Pangandaran: Setelah beberapa hari mejajakii Pulau Jawa untuk belajar dari jejak sejarah dan peradaban, saya menyempatkan diri singgah di Pantai Pangandaran. Di tengah ramainya pengunjung, pandangan saya tertuju pada seorang ayah yang sedang menemani anaknya menaiki seekor kuda di tepi pantai.
Mereka bukan keluarga yang tampak hidup bergelimang harta. Pakaiannya sederhana, senyumnya pun sederhana. Namun, dari wajah keduanya terpancar kebahagiaan yang mungkin tidak bisa dibeli dengan apa pun. Sang ayah menggandeng tangan anaknya, memastikan ia tetap merasa aman, lalu tersenyum melihat tawa kecil yang begitu tulus. Barangkali bagi sebagian orang, itu hanyalah permainan beberapa menit di atas seekor kuda. Tidak ada yang istimewa. Namun bagi saya, pemandangan itu menyimpan pelajaran yang begitu dalam. Ternyata kebahagiaan tidak selalu lahir dari kemewahan. Kadang cukup dengan hadir sepenuhnya untuk orang yang kita cintai.
Islam mengajarkan bahwa anak adalah amanah dari Allah. Mereka tidak hanya membutuhkan makanan dan pakaian, tetapi juga waktu, perhatian, dan kasih sayang. Barangkali kelak anak itu tidak akan mengingat berapa banyak uang yang dimiliki ayahnya. Namun ia akan selalu mengingat bahwa pernah ada seorang ayah yang meluangkan waktu untuk berjalan bersamanya, menggenggam tangannya, dan membuatnya merasa dicintai.
Seekor kuda yang membawa mereka berjalan perlahan seakan ikut mengajarkan tentang kehidupan. Ia tidak berlari tanpa arah. Setiap langkahnya tenang dan seimbang. Begitulah seharusnya manusia menjalani hidup. Tidak perlu tergesa-gesa mengejar dunia hingga lupa kepada keluarga dan Tuhannya. Hidup akan terasa lebih indah ketika dijalani dengan kesabaran, rasa syukur, dan tuntunan iman. Lalu saya memandang hamparan laut yang membentang luas dibelakangnya, Ombak terus datang dan pergi tanpa henti. Kadang lembut, kadang menghantam bibir pantai. Bukankah hidup kita pun demikian? Ada hari-hari yang penuh kebahagiaan, tetapi ada pula masa ketika ujian datang silih berganti. Pantai Pangandaran hari itu mengingatkan saya bahwa menjadi orang biasa bukanlah kekurangan. Justru di balik kehidupan yang sederhana sering kali Allah menyembunyikan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah gemerlap dunia. Selama hati tetap bersyukur, keluarga saling menguatkan, dan langkah selalu diarahkan kepada Allah, maka itulah kekayaan yang sesungguhnya.
Saya kemudian menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kemewahan. Ia sering bersemayam dalam pelukan yang hangat, tawa yang tulus, dan waktu yang diberikan dengan penuh kasih. Seorang ayah yang mungkin lelah bekerja sepanjang hari tetap menyempatkan diri menghadiahkan kebahagiaan kecil bagi anaknya. Itulah cinta yang tidak banyak berbicara, tetapi begitu nyata.
Begitulah Allah mengajarkan hamba-Nya tentang nikmat. Sering kali kita sibuk mengejar sesuatu yang jauh, hingga lupa mensyukuri anugerah yang telah ada di genggaman. Padahal, hati yang pandai bersyukur akan selalu menemukan alasan untuk bahagia, meski hidup berjalan dalam kesederhanaan.
Semoga kita tidak hanya sibuk mencari rezeki, tetapi juga mampu menghadirkan kebahagiaan sederhana bagi orang-orang yang Allah titipkan kepada kita. Sebab pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa besar cinta, waktu, dan kebaikan yang sempat kita berikan sebelum semuanya kembali kepada-Nya.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar