NUansa.UMT

Melangkah Lebih Dahulu

Senja itu turun dengan lebih muram dari biasanya. Di beranda rumah kecil yang pernah menjadi saksi tawa dan cerita antara Hani dan Hasan, Hani yang  duduk sambil memeluk kedua lututnya. Diteras rumah yang telah disewa nya sejak 3 tahun yang lalu, Angin membawa aroma kerinduan, seakan Hasan sedang memanggil nama Hani. 

Perlahan tapi pasti suara itu seperti dekat sekali, malam pun telah tiba dan menghadirkan hembusan angin disertai suara deringan ponsel, memanggil Hani untuk segera menghampirinya, kabar itu semakin membuat Hani tak tahan menahan bendungan air mata,  kedua kakinya tak lagi kuat untuk menyangga tubuh nya yang sejak tadi sore telah gemetar, malam terasa semakin lama, fajar pun tak kunjung tiba, rasa ngantuk telah sirna yang ada hanya harap kepada yang maha kuasa semoga Kau Baik-baik saja disana (Hasan) rintitihan jiwa Hani terus meronta, untuk Hasan yang jauh di kampung halaman.

Pagi itu hati Hani mulai tenang, setelah hamparan sajadah dibentangkan, untaian doa terus bersambung tanpa putus, angin pun Kembali berhembus, dan awan pun mulai menghitam dan mengepul menjadi satu, membuat ketenangan tadi sirna seketika, rintikan hujan mulai ramai diatas atap genteng rumah Hani, membuat Hani tak tentu arah, tiba-tiba suara ponsel itu pun Kembali berbunyi dan langsung Hani menyambutnya, tiba-tiba kabar dari kampung halamanya telah dipenuhi suara isak tangis, membuat Hani semakin tidak karuan, rasa yang bercampur tidak bisa di ungkapkan lagi, hanya airmata dan sesak yang bisa Hani nyatakan, nafas nya seakan berhenti menghembus jantung nya tak kuat lagi untuk berdetak, suara halilintarpun seakan menyambar dirinya, tubuh yang tadinya mulai kuat kini lunglai tak berdaya dan seakan tak bertulang, hujan pun semakin deras mengguyur kota ini.

Sejak detik itu fikiranya telah berjalan menembus ruang dan waktu, waktu terasa berjalan lebih cepat. Gelas kopi yang biasanya ia siapkan setiap pagi kini tak lagi bisa ia lakukan dan hanya tatapan kosong belaka. Tidak ada lagi suara langkah kaki yang menghampiri, tidak ada lagi percakapan sederhana yang dulu menghangatkan hari-harinya kala Hani Lelah setelah seharian mencerdaskan anak bangsa di pulau seberang. Setiap sudut rumah memantulkan kenangan, tawa yang masih menggantung di dinding, doa-doa yang pernah mereka panjatkan bersama, dan janji untuk saling menjaga hingga rambut memutih, dan ahir hanyat telah menjadi bisu tanpa suara, takdir telah berkata lebih cepat. Hasan meninggalkan Hani untuk selama-lamanya.

ia menatap langit yang dipenuhi air hujan yang jatuh membuat Hani membayangkan Bahwa Hasan sedang tersenyum, seolah berkata bahwa ia baik-baik saja di sana. Meski hatinya remuk, ia mencoba percaya bahwa cinta tidak pernah benar-benar mati,  ia hanya berubah tempat dan bentuk, Air matanya sudah tak terhitung lagi jumlahnya, tetapi setiap yang jatuh membawa sedikit kelegaan. Ia sadar bahwa merindukan seseorang yang telah tiada adalah cara hati mengingat bahwa ia pernah memiliki sesuatu yang sangat berharga, Kehilangan begitu menyakitkan, namun Hani tahu bahwa cinta yang ditinggalkan Hasan akan menjadi kekuatan untuk tetap melangkah.

Pada akhirnya, ia bangkit perlahan. Menghirup napas panjang. Mengumpulkan serpihan dirinya yang tercerai-berai. Hidup harus terus berjalan bukan karena ia tak lagi sedih, tetapi karena ia ingin menjaga warisan cinta itu tetap hidup dalam dirinya dan ada jarak yang harus ia tempuh untuk menjemput sang buah hati dan melihat wajah Hasan untuk terakhir kalinya, Di antara rasa kehilangan yang tak kunjung hilang, ia belajar satu hal: bahwa mencintai seseorang hingga kehilangan terasa menyiksa adalah anugerah pertanda bahwa kisah mereka begitu dalam, begitu bermakna, dan tak akan pernah benar-benar hilang dari hatinya, Hujan pun pelan-pelan talah menarik dirinya, seperti menangis bersama hati Hani yang sedang patah. Doa terus dipanjatkan, dan Hanipun berkemas untuk meninggalkan kota itu tanpa berpamitan,

Hanya harpan semoga dirinya kuat untuk terus melangkah dan melanjutkan janji untuk masa depan buah hatinya yang kini masih membutuhkan dirinya, ia tepis kembali rasa sedih dan perih itu, demi sibuah hati yang telah menantinya, Hani belajara untuk terus kuat, dan melangkahkan kakinya menuju dermaga untuk Kembali kepada sebuah nama yang aka nada dalam setiap doa.  

Sahabtku…..yang pergi biarlah berlalu, sudah menjadi janji yang harus ditepati, Kematian bukanlah perpisahan, tapi jalan pulang menuju keabadian. Yang pergi telah tenang, yang tertinggal belajar untuk selalu merelakan, Ada yang pergi tanpa sempat berpamitan, namun meninggalkan kenangan yang tak akan pernah terlupakan tidak ada orang yang pernah benar-benar siap untuk kehilangan. Tapi rasa kehilangan itu akan mengajarkan kita untuk menerima, bahwa yang pergi kini sedang beristirahat di tempat terbaik, yang pergi tidak benar-benar pergi. Ia hanya berjalan lebih dulu, menunggu di ujung Cahaya…..

 




Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

PUISI

CERITA

UMT.CSH

Rajab dan Jalan Pulang Menuju Hati

Rajab datang seperti angin yang lembut tidak selalu terdengar, namun dapat dirasakan oleh hati yang peka. Di antara dua belas bulan yang ber...

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Sample Text

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.