Sudah beberapa minggu ini saya tidak menulis. Barangkali kesibukan di sekolah membuat ruang untuk merangkai kata menjadi semakin sempit dan waktu terasa begitu cepat berlalu. Namun hari ini, saya kembali dipertemukan dengan seorang tamu istimewa yang beberapa waktu lalu pernah bersama-sama membersamai kegiatan literasi penulisan cerita anak dwibahasa. Pertemuan itu bukan sekadar silaturahmi, melainkan menjadi langkah lanjutan dari ilmu dan pengalaman berharga yang saya peroleh beberapa minggu lalu. Dari sanalah tumbuh keinginan dalam diri saya untuk menularkan kecintaan terhadap sastra kepada generasi muda.
Kita menyadari bahwa dewasa ini generasi muda hidup sangat dekat dengan gawai dan dunia digital. Sebagian besar waktu mereka dihabiskan di hadapan layar, larut dalam arus teknologi yang tidak pernah berhenti bergerak. Tanpa disadari, setiap waktu yang mereka habiskan di dunia maya juga menghadirkan pengeluaran yang terus bertambah. Dalam beberapa hari saja, mereka harus mengeluarkan biaya untuk membeli paket data, dan jika dihitung dalam jangka waktu sebulan hingga setahun, jumlahnya bukanlah angka yang sedikit. Akan sangat disayangkan apabila waktu, tenaga, dan biaya yang besar itu tidak dimanfaatkan untuk hal-hal yang memberi nilai dan manfaat bagi kehidupan.
Di tengah kuatnya dominasi budaya
digital saat ini, saya memandang penting untuk mengajak generasi muda kembali
mengenal budaya dan sastra bangsanya sendiri. Sebab budaya bukan sekadar
peninggalan masa lalu, melainkan identitas yang membentuk jati diri sebuah
bangsa. Di dalam budaya tersimpan nilai kehidupan, adat istiadat, bahasa, seni,
serta warisan luhur para pendahulu yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Jika budaya mulai dilupakan, maka perlahan generasi muda akan kehilangan akar
sejarah dan kehilangan ciri khas bangsanya sendiri.
Demikian pula sastra. Sastra
bukan hanya rangkaian kata yang indah untuk didengar, dan budaya bukan sekadar
adat yang diwariskan tanpa makna. Di dalamnya hidup nilai-nilai budi pekerti,
kebijaksanaan, serta cahaya peradaban yang membentuk karakter manusia. Melalui
syarahan ini, saya ingin mengajak generasi muda membuka hati dan pikiran untuk
memahami bahwa menjaga budaya sejatinya adalah menjaga akar kehidupan dan
mempertahankan identitas kita sebagai bangsa yang besar dan bermartabat.
Semoga melalui langkah kecil ini,
lahir generasi yang tidak hanya cerdas dalam teknologi, tetapi juga kaya akan
adab, santun dalam berbahasa, serta bangga terhadap sastra dan budaya negerinya
sendiri.Hari ini saya Kembali berhimpun pepat Bersama para tokoh, ulama, umara,
pemangku adat, Bersatu dalam sebuah ruang bukan hanya setakat bercerita, tapi Bersama
belajar Menyusun kata menjadi sebuah kalimat bermakna, penyampai Bahasa sebagai
media untuk menyampaikan pikiran, perasaan, pengalaman, dan imajinasi. Dan buahnya
tentu Bisa saja berupa puisi, pantun, cerpen, novel, drama, dan cerita rakyat. Kita
sebagai orang yang hidup,tumbuh dan berkembang di bumi melayu tentu tentu
sangat kaya dengan budaya yang harus kita lestarikan.
Budaya Melayu mengajarkan kita
tentang lembutnya budi, santunnya bahasa, dan tingginya adab. Dahulu, orang
Melayu tidak meninggalkan warisan emas bertimbun, tetapi meninggalkan kata-kata
yang penuh hikmah. Sebab mereka percaya, hancurnya rumah masih dapat dibangun
kembali, namun hilangnya adat dan bahasa akan memudarkan jati diri anak cucu di
kemudian hari.
Hari ini, zaman bergerak begitu
cepat. Teknologi berkembang tanpa menunggu langkah kita. Anak-anak lebih
mengenal suara gawai daripada suara pantun. Lebih akrab dengan dunia maya
dibandingkan kisah-kisah bijak yang dahulu hidup di serambi rumah. Sedikit demi
sedikit, nilai budaya mulai tersisih oleh gemerlap kehidupan yang serba instan.
Namun sesungguhnya, budaya tidak pernah meminta untuk diagungkan. Ia hanya
ingin dikenang, dijaga, dan diwariskan. Sebab budaya adalah akar. Dan pohon
setinggi apa pun tidak akan mampu berdiri kokoh jika akarnya dibiarkan mati.
Maka pada kesempatan yang mulia
ini, saya mengajak kepada kita semua untuk menjadi generasi yang tidak malu
memakai adat sendiri, tidak segan berbicara dengan santun, dan tidak lelah
menjaga sastra sebagai cahaya peradaban. Karena bangsa yang besar bukanlah
bangsa yang melupakan masa lalunya, melainkan bangsa yang mampu membawa warisan
leluhurnya berjalan berdampingan dengan kemajuan zaman. Biarlah waktu terus
bergerak membawa perubahan, namun jangan biarkan akar budaya tercerabut dari
kehidupan kita. Sebab ketika adat mulai dilupakan, bahasa mulai ditinggalkan,
dan sastra tak lagi dibacakan, sesungguhnya yang perlahan hilang bukan hanya tradisi,
melainkan juga ruh dan jati diri sebuah bangsa.
Mari kita rawat budaya
sebagaimana kita menjaga rumah tempat kita pulang. Mari kita hidupkan kembali
pantun di tengah percakapan, syair di tengah pembelajaran, serta nilai-nilai
luhur Melayu di dalam perilaku kehidupan sehari-hari. Karena sesungguhnya kemajuan
bukanlah ketika kita meninggalkan warisan leluhur, melainkan ketika kita mampu
membawa warisan itu tetap hidup di tengah dunia yang terus berubah.
Semoga generasi muda hari ini kelak menjadi generasi yang tidak hanya cerdas oleh ilmu pengetahuan, tetapi juga kaya akan adab, halus dalam bertutur, serta teguh memegang nilai budaya bangsanya. Generasi yang mampu berdiri tinggi menatap masa depan tanpa kehilangan akar tempat ia berasal. Jika kelak anak cucu masih mengenal pantun, masih memahami santun, dan masih bangga menyebut dirinya pewaris budaya Melayu, maka pada saat itulah kita tahu bahwa perjuangan menjaga budaya tidak pernah sia-sia. Karena budaya bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan cahaya yang akan menerangi perjalanan bangsa menuju masa depan.









.jpeg)


.png)




%20(1).png)
