Pagi
itu langit belum sepenuhnya ramah. Awan menggantung seperti pikiran-pikiran
yang belum selesai, sementara udara masih menyimpan sisa dingin malam. Di
halaman sebuah Madrasah sederhana yang berdiri di antara deretan pepohonan dan
bangunan kayu bercat hijau, seorang Wanita tangguh berhenti dengan motornya. Ia
mengenakan jilbab merah marun yang terikat rapi, wajahnya tenang, matanya
menyimpan kesiapan. Motor itu bukan sekadar alat transportasi tapi ia adalah
saksi perjalanan panjang dalam sebuah pengabdian, setiap hari tanpa terlihat
Lelah, ia selalu mamncarkan semangat yang membara ia suguhkan untuk para
pejuang masa depan, Lelah nya telah ia tutup rapat dan rapi dengan senyuman
sehingga setiap murid-murid nya tak ada satu pun yang tau bahwa ia sedang Lelah.
Madrasah
tempatnya mengabdi bukan Madrasah megah. Bangunannya sederhana, ruang kelasnya
tidak ber AC, tapi itu lebih dari cukup untuk ia mengabdi pada negeri dan tugas
mulianya mencerdaskan generasi bangsa,
halaman Madrasah menjadi saksi, ada tawa sekaligus air mata para siswa.
Banyak dari mereka datang dengan seragam yang kadang tak selalu rapi, sepatu
yang sudah lusuh, terkadang juga ada yang tapak nya sudah robek karena kasar
nya aspal, dan cerita rumah yang tak selalu mudah. Namun di mata sang Guru, tak
ada murid yang kecil, dan kerdil, Setiap peserta didik adalah semesta yang
menunggu untuk diterangi, Ia mengajar bukan hanya tentang mata pelajaran,
tetapi juga tentang sebuah makna, Ketika
menjelaskan rumus, ia sisipkan nilai kejujuran. Saat membahas sejarah, ia
ajarkan keberanian, dalam pelajaran bahasa, ia tekankan adab berbicara.
Baginya, ilmu tanpa akhlak adalah bangunan tanpa pondasi, biarpun tinggi,
tetapi rapuh.
Suatu
hari, seorang murid bertanya kepada Bu Darti dengan polos,“Bu, kenapa Ibu
selalu datang lebih cepat dari teman-teman guru yang lain, dan naik motor
sendiri..?
Ia
tersenyum. Senyum yang tak dibuat-buat.“Karena perjalanan ke Madrasah adalah
bagian dari pelajaran,” jawabnya dengan nada datar seakan tanpa beban dan
sedikit dikeningnya mengerut.
Anak
itu mengernyit. “Pelajaran apa?”
“Pelajaran
tentang tanggung jawab,” katanya lembut. “Kalau Ibu ingin kalian sampai pada
cita-cita, Ibu harus memberi contoh bagaimana tetap berjalan meski lelah.”,
kamu liat naaak…Motor itu sering mogok, Kadang bannya bocor, kehabisan minyak,
bahkan Pernah pula hujan turun deras, membuat
kita terhamabat datang ke madrasah, baju dan jilbab kita basah dan Sepatu juga
berlumpur. Namun tak sekalipun kita memilih untuk kembali pulang, kita selalu sampai. Yaa…Mungkin terlambat
beberapa menit, tetapi tak pernah absen dari makna, jawab nya sambil memandangi
sang anak, Siwi itu pun terdiam dan mengangguk,
Di
ruang guru, Bu Darti selalu menjadi inspiratif, inovasi nya benar-benar bisa
ditiru oleh rekan-rekan sejawat nya, ia dikenal sebagai sosok guru yang ramah,
renyah dalam berbicara, tak gemar mengeluh. Ketika rekan-rekannya membahas
fasilitas yang kurang, ia hanya berkata, “Kita mungkin kekurangan alat untuk
peraktek, tapi jangan kekurangan hati, dan cara untuk menemukan sesuatu yang
baru.” Karena ia tahu betul tidak harus menunggu punya untuk selalu bebuat”, Ia
percaya bahwa guru bukanlah semata-mata sebagai pusat perhatian, melainkan
penunjuk arah. Ia tak ingin murid-muridnya mengingat namanya, tetapi mengingat
nilai-nilai yang ia tanamkan. Ia ingin dikenang bukan sebagai guru yang galak
atau baik, melainkan guru yang hadir, dalam setiap harapan dari murid-muridnya.
Ada
seorang murid laki-laki yang sering bolos. Tubuhnya kurus, matanya selalu
menunduk. Banyak guru telah menyerah. Namun tidak dengannya. Ia mendatangi
rumah murid itu, menempuh jalan sempit dengan motornya. Rumahnya kecil,
dindingnya dari papan, susunan daun rumbia, ibunya bekerja sepanjang hari, Ia
duduk di lantai rumah itu, berbicara bukan sebagai guru, melainkan sebagai
manusia. Ia tidak menghakimi, tidak menasihati dengan nada tinggi. Ia hanya
berkata, “Ibu percaya kamu bisa lebih dari ini.” Kalimat itu sederhana, tapi
bagi murid itu, ia seperti pintu yang terbuka setelah lama terkunci. Sejak hari
itu, ia mulai rajin datang ke Madrasah. Nilainya tak langsung naik, tapi
semangatnya tumbuh. Bertahun-tahun kemudian, murid itu lulus dan menjadi orang
pertama di keluarganya yang melanjutkan pendidikan.
Ia
pernah ditanya, apa rahasia menjadi guru yang inspiratif. Ia menjawab, “Jangan
mengajar untuk dilihat, mengajarlah untuk menghidupkan.”.Di halaman Madrasah,
motor putih itu sering terparkir di bawah atap seng yang berlumut dan lusuh.
Murid-murid lalu-lalang, sebagian menyapanya, sebagian hanya tersenyum. Namun
semua tahu: jika pagi itu motor itu sudah ada, berarti Madrasah telah siap
menerima hari, Baginya, menjadi guru bukanlah profesi sementara. Ia adalah
panggilan panjang. Ada hari-hari ketika gaji terasa tak sebanding, ketika lelah
mengalahkan semangat, ketika hasil tak segera tampak. Namun setiap kali ia
melihat muridnya memahami satu hal baru, atau berani bermimpi sedikit lebih
tinggi, semua lelah itu menjadi ringan, segala keraguan sirna seketika.
Ia
mengerti bahwa pendidikan bukan tentang mencetak juara, melainkan membentuk
manusia. Ia tahu, mungkin ia tak akan melihat hasil kerja kerasnya sekarang.
Tapi ia percaya, suatu hari nanti, di tempat yang jauh, nilai-nilai yang ia
tanam akan tumbuh dalam kehidupan murid-muridnya, yang tak tau entah kemana dan
Dimana, bisa saja diantara deretan murid-muridnya itu ada yang menjadi anggota
Dewan, Bupati, pengusaha, peternak, petani, tukang parkir, atau bahkan buruh
sekalipun, hasil yang kita tanam tidak dipetik hari ini, mungkin hari esok,
bulan depat atau bahkan tahun berikutnya.
Pagi
itu, setelah memarkir motornya, ia melangkah menuju kelas. Langkahnya biasa
saja. Tak ada sorak-sorai, tak ada tepuk tangan. Namun justru di situlah letak
keistimewaannya. Ia hadir tanpa menuntut pujian, mengajar tanpa berharap
dikenang, hari itu Adalah hari Dimana seluruh murid-muridnya menuntaskan semua
capaian pembelajaran, tentu harapan untuk lebih baik sedang dinantikan oleh
para muridnya-muridnya untuk melihat angka nilai yang terlukis di buku raport,
pengumuman juara pun hampir dimulai, murid nya telah beransur memenuhi lapangan
madrasah itu.
Mereka
berdiri dengan tenang sambil mendengarkan sambutan dari kepala madrasah yang
diwakili oleh bidang Kurikulum, pembacan surat Keputusan juara kelas telah pun
diumumkan, suara terikan dan tepuk tangan yang gemuruh memenuhi lapangan hijau
itu, ada yang tertawa Bahagia, menangis karena haru, ada pula yang telalu
Bahagia bukan karena nilai yang tinggi dan gemilang, tapi karena kebersamaan
dan kedamaian yang di tularkan oleh sang Guru inspirasi meraka yaitu “buk
Darti.”
Namun
di antara sorak sorai itu, ada satu nama yang membuat lapangan Hijau itu
mendadak hening sejenak, Nama seorang murid yang tidak asing ditelinga, Namanya
selalu muncul disetiap momen, olimpiade, kompetisi apapun nama itu selalu
muncul, Ketika nama itu disebutkan, Ia melangkah ke depan dengan ragu.
Tangannya gemetar, langkahnya pelan. Murid-murid lain menatapnya dengan penuh
keyakinan, lalu tepuk tangan kembali pecah lebih keras, lebih lama. Tepuk
tangan yang bukan hanya untuk angka di rapor, tetapi untuk sebuah perjalanan,
dan prestasi yang dipertahankan.
Bu
Darti berdiri di antara barisan guru. Ia tidak maju. Ia tidak menangis. Ia
hanya tersenyum kecil, senyum yang sama seperti yang selalu ia suguhkan setiap
pagi, seolah kejadian itu bukan kejutan baginya. Karena sesungguhnya, ia sudah
melihat kemenangan itu jauh sebelum hari ini, Baginya, juara sejati telah lahir
jauh sebelum piala diangkat.
Ketika
murid itu menerima piagam dan piala sederhana, pandangannya berkeliling.
Matanya berhenti pada satu titik y aitu pada Bu Darti. Ia tersenyum, lalu
menunduk hormat. Tak ada kata, tapi semuanya tersampaikan, Bu Darti membalasnya
dengan anggukan pelan.
Di
situlah mereka saling mengerti, bahwa kemenangan ini bukan milik satu orang,
melainkan milik kepercayaan yang tak pernah ditarik Kembali, Upacara pun usai.
Murid-murid kembali ke kelas dengan cerita masing-masing. Lapangan kembali
lengang. Bu Darti melangkah menuju motor putihnya. Ia mengankat helm, menatap
langit yang kini cerah sepenuhnya, Hari itu, ia pulang dengan cara yang sama
seperti ia datang, sederhana, tenang, tanpa sorotan, ia tahu perjuangan belum
selesai masih banyak tugas harus ia selesaikan dan melahirkan para juara-juara
untuk mencatak generasi emas dimaasa yang akan datang…….
Motor
itu pun melaju perlahan meninggalkan halaman madrasah, Dan di atas motor sore
itu, Bu Darti membawa pulang satu kepastian yang selama ini ia Yakini. bahwa
setiap kelelahan yang disembunyikan dengan senyum, setiap pengabdian yang
dilakukan dalam diam, akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk berbuah,
Karena guru sejati tidak pernah gagal, Ia hanya sedang menunggu waktu
murid-muridnya tumbuh dan bersinar.
Bersambung…..pada “Episode Sang Juara”








Tidak ada komentar:
Posting Komentar