Dalam
sebuah perjalan yang tidak pendek, sebuah Impian satu persatu telah nyata dalam
hidup, dari ruang kosong kemaren kini perlahan tumbuh lumut yang bersemi dan
sekarang telah membentuk sebuah taman indah yang membuat nyaman siapa saja
duduk sana, dalam gurun waktu kesekian kalinya saya mengarungi derasnya arus Sungai
siak, untuk menuju negeri junjungan sebagai pusat ibu kota dimaana saya
tinggal, hari itu akan resmi kami dikukuhan sebagai seorang Guru professional,
tentu tidak sekadar itu, kesuksesan sampai dipuncak bagi setiap pendaki tentu
ini merupakan Langkah awal untuk menggali potensi dan berkarya, inovasi lebih untuk
menuju kecerdasan masa depan yang diperankan oleh jutaan peserta didik di Nusantara
ini.
Mas
tarmizi sebenarnya dulu pernah satu kampung dengan saya, pernah tinggal di satu
kecamatan namun beda desa, untuk usia saya jauh lebih muda ketimbang mas
tarmizi, apalagi tentang sanat keilmuan tentu beliau lebih ahli, meski beliau usianya
jauh lebih tua dari saya tapi jika dilihat dari raut wajah masih borosan saya,
munkgin karena saya kebanyakan mikiri ruet nya kehidupan dan jarang menghirup
angin segar maklum saya masih tinggal dipulau yang jauh dari daratan, sambil
menunggu ojekan kami sempatkan waktu untuk duduk sejenak di kursi berwarna senja
itu saling menanyakan kabar masing-masing keluarga, yang kebetulan juga istri
dari mas Tarmizi pernah satu kelas dulu waktu di SMA/MA, senyumnya tipis namun
hangat. Dari dulu sampai sekarang senyumanya tidak berubah, Ia dikenal sebagai
pencatat zaman, seorang yang meyakini bahwa ilmu harus lahir dari kerendahan
hati. Baginya, pengetahuan bukan alat untuk meninggi, melainkan jembatan untuk
mendekat antara manusia dengan kebenaran, antara logika dan nurani, saya ingat
betul pesan beliau “Ilmu yang
tidak membuat
kita lebih lembut,
telah gagal mendidik
kita.”
Tidak sampai lima belas menit saya mendengar
petuah dan nasihat beliau, waktu yang singkat itu telah membawa saya ke Samudra
pengetahan. Setiap pembicaraan syarat dengan ilmu, tersusun rapi dan penuh
wibawa, disisi lain saya
hanya bisa mendengar petuah nya, dengan sedikit Tangan menggenggam catatan
kecil yang saya petik dari setiap kata-katanya, seolah setiap detik adalah
kesempatan belajar yang tak akan saya lewatkan, betemu dengan mas Tarmizi sudah
seperti bertemu dengan kakak kandung, mungkin zaman akan berubah. Teori bisa
saja runtuh, buku bisa juga usang, gelar bisa dilupakan. Namun nilai pertemuan
yang kami tanamkan hari ini merupakan kejujuran dalam berpikir, bahwa kesempatan
ini tidak sering saya dapatkan. Dan kami pun melanjutkan waktu dengan menuju ke
gedung hotel Grand Suka untuk melaksanakan prosesi pengukuhan sebgai Guru
Profesional.
Pertemuan
singkat itu kemudian menjelma menjadi ruang refleksi yang panjang. saya mulai
menyadari bahwa perjalanan menjadi guru profesional bukanlah sekadar proses
administratif atau seremoni pengukuhan, melainkan sebuah tanggung jawab epistemic
tanggung jawab atas cara berpikir, cara bersikap, dan cara memaknai pengetahuan
itu sendiri.
Dari tadi saya perhatikan Mas Tarmizi duduk
dengan sikap yang sama tenangnya. Ia tidak sedang mengajar, namun kehadirannya
telah menjadi pelajaran. Dari cara ia berbicara hingga cara ia merespons
tanggapan dari rekan-rekan sebelah nya, saya menangkap satu pesan penting,
bahwa intelektualitas sejati tidak selalu hadir dalam bentuk argumentasi keras,
melainkan dalam kemampuan merawat makna dan menjaga kejernihan akal. Ia sempat
berkata pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri, namun cukup jelas untuk saya
tangkap, “Menjadi orang berilmu itu bukan tentang seberapa banyak yang kita
ketahui, tetapi sejauh mana ilmu itu mengubah cara kita memandang manusia dan
kehidupan.”
Kalimat
itu membuat saya terdiam, saya teringat
perjalanan melintasi Sungai Siak, arusnya
deras namun tetap setia mengalir ke muara. Barangkali begitulah ilmu seharusnya,
kuat dalam prinsip, namun lentur dalam sikap, dalam dengan isi, tetapi
menenangkan di permukaan. Sebagai guru yang baru dikukuhkan, saya mulai
memahami bahwa tugas utama pendidik bukan sekadar mentransfer pengetahuan,
melainkan membentuk cara berpikir kritis, etis, dan beradab. Inovasi dan
kecerdasan masa depan yang sering kita gaungkan tidak akan bermakna tanpa
fondasi nilai. Di titik inilah saya melihat relevansi nasihat mas Tarmizi, bahwa
ilmu harus menjadi jembatan antara logika dan nurani, bukan tembok yang
menjauhkan manusia dari kemanusiaannya.
Waktu
terus berjalan. Setiap rangkaian telah kami lewati, kegiatan ditutup dengan Doa
yang di munajatkan oleh mas Tarmizi, Kami berdiri, saling berjabat tangan,
tanpa janji akan bertemu kembali. Namun saya tahu, pertemuan itu tidak selesai
di ruang tersebut. Ia akan berlanjut dalam cara saya mengajar, cara saya
belajar, dan cara saya memaknai profesi ini. Saya pun melangkah pergi dengan satu kesadaran baru
bahwa puncak perjalanan intelektual bukanlah gelar atau pengakuan, melainkan
kemampuan menjaga kejujuran berpikir dan kerendahan hati dalam berkarya. Dan
hari itu, saya belajar bahwa satu pertemuan yang tulus bisa menjadi kurikulum
kehidupan yang tak tertulis, namun abadi dalam ingatan, Maka di ruang itu,
sejarah kecil sedang ditulis. Bukan dengan tinta emas, melainkan dengan
kesungguhan hati. Sebab ilmuwan sejati bukanlah ia yang paling banyak diketahui
orang, melainkan ia yang paling jujur pada ilmunya, dan paling bertanggung
jawab pada dampaknya bagi manusia.

















