NUansa.UMT

Rajab dan Jalan Pulang Menuju Hati

Rajab datang seperti angin yang lembut tidak selalu terdengar, namun dapat dirasakan oleh hati yang peka. Di antara dua belas bulan yang berputar bagai roda nasib manusia, Rajab berdiri sebagai bulan sunyi, bulan di mana langit seolah lebih dekat, dan bumi lebih teduh dalam naungan rahmat-Nya. Ia bukan hanya tanggal dalam kalender hijriah; Rajab adalah ruang kontemplasi, sebuah lorong waktu yang mengundang manusia berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia, lalu memandang ke dalam diri, rajab sebbagai bulan dimana allah turunkan rahmad dengan tidak terhingga kepada para hamba-hambanya yang mau Kembali kepada diri dan hati, segalal dosa diampuni oleh allah Ketika para hamba mau mengakui segala dosa dan khilaf, dan kebaikan allah selalu diberikan kepada para hamba yang saling berbuat kebaikan dengan sesama.

Dalam keheningan Rajab, ruh menemukan kesempatan untuk kembali berbicara. Selama ini kita sering sibuk mendengar dunia, suara pasar, rapat, ambisi, notifikasi yang datang tanpa jeda. Jarang sekali kita menundukkan kepala untuk mendengar suara yang lebih halus, suara fitrah yang sejak mula berbisik, “Pulanglah.” Rajab mengingatkan manusia bahwa perjalanan terbesar bukan sekadar menaklukkan gunung atau meraih gelar, melainkan perjalanan kembali menuju hati yang bersih, dan akhirnya menuju Allah, sumber segala makna.

Ibadah di bulan ini bukan sekadar ritual, melainkan laku ruhani. Puasa bukan hanya menahan lapar, tetapi menahan ego agar tidak terus berteriak meminta dunia. Dzikir bukan sekadar lafaz yang berputar di bibir, melainkan upaya menghadirkan Allah di ruang yang paling sunyi dalam batin. Sedekah bukan hanya memberi harta kepada yang membutuhkan, tetapi memberi kesempatan bagi jiwa untuk tumbuh menjadi lebih tenang, lebih lapang, dan saling mengasihi, Setiap amalan menjadi cermin untuk melihat siapa diri kita sesungguhnya. Ketika tangan memberi, hati bertanya, apakah aku memberi karena cinta, atau karena ingin dipandang? Ketika lidah berzikir, batin berbisik, apakah Allah hadir dalam kesadaranku, atau aku hanya meniru gerakan orang shalih tanpa makna? Rajab mengundang manusia berdialog dengan dirinya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini tidak sempat ditanyakan karena sibuk mengejar dunia, muncul kembali dengan lembut namun dalam: Siapa aku? Untuk apa aku hidup? Ke mana aku akan kembali?

Isra Mikraj, peristiwa besar yang terjadi di bulan ini, menghadirkan simbol perjalanan paling agung, dari bumi menuju langit, dari gelap menuju cahaya, dari keraguan menuju keyakinan. Namun perjalanan Nabi bukan sekadar sejarah, melainkan alegori tentang perjalanan batin setiap insan. Setiap manusia memiliki mi’rajnya sendiri, loncatan rohani dari dunia luar menuju ruang kesadaran terdalam. Perjalanan itu tidak selalu spektakuler. Terkadang ia dimulai dari sujud yang khusyuk, air mata yang jatuh diam-diam, atau bisikan istighfar di tengah malam.

Jika nabi telah mikraj menemui allah sang maha pencipta, maka setiap jiwa juga seharusnya mikraj Ketika sujud di setiap waktu nya, untuk menemui sang maha pencipta dengan kedamaian hati yang lembut, dan merasakan bahwa kita memang dekat dengan pencipta, maka tak usah heran Ketika seorang berdiri untuk sholat dan ia betah berlama-lama dan membawakan ayat yang Panjang, karena sesungguhnya ia sedang memadu kasih dan melepas rindu kepada sang pencipta, tak sedikit juga diantara jiwa itu ada yang tak betah berdiri lama dan gelisah Ketika mendengar ayat-ayat yang Panjang, barngkali ia tak menemukan cinta dalam ibadahnya.

Rajab adalah pintu awal menuju perubahan. Ia adalah jeda, kesempatan untuk menata diri sebelum Sya’ban memperhalus jiwa, dan Ramadan menyempurnakan penyucian. Jalan pulang menuju diri bukan jalan yang bisa ditempuh tergesa. Ia membutuhkan kejujuran, kesabaran, dan keberanian untuk melihat luka-luka batin yang selama ini tertutup. Namun ketika seseorang memilih untuk berjalan, ia akan mendapati bahwa Allah telah menunggu di ujung perjalanan dengan kasih yang tidak pernah lelah.

Dan mungkin, pada suatu malam Rajab ketika seluruh dunia tertidur, seorang hamba duduk memegang hatinya yang letih. Ia berdoa dengan suara yang hampir tak terdengar, “Ya Allah, tunjukkan aku jalan pulang.” Pada saat itulah ia menyadari, pulang bukan berarti kembali ke tempat asalnya secara fisik, tetapi kembali pada kejernihan batin, kembali pada fitrah yang tenang, kembali pada Tuhan yang selalu dekat, Rajab adalah undangan. Undangan untuk pulang, Bukan pulang ke rumah atau kampung halaman, tetapi pulang kepada diri yang pernah jernih dan kepada Allah yang selalu menanti.

Sahabat para pembaca yang Budiman, mari kita Kembali pada diri kita pada bulan rajab yang mulia ini kita kembalikan diri untuk mempersiapkan nya menuju syak’ban sebabai bulan untuk membersihkan diri dan hati dari noda-noda dosa, dan Ramadhan nanti kita jadikan sebagai bulan untuk menyinari hati dan diri kita sehingga nanti benar-benar kita menjadi pribadi yang takwa disisi Allah, SWt.

 


Share:

Jejak Sunyi Dari Seorang Guru

Pagi itu langit belum sepenuhnya ramah. Awan menggantung seperti pikiran-pikiran yang belum selesai, sementara udara masih menyimpan sisa dingin malam. Di halaman sebuah Madrasah sederhana yang berdiri di antara deretan pepohonan dan bangunan kayu bercat hijau, seorang Wanita tangguh berhenti dengan motornya. Ia mengenakan jilbab merah marun yang terikat rapi, wajahnya tenang, matanya menyimpan kesiapan. Motor itu bukan sekadar alat transportasi tapi ia adalah saksi perjalanan panjang dalam sebuah pengabdian, setiap hari tanpa terlihat Lelah, ia selalu mamncarkan semangat yang membara ia suguhkan untuk para pejuang masa depan, Lelah nya telah ia tutup rapat dan rapi dengan senyuman sehingga setiap murid-murid nya tak ada satu pun yang tau bahwa ia sedang Lelah.

Namanya Bu Darti, nama yang tak tertulis di plang besar atau buku sejarah. Ia hanya seorang guru biasa, tidak terkenal. Namun justru dari kesederhanaan itulah lahir pengaruh yang menjalar pelan tapi pasti, seperti akar yang menguatkan tanah, Setiap pagi, Bu Darti datang lebih awal. Bukan karena aturan, bukan karena absensi pada aplikasi yang harus tepat waktu, melainkan karena ia percaya bahwa guru harus tiba sebelum harapan murid-muridnya. Di atas motor itulah ia membawa lebih dari sekadar tas berisi buku dan spidol. Ia membawa niat, kesabaran, dan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan sunyi yang mesti ditempuh dengan setia, karean pengukir Sejarah akan lahir dari niat mulia ini.

Madrasah tempatnya mengabdi bukan Madrasah megah. Bangunannya sederhana, ruang kelasnya tidak ber AC, tapi itu lebih dari cukup untuk ia mengabdi pada negeri dan tugas mulianya mencerdaskan generasi bangsa,  halaman Madrasah menjadi saksi, ada tawa sekaligus air mata para siswa. Banyak dari mereka datang dengan seragam yang kadang tak selalu rapi, sepatu yang sudah lusuh, terkadang juga ada yang tapak nya sudah robek karena kasar nya aspal, dan cerita rumah yang tak selalu mudah. Namun di mata sang Guru, tak ada murid yang kecil, dan kerdil, Setiap peserta didik adalah semesta yang menunggu untuk diterangi, Ia mengajar bukan hanya tentang mata pelajaran, tetapi juga tentang sebuah makna,  Ketika menjelaskan rumus, ia sisipkan nilai kejujuran. Saat membahas sejarah, ia ajarkan keberanian, dalam pelajaran bahasa, ia tekankan adab berbicara. Baginya, ilmu tanpa akhlak adalah bangunan tanpa pondasi, biarpun tinggi, tetapi rapuh.

Suatu hari, seorang murid bertanya kepada Bu Darti dengan polos,“Bu, kenapa Ibu selalu datang lebih cepat dari teman-teman guru yang lain, dan naik motor sendiri..?

Ia tersenyum. Senyum yang tak dibuat-buat.“Karena perjalanan ke Madrasah adalah bagian dari pelajaran,” jawabnya dengan nada datar seakan tanpa beban dan sedikit dikeningnya mengerut.

Anak itu mengernyit. “Pelajaran apa?”

“Pelajaran tentang tanggung jawab,” katanya lembut. “Kalau Ibu ingin kalian sampai pada cita-cita, Ibu harus memberi contoh bagaimana tetap berjalan meski lelah.”, kamu liat naaak…Motor itu sering mogok, Kadang bannya bocor, kehabisan minyak, bahkan  Pernah pula hujan turun deras, membuat kita terhamabat datang ke madrasah, baju dan jilbab kita basah dan Sepatu juga berlumpur. Namun tak sekalipun kita memilih untuk kembali pulang,  kita selalu sampai. Yaa…Mungkin terlambat beberapa menit, tetapi tak pernah absen dari makna, jawab nya sambil memandangi sang anak, Siwi itu pun terdiam dan mengangguk,

Di ruang guru, Bu Darti selalu menjadi inspiratif, inovasi nya benar-benar bisa ditiru oleh rekan-rekan sejawat nya, ia dikenal sebagai sosok guru yang ramah, renyah dalam berbicara, tak gemar mengeluh. Ketika rekan-rekannya membahas fasilitas yang kurang, ia hanya berkata, “Kita mungkin kekurangan alat untuk peraktek, tapi jangan kekurangan hati, dan cara untuk menemukan sesuatu yang baru.” Karena ia tahu betul tidak harus menunggu punya untuk selalu bebuat”, Ia percaya bahwa guru bukanlah semata-mata sebagai pusat perhatian, melainkan penunjuk arah. Ia tak ingin murid-muridnya mengingat namanya, tetapi mengingat nilai-nilai yang ia tanamkan. Ia ingin dikenang bukan sebagai guru yang galak atau baik, melainkan guru yang hadir, dalam setiap harapan dari murid-muridnya.

Ada seorang murid laki-laki yang sering bolos. Tubuhnya kurus, matanya selalu menunduk. Banyak guru telah menyerah. Namun tidak dengannya. Ia mendatangi rumah murid itu, menempuh jalan sempit dengan motornya. Rumahnya kecil, dindingnya dari papan, susunan daun rumbia, ibunya bekerja sepanjang hari, Ia duduk di lantai rumah itu, berbicara bukan sebagai guru, melainkan sebagai manusia. Ia tidak menghakimi, tidak menasihati dengan nada tinggi. Ia hanya berkata, “Ibu percaya kamu bisa lebih dari ini.” Kalimat itu sederhana, tapi bagi murid itu, ia seperti pintu yang terbuka setelah lama terkunci. Sejak hari itu, ia mulai rajin datang ke Madrasah. Nilainya tak langsung naik, tapi semangatnya tumbuh. Bertahun-tahun kemudian, murid itu lulus dan menjadi orang pertama di keluarganya yang melanjutkan pendidikan.

Ia pernah ditanya, apa rahasia menjadi guru yang inspiratif. Ia menjawab, “Jangan mengajar untuk dilihat, mengajarlah untuk menghidupkan.”.Di halaman Madrasah, motor putih itu sering terparkir di bawah atap seng yang berlumut dan lusuh. Murid-murid lalu-lalang, sebagian menyapanya, sebagian hanya tersenyum. Namun semua tahu: jika pagi itu motor itu sudah ada, berarti Madrasah telah siap menerima hari, Baginya, menjadi guru bukanlah profesi sementara. Ia adalah panggilan panjang. Ada hari-hari ketika gaji terasa tak sebanding, ketika lelah mengalahkan semangat, ketika hasil tak segera tampak. Namun setiap kali ia melihat muridnya memahami satu hal baru, atau berani bermimpi sedikit lebih tinggi, semua lelah itu menjadi ringan, segala keraguan sirna seketika.

Ia mengerti bahwa pendidikan bukan tentang mencetak juara, melainkan membentuk manusia. Ia tahu, mungkin ia tak akan melihat hasil kerja kerasnya sekarang. Tapi ia percaya, suatu hari nanti, di tempat yang jauh, nilai-nilai yang ia tanam akan tumbuh dalam kehidupan murid-muridnya, yang tak tau entah kemana dan Dimana, bisa saja diantara deretan murid-muridnya itu ada yang menjadi anggota Dewan, Bupati, pengusaha, peternak, petani, tukang parkir, atau bahkan buruh sekalipun, hasil yang kita tanam tidak dipetik hari ini, mungkin hari esok, bulan depat atau bahkan tahun berikutnya.

Pagi itu, setelah memarkir motornya, ia melangkah menuju kelas. Langkahnya biasa saja. Tak ada sorak-sorai, tak ada tepuk tangan. Namun justru di situlah letak keistimewaannya. Ia hadir tanpa menuntut pujian, mengajar tanpa berharap dikenang, hari itu Adalah hari Dimana seluruh murid-muridnya menuntaskan semua capaian pembelajaran, tentu harapan untuk lebih baik sedang dinantikan oleh para muridnya-muridnya untuk melihat angka nilai yang terlukis di buku raport, pengumuman juara pun hampir dimulai, murid nya telah beransur memenuhi lapangan madrasah itu.

Mereka berdiri dengan tenang sambil mendengarkan sambutan dari kepala madrasah yang diwakili oleh bidang Kurikulum, pembacan surat Keputusan juara kelas telah pun diumumkan, suara terikan dan tepuk tangan yang gemuruh memenuhi lapangan hijau itu, ada yang tertawa Bahagia, menangis karena haru, ada pula yang telalu Bahagia bukan karena nilai yang tinggi dan gemilang, tapi karena kebersamaan dan kedamaian yang di tularkan oleh sang Guru inspirasi meraka yaitu “buk Darti.”

Namun di antara sorak sorai itu, ada satu nama yang membuat lapangan Hijau itu mendadak hening sejenak, Nama seorang murid yang tidak asing ditelinga, Namanya selalu muncul disetiap momen, olimpiade, kompetisi apapun nama itu selalu muncul, Ketika nama itu disebutkan, Ia melangkah ke depan dengan ragu. Tangannya gemetar, langkahnya pelan. Murid-murid lain menatapnya dengan penuh keyakinan, lalu tepuk tangan kembali pecah lebih keras, lebih lama. Tepuk tangan yang bukan hanya untuk angka di rapor, tetapi untuk sebuah perjalanan, dan prestasi yang dipertahankan.

Bu Darti berdiri di antara barisan guru. Ia tidak maju. Ia tidak menangis. Ia hanya tersenyum kecil, senyum yang sama seperti yang selalu ia suguhkan setiap pagi, seolah kejadian itu bukan kejutan baginya. Karena sesungguhnya, ia sudah melihat kemenangan itu jauh sebelum hari ini, Baginya, juara sejati telah lahir jauh sebelum piala diangkat.

Ketika murid itu menerima piagam dan piala sederhana, pandangannya berkeliling. Matanya berhenti pada satu titik y aitu pada Bu Darti. Ia tersenyum, lalu menunduk hormat. Tak ada kata, tapi semuanya tersampaikan, Bu Darti membalasnya dengan anggukan pelan.

Di situlah mereka saling mengerti, bahwa kemenangan ini bukan milik satu orang, melainkan milik kepercayaan yang tak pernah ditarik Kembali, Upacara pun usai. Murid-murid kembali ke kelas dengan cerita masing-masing. Lapangan kembali lengang. Bu Darti melangkah menuju motor putihnya. Ia mengankat helm, menatap langit yang kini cerah sepenuhnya, Hari itu, ia pulang dengan cara yang sama seperti ia datang, sederhana, tenang, tanpa sorotan, ia tahu perjuangan belum selesai masih banyak tugas harus ia selesaikan dan melahirkan para juara-juara untuk mencatak generasi emas dimaasa yang akan datang…….

Motor itu pun melaju perlahan meninggalkan halaman madrasah, Dan di atas motor sore itu, Bu Darti membawa pulang satu kepastian yang selama ini ia Yakini. bahwa setiap kelelahan yang disembunyikan dengan senyum, setiap pengabdian yang dilakukan dalam diam, akan selalu menemukan jalannya sendiri untuk berbuah, Karena guru sejati tidak pernah gagal, Ia hanya sedang menunggu waktu murid-muridnya tumbuh dan bersinar.

Bersambung…..pada “Episode Sang Juara”

 


Share:

Kurikulum Kehidupan Dari Kang Mizi

Dalam sebuah perjalan yang tidak pendek, sebuah Impian satu persatu telah nyata dalam hidup, dari ruang kosong kemaren kini perlahan tumbuh lumut yang bersemi dan sekarang telah membentuk sebuah taman indah yang membuat nyaman siapa saja duduk sana, dalam gurun waktu kesekian kalinya saya mengarungi derasnya arus Sungai siak, untuk menuju negeri junjungan sebagai pusat ibu kota dimaana saya tinggal, hari itu akan resmi kami dikukuhan sebagai seorang Guru professional, tentu tidak sekadar itu, kesuksesan sampai dipuncak bagi setiap pendaki tentu ini merupakan Langkah awal untuk menggali potensi dan berkarya, inovasi lebih untuk menuju kecerdasan masa depan yang diperankan oleh jutaan peserta didik di Nusantara ini.

Setelah semalaman istirahat di sebuah penginapan kecil dan sederhana, tapi cukup tenang untu menghilangkan segala keletihan,  pagi itu saya sudah Bersiap-siap untuk melangkah menuruni anak tangga Di sebuah ruang yang tenang, diapit sofa berwarna senja dan meja kaca yang memantulkan cahaya, saya sedang duduk tenang sambil menunggu mas Ojek Online, tiba-tiba tanpa disengaja ada tokoh yang tak banyak bicara, namun pikirannya bekerja lebih riuh dari pasar ilmu. Ia bukan raja, bukan pula bangsawan. Ia adalah Ilmuwan penjaga akal sehat di tengah zaman yang sering tergesa, sebut saja Namanya Tarmizi, tidak cukup hanya sebuah nama sebagai panggilan, dulu orang tua saya dikampung sering menyebutkan bahwa “Asmo Kinaryo Dungo” Nama Adalah Doa. Karena nama Dalam falsafah Jawa, asmo bukan sekadar panggilan, tetapi mengandung harapan, doa, dan cita-cita dari orang tua atau pemberi nama. Karena itu, orang Jawa percaya bahwa nama yang baik  Adalah doa yang baik nama juga mencerminkan karakter dan masa depan nama juga bisa menjadi pengingat nilai hidup bagi pemiliknya,Sebagaimana orang yang saya temui hari ini tidak hanya sekedar nama, tapi benar-benar menjadi karakter dalam dirinya, Mas Tarmizi orang nya berlimu yang tinggi namun rendah diri, tak banyak bicara namun setiap Gerakan menjadi inspirasi dan kata-katanya Adalah doa, itulah yang membuat siapa saja nyaman Ketika bersamanya dan dikenang Ketika tidak lagi Bersama.

Mas tarmizi sebenarnya dulu pernah satu kampung dengan saya, pernah tinggal di satu kecamatan namun beda desa, untuk usia saya jauh lebih muda ketimbang mas tarmizi, apalagi tentang sanat keilmuan tentu beliau lebih ahli, meski beliau usianya jauh lebih tua dari saya tapi jika dilihat dari raut wajah masih borosan saya, munkgin karena saya kebanyakan mikiri ruet nya kehidupan dan jarang menghirup angin segar maklum saya masih tinggal dipulau yang jauh dari daratan, sambil menunggu ojekan kami sempatkan waktu untuk duduk sejenak di kursi berwarna senja itu saling menanyakan kabar masing-masing keluarga, yang kebetulan juga istri dari mas Tarmizi pernah satu kelas dulu waktu di SMA/MA, senyumnya tipis namun hangat. Dari dulu sampai sekarang senyumanya tidak berubah, Ia dikenal sebagai pencatat zaman, seorang yang meyakini bahwa ilmu harus lahir dari kerendahan hati. Baginya, pengetahuan bukan alat untuk meninggi, melainkan jembatan untuk mendekat antara manusia dengan kebenaran, antara logika dan nurani, saya ingat betul pesan beliau “Ilmu yang tidak membuat kita lebih lembut, telah gagal mendidik kita.”

Tidak sampai lima belas menit saya mendengar petuah dan nasihat beliau, waktu yang singkat itu telah membawa saya ke Samudra pengetahan. Setiap pembicaraan syarat dengan ilmu, tersusun rapi dan penuh wibawa, disisi lain saya hanya bisa mendengar petuah nya, dengan sedikit Tangan menggenggam catatan kecil yang saya petik dari setiap kata-katanya, seolah setiap detik adalah kesempatan belajar yang tak akan saya lewatkan, betemu dengan mas Tarmizi sudah seperti bertemu dengan kakak kandung, mungkin zaman akan berubah. Teori bisa saja runtuh, buku bisa juga usang, gelar bisa dilupakan. Namun nilai pertemuan yang kami tanamkan hari ini merupakan kejujuran dalam berpikir, bahwa kesempatan ini tidak sering saya dapatkan. Dan kami pun melanjutkan waktu dengan menuju ke gedung hotel Grand Suka untuk melaksanakan prosesi pengukuhan sebgai Guru Profesional.

Pertemuan singkat itu kemudian menjelma menjadi ruang refleksi yang panjang. saya mulai menyadari bahwa perjalanan menjadi guru profesional bukanlah sekadar proses administratif atau seremoni pengukuhan, melainkan sebuah tanggung jawab epistemic tanggung jawab atas cara berpikir, cara bersikap, dan cara memaknai pengetahuan itu sendiri.

Dari tadi saya perhatikan Mas Tarmizi duduk dengan sikap yang sama tenangnya. Ia tidak sedang mengajar, namun kehadirannya telah menjadi pelajaran. Dari cara ia berbicara hingga cara ia merespons tanggapan dari rekan-rekan sebelah nya, saya menangkap satu pesan penting, bahwa intelektualitas sejati tidak selalu hadir dalam bentuk argumentasi keras, melainkan dalam kemampuan merawat makna dan menjaga kejernihan akal. Ia sempat berkata pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri, namun cukup jelas untuk saya tangkap, “Menjadi orang berilmu itu bukan tentang seberapa banyak yang kita ketahui, tetapi sejauh mana ilmu itu mengubah cara kita memandang manusia dan kehidupan.”

Kalimat itu membuat saya terdiam,  saya teringat perjalanan melintasi Sungai Siak, arusnya deras namun tetap setia mengalir ke muara. Barangkali begitulah ilmu seharusnya, kuat dalam prinsip, namun lentur dalam sikap, dalam dengan isi, tetapi menenangkan di permukaan. Sebagai guru yang baru dikukuhkan, saya mulai memahami bahwa tugas utama pendidik bukan sekadar mentransfer pengetahuan, melainkan membentuk cara berpikir kritis, etis, dan beradab. Inovasi dan kecerdasan masa depan yang sering kita gaungkan tidak akan bermakna tanpa fondasi nilai. Di titik inilah saya melihat relevansi nasihat mas Tarmizi, bahwa ilmu harus menjadi jembatan antara logika dan nurani, bukan tembok yang menjauhkan manusia dari kemanusiaannya.

Waktu terus berjalan. Setiap rangkaian telah kami lewati, kegiatan ditutup dengan Doa yang di munajatkan oleh mas Tarmizi, Kami berdiri, saling berjabat tangan, tanpa janji akan bertemu kembali. Namun saya tahu, pertemuan itu tidak selesai di ruang tersebut. Ia akan berlanjut dalam cara saya mengajar, cara saya belajar, dan cara saya memaknai profesi ini. Saya pun  melangkah pergi dengan satu kesadaran baru bahwa puncak perjalanan intelektual bukanlah gelar atau pengakuan, melainkan kemampuan menjaga kejujuran berpikir dan kerendahan hati dalam berkarya. Dan hari itu, saya belajar bahwa satu pertemuan yang tulus bisa menjadi kurikulum kehidupan yang tak tertulis, namun abadi dalam ingatan, Maka di ruang itu, sejarah kecil sedang ditulis. Bukan dengan tinta emas, melainkan dengan kesungguhan hati. Sebab ilmuwan sejati bukanlah ia yang paling banyak diketahui orang, melainkan ia yang paling jujur pada ilmunya, dan paling bertanggung jawab pada dampaknya bagi manusia.


Share:

Di balik kacamata Rose-Tint

Di sebuah warung kecil, seorang perempuan duduk dengan tenang. Sore itu tidak membawa keistimewaan apa pun, hanya angin yang lewat perlahan, suara seng yang bergetar oleh sentuhan waktu, dan aroma jajanan dari etalase kecil di sampingnya. Namun, ada sesuatu yang berbeda darinya, ketenangan yang terasa seperti bisikan, bukan pameran, Ia menunduk sedikit, menyusun bentuk hati dengan jemari mungilnya. Sederhana. Tetapi dalam kesederhanaan itu, hidupnya akhirnya bisa kembali bernapas.

Perempuan itu mengenakan kacamata berwarna rose-tint, dengan lensa lembut yang memantulkan cahaya sore yang hangat. Banyak yang mengira ia memakainya sekadar untuk mempermanis wajah mungilnya. Padahal, di balik benda kecil itu tersimpan cerita yang jauh lebih dalam. Rose-tint itu memantulkan warna lembut di tengah dunia yang sering terasa sempit dan menghimpit. Bagi banyak orang, itu hanya aksesori. Tapi bagi dirinya, itu adalah cara baru untuk melihat hidup bukan dari sisi yang melukainya.

Dulu, sebelum kacamata itu menghiasi wajahnya, dunianya penuh retakan; pecahannya berlarian seperti halilintar. Ia memaksa dirinya menjadi kuat hingga lupa bahwa bahkan besi pun bisa lelah. Ia menutup luka-luka kecil dengan tawa palsu, menambal kecewa dengan kata “tak apa” yang tak pernah benar-benar ia yakini.

Namun perlahan, ia belajar satu hal yang tak pernah diajarkan di sekolah mana pun:
“hidup tidak meminta kita kuat setiap hari, hidup hanya meminta kita jujur pada diri sendiri”.

Dan kejujuran itu bagi banyak orang adalah kesakitan yang paling pahit, Sebab jujur berarti mengakui bahwa ia pernah rapuh, Bahwa ia pernah iri pada kehidupan orang lain, Bahwa ia pernah merasa tidak cukup, tidak sesempurna seperti yang ia lihat disetiap hari. Bahwa ia bahagia, tetapi tidak sebahagia yang ia pamerkan di hadapan dunia, Ia adalah perempuan yang dulu melihat dunia dalam warna kelabu. Kekurangan, kegagalan, kehilangan semua menempel pada langkahnya seperti bayangan panjang. Ia pernah meyakini bahwa hidup tak akan memberinya warna lagi, dan bahkan ia tak punya alasan untuk tersenyum.

Hingga suatu hari, seorang teman lama menatapnya dan berkata pelan,
“Kamu hanya perlu melihat dunia dengan warna yang kamu pilih sendiri.” Ia tidak mengerti saat itu. Tapi kalimat itu benar-benar menempel di hatinya dan tak pernah pergi.

Hari-hari berikutnya, ia mulai belajar melihat hidup dari sudut yang lebih lembut. Tidak terburu-buru. Tidak memaksa diri untuk bahagia. Ia hanya ingin menerima, menerima bahwa hidup bisa kejam, tetapi ia pun bisa kuat, menerima bahwa luka itu nyata, namun ia berhak sembuh, menerima bahwa ia layak mendapatkan hari yang lebih cerah.

Ketika menggenakan kacamata Rose-Tin itu, dunia tetap sama, rumah-rumah sederhana, langit yang kadang cerah, kadang mendung, awan yang kadang mengepul, kadang hilang sama sekali. Kacamata itu tidak mengubah dunia. Namun ia mengubah caranya memandang dunia, Lensa itu menjadi pengingat bahwa hidup bisa lebih lembut bila ia memberi ruang untuk harapan, Kini, di meja warung kecil itu, ia duduk dengan pose imut yang jenaka, kedua tangan menyusun bentuk hati di samping pipinya. Senyumnya bukan lagi senyum yang dipaksakan kemaren. Itu adalah senyum seseorang yang telah berdamai dengan masa lalu, yang perlahan memanggil kembali dirinya yang dulu hilang.

Di balik rose-tint itu juga, ia belajar melihat dunia dengan warna yang lebih hangat dan dengan cara yang sama, ia belajar melihat dirinya sendiri, sehingga Pada sore itu, ketika angin mengibaskan ujung hijabnya, ia mengerti satu hal yang sederhana tetapi besar memberikan makna “. Bukan untuk orang lain, Bukan untuk memikat dunia, Melainkan untuk dirinya sendiri.

Sebab hanya diri kita yang benar-benar mengerti apa yang kita butuhkan, apa yang menyakitkan, dan apa yang membuat kita bertahan. Orang lain mungkin melihat kekurangan kita, mungkin menilai penampilannya terlalu berani, terlalu berlebihan dalam penampilan, terlalu narsis dalam bergaya. Tapi apa pun kata mereka, setiap sisi memiliki makna yang berbeda, meski terlihat sama, karena ada kalanya Tidak semua orang melihat dari sisi yang sama. Apa yang dianggap buruk oleh seseorang, bisa menjadi kebaikan bagi orang lain, Karena sungguh, tidak ada yang sempurna di dunia ini, semuanya fana dan sementara.

Kacamata rose-tint itu bukan jimat atau pelarian. Bukan pula pemanis untuk menarik pandangan orang. Itu hanyalah pengingat bahwa perspektif dapat mengubah segalanya. Bahwa mata yang sama bisa melihat dua dunia berbeda, tergantung bagaimana hati memilih untuk memahami, atau Mungkin orang lain hanya melihat seorang perempuan yang berpose lucu, Tapi sesungguhnya, di balik pose dan ketenangannya, ia sedang membangun kembali dirinya yang dulu pernah runtuh. Ia sedang mengobati luka yang dulu digoreskan hidup. Ia sedang menyulam kembali waktu yang sempat ia abaikan.

Dan ketika senja akhirnya merayap turun, meninggalkan garis cahaya terakhir di pinggir langit, ia merasakan sesuatu yang selama ini tak pernah ia temukan, keberanian untuk melanjutkan hidup meski hatinya masih menyimpan bekas luka, Ia menutup matanya sejenak, membiarkan angin menyentuh pipinya, seakan menghapus setiap jejak pedih yang pernah ia sembunyikan. Ia tahu, dunia tak tiba-tiba berubah menjadi lebih baik hanya karena sepasang kacamata. Tetapi dirinya yang dulu terjatuh, dulu terkubur dalam kelabu telah mulai bangkit dengan cara yang pelan namun pasti.

Kacamata rose-tint itu hanyalah benda kecil, namun di baliknya tersembunyi keputusan terbesar yang pernah ia buat, keputusan untuk hidup meski ia pernah ingin berhenti, keputusan untuk tersenyum meski hatinya pernah remuk, keputusan untuk percaya bahwa ada hari esok, meski malam-malamnya dulu terasa tak berujung, Ia membuka matanya kembali, menatap dunia yang sama, tetapi dengan jiwa yang berbeda.
Kini ia tahu… luka tidak selalu hilang. Tapi setiap luka yang bertahan, kelak akan menjadi saksi bahwa ia pernah melawan, pernah bertahan, dan pernah memilih hidup, Dan saat ia berdiri dari kursi warung itu, ia tidak hanya bangkit dari duduknya tapi ia bangkit dari masa lalunya, Langkah kecilnya menggemakan satu kebenaran yang tidak dapat dibantah siapa pun, Akhir ia tahu di balik rose-tint itu, ia akhirnya melihat bahwa dirinya, layak untuk bahagia.

 

 


Share:

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

PUISI

CERITA

UMT.CSH

Rajab dan Jalan Pulang Menuju Hati

Rajab datang seperti angin yang lembut tidak selalu terdengar, namun dapat dirasakan oleh hati yang peka. Di antara dua belas bulan yang ber...

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Sample Text

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.