NUansa.UMT

Musafir yang Mencari Hidayah

motivasi dan informasi

Pernah suatu Ketika saya bertanya kepada seseorang Perempuan, saya tidak terlalu mengenalinya, bisa dikatakan beberapa kali saja bertemu dan berkomunikasi, sehingga suatu hari itu setelah kegiatan pelatihan menulis bagi penulis pemula disebuah sanggar yang diselenggarakan oleh rekan-rekan komunitas literasi, saya menghampirinya dan menyapa dengan lembut, ia pun menyambut dengan senang hati, memang kami beda pemikiran, tapi saya yakin walau beda pemikiran dalam satu keyakinan, saya maklumi,  tapi saya yakin kami memiliki tujuan hidup yang sama yaitu “untuk menemukan hidup bahagia”. Apapun itu latar belakang pemikiranya. Waktu itu saya hanya bertanya singkat “ kenapa tidak pakai jilbab saja, padahal kamu terlihat pantas dan cantik Ketika memakainya”. Ia hanya menjawab dengan singkat penuh keyakinan. “ Nggak Ah, belum dapat hidayah”.

Jawaban singkat itu, membuat saya berfikir Panjang, dan merenung lebih jauh, dan sayapun memberanikan diri untuk bertanya kembali, “memang nya apa si makna hidayah..?” perempuan itu Cuma senyum dan meninggalkan saya begitu saja, seoalah malas untuk berdebat lebih jauh.

secara tekstual hidayah itu berasal dari kata “Huda” yang artinya petunjuk, makna yang lebih luas bisa juga dimaknai Petunjuk, bimbingan, dan taufik yang diberikan oleh Allah Swt. kepada hamba-Nya sehingga ia mampu mengenal kebenaran, menerima kebenaran, serta mengamalkan kebenaran tersebut dalam kehidupan. Dan Para ulama menjelaskan bahwa hidayah bukan sekadar mengetahui mana yang benar dan salah, tetapi juga kemampuan yang Allah anugerahkan untuk mengikuti jalan yang benar hingga memperoleh keridaan-Nya. Dalam makna Ibnu Katsir menjelaskan bahwa hidayah adalah petunjuk menuju jalan yang lurus yang diberikan Allah kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Sementara menurut Ibnu Qoyyim, bahwa hidayah mencakup penjelasan tentang kebenaran sekaligus taufik untuk mengamalkannya.

Dalam konteks seperti itu saya sempat berpikir, apakah mungkin ia sedang menunggu hidayah. Atau jangan-jangan, selama ini saya sendiri yang belum benar-benar memahami makna hidayah sebagaimana diajarkan oleh agama. Sepanjang perjalanan pulang, pertanyaan itu terus berputar di kepala. Bukankah setiap hari kita membaca doa, "Ihdinash Shirathal Mustaqim". "Tunjukilah kami jalan yang lurus"? Doa itu tidak hanya dibaca oleh mereka yang merasa jauh dari Allah, tetapi juga oleh orang-orang yang setiap hari berdiri dalam salat. Artinya, hidayah bukanlah sesuatu yang sekali datang lalu selesai. Hidayah adalah anugerah yang terus-menerus dimohonkan, dijaga, dan dipelihara.

Saya kemudian menyadari bahwa setiap orang sedang menempuh perjalanan spiritualnya masing-masing. Ada yang Allah bukakan pintu kebaikan melalui ilmu, ada yang melalui ujian hidup, ada yang melalui kehilangan, dan ada pula yang melalui nasihat sederhana yang datang pada waktu yang tepat. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan Allah membukakan pintu hidayah bagi seorang hamba. Mungkin perempuan itu memang belum siap mengenakan jilbab menurut keyakinannya. Mungkin pula ia sedang bergulat dengan berbagai persoalan yang tidak saya ketahui. Sebab manusia hanya melihat apa yang tampak, sedangkan Allah mengetahui seluruh isi hati dan perjuangan setiap hamba-Nya.

Sejak saat itu saya belajar untuk lebih berhati-hati dalam menilai orang lain. Mengajak kepada kebaikan adalah kewajiban setiap muslim, tetapi cara mengajak juga merupakan bagian dari ajaran Islam. Allah Swt. berfirman: "Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan cara yang paling baik." (QS. An-Nahl: 125).

Ayat ini mengajarkan bahwa dakwah bukan sekadar menyampaikan kebenaran, melainkan juga menghadirkan kebijaksanaan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Kita boleh berbeda cara pandang dalam memahami suatu persoalan yang bersifat ijtihadi, namun perbedaan itu tidak seharusnya menghilangkan rasa hormat, persaudaraan, dan kasih sayang sesama muslim. Saya pun mulai mengubah cara berpikir. Barangkali tugas saya bukan memastikan seseorang telah mendapat hidayah atau belum. Itu adalah urusan Allah semata. Tugas saya hanyalah menyampaikan kebaikan dengan santun, menjadi teladan sebisa mungkin, lalu mendoakan saudara-saudara saya agar Allah membimbing kami semua ke jalan yang diridai-Nya.

Boleh jadi, orang yang hari ini belum melakukan satu amal yang menurut kita baik, ternyata memiliki hati yang jauh lebih bersih daripada kita. Dan boleh jadi, orang yang hari ini masih berjuang memperbaiki diri, kelak menjadi pribadi yang lebih saleh dan sholehah daripada mereka yang merasa dirinya sudah benar. Karena itu, tidak ada alasan bagi seorang mukmin untuk merendahkan orang lain. Yang lebih pantas dilakukan adalah saling menguatkan dalam kebaikan dan saling mendoakan.

Perjumpaan singkat dengan perempuan itu akhirnya mengajarkan satu hal yang sangat berharga kepada say,  hidayah bukan alasan untuk menunda kebaikan, tetapi juga bukan hak kita untuk menghakimi perjalanan iman seseorang. Hidayah adalah rahasia Allah, sedangkan adab adalah tanggung jawab kita. Maka ketika bertemu dengan orang yang berbeda pemikiran atau belum sampai pada tahap yang kita harapkan, semoga yang pertama lahir dari lisan kita bukanlah vonis, melainkan doa: "Ya Allah, berilah kami semua hidayah, tetapkan hati kami di atas agama-Mu, dan jadikan kami hamba yang mampu menghargai sesama tanpa kehilangan keberanian untuk mengajak kepada kebaikan.

Beberapa Minggu  kemudian, takdir kembali mempertemukan kami.

Bukan di ruang pelatihan, bukan pula di tengah keramaian diskusi sastra. Kami bertemu di teras ruko sederhana, tempat hujan sedang menyelesaikan rintiknya di atas dedaunan yang tumbuh rimbun dipinggiran ruko. Senja turun perlahan, membawa aroma tanah yang baru saja disapa langit. perempuan tersenyum lebih dahulu.

"Masih suka bertanya tentang hidayah?" katanya sambil tertawa kecil.

Saya ikut tersenyum. Dan menjawab singkat "Nggak..saya sedang belajar untuk bertanya kepada diri sendiri."

Ia menatap saya beberapa saat. Matanya teduh, seperti seseorang yang sedang menyimpan banyak cerita. "Lalu... apa jawaban yang Mas temukan?" Saya menghela napas.

" ternyata saya terlalu sibuk menunggu orang lain berubah, sementara saya lupa bertanya apakah hati saya sendiri masih sedang menuju Allah." Iapun  terdiam terdiam sejenak lalu,  "Mas tahu, ?" katanya pelan, "waktu Mas bertanya tentang jilbab hari itu, saya sempat tersinggung." Saya pun sedikit mengerutkan kening dan memandang kearah Perempuan itu. "mm.. Saya minta maaf."

"Tapi..." ia melanjutkan, "...bukan karena pertanyaannya. Saya tersinggung karena saya merasa belum mampu menjawab pertanyaan itu kepada diri saya sendiri. Setiap malam," katanya lirih, "saya berdoa agar Allah menguatkan hati saya. Saya tahu menutup aurat adalah perintah. Saya tidak membantahnya. Hanya saja, saya takut menjadi orang yang berubah karena tekanan manusia, bukan karena cinta kepada Allah." Kalimat itu benar-benar membuat saya diam, tapi agar supaya tidak terlihat canggung didepan nya, saya pun menjawab

"Barangkali itu juga sebuah perjuangan." Ia mengangguk.

"Kita sering melihat seseorang dari pakaian yang ia kenakan. Padahal mungkin ada orang yang pakaiannya sederhana, tetapi hatinya setiap malam menangis memohon ampun. Dan mungkin ada pula yang tampak saleh di mata manusia, tetapi diam-diam sedang berperang melawan riya." Sambung saya sambil mengeringkan tempat duduk motor saya yang basah karena hujan

Saya tersenyum tipis. "Berarti kita sama mbak."

"Maksudnya?" jawabnya penuh penasaran. "Sama-sama sedang belajar." Ia tertawa kecil. “kan memang dari kemaren kita sama-sama belajar menjadi penulis pemula”, jawabnya Kembali. kami pun tertawa lirih.

“mas…apakah juga sedang mencari hidyah.?”. “Tidak,!, ” jawab ku tegas, sambil memandang jemari sendiri, dan seakan sedang membaca garis-garis takdir yang tak pernah benar-benar bisa dipahami manusia.

"Saya ingin diberi hidayah agar tidak mudah merasa lebih baik daripada orang lain."

Ia terdiam cukup lama.!, Kemudian berkata dengan suara yang hampir berbisik, "Itu hidayah yang berat."

"Kenapa?"

"Karena kesombongan sering datang dengan pakaian yang sangat saleh."

Kalimat itu jatuh pelan, tetapi mengguncang batin saya. Saya jadi teringat sebuah nasihat ulama, bahwa iblis tidak jatuh karena tidak mengenal Allah. Ia jatuh karena kesombongan yang membuatnya merasa lebih mulia daripada Adam. Betapa tipis batas antara merasa taat dan merasa paling taat. Perempuan itu kembali berbicara.

"Mas..."

"Iya?"

"Kalau suatu hari nanti Allah memberi saya kekuatan memakai jilbab, jangan puji saya." Saya tersenyum heran. "Lalu apa yang harus saya lakukan?". "Doakan agar saya istiqamah."

"Lalu kalau hari itu belum juga datang?" Ia tersenyum, kali ini matanya sedikit berkaca. "Jangan berhenti mendoakan saya.". Saya mengangguk.

"Dan kalau suatu hari saya melihat Mas mulai sibuk menilai orang lain?"

“kenapa.” Jawab ku singkat sambil Kembali mengerutkan kening. Ia hanya tersenyum.

"'Mas... jangan-jangan kita sama-sama sedang kehilangan hidayah.'" Kami berdua pun tertawa.

Bukan tawa yang lahir karena merasa paling benar, dan saling mengalahkan, melainkan tawa dua orang musafir yang sama-sama sadar bahwa jalan menuju Allah terlalu panjang untuk ditempuh dengan saling menghakimi.

Akhirnya Saya menyadari bahwa pertemuan itu bukan tentang jilbab, bukan tentang siapa yang lebih dahulu berubah, dan bukan pula tentang memenangkan sebuah pandangan. Ternyata Allah sedang mengajarkan kami satu pelajaran yang sederhana, tetapi sering dilupakan. bahwa hidayah tidak tumbuh di tanah yang dipenuhi prasangka. Ia lebih senang bersemi di hati yang rendah, yang mau mendengar sebelum berbicara, yang mau memahami sebelum menyimpulkan, dan yang lebih gemar mendoakan daripada menghakimi.

Muhammad Taufik. [Penulis Kolom].


Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

PUISI

CERITA

UMT.CSH

Musafir yang Mencari Hidayah

motivasi dan informasi Pernah suatu Ketika saya bertanya kepada seseorang Perempuan, saya tidak terlalu mengenalinya, bisa dikatakan beber...

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Sample Text

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.