiba sebelum harapan murid-muridnya. Di atas motor itulah ia membawa lebih dari sekadar tas berisi buku dan spidol. Ia membawa niat, kesabaran, dan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan sunyi yang mesti ditempuh dengan setia, karean pengukir Sejarah akan lahir dari niat mulia ini.

Madrasah tempatnya mengabdi bukan Madrasah megah. Bangunannya sederhana, ruang kelasnya tidak ber AC, tapi itu lebih dari cukup untuk ia mengabdi pada negeri dan tugas mulianya mencerdaskan generasi bangsa,  halaman Madrasah menjadi saksi, ada tawa sekaligus air mata para siswa. Banyak dari mereka datang dengan seragam yang kadang tak selalu rapi, sepatu yang sudah lusuh, terkadang juga ada yang tapak nya sudah robek karena kasar nya aspal, dan cerita rumah yang tak selalu mudah. Namun di mata sang Guru, tak ada murid yang kecil, dan kerdil, Setiap peserta didik adalah semesta yang menunggu untuk diterangi, Ia mengajar bukan hanya tentang mata pelajaran, tetapi juga tentang sebuah makna,  Ketika menjelaskan rumus, ia sisipkan nilai kejujuran. Saat membahas sejarah, ia ajarkan keberanian, dalam pelajaran bahasa, ia tekankan adab berbicara. Baginya, ilmu tanpa akhlak adalah bangunan tanpa pondasi, biarpun tinggi, tetapi rapuh.

Suatu hari, seorang murid bertanya kepada Bu Darti dengan polos,“Bu, kenapa Ibu selalu datang lebih cepat dari teman-teman guru yang lain, dan naik motor sendiri..?

Ia tersenyum. Senyum yang tak dibuat-buat.“Karena perjalanan ke Madrasah adalah bagian dari pelajaran,” jawabnya dengan nada datar seakan tanpa beban dan sedikit dikeningnya mengerut.

Anak itu mengernyit. “Pelajaran apa?”

“Pelajaran tentang tanggung jawab,” katanya lembut. “Kalau Ibu ingin kalian sampai pada cita-cita, Ibu harus memberi contoh bagaimana tetap berjalan meski lelah.”, kamu liat naaak…Motor itu sering mogok, Kadang bannya bocor, kehabisan minyak, bahkan  Pernah pula hujan turun deras, membuat kita terhamabat datang ke madrasah, baju dan jilbab kita basah dan Sepatu juga berlumpur. Namun tak sekalipun kita memilih untuk kembali pulang,  kita selalu sampai. Yaa…Mungkin terlambat beberapa menit, tetapi tak pernah absen dari makna, jawab nya sambil memandangi sang anak, Siwi itu pun terdiam dan mengangguk,

Di ruang guru, Bu Darti selalu menjadi inspiratif, inovasi nya benar-benar bisa ditiru oleh rekan-rekan sejawat nya, ia dikenal sebagai sosok guru yang ramah, renyah dalam berbicara, tak gemar mengeluh. Ketika rekan-rekannya membahas fasilitas yang kurang, ia hanya berkata, “Kita mungkin kekurangan alat untuk peraktek, tapi jangan kekurangan hati, dan cara untuk menemukan sesuatu yang baru.” Karena ia tahu betul tidak harus menunggu punya untuk selalu bebuat”, Ia percaya bahwa guru bukanlah semata-mata sebagai pusat perhatian, melainkan penunjuk arah. Ia tak ingin murid-muridnya mengingat namanya, tetapi mengingat nilai-nilai yang ia tanamkan. Ia ingin dikenang bukan sebagai guru yang galak atau baik, melainkan guru yang hadir, dalam setiap harapan dari murid-muridnya.

Ada seorang murid laki-laki yang sering bolos. Tubuhnya kurus, matanya selalu menunduk. Banyak guru telah menyerah. Namun tidak dengannya. Ia mendatangi rumah murid itu, menempuh jalan sempit dengan motornya. Rumahnya kecil, dindingnya dari papan, susunan daun rumbia, ibunya bekerja sepanjang hari, Ia duduk di lantai rumah itu, berbicara bukan sebagai guru, melainkan sebagai manusia. Ia tidak menghakimi, tidak menasihati dengan nada tinggi. Ia hanya berkata, “Ibu percaya kamu bisa lebih dari ini.” Kalimat itu sederhana, tapi bagi murid itu, ia seperti pintu yang terbuka setelah lama terkunci. Sejak hari itu, ia mulai rajin datang ke Madrasah. Nilainya tak langsung naik, tapi semangatnya tumbuh. Bertahun-tahun kemudian, murid itu lulus dan menjadi orang pertama di keluarganya yang melanjutkan pendidikan.

Ia pernah ditanya, apa rahasia menjadi guru yang inspiratif. Ia menjawab, “Jangan mengajar untuk dilihat, mengajarlah untuk menghidupkan.”.Di halaman Madrasah, motor putih itu sering terparkir di bawah atap seng yang berlumut dan lusuh. Murid-murid lalu-lalang, sebagian menyapanya, sebagian hanya tersenyum. Namun semua tahu: jika pagi itu motor itu sudah ada, berarti Madrasah telah siap menerima hari, Baginya, menjadi guru bukanlah profesi sementara. Ia adalah panggilan panjang. Ada hari-hari ketika gaji terasa tak sebanding, ketika lelah mengalahkan semangat, ketika hasil tak segera tampak. Namun setiap kali ia melihat muridnya memahami satu hal baru, atau berani bermimpi sedikit lebih tinggi, semua lelah itu menjadi ringan, segala keraguan sirna seketika.

Ia mengerti bahwa pendidikan bukan tentang mencetak juara, melainkan membentuk manusia. Ia tahu, mungkin ia tak akan melihat hasil kerja kerasnya sekarang. Tapi ia percaya, suatu hari nanti, di tempat yang jauh, nilai-nilai yang ia tanam akan tumbuh dalam kehidupan murid-muridnya, yang tak tau entah kemana dan Dimana, bisa saja diantara deretan murid-muridnya itu ada yang menjadi anggota Dewan, Bupati, pengusaha, peternak, petani, tukang parkir, atau bahkan buruh sekalipun, hasil yang kita tanam tidak dipetik hari ini, mungkin hari esok, bulan depat atau bahkan tahun berikutnya.

Pagi itu, setelah memarkir motornya, ia melangkah menuju kelas. Langkahnya biasa saja. Tak ada sorak-sorai, tak ada tepuk tangan. Namun justru di situlah letak keistimewaannya. Ia hadir tanpa menuntut pujian, mengajar tanpa berharap dikenang, hari itu Adalah hari Dimana seluruh murid-muridnya menuntaskan semua capaian pembelajaran, tentu harapan untuk lebih baik sedang dinantikan oleh para muridnya-muridnya untuk melihat angka nilai yang terlukis di buku raport, pengumuman juara pun hampir dimulai, murid nya telah beransur memenuhi lapangan madrasah itu.

Mereka berdiri dengan tenang sambil mendengarkan sambutan dari kepala madrasah yang diwakili oleh bidang Kurikulum, pembacan surat Keputusan juara kelas telah pun diumumkan, suara terikan dan tepuk tangan yang gemuruh memenuhi lapangan hijau itu, ada yang tertawa Bahagia, menangis karena haru, ada pula yang telalu Bahagia bukan karena nilai yang tinggi dan gemilang, tapi karena kebersamaan dan kedamaian yang di tularkan oleh sang Guru inspirasi meraka yaitu “buk Darti.”

Namun di antara sorak sorai itu, ada satu nama yang membuat lapangan Hijau itu mendadak hening sejenak, Nama seorang murid yang tidak asing ditelinga, Namanya selalu muncul disetiap momen, olimpiade, kompetisi apapun nama itu selalu muncul, Ketika nama itu disebutkan, Ia melangkah ke depan dengan ragu. Tangannya gemetar, langkahnya pelan. Murid-murid lain menatapnya dengan penuh keyakinan, lalu tepuk tangan kembali pecah lebih keras, lebih lama. Tepuk tangan yang bukan hanya untuk angka di rapor, tetapi untuk sebuah perjalanan, dan prestasi yang dipertahankan.

Bu Darti berdiri di antara barisan guru. Ia tidak maju. Ia tidak menangis. Ia hanya tersenyum kecil, senyum yang sama seperti yang selalu ia suguhkan setiap pagi, seolah kejadian itu bukan kejutan baginya. Karena sesungguhnya, ia sudah melihat kemenangan itu jauh sebelum hari ini, Baginya, juara sejati telah lahir jauh sebelum piala diangkat.

Ketika murid itu menerima piagam dan piala sederhana, pandangannya berkeliling. Matanya berhenti pada satu titik y aitu pada Bu Darti. Ia tersenyum, lalu menunduk hormat. Tak ada kata, tapi semuanya tersampaikan, Bu Darti membalasnya dengan anggukan pelan.

Di situlah mereka saling mengerti, bahwa kemenangan ini bukan milik satu orang, melainkan milik kepercayaan yang tak pernah ditarik Kembali, Upacara pun usai. Murid-murid kembali ke kelas dengan cerita masing-masing. Lapangan kembali lengang. Bu Darti melangkah menuju motor putihnya. Ia mengankat helm, menatap langit yang kini cerah sepenuhnya, Hari itu, ia pulang dengan cara yang sama seperti ia datang, sederhana, tenang, tanpa sorotan, ia tahu perjuangan belum selesai masih banyak tugas harus ia selesaikan dan melahirkan para juara-juara untuk mencatak generasi emas dimaasa yang akan datang…….

Motor itu pun melaju perlahan meninggalkan halaman madrasah, Dan di atas motor sore itu, Bu Darti membawa pulang satu kepastian yang selama ini ia Yakini. bahwa setiap kelelahan yang disembunyikan dengan senyum, setiap pengabdian yang dilakukan dalam diam, akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk berbuah, Karena guru sejati tidak pernah gagal, Ia hanya sedang menunggu waktu murid-muridnya tumbuh dan bersinar.

Bersambung…..pada “Episode Sang Juara”

 


Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

PUISI

CERITA

UMT.CSH

Rajab dan Jalan Pulang Menuju Hati

Rajab datang seperti angin yang lembut tidak selalu terdengar, namun dapat dirasakan oleh hati yang peka. Di antara dua belas bulan yang ber...

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Sample Text

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.