Penulis Kolom : Muhammad Taufik,S.Pd.I, M.Pd
Di sebuah sudut desa yang sunyi, jauh dari hiruk-pikuk dunia, Allah menumbuhkan dua kuntum bunga yang sejak kecil akrab dengan lantunan ayat-ayat suci. Di tempat yang terbatas oleh akses pendidikan agama, kedua orang tua mereka memilih jalan yang tidak mudah. Dengan hati yang dipenuhi doa dan tawakal, mereka merelakan dua putri kembarnya menempuh perjalanan menuntut ilmu, menitipkan mereka kepada sang nenek dan paman yang penuh kasih agar dibimbing menjadi para penjaga kalam Ilahi.
Hari demi hari berlalu dalam irama tilawah, doa-doa yang lirih, dan sujud yang memanjatkan harap. Di bawah asuhan keluarga yang penuh keikhlasan, tumbuhlah hati-hati yang bening, akhlak yang lembut, serta cinta yang semakin dalam kepada Al-Qur'an. Dari rahim kesederhanaan lahirlah kemuliaan; dari pengorbanan orang tua bersemi harapan yang kelak menerangi banyak jiwa. Dua gadis kembar ini mungkin memiliki wajah yang serupa, namun keindahan sejati bukanlah pada rupa yang sama, melainkan pada tekad yang seirama. Mereka memilih menjadikan Kalam Allah sebagai cahaya penuntun setiap langkah, sahabat dalam setiap perjalanan, penyejuk di kala gundah, dan kompas yang mengarahkan hidup menuju ridha Allah. Sebab mereka percaya, siapa yang memuliakan Al-Qur'an, niscaya Allah akan memuliakannya di dunia dan di akhirat.
Sejak di bangku sekolah saya sudah mengenalnya, melihat cara ia belajar mungkin tidak jauh beda dengan anak-anak yang lain dikelasnya, ya terkadang telat masuk kelas, ada juga bolos pada jam pelajaran, tapi di balik itu saya belum melihat kedua siswi ini jauh dari Al Qur'an.
Sejak di bangku sekolah saya telah mengenal mereka. keduanya lebih akrab dipanggil "Mbak Kembar." Dua gadis dengan wajah yang hampir tak dapat dibedakan, tetapi selalu menghadirkan kesan yang sama teduh dan sederhana. Sebagaimana anak-anak seusianya, mereka bukan Pribadi yang selalu tampak sempurna. Namun, ada satu hal yang sejak dahulu tak pernah luput dari pengetahuan saya seakan mereka tidak pernah lepas dari kehidupan bersama Al-Qur'an. Di sela waktu istirahat, ketika sebagian teman memilih bermain atau berbincang, sering kali saya melihat salah seorang di antara mereka membuka mushaf yang mulai usang di sudut kelas atau di serambi musala Sekolah. Bibirnya bergerak lirih melantunkan ayat demi ayat, sementara saudara kembarnya menyimak dan membetulkan bacaan yang kurang tepat. Pemandangan itu begitu sederhana, tetapi meninggalkan jejak yang dalam di hati siapa pun yang menyaksikannya.
Waktu terus bergulir. Musim demi musim datang silih berganti. Seragam sekolah yang dahulu kebesaran kini telah berganti dengan pakaian para penuntut ilmu. Akan tetapi, ada satu warisan yang tidak pernah berubah kecintaan mereka kepada Kalamullah. Apa yang dahulu hanya tampak sebagai kebiasaan kecil, perlahan menjelma menjadi jalan hidup yang mereka pilih dengan penuh kesadaran. Kini saya mengerti, perjalanan mereka bukanlah kisah tentang dua gadis yang dilahirkan sebagai anak-anak yang luar biasa. Mereka tumbuh sebagaimana anak-anak lain, dengan segala kekurangan dan dinamika masa remaja. Yang membedakan hanyalah satu: ketika banyak orang mengejar dunia, mereka memilih untuk tetap menggenggam Al-Qur'an, dan ketika banyak hati mudah berubah oleh zaman, mereka berusaha menjaga hati agar tetap berlabuh pada firman Allah. Barangkali inilah buah dari doa-doa panjang seorang ayah dan ibu yang rela menahan rindu, juga ketulusan seorang nenek serta paman yang sabar membimbing mereka. Sebab tidak ada pengorbanan yang dilakukan karena Allah yang benar-benar sia-sia. Kelak, bukan hanya kedua gadis itu yang akan menuai kemuliaan, tetapi juga orang-orang yang pernah mengantarkan langkah mereka menuju jalan Al-Qur'an. Sebagaimana sabda Nabi ï·º, sebaik-baik manusia adalah mereka yang belajar Al-Qur'an dan mengajarkannya.
Hari ini saya bertemu kembali dengan Mbak Kembar. Kesederhanaannya tetap sama, sama seperti dulu. Senyum yang tenang, tutur kata yang lembut, dan langkah yang tidak pernah tergesa-gesa. Namun saya yakin, ada sesuatu yang telah tumbuh jauh lebih dalam dari sekadar usia yaitu ilmu dan kecintaan mereka kepada Al-Qur’an. Dulu saya mengenal mereka sebagai dua siswi desa yang sering membawa mushaf ke sekolah. Kini saya melihat mereka sebagai dua jiwa yang ditempa oleh waktu, doa, dan kesabaran. Wajah mereka mungkin tidak banyak berubah, tetapi cahaya ketenangan yang terpancar dari hati mereka terasa semakin nyata. Saya belajar dari Mbak Kembar, bahwa kemuliaan tidak selalu hadir dengan kemewahan, dan kedalaman ilmu tidak selalu diumumkan dengan suara yang keras. Kadang ia tumbuh diam-diam, seperti akar yang menguat di dalam tanah, lalu menghadirkan keteduhan bagi siapa saja yang mendekat.
Pertemuan singkat hari ini meninggalkan pelajaran yang panjang. Bahwa jalan menuju kemuliaan tidak harus dimulai dari tempat yang sempurna. Dari desa yang sunyi, dari keluarga yang sederhana, dari langkah-langkah kecil yang dijaga dengan istiqamah, Allah dapat menumbuhkan cahaya yang menerangi banyak hati.
Maka kepada siapa pun yang membaca kisah ini, jangan pernah merasa terlambat untuk mendekat kepada Al-Qur’an. Mulailah dari satu ayat, satu halaman, hingga suatu waktu yang kita jaga dengan sungguh-sungguh akan menemani diri di kemudian hari.
#Citangkolo.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar