NUansa.UMT

Kurikulum Kehidupan Dari Kang Mizi

Dalam sebuah perjalan yang tidak pendek, sebuah Impian satu persatu telah nyata dalam hidup, dari ruang kosong kemaren kini perlahan tumbuh lumut yang bersemi dan sekarang telah membentuk sebuah taman indah yang membuat nyaman siapa saja duduk sana, dalam gurun waktu kesekian kalinya saya mengarungi derasnya arus Sungai siak, untuk menuju negeri junjungan sebagai pusat ibu kota dimaana saya tinggal, hari itu akan resmi kami dikukuhan sebagai seorang Guru professional, tentu tidak sekadar itu, kesuksesan sampai dipuncak bagi setiap pendaki tentu ini merupakan Langkah awal untuk menggali potensi dan berkarya, inovasi lebih untuk menuju kecerdasan masa depan yang diperankan oleh jutaan peserta didik di Nusantara ini.

Setelah semalaman istirahat di sebuah penginapan kecil dan sederhana, tapi cukup tenang untu menghilangkan segala keletihan,  pagi itu saya sudah Bersiap-siap untuk melangkah menuruni anak tangga Di sebuah ruang yang tenang, diapit sofa berwarna senja dan meja kaca yang memantulkan cahaya, saya sedang duduk tenang sambil menunggu mas Ojek Online, tiba-tiba tanpa disengaja ada tokoh yang tak banyak bicara, namun pikirannya bekerja lebih riuh dari pasar ilmu. Ia bukan raja, bukan pula bangsawan. Ia adalah Ilmuwan penjaga akal sehat di tengah zaman yang sering tergesa, sebut saja Namanya Tarmizi, tidak cukup hanya sebuah nama sebagai panggilan, dulu orang tua saya dikampung sering menyebutkan bahwa “Asmo Kinaryo Dungo” Nama Adalah Doa. Karena nama Dalam falsafah Jawa, asmo bukan sekadar panggilan, tetapi mengandung harapan, doa, dan cita-cita dari orang tua atau pemberi nama. Karena itu, orang Jawa percaya bahwa nama yang baik  Adalah doa yang baik nama juga mencerminkan karakter dan masa depan nama juga bisa menjadi pengingat nilai hidup bagi pemiliknya,Sebagaimana orang yang saya temui hari ini tidak hanya sekedar nama, tapi benar-benar menjadi karakter dalam dirinya, Mas Tarmizi orang nya berlimu yang tinggi namun rendah diri, tak banyak bicara namun setiap Gerakan menjadi inspirasi dan kata-katanya Adalah doa, itulah yang membuat siapa saja nyaman Ketika bersamanya dan dikenang Ketika tidak lagi Bersama.

Mas tarmizi sebenarnya dulu pernah satu kampung dengan saya, pernah tinggal di satu kecamatan namun beda desa, untuk usia saya jauh lebih muda ketimbang mas tarmizi, apalagi tentang sanat keilmuan tentu beliau lebih ahli, meski beliau usianya jauh lebih tua dari saya tapi jika dilihat dari raut wajah masih borosan saya, munkgin karena saya kebanyakan mikiri ruet nya kehidupan dan jarang menghirup angin segar maklum saya masih tinggal dipulau yang jauh dari daratan, sambil menunggu ojekan kami sempatkan waktu untuk duduk sejenak di kursi berwarna senja itu saling menanyakan kabar masing-masing keluarga, yang kebetulan juga istri dari mas Tarmizi pernah satu kelas dulu waktu di SMA/MA, senyumnya tipis namun hangat. Dari dulu sampai sekarang senyumanya tidak berubah, Ia dikenal sebagai pencatat zaman, seorang yang meyakini bahwa ilmu harus lahir dari kerendahan hati. Baginya, pengetahuan bukan alat untuk meninggi, melainkan jembatan untuk mendekat antara manusia dengan kebenaran, antara logika dan nurani, saya ingat betul pesan beliau “Ilmu yang tidak membuat kita lebih lembut, telah gagal mendidik kita.”

Tidak sampai lima belas menit saya mendengar petuah dan nasihat beliau, waktu yang singkat itu telah membawa saya ke Samudra pengetahan. Setiap pembicaraan syarat dengan ilmu, tersusun rapi dan penuh wibawa, disisi lain saya hanya bisa mendengar petuah nya, dengan sedikit Tangan menggenggam catatan kecil yang saya petik dari setiap kata-katanya, seolah setiap detik adalah kesempatan belajar yang tak akan saya lewatkan, betemu dengan mas Tarmizi sudah seperti bertemu dengan kakak kandung, mungkin zaman akan berubah. Teori bisa saja runtuh, buku bisa juga usang, gelar bisa dilupakan. Namun nilai pertemuan yang kami tanamkan hari ini merupakan kejujuran dalam berpikir, bahwa kesempatan ini tidak sering saya dapatkan. Dan kami pun melanjutkan waktu dengan menuju ke gedung hotel Grand Suka untuk melaksanakan prosesi pengukuhan sebgai Guru Profesional.

Pertemuan singkat itu kemudian menjelma menjadi ruang refleksi yang panjang. saya mulai menyadari bahwa perjalanan menjadi guru profesional bukanlah sekadar proses administratif atau seremoni pengukuhan, melainkan sebuah tanggung jawab epistemic tanggung jawab atas cara berpikir, cara bersikap, dan cara memaknai pengetahuan itu sendiri.

Dari tadi saya perhatikan Mas Tarmizi duduk dengan sikap yang sama tenangnya. Ia tidak sedang mengajar, namun kehadirannya telah menjadi pelajaran. Dari cara ia berbicara hingga cara ia merespons tanggapan dari rekan-rekan sebelah nya, saya menangkap satu pesan penting, bahwa intelektualitas sejati tidak selalu hadir dalam bentuk argumentasi keras, melainkan dalam kemampuan merawat makna dan menjaga kejernihan akal. Ia sempat berkata pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri, namun cukup jelas untuk saya tangkap, “Menjadi orang berilmu itu bukan tentang seberapa banyak yang kita ketahui, tetapi sejauh mana ilmu itu mengubah cara kita memandang manusia dan kehidupan.”

Kalimat itu membuat saya terdiam,  saya teringat perjalanan melintasi Sungai Siak, arusnya deras namun tetap setia mengalir ke muara. Barangkali begitulah ilmu seharusnya, kuat dalam prinsip, namun lentur dalam sikap, dalam dengan isi, tetapi menenangkan di permukaan. Sebagai guru yang baru dikukuhkan, saya mulai memahami bahwa tugas utama pendidik bukan sekadar mentransfer pengetahuan, melainkan membentuk cara berpikir kritis, etis, dan beradab. Inovasi dan kecerdasan masa depan yang sering kita gaungkan tidak akan bermakna tanpa fondasi nilai. Di titik inilah saya melihat relevansi nasihat mas Tarmizi, bahwa ilmu harus menjadi jembatan antara logika dan nurani, bukan tembok yang menjauhkan manusia dari kemanusiaannya.

Waktu terus berjalan. Setiap rangkaian telah kami lewati, kegiatan ditutup dengan Doa yang di munajatkan oleh mas Tarmizi, Kami berdiri, saling berjabat tangan, tanpa janji akan bertemu kembali. Namun saya tahu, pertemuan itu tidak selesai di ruang tersebut. Ia akan berlanjut dalam cara saya mengajar, cara saya belajar, dan cara saya memaknai profesi ini. Saya pun  melangkah pergi dengan satu kesadaran baru bahwa puncak perjalanan intelektual bukanlah gelar atau pengakuan, melainkan kemampuan menjaga kejujuran berpikir dan kerendahan hati dalam berkarya. Dan hari itu, saya belajar bahwa satu pertemuan yang tulus bisa menjadi kurikulum kehidupan yang tak tertulis, namun abadi dalam ingatan, Maka di ruang itu, sejarah kecil sedang ditulis. Bukan dengan tinta emas, melainkan dengan kesungguhan hati. Sebab ilmuwan sejati bukanlah ia yang paling banyak diketahui orang, melainkan ia yang paling jujur pada ilmunya, dan paling bertanggung jawab pada dampaknya bagi manusia.


Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

PUISI

CERITA

UMT.CSH

Rajab dan Jalan Pulang Menuju Hati

Rajab datang seperti angin yang lembut tidak selalu terdengar, namun dapat dirasakan oleh hati yang peka. Di antara dua belas bulan yang ber...

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Sample Text

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.