NUansa.UMT

Dikala Senja Desa

motivasi dan informasi

Sore itu, aku duduk sendirian di tepi pantai, ditemani suara ombak yang datang dan pergi. Mataku menatap langit senja yang begitu indah. Tak jauh dari tempat dudukku, ada seorang laki-laki yang tampak asing bagiku. Ia berdiri tegak, seolah sedang menatap ke arahku.

Angin sore berembus pelan, membuat beberapa helai rambutku bergerak menutupi wajah. Aku segera merapikannya, lalu kembali memandang laut. Suasana pantai sore itu cukup sepi. Hanya ada beberapa orang yang sedang menikmati senja dari kejauhan.

Aku memang sering datang ke pantai sendirian ketika ingin menenangkan pikiran.

Namun, sore itu terasa sedikit berbeda.

Entah kenapa, keberadaan laki-laki asing itu membuat perhatianku terus tertuju kepadanya.

“Apa? Apa dia menatapku? Tidak, tidak. Tidak mungkin dia melihat ke arahku,” batinku.

Aku mengalihkan pandangan ke arah lain, berharap semua itu hanya perasaanku. Aku mencoba kembali menikmati pemandangan di hadapanku. Warna jingga perlahan memenuhi langit, sementara cahaya matahari mulai tenggelam di balik laut.

Aku menarik napas panjang, berusaha tidak memikirkan laki-laki tadi.

Namun, beberapa kali aku tetap mencuri pandang ke arahnya.

Dia masih berdiri di sana.

Aku mulai merasa sedikit malu sendiri.

Bagaimana jika benar dia melihatku? Atau mungkin aku saja yang terlalu percaya diri?

Tanpa kusadari, senja silih berganti menjadi malam. Aku pun bergegas pulang ke rumah.

Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku masih saja kembali kepada kejadian tadi. Aku bahkan tidak tahu mengapa aku begitu memikirkannya. Padahal, aku tidak mengenalnya sama sekali. Bahkan, kami tidak berbicara sepatah kata pun.

Malam itu suasana begitu sunyi dan tenang. Aku berbaring di atas kasur sambil memandangi langit-langit kamar.

“Perasaan apa tadi itu? Kenapa rasanya seperti... Tidak, tidak mungkin. Apa mungkin? Hah? Apa aku jatuh cinta? Tidak mungkin, kan? Iya, tidak. Itu hanya perasaanku saja,” ujarku sambil tersipu malu.

Aku tersenyum kecil sendirian.Rasanya aneh sekali. Hanya karena sebuah tatapan, aku sudah memikirkan seseorang sampai malam. Aku mencoba memejamkan mata, tetapi wajah laki-laki asing itu kembali muncul di pikiranku.

Aku bahkan mulai membayangkan bagaimana jika suatu hari nanti kami bertemu lagi.

Keesokan harinya, di siang yang cerah dan disinari terik matahari, aku duduk santai di depan rumah. Kembali teringat olehku kejadian semalam.

Aku tidak percaya dengan perasaanku sendiri. Rasanya sulit untuk dijelaskan. Sepertinya aku sudah jatuh cinta, tetapi aku sendiri tidak yakin akan hal itu.

“Kenapa aku bisa jatuh cinta hanya karena pertemuan kami yang sesingkat itu? Aku bahkan tidak mengenali siapa dia,” gumamku.

Aku terdiam sejenak, memikirkannya. Aku mencoba mengalihkan pikiran dengan berbagai kegiatan. Membantu pekerjaan rumah, membaca buku, bahkan sesekali mengobrol dengan orang-orang di sekitar rumah.

Namun, setiap kali pikiranku sedang kosong, laki-laki itu kembali terlintas di kepala.

Mungkin karena aku penasaran.

Mungkin juga karena aku berharap bisa melihatnya lagi.

Hari-hari berganti. Tiap kali senja tiba, aku terus mendatangi pantai itu, berharap bisa bertemu dengan laki-laki tersebut. Namun, harapanku hanya menjadi harapan.

Aku tak juga bertemu dengannya sampai akhirnya aku merasa semuanya telah berakhir.

Hari pertama aku menunggunya, aku masih yakin dia akan datang.

Hari kedua, aku masih berharap.

Hari ketiga, aku mulai bertanya-tanya, apakah sebenarnya aku hanya menunggu sesuatu yang tidak pernah dijanjikan?

Aku tetap duduk di tempat yang sama, memandangi laut yang sama, tetapi sosok yang kucari tidak pernah muncul.

Kadang aku datang lebih awal. Kadang aku menunggu sampai langit benar-benar gelap. Namun, tetap saja tidak ada siapa-siapa.

“Sepertinya aku sudah harus melupakannya. Lagipula, kenapa juga aku berharap bisa bertemu dengannya lagi? Kenapa juga aku bisa jatuh cinta hanya dengan sekilas tatapan? Lagipula, bisa saja waktu itu dia tidak melihat ke arahku, kan? Aku hanya terlalu percaya diri,” ucapku pasrah.

Aku tersenyum kecil kepada diriku sendiri.

Rasanya sedikit memalukan mengingat bagaimana aku bisa berharap begitu banyak kepada seseorang yang bahkan tidak kukenal.

Langit senja pun mulai menghilang, berganti dengan indahnya langit malam.

Malam itu aku pulang dengan perasaan campur aduk. Aku berjalan kaki melewati perkebunan teh, menikmati keindahannya di bawah sinar rembulan, ditemani kerlap-kerlip bintang di langit.

Tiba-tiba...

“Aduh!” seruku saat tersandung.

“Aish, siapa sih ini? Kalau jalan lihat-lihat dong!” ucapku sembari bangkit setelah tersandung.

“Heh! Aku sudah teriak awas. Kamu saja yang termenung,” ujar seseorang yang suaranya terasa tidak asing bagiku.

Setelah kutatap wajahnya, ternyata itu Bibik yang sedang mencariku.

“Ke mana saja kamu? Sudah larut begini. Bukannya pulang, malah termenung di kebun teh ini,” omel Bibik dengan nada khawatir.

“Aku hanya ingin menikmati keindahan ciptaan Tuhan ini, Bibik. Kenapa Bibik begitu mengkhawatirkanku? Bukankah aku sudah bilang bahwa aku akan pulang lebih larut malam ini?”

Bibik menghela napas pelan. Walaupun wajahnya terlihat kesal, aku tahu sebenarnya dia hanya khawatir melihatku pulang sendirian selarut itu.

“Kamu itu kalau sudah melamun suka lupa waktu. Sudah, jangan banyak alasan. Ayo pulang,” katanya.

Aku hanya tersenyum kecil.

Lalu, aku duduk di tepian kebun teh itu, termenung memandangi langit.

“Bik, apakah cinta itu benar adanya? Lalu, bagaimana bisa seseorang langsung jatuh cinta hanya karena pertemuan yang singkat?”

Bibik terdiam. Kemudian, ia duduk di sampingku dan ikut memandangi langit yang dipenuhi bintang.

“Kamu yakin itu cinta?”

Aku menoleh kepadanya.

“Entahlah, Bik. Tapi sejak melihat dia, aku merasa ada sesuatu yang berbeda.”

Bibik menatapku, lalu tersenyum kecil.

“Kadang kita bukan jatuh cinta pada seseorang. Kita hanya jatuh cinta pada harapan yang kita ciptakan sendiri terhadap seseorang itu.”

Aku terdiam kebingungan.

“Apa maksud Bibik?”

“Hei! Kamu bahkan tidak mengenalnya. Kamu tidak tahu namanya, tidak tahu bagaimana sifatnya, tidak tahu apa yang dia suka dan tidak dia suka. Jadi, bagaimana bisa kamu yakin jika yang kamu cintai itu adalah dirinya?”

Aku tak mampu menjawab lagi.

Aku menunduk sambil memainkan ujung bajuku. Perkataan Bibik terus terngiang di kepalaku.

Ada benarnya juga.

Selama ini aku hanya mengetahui bagaimana wajahnya dan bagaimana caranya berdiri. Selebihnya, aku tidak tahu apa-apa.

Bahkan aku tidak tahu apakah dia orang yang baik atau justru sebaliknya. Aku juga tidak tahu apakah dia sudah memiliki seseorang yang dia sayangi.

Lalu, bagaimana mungkin aku menyebut perasaan itu sebagai cinta?

Bibik berdiri dan menepuk pelan bahuku.

“Sudahlah. Ayo pulang. Sudah sangat larut ini.”

Aku mengikuti Bibik pulang ke rumah sambil terus memikirkan perkataannya.

Malam itu, untuk pertama kalinya, aku bertanya kepada diriku sendiri.

Jangan-jangan selama ini aku bukan sedang mencintainya. Aku hanya sedang menunggu sesuatu yang bahkan tidak pernah benar-benar ada.

Hari-hari berikutnya berlalu seperti biasa.

Aku masih sesekali datang ke pantai, tetapi tidak lagi dengan perasaan seperti kemarin. Aku tidak lagi mencari laki-laki asing itu.

Aku mulai menikmati pantai hanya karena memang menyukai suasananya. Duduk di sana, mendengarkan suara ombak, melihat langit berubah warna, dan membiarkan angin sore menemani pikiranku.

Sampai suatu sore, aku bertemu dengan seorang ibu yang sedang duduk tidak jauh dari tempat dudukku biasanya.

Kami berbincang tentang pantai dan orang-orang yang sering datang ke sana. Entah mengapa, tiba-tiba aku teringat laki-laki asing itu.

“Bu, apakah Ibu sering melihat laki-laki yang berdiri di dekat sini beberapa minggu lalu?”

“Laki-laki yang berdiri menghadap laut?” tanyanya.

Aku mengangguk cepat.

“Iya.”

“Oh, yang waktu itu?”

Jantungku tiba-tiba berdegup lebih cepat.

“Iya. Apa Ibu kenal?”

“Tidak. Waktu itu dia sedang melihat perahu yang ada di belakangmu. Di atas perahu itu ada seseorang yang sudah lama ditunggunya.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Selama beberapa detik, aku hanya memandangi laut.

Jadi selama ini... tatapan itu bukan untukku.

Aku tertawa kecil. Bukan karena lucu, tetapi karena aku merasa bodoh.

Selama berminggu-minggu aku berharap, aku menunggu seseorang yang bahkan tidak mengenaliku.

Ternyata semua yang selama ini kupikirkan hanyalah kesalahpahaman kecil yang kubuat sendiri. Aku mengira tatapan itu adalah sesuatu yang istimewa, padahal mungkin bagi laki-laki itu, aku bahkan tidak lebih dari seseorang yang kebetulan berada di hadapannya.

Aneh rasanya mengetahui hal itu.

Namun, anehnya lagi, aku tidak merasa sedih.

Sore itu aku pulang tanpa rasa kecewa. Aku akhirnya merasa lega.

Ternyata, tidak semua pertemuan harus memiliki kelanjutan. Ada yang hanya datang sebentar dalam hidup kita, bahkan tanpa benar-benar menjadi bagian dari hidup kita.

Namun, kehadirannya meninggalkan sesuatu.

Bukan cinta.Bukan juga kenangan tentang sebuah hubungan.

Melainkan sebuah pelajaran tentang bagaimana perasaan bisa membuat kita melihat sesuatu sesuai dengan apa yang ingin kita lihat.

Sejak saat itu, aku mulai memahami bahwa terkadang kita terlalu cepat memberi arti pada sesuatu yang sebenarnya sederhana.

Sebuah tatapan bisa saja hanya sebuah tatapan.

Sebuah pertemuan bisa saja hanya sebuah pertemuan.

Dan tidak semua hal harus berubah menjadi sebuah kisah cinta.

Setelah hari itu, aku mulai menjalani hidup seperti biasanya.

Aku masih menyukai senja, tetapi sekarang aku tidak lagi datang ke pantai untuk menunggu seseorang. Bahkan, aku mulai jarang pergi ke sana.

Hingga suatu sore, aku kembali melewati jalan menuju pantai.

Aku berhenti sebentar.

Aku melihat laut yang masih sama. Langit senja yang masih indah. Ombak yang masih datang dan pergi seperti dulu.

Tanpa sadar, aku tersenyum kecil.

Ternyata aku pernah mengira satu tatapan adalah awal dari sebuah kisah.

Kemudian, aku melanjutkan langkahku.

Tidak ada laki-laki asing.

Tidak ada pertemuan kedua.

Tidak ada kisah cinta seperti yang pernah kubayangkan.

Hanya ada aku yang akhirnya belajar bahwa tidak semua rasa harus memiliki seseorang sebagai tujuan.

Dan mungkin, beberapa pertemuan memang hanya ditakdirkan untuk terjadi sekali—cukup untuk membuat kita berubah, lalu pergi tanpa kembali.

 Elsi Kusuma wati


Share:

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

PUISI

CERITA

UMT.CSH

Dikala Senja Desa

motivasi dan informasi Sore itu, aku duduk sendirian di tepi pantai, ditemani suara ombak yang datang dan pergi. Mataku menatap langit senja...

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Sample Text

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.