motivasi dan informasi
SAAT WAKTU BERHENTI UNTUK SEBUAH KENANGAN.
Sebenarnya Hari itu tak ada yang istimewa, kecuali tawa yang tak henti mengalir dari bibir kami. Di antara hiruk pikuk perjalanan dan rutinitas yang melelahkan, bisa dibayangkan perjalanan menempuh waktu kurang lebih 6 jam kami lalui, mulai dari penyebrangan jam 4 subuh hingga jam 1 siang, dan belum tau kapan perjuangan ini akan berahir dan kami Kembali kepangkuan ibu tercinta, sejenak kami memilih berhenti, membiarkan waktu diam dan merangkai sebuah kenangan.
Sebuah ruangan dengan dinding kayu hangat menjadi saksi setelah seharian kami berjuang berlaga dimedan perang tanpa senjata. Kami berdiri dan duduk berdekatan, menyatukan diri dalam satu kenangan sederhana. Tak ada kostum mewah, tak ada latar megah, hanya hati yang sama-sama penuh kebersamaan. Dalam keheningan kilat kamera yang dijeprekan oleh kang Subhan, seolah waktu berhenti dan merekam bukan hanya wajah kami, tapi juga cerita yang tak kasat mata, canda yang pernah dibagi, perjuangan yang pernah dilewati, dan doa yang diam-diam kami titipkan untuk masa depan.
Saya tahu, suatu hari nanti, momen ini mungkin akan terhapus dari galeri Vivo milik Kang Rofif. Tetapi foto ini akan tetap berbicara, meski suara kami telah hilang oleh jarak dan waktu. Ia akan berkata bahwa pernah ada masa di mana kami saling menguatkan, saling melengkapi, dan saling menjadi rumah bagi satu sama lain, mbak izah, saya cukup mengenal nya meski tak lama, saya cukup hafal kebaikan dan keikhlasan dalam setiap Tindakan nya selalu ada dalam setiapa waktu dan sempat, yang tak mengenal ruang, sengaja mbak izah datang untuk menemui kakak nya (uswatun hasanah) yang membimbing pejuang kecil untuk meraih masa depan melalui Olimpiade Madrasah Indonesia di ibu kota bumi bertuah, mbak bella sudah dua kali mengikuti ajang seperti ini, walau ditahun lalu belum berhasil untuk melaju ketingkat Nasional, tak menyurutkan semangatnya untuk terus berjuang walau harus bersaing dengan adik-adik tinkat nya mulai dari Madrasah, kabupaten dan kini sampai ke Tingkat Provinsi, bukan perjalanan yang mudah untuk sampai ketitik ini.
Mbak Amel walau sedari awal telah mengalami penurunan Kesehatan, demam melanda, asam lambung kambuh berulang-ulang, hampir saja berputus asa, tapi semangat juang nya melebihi dari rasa sakit dan hambatan yang menghadang, disaat teman-teman nya menikmati Ice Cream di Mixiu, mbak Amel hanya bisa bertahan dan duduk diluar ruang, ditemani oleh istri saya (Karmila) dan beberpa potong donat dari toko yang dibelikan oleh kaka nya, setelah waktu terus berjalan tiba lah waktu kompetisi pada Tingkat provinsi, mbak Amel tetap semangat dan kuat, perjuangan ini tak kalah dari mbak Azki, yang juga mengalami sakit satu hari sebelum keberangkat, demam panas, sakit perut, dan deare, tidak bisa diajak berdiskusi, terus saja menguras tenaga mbak Azki, dan akhirnya memutuskan untuk tidak ikut rombongan dalam kebereangkatan menuju kompetisi di Tingkat Provinsi, tapi waktu sangat sangat memahami keadaan mabak Azki, Ketika kami sampai dipertengahan perjalanan, mbak Azki pun menyusul didampingi oleh Ibuk Uswatun Hasnah, Dan saat waktupun terus berjalan tanpa kompromi, biarlah kenangan ini menjadi jangkar, yang membuat kami percaya bahwa perjuangan tidak akan ada yang sia-sia.
persahabatan tak pernah benar-benar hilang, ia hanya berdiam di hati, menunggu dipanggil kembali oleh rindu, tidak ada rencana untuk kami bertemu tapi waktu yang telah menentukan, tiada janji juga yang terucap tapi kenyataan telah menetapkan untuk kami saling menyapa, walau saya dan mereka berbeda jau usianya, tapi saya bangga pernah menajadi dan diakui sebagai Guru nya Ketika di kursi sekolah dan dimasa putih abu-abu, dari mulai Ibuk hasanah, yang sekarang menjadi Guru di madrasah ku, mbak Izah, yang sekarang menjadi team akademisi di salah satu Universitas di bumi bertuah ini, mbak sholeha yang baru saja menginjak di semester 3, juga sudah aktif diberbagai kegiatan mahasiswa ditemani oleh mabk Syafika, juga ditahun yang lalu telah merahi prestasi unggul di bindang Sain Madrasah, kini jejak nya di lanjutkan oleh Mbak Azki, yang merupakan adik kandungnya, cerita dan kenangan itu benar-benar memberikan cerita tersendiri dalam perjalanan kompetisi ini.
Saya merasa senang bisa menjadi Guru sekaligus sahabat bagi mereka, yang kelak saya yakin para pemudi-pemudi sholehah ini akan mengisi kemerdekaan bangsa dengan inovasi-inovasi baru, dan mereka bisa membuktikan bahwa Wanita tak selamai nya didapur. Hmm, mereka bisa berkumpul tanpa ada rencana, begitulah terkadang konsep kehidupan Sesutu yang tidak direncakaan tapi sang maha pencipta telah menentukan dan tidak ada yang bisa menentangnya, saya juga yakin itu tidak terlepas dari rasa yang mengikat diantara mereka sama-sama lahir dari pulau terluar jauh diperbatasan negeri tetangga, dan rasa rindu antara kakak adik, sahabat dalam satu almamater, juga antara murid dengan guru.
Pada akhirnya, setiap kebersamaan yang terjalin selalu meninggalkan jejak yang tidak ternilai. Waktu memang tidak akan terulang dan pertemuan tidak selalu dapat ditentukan, namun kenangan yang diukir bersama akan senantiasa menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup. Dari sebuah bingkai sederhana, dari anak-anak desa, disini kita bisa belajar bahwa arti persahabatan bukan hanya sekadar hadir di satu momen, melainkan bagaimana kehadiran itu memberi makna dan menguatkan satu sama lain. Semoga kisah dan cerita ini menjadi pengingat, bahwa di balik setiap potret yang terabadikan, tersimpan nilai kebersamaan yang patut dijaga dan dihargai selamanya.
Belajarlah wahai anak-anak ku, tetap berprestasi sesuai bidang mu masing-masing, jangan gengsi dan tetaplah rendah hati, saling menjaga dalam perantauan, dan pulanglah membawa keberhasilan yang membanggakan kedua orang tua.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar