NUansa.UMT

BERTAMU di RUMAH SAHABAT TIONG HOWA

motivasi dan informasi
Perbedaan Agama, Suku dan bangsa bukanlah Penghalang, Melainkan Kesempatan Untuk Belajar dan Menghargai Keberagaman. 
Tepat pada malam kedua Ramadhan, rasa syahdu suara bilal sholat tarawih saling bersuatan di setiap masjid dan musholla di Daerah ku, sekali- kali ada letupan bunyi mercon yang di letupkan oleh beberapa anak yang sedang mengisi kegembiraan dibulan Ramadhan tahun ini. Suara mercon yang sepintas mengagetkan para jamaah sholat tarawih terutama kalangan ibuk-ibuk yang sudah berusia 50 tahun ke atas, tapi atas rasa kegembiraan anak-anak tidak menghiraukan " Ra di Gubris" Kemarahan ibuk-ibuk tersebut. Karena itu adalah bagian dari cara untuk mengisi kegembiraan anak-anak di bulan suci Ramadhan, selain mercon  potongan bambu berdiameter sekitar 2 Meter juga mereka modifikasi menjadi perangkat untuk mengisi ruang waktu kosong bulan Ramadhan, kalau dikampung ku menyebutnya Jedoran "Meriam Bambu".

Sepulang dari Masjid, saya melihat Layar Datar yang mengeluarkan cahaya itu tiba-tiba bergetar dan ada pesan yang tersemat disana dari Staf Prodi Di salah satu perguruan Tinggi Negeri Di Bumi Melayu, untuk segera saya menghadap dan kembali menyusuri deras nya arus sungai Siak Menggunakan perahu kayu selama semalaman penuh, yang sudah beberapa Tahun lalu saya tidak menaikinya, kali ini anak-anak ikut besama didampingi ibunya yang masih cantik dan tetep awet Muda katanya masih setara anak SMA, Hmmmm.. 
Setelah sampai diNegeri bumi melayu itu, sembari menunggu jemputan dari abang Maxim,  istripun mengajak saya untuk mampir dirumah sahabat nya yang dulu tinggal bertetangga waktu di kampung, ya.. Tidak hanya setakat sahabat tapi sudah seperti keluarga sendiri, sejak kecil tinggal dikampung yang sama, sekolah bersma, bermain masak-masakan bersma, sampai panjatan pokok rambutan, tidak menghiraukan kalau baju mereka sampai clepotan karena kena getah rambutan,  tidak lupa kalau pulang dari panjatan pokok Rambutan sang istri membawa beberapa biji rambutan yang masih lengkap dengan tangakainya..#hmmm.

Kini mereka sudah berpisah karena sudah memiliki cerita dan kehidupan masing-masing, sebut saja namanya Athing, nama panggilan akrab nya sebagai seorang sahabat, saya memang tidak pernah mengenal keluarga Athing, tapi pertama kali berjumpa melihat senyum dan sapaan nya terhadap tamu yang baru datang dari jauh sudah tergambar bahwa Athing Adalah keluarga yang baik, pribadi yang bersahaja, ketulusan jiwa nya terpancar di Raut wajah yang tidak pernah surut dari senyuman, memang kami  memiliki perbedaan yang signifikan, beliau berkulit Putih, Pipi Tembem agak kemerah-merahan dan mata Sipit, sementara saya dan istri berketurunan kulit sawo matang, tapi bagi saya perbedaan seperti itu tidak lah menjadi hijab " Penghalang" Untuk saling menjalin dan merajut kasih sayang sebagai sesama Ciptaan Tuhan (Allah, SWT), bukankah kita ini diciptakan dari suku, bangsa yang berbeda, atas dasar perbedaan itulah mendorong untuk setiap insan saling kenal mengenal, hal ini persis sebagaimana disebutkan didalam Al Qur'an Surah Al Hujarat ayat 13. "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal".

Kami pun saling bercerita di ruang Tamu tentang kehidupan masing-masing, Anak-anak pun sudah saling akrab walau dalam waktu yang singkat, ini terlihat jelas saat Axel menawari mainan ke Mutia, tidak ada secangkir Kopi dan Kue Bolu di meja, karena beliau Tahu bahwa kami sedang berpuasa, suasana benar-benar penuh dengan keakraban dan bersahaja sudah seperti Keluarga yang sudah lama tidak bertemu, Abhia, Ayah nya Athing, begitulah Nama yang dikenalkan Istri kepada saya, figur seorang ayah yang mendidik anak-anak nya penuh rasa tanggung jawab dan kasih sayang, mengajarkan arti sebuah kehidupan, saya tidak tahu persis kepercayaan yang di anut keluarga Athing, tapi saya bisa melihat dari pancaran cahaya keluarga Athing adalah keluarga yang taat pada keyakinan dan kepercayaan Agamanya, saya ingat betul sahabat saya dari Tiong Howa ini, ketika menyampaikan pesan-pesan religius nya mirip sekali dengan kepercayaan Kong Hu Chu. 

Ajaran yang berfokus pada moralitas, etika, dan perilaku manusia, dalam keyakinan nya ada istilah Ren, (Kasih Sayang) Yi ( Keadilan) Li (Etika) Zhi (Kebijaksanaan) dan Xin (Perilaku jujur untuk setiap kehidupan) . 
Beliau juga menyampaikan ajaran dalam keyakinanya, kita sebagai orang yang lebih muda harus hormat pada orang tua, leluhur, dan sesama manusia.

Disitulah saya berfikir bahwa benar, semua agama yang dianut oleh setiap manusia itu memiliki visi dan misi yang sama yaitu menebarkan kebaikan dan mencapai kebahagian hidup didunia dan hidup setelah nya,  hanya setiap agama memiliki cara dan sistem yang berbeda untuk mendekatkan diri dan menemukan kebahagian itu. Yang penting hidup saling pengertian dan hormat menghormati diatas perbedaan, tidak mencari dan merasa diri kita yang paling benar, tapi menyatukan perbedaan untuk kemaslahatan dan kedamaian. 

Tanpa terasa waktupun terus berputar sudah hampir satu setengah jam kami bersua, saya pun harus segera berpamitan, meskipun sempat ditawari untuk menginap beberapa hari disini  tapi kami tidak bisa lama bertamu di rumah sahabat Tiong Howa yang baik hati ini,  setidak nya cukuplah untuk mengikis Rasa Rindu seorang sahabat kecil yang dulu pernah dirajut (antara Istri dan Athing), terimakasih sambutan hangat dan wejangan dari Kong Abhia, (Ayah nya Athing), semoga keluarga Athing selalu mendapatkan kebahagiaan, kemudahan, Sehat selalu dengan rezki yang banyak, Mudah-mudahan bisa bertemu kembali di lain waktu. . . See you/ Zai Jian. **
Share:

BISA SANG MAWAR BERDURI

motivasi dan informasi

Banyak orang yang mendambakan hidup bahagia bersama pasangan, ternyata tidak hanya banyak tapi setiap jiwa, ya...setiap jiawa pasti mengingikan hidup bahagia dan itulah yang didambakan, membina rumah tangga yang lenggeng dunia akhirat adalah dambaan setiap pasangan, namun tak semua pasangan bisa mendapatkan apa yang di inginkan, hal ini telah terbukti betapa banyak kita telah saksikan mereka yang membangun rumah tangga, namun tidak mampu bertahan lama, berlayar ketengah samudra kehidupan tak sedikit juga yang karam dan tenggelam ditengah lautan kecurangan dan kekecewaan.
Pernah saya membaca suatu kisah di media sosial, kebetulan lewat di beranda halaman ku, disana mengisahkan kehidupan seorang istri yang sholeha hidup bersama pasangan “suami” yang sholeh pula. Rumah tangga mereka berlangsung bahagia, sang suami selalu memberikan kejutan manis setiap kali pulang dari tempat kerja sebagai seorang pengajar di salah satu pesantren di kota Panjang, hari-hari mereka jalani dengan bahagia, sang suami pun tidak tega melihat sang istri yang hanya tinggal dirumah, mulai dari pagi, siang, sore, malam kembali ke pagi lagi.

Sore itu tepatnya pukul 17,15 Wib sang suami pulang dengan kebiasaan nya membawakan kejutan manis untuk sang isteri, setiba nya dirumah kecupan bibir pun mendarat di kening sang istri, sang istri pun tersenyum bahagia karena telah diperlakukan seperti permaisuri dalam ruamah tunggal itu, sang suami pun duduk di kursi mebel yang ada diruang tamu, sambil meneguh air putih yang sudah disiapkan sang isti dipojok meja, helaan nafas sang suami seraya mengucapkan kalimat Tahmid “al hamdulillah” semakin menghangatkan suasan sore itu aplagi ditambah kemanjaan sang isteri yang duduk disamping suami dan menyandarkan kepala dipundak suami.

Tiba-tiba sang suami mengeluarkan bungkusan hitam dari dalam tas mungilnya yang masih menggantung di leher mering sebelah kiri itu, “...Apa..ini Bi....” sambut sang istri dengan nada manja, ternyata sang suami membelikan sebuah handfhone kepada sang istri, betapa bahagia dan riang nya hari seorang isrti yang diberikan hadiah istimewa dari suami nya itu. Sang suami tidak tega meniggalkan istrinya yang setiap hari kesepian dirumah kerena mereka juga belum mendapatkan momongan, maklum sang istri yang dulunya tinggal di kampung jauh dari teknologi dan kini harus bisa beradaptasi dengan suami yang tinggal dikota, maklum sang istri awalnya masih Gaptek, masih kaku dalam mengoprasikan android, bingung setiap sisi nya layar semua tidak ada tombol untuk dipencet-pencet, namun lama kelamaan sang istri pun sudah mahir dan lancar dalam menggunakan andoroid itu, karena setiap hari diajari dengan suaminya, bahkan setiap akun sosial media pun sudah hampir dijelajahinya, mulai dari facebook, instragram, twiter dan weChat juga tidak mua kalau sang istri pun sudah punya akun Tiktok.

Setiap hari sang istri setelah melakukan pekerjaan rumah tangga, si istripun tidak lupa untuk menyempatkan waktu ber-Android ria, menjelajahi dunia lewat layar 6 x 4 Inci itu, sampai akhirnya Ia pun Akrab dengan facebook, Ia pun menjadi Facebooker (istilah anak muda sekarang), lewat fitur-fitur yang ada sang istripun menjalin perkenalan dengan teman-teman nya yang baru di dunia maya itu,  waktu terus berjalan sang istripun berekenalan dengan seorang pemuda yang sudah mapan dan baik hati menurutnya, setiap hari ia pun chating-chatingan dan tak jarang juga mereka saling WabCam, sehingga tampaklah wajah keduanya tanpa hijab iman lagi dianteranya.

Lama-kelamaan merekapun saling tertarik, lalu timbul rasa untuk saling memiliki, berawal dari sebuah kata “Apa Kabar”...berlarut menjadi curahan hati sang istri pun tak terbendung lagi kepada sang pemuda tersebut, rasa suka dan penarasan itu pun terus menggebu sehingga timbul rasa rindu jika sehari saja tak ada kabar dari salah satuya, nafsu dan bisikan syetan pun tak mampu lagi mereka menangkisnya, kekuatan iman sang istri pun tak mampu menahan godaan untuk keduanya, padahal ia tahu bahwa ia sudah memiliki suami yang tulus dan ikhlas mencintai dan menyayangi, lama-kelamaan sikaf sang istripun berubah kepada sang suami, rasa curiga pun sekarang mulai mengundang dari benak sang suami, berulang kali sang suami menasehati istrinya itu, namun kalut dalam cinta sesaat itu telah membutakan hati nurani sang istri sehingga tak ada lagi tempat untuk dia membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, melihat tingkah sang isrti semakin hari semakin jauh dari keakraban seperti dulu dan rasa curiga yan semakin tinggi terhadap istrinya itu, sang suami pun menghentikan semua fasilitas yang diberikan kepada istrinya..

Karena cinta buta si istri kepada sang pemuda itu, tetap saja ada helah dan celah untuk sang istri mengelabuhi sang suami, agar supaya bisa berhubungan terus dengan sang pemuda, ia pun menceritakan semua yang terjadi dalam rumah tangga,pemuda itupun menyarankan agar sang istri minta diceraikan kepada suaminya, dan pemuada itupun berjanji akan menikahinya, akhirnya sang istripun minta cerai dan pisahlah meraka berdua, setelah mereka berdua berpisah si pemuda itupun sering menemui dan datang kerumah orang tua sang istri untuk bertemu, mengajaknya jalan keluar rumah, makan berdua hingga suatu hari sang pemuda itupun mengajak nya untuk berkencan dan menginap disebuah hotel, karena sang istri tadi merasa yakin akan dinikahi oleh sang pemuda itu, ia pun rela dan pasrah atas apa yang dikehendaki sang pemuda itu.

Namun apa yang terjadi, setelah sekian lama sang istri ini berpisah dengan sang suami, si pemuda itu pun tak kunjung menikahinya, sang istripun sudah mulai gelisah, dan menanyakan perihal pernikahan tersebut kepada sang pemuda, yang paling mengejutkan dan bak disambar petir sang istipun tidak mampu berkata apa-apa lagi setelah mendengar perkataan pemuda tersebut, “ wahai....wanita yang hina apakah enkau mengira aku akan menikahimu,  tidak akan pernah..! aku tidak akan pernah menikah dengan wanita hina dan murahan seperti mu, engkau tidak lagi berharga, engkau adalah wanita hina dan murahan dan engkau tidak layak menikah dengan ku, engkau telah pun berkhianat dengan suaminya laki-laki yang sholeh dan baik, jika engkau sudah pernah berkhianat maka kelak enkau pasti akan berkhiant setelah menikah dengan ku, jika engkau bertemu dengan pemuda yang lebih tampan dari ku....sontak kalimat itu membuat sang istri itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi, betapa luka hatinya setelah mendengar ucapan itu, ia telah ditipu dan diperdaya oleh nafsu, dan kini hanya tinggal puing-puing penyesalan selama hidupnya.

Sahabt ku yang budiman dari kisah diatas kita bisa mengambil sebuah pelajaran penting untuk menjaga hati, senantiasa menghiasi diri dengan iman, ingatlah untuk selalu menguatkan akar mu, terjangan dan godaan silih berganti seakan tak ada jeda walau saat ini enkau berada didalam rumah sekalipun, ingatlalh dalam menjalani kehidupan berumah tangga tak selama nya mulus, terkadang ada rasa curiga, bosan, dan marah selalu datang dalam kehidupan rumah tangga mu, maka disitulah saling pengertian dan mengalah sangat dibutuhkan, agar enkau tetap terjaga dari sakinah dalam rumah tanggamu.

Jika engkau menjadi Istri maka jadilah istri yang sholeha, betapa bahagaia dan istimewanya seoarang laki-laki ketika mendapati pasangan hidup “Istri” yang sholeh, tapi perlu  diperlu di ingat bahwa istri yang sholeha itu bahan bakunya dari suami yang sholeh, Seorang istri sholehah adalah permata berharga dalam kehidupan suaminya, tiang kokoh dalam rumah tangganya, dan madrasah pertama bagi anak-anaknya. Ia bukan sekadar pendamping hidup, tetapi juga seorang yang selalu mengiringi langkah suami dengan doa dan ketulusan. Rasulullah SAW bersabda:

"Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita sholehah." (HR. Muslim)

Istri sholehah adalah ia yang menjaga agamanya, menaati suami dalam kebaikan, dan membangun rumah tangga dengan penuh cinta serta kasih sayang. Ia memahami bahwa kebahagiaan tidak hanya terletak pada dunia, tetapi juga dalam ridha Allah SWT.

Dalam menjalani peran mulianya, ia senantiasa bersikap sabar dan ikhlas, menerima segala ujian dengan hati yang lapang. Ia tidak hanya menjadi penyemangat dalam suka, tetapi juga menjadi penguat di saat duka. Dengan kelembutan hatinya, ia menenangkan, dengan kebijaksanaannya, ia mendamaikan, dan dengan akhlaknya yang mulia, ia menjadi teladan bagi keluarganya.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
"Wanita-wanita yang sholehah adalah mereka yang taat kepada Allah dan menjaga diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah menjaga mereka..." (QS. An-Nisa: 34)
Ia bukan hanya menjaga kehormatan dirinya, tetapi juga menjaga kehormatan keluarga. Ia membangun rumahnya dengan keimanan dan ketakwaan, memperindahnya dengan akhlak yang baik, serta menghiasinya dengan doa-doa yang tulus, Dalam perannya sebagai ibu, istri sholehah mendidik anak-anaknya dengan ilmu dan kasih sayang. Ia menanamkan nilai-nilai kebaikan, mengajarkan Al-Qur’an dan sunnah, serta membentuk karakter yang kuat agar kelak mereka menjadi generasi yang bertakwa dan berakhlak mulia.

Di balik keberhasilan seorang suami, ada doa istri yang tulus. Di balik ketenangan rumah tangga, ada kesabaran seorang istri yang luar biasa. Jadilah istri sholehah, yang bukan hanya membawa kebahagiaan di dunia, tetapi juga mengantarkan keluarga menuju surga-Nya, Semoga Allah menjadikan kita semua istri-istri yang sholehah, yang dirindukan surga dan dicintai keluarga. Aamiin.
Share:

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

PUISI

CERITA

UMT.CSH

Rajab dan Jalan Pulang Menuju Hati

Rajab datang seperti angin yang lembut tidak selalu terdengar, namun dapat dirasakan oleh hati yang peka. Di antara dua belas bulan yang ber...

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Sample Text

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.