Dalam pandangan Islam, seorang hamba
adalah makhluk ciptaan Allah yang diciptakan bukan hanya sekedar hidup menikmati yang ia dapat hari ini,dan berusaha untuk hari yang akan datang tetapi untuk mengabdi, tunduk, dan taat
sepenuhnya kepada Rabb-nya. Allah ﷻ berfirman:
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan
manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku."
(QS. Adz-Dzariyat: 56)
Dari ayat ini, kita memahami bahwa hakikat seorang hamba adalah makhluk
yang hidup untuk ibadah. Bukan sekadar ibadah dalam bentuk salat, puasa, atau
zikir, tetapi ibadah dalam arti yang luas (setiap aktivitas yang
diniatkan karena Allah dan sesuai dengan syariat-Nya). Seorang
hamba sejati adalah dia yang sadar bahwa dirinya tidak memiliki apa-apa. Kekuatannya
terbatas, ilmunya sedikit, hartanya titipan, bahkan hidup dan matinya pun bukan
dalam genggamannya. Maka ia bersandar dan bergantung penuh kepada Allah, SWT. berdoa dengan rendah hati, dan berserah diri
dalam setiap takdir yang ditetapkan untuknya. Ia tidak sombong
ketika diberi, dan tidak putus asa ketika diuji. Karena ia tahu, semua datang
dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Dalam sujudnya, ia merasa dekat. Dalam
musibah, ia tetap bersyukur. Dalam kesenangan, ia tidak lupa diri.
Malam ini saya dan
kang Arif sedang ngaji (Ngatur Jiwa) duduk bareng bersama Kyai. M.Dalhar, saya mendengarkan bacaarn
kitab Iḥyā’
‘Ulūm al-Dīn, Kitab ini dianggap sebagai sintesis ilmu syariat dan tasawuf,
dan merupakan upaya Imam Al-Ghazali untuk menghidupkan kembali ruh keislaman
yang sejatinya
mencakup dimensi lahir dan batin, ilmu dan amal, fiqh dan akhlak, kitab ini lumayan tebal pada juz 1 kami mengaji nya sudah berjalan 2
tahun belum juga selesai, satu hal yang menarik dalam pembahasan malam ini,
yaitu tentang keberadaan Doa seorang
Hamba, yang dikorelasikan dengan takdir allah, jika takdir seorang hamba itu
sudah ada sejak zaman Azali, lantas apa gunanya berdoa buat kita.
Doa bukan hanya sekedar meminta, tapi doa adalah bentuk tertinggi dari
penghambaan seorang hamba kepada Rabb-nya. Ia bukan sekadar lisan yang
bergetar, tetapi jiwa yang tunduk dan hati yang berserah diri. Dalam Islam, doa
merupakan ibadah yang sangat mulia. Rasulullah ﷺ bersabda, “Doa
adalah inti dari ibadah” (HR. Tirmidzi). Ini menunjukkan bahwa seorang
hamba yang berdoa, sejatinya sedang mengakui kebesaran Allah dan kelemahan
dirinya.
Bukan kah allah
pun memberikan motivasi kepada hambanya dengan doa “ berdoalah (mintalah) kamu kepada ku, niscaya aku akan mengabulkan”. Ayat ini menjadi
janji dan jaminan dari Allah bahwa setiap doa yang dipanjatkan dengan penuh
keimanan dan ketulusan akan mendapatkan jawaban, meski terkadang bukan dalam
bentuk yang kita harapkan, melainkan dalam bentuk yang lebih baik sesuai dengan
yang kita butuhkan, memang takdir kehidupan manusia sudah ditentukan sejak
dizaman azhali, maka disitulah keberadaan Doa untuk
menginstal ulang setiap kepastian yang terjadi dalam hidup kita, kekuatan doa
mampu menahan dan bahkan menghilangkan balak, musibah dan bencana, jadi
keberadaan Doa sangatlah penting dalam menata srtategi hidup kita untuk
mencapai tujuan. Antara Doa, Iman dan Takdir ini memiliki keterkaitan yang
signifikan.
Saat ketika takdir
sudah ditentukan, maka keberadaan iman untuk menentralisirkan dari setiap
kejadian yang ada, disitulah doa sebangai pendingin kala jiwa sedang meronta,
saya contohkan salah satu takdir mansuia semisal adalah mendapatkan musibah
dengan kecelakan yang mengakibatkan ia harus kehilangan sebelah tanganya, tapi
dengan keberadaan doa maka mampu merubah takdir yang tadi nya sudah ditentukan,
namun kepastian belum terjadi, disinilah keberadaan doa sebagai pembenteng diri
untuk terhindar dari musibah dan mara bahaya, pran iman juga sangan
mendominasikan dan memposisikan diri antara Qhada dan Qadar.
Ketika seorang hamba mengangkat kedua
tangannya dalam doa, ia sedang menautkan harapannya kepada Zat yang Maha
Mendengar, Maha Mengetahui, dan Maha Mengabulkan. Dalam doa terdapat ketenangan
jiwa, penghapus duka, dan penenang dalam kesempitan hidup. Bahkan, dalam
musibah sekalipun, doa adalah penguat iman.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar