NUansa.UMT

Sepucuk Kata Maaf Yang Tak Terucap

Langit sore itu tampak murung, seperti ikut menyesali sesuatu yang telah lama terjadi. Awan bergelayut rendah, mengaburkan sinar matahari yang biasanya menghangatkan taman kota. Di antara bangku-bangku kayu yang mulai lapuk, duduklah seorang perempuan paruh baya bernama Rina. Tangannya gemetar saat membuka sebuah amplop yang warnanya sudah memudar, seolah surat itu menunggu lama untuk dibaca.

Surat itu datang pagi tadi—tanpa nama pengirim, hanya tertulis alamat rumah lamanya yang sudah ditinggalkannya dua dekade lalu. Ia hampir saja membuangnya, mengira itu sekadar kenangan yang tersesat. Tapi begitu melihat tulisan tangan di amplop itu, jantungnya berdegup lebih cepat. Tulisan itu begitu familiar. Ya …Terlalu familiar. Milik Lina, sahabat masa kecil yang dulu... hilang begitu saja, Seketika, kenangan menyerbu seperti hujan yang tak bisa ditahan.

Dulu, Rina dan Lina adalah sahabat tak terpisahkan. Mereka tumbuh bersama di gang kecil yang penuh anak-anak bermain petak umpet dan layang-layang. Mereka tertawa bersama, menangis bersama, berbagi mimpi, dan saling menjaga. Tak ada yang menyangka bahwa persahabatan itu akan hancur oleh satu hal sederhana: cinta pertama.

Semuanya berubah ketika seorang anak baru, Bayu, pindah ke sekolah mereka. Bayu cerdas, ramah, dan menyukai seni persis seperti Rina dan Lina. Tanpa disadari, mereka berdua jatuh hati pada orang yang sama. Tapi tak seperti Rina yang menyimpannya dalam diam, Lina memberanikan diri mendekat. Dan Bayu membalas.

Rina patah hati, tapi bukan itu yang membuatnya tenggelam dalam kesalahan,  Yang menghancurkannya adalah rasa cemburu yang perlahan berubah jadi racun. Dalam amarah yang tak terkontrol, Rina menyebar gosip ke teman-teman sekolah bahwa Lina berbuat tak senonoh dengan Bayu. Sekolah heboh. Lina dipanggil Guru BK, dihina teman-teman, dan bahkan diusir dari kegiatan ekstrakurikuler.

Seminggu kemudian, Lina menghilang. Keluarganya pindah tanpa jejak. Rina hanya bisa menatap kamar kosong dari luar pagar rumah yang kini dikunci rapat,  Sejak saat itu, ia tak pernah lagi mendengar kabar Lina, Dan penyesalan menjadi tamu yang tak pernah pergi dari hidupnya.

Kini, dua puluh lima tahun kemudian, surat dari masa lalu tiba begitu saja, Di dalamnya, tertulis dengan tinta biru yang mulai pudar:

Rina,….Aku tahu, mungkin kamu tak pernah mengira akan mendapat surat dariku,  Aku juga tidak tahu kenapa butuh waktu selama ini untuk menulis ini. Tapi hari ini, saat melihat seorang gadis kecil menangis karena sahabatnya memarahinya, aku teringat kamu.

Dulu aku marah, Sakit hati, Tapi seiring waktu berjalan, aku sadar bahwa kita semua pernah melakukan kesalahan, terutama saat usia kita masih mencari-cari arah, Dan sekarang, aku ingin kau tahu satu hal penting: aku memaafkanmu.

Bukan karena aku lupa, tapi karena aku ingin kita sama-sama bebas dari masa lalu,  Hidup terlalu singkat untuk membawa dendam, Maaf karena aku juga pergi tanpa pamit, Aku terlalu takut untuk menghadapi semuanya saat itu. Tapi aku tak pernah melupakanmu, sahabatku.

= Lina=

Rina terisak, dan nyesak seakan berat untuk bernafas,  Air mata jatuh membasahi surat yang telah menua bersama waktu, Ia membaca ulang baris demi baris, seolah ingin memastikan bahwa pengampunan itu benar-benar nyata, Selama bertahun-tahun, ia membawa beban rasa bersalah yang membatu di dada,  Ia tak pernah punya keberanian untuk mencari Lina, bahkan ketika ia sudah dewasa,  Tapi sekarang, lewat sepucuk surat sederhana, sebuah pintu terbuka.

Dari tasnya, Rina mengeluarkan selembar kertas kosong dan mulai menulis,  Tangannya masih gemetar, seakan tidak ada tempat untuk menggoreskan tinta, tapi ada kelegaan dalam setiap kata yang ia tulais, diiringi dengan airmata terus menderas dan helaan nafas sesekali menyebut nama sahabatnya itu dalam lirih. :

Lina,……Terima kasih. Untuk maafmu, Untuk keberanianmu, Dan untuk mengingat aku.

Aku tidak pantas mendapatkannya, tapi aku akan menyimpannya dalam hatiku,  Kalau suatu hari kita bisa bertemu, aku ingin memelukmu dan bilang langsung: Aku menyesal,  Aku minta maaf,  Dan aku rindu, Sahabatmu yang penuh penyesalan’

=Rina=

Ia melipat kertas itu pelan-pelan, menatap langit yang kini mulai cerah,  Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Rina merasa ringan, Ia tak tahu apakah surat balasannya akan pernah sampai. Tapi ia tahu satu hal: hari ini, luka lama mulai sembuh, karena satu kata sederhana, maaf.

Surat itu masih tergenggam erat di tangan Rina, walau ujung-ujungnya mulai lembap oleh embun sore yang menetes dari dedaunan di atasnya. Matanya tak beralih dari baris terakhir yang tertulis oleh sahabat nya itu (lina), Ia membacanya berkali-kali, seolah ingin memastikan bahwa itu nyata, Bahwa Lina benar-benar mengirim surat itu, Bahwa pengampunan itu bukan hanya ilusi yang dibuat oleh ilusi dan anganya yang sudah lelah menanggung sesal.

Perlahan, air mata yang selama ini tertahan jatuh juga, mengalir di pipi, Tapi ini bukan tangisan getir, Ada kelegaan yang menyelinap di balik isak pelan dan lirih itu, beban bertahun-tahun itu akhirnya mendapat tempat untuk diletakkan, Dua puluh lima tahun... bukan waktu yang lama untuk menyimpan sebuah luka, tapi ternyata masih mungkin untuk menyembuhkannya.

Rina mengangkat wajahnya, menatap langit yang tadinya murung, Sekilas.., seberkas cahaya matahari berhasil menembus celah awan, menyinari pucuk pepohonan dan menghiasi wajahnya dengan hangat Ia tersenyum kecil, getir namun tulus.

Di balik surat itu, ada secarik kertas lain, lebih kecil, Ia nyaris melewatkannya, Dengan tangan gemetar, ia membukanya. Kali ini tulisannya lebih baru, tinta hitam, tegas namun lembut.

"Aku akan ada di taman kota ini, minggu depan,  Tepat di tempat biasa kita duduk dulu, di bawah pohon besar dekat kolam. Jika kamu ingin datang, aku akan senang melihatmu Kembali,  Tapi jika tidak, aku akan mengerti, Dengan cinta,

=Lina=."

Rina menatap bangku yang ia duduki sekarang, Ia menoleh ke arah kolam kecil yang tak jauh dari sana. Pohon besar itu masih ada, kokoh dab setia tepat pada posisinya, meski daunnya kini tidak selebat dulu. Masih ada bekas ukiran di batangnya, coretan nama yang pernah mereka buat saat masih berseragam putih abu-abu, Ia menutup surat itu dengan hati-hati, lalu memeluknya ke dada. Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya sore itu, bukan sekadar kelegaan, tapi semacam harapan yang baru tumbuh, pelan-pelan, seperti tunas pertama setelah musim kemarau Panjang.

Minggu depan. Tempat yang sama, waktu yang dinantikan telah pun tiba,  Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Rina ingin memperbaiki benang kusut yang pernah ada,

…….Bersambung………


Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

PUISI

CERITA

UMT.CSH

Rajab dan Jalan Pulang Menuju Hati

Rajab datang seperti angin yang lembut tidak selalu terdengar, namun dapat dirasakan oleh hati yang peka. Di antara dua belas bulan yang ber...

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Sample Text

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.